
"Terkadang perpisahan itu di butuhkan untuk mengukur seberapa besar Rindu dan Cinta kita kepada seseorang" ~Anindira Fidelya~
Tak terasa sudah 4 hari Kean di rawat di rumah sakit, setelah melakukan berbagai rangkaian pemeriksaan alhamdulillah sudah tak ada lagi yang dikhawatirkan. Kean juga sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, tetapi gips masih harus terpasang di leher dan tangan nya sampai tulang ya sembuh betul.
Dengan adanya gips membuat Kean sering mengeluh tak nyaman dan lebih bersikap manja kepada Dira, ia selalu tak bisa ditinggal oleh Dira. Kean yang dulu selalu bersikap sok seperti orang dewasa saat ini berubah menjadi Kean yang bersifat seperti anak seusianya ketika sakit.
"Ma … ini gipsnya kapan di bukannya sih? Kan Kean sudah diperbolehkan pulang ke rumah, " tanyanya dengan wajah yang sayu.
"Mungkin 1-2 minggu lagi kak," sahut Lean.
"Kok masih lama sekali, Kean kan udah gak tahan ma ..." ujar Kean yang sudah mulai berkaca-kaca.
Dira memeluk Kean sambil mengusap punggungnya dengan sabar untuk menenangkan serta memberikan sebuah kekuatan kepada Kean.
"Sabar ya sayang … nanti kalau sudah waktunya pasti akan dibuka, tapi untuk saat ini Kean harus bersabar dulu ya. Kean kan anak baik dan kuat masak hanya begini saja Kean gak sabar sih, ini juga demi kesembuhan Kean. Dengerin mama, Allah memberikan cobaan kepada Kean untuk menguji kesabaran dan ketakwaan imannya Kean. Kalau Kean sabar dan ikhlas menerima penyakit yang diberikan oleh Allah insyaallah akan diganti dengan sebuah pahala yang sangat besar … Kean mau kan dapat pahala yang besar? " tutur Dira agar Kean tak mengeluh lagi.
Sebenarnya Dira juga sangat kasihan melihat kondisi Kean yang seperti ini, tapi dia harus lebih sabar dan kuat agar Kean juga ikut kuat menjalaninya.
Setelah selesai membersihkan semua barang-barangnya, mereka semua pulang ke kediaman Fabio.
Di dalam perjalanan Kean terus menatap ke arah jendela untuk melihat-lihat pemandangan yang sudah 4 hari ini tak pernah ia lihat selama berada di rumah sakit. Selama 4 hari ini dia hanya terbaring di ranjang yang tak terlalu nyaman itu, ingin rasanya dia segera pulang ke rumah dan tidur diatas ranjangnya yang sangat nyaman dengan kamar bernuansa astronot serta mainan figuran, terus bisa bermain an dengan hewan peliharaanya di rumah.
Sejak tangan kananya di gips Kean merasa sangat bosan karena banyak hal yang tak bisa ia lakukan seperti biasanya. Selama ia sakit Dira, Carol maupun Lean lah yang akan membantunya untuk melakukan banyak hal. Selama sakit Ia hanya bisa menonton kartun dan vidio animasi saja.
Setengah jam telah berlalu, akhirnya mereka sampai juga ke kediaman Fabio. Banyak para maid yang sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Kean dengan memberikan sebuah kejutan kecil untuk menyambut Kepulanganya.
Para Maid segera mengajak Kean bermain ke taman belakang untuk bertemu dengan hewan peliharaanya yang sudah ia tinggal beberapa hari, di saat bermain dengan para maid dan hewan peliharaanya suasana hati Kean terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Hal itu membuat Dira lebih lega dan ikut bahagia.
Mengingat jam yang sudah menunjukkan pukul 2 sore, Dira segera pamit berangkat ke bandara untuk menjemput Ken. Awalnya Ken akan memberikan Dira surprise dengan mengatakan bahwa Kepulanganya akan di tunda karena masih ada urusan yang belum terselesaikan, tapi Dira juga punya mata-mata yang memberitahukanya tentang Kepulangan Ken yang sebenarnya. Sehingga dia yang akan memberikan surprise dengan menjemput nya.
__ADS_1
Jet pribadi Ken akan Landing pukul 14: 45 menit, sedangkan perjalanan ke bandara akan memakan waktu sekitar 30 menit jika lewat jalan tol. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit mobil yang membawa Dira telah sampai di arena bandara.
Dira turun dari mobil, lalu berjalan ke terminal kedatangan untuk menyambut kedatangan suaminya, tanpa sengaja ia justru bertemu dengan seseorang yang tak ingin ia temui.
"Dira ..." panggil pria itu yang segera berjalan menghampiri Dira.
Mendengar ada yang memanggilnya, Dira membalikkan badan dan menoleh ke sumber suara itu. Matanya terbelalak ketika melihat siapa yang menghampirinya.
"Ternyata benar itu kamu Dir, sudah lama sekali kita tidak bertemu sejak pertemuan terakhir kita di restoran itu. Selama ini kamu kemana? Kok aku cari ke apartemen kamu gak pernah ada," Ujar Darren dengan senyuman.
Dira hanya mengerutkan kening tak mengerti dengan sikap Darren yang seperti ini, Dia sungguh muak melihat wajah pria ini. Dira tidak ingin menanggapi perkataan Darren dan ingin melenggang pergi dari hadapan pria itu. Tetapi ketika Dira membalikkan badan tiba-tiba Darren sudah menahan langkahnya dengan menggandeng tangan Dira.
" Tolong lepaskan tangan saya!" ucap Dira dengan mencoba untuk melepaskan tangan Darren tapi Darren justru mengengamnya dengan erat.
"Kamu kenapa begitu menghindari aku sih Dir?"
"Lepasin tangan kamu gak?" ucap Dira dengan tatapan yang begitu tajam.
"Astagfirullah hal adzim, Mas sudah cukup!" Teriak Dira dengan memeluk tubuh Ken yang hampir memukul Darren lagi. "Mas sudah ya, malu di liatin orang," ujar Dira yang mencoba menenangkan emosi Ken yang sudah memuncak.
"Kamu gapapa kan?" tanya Ken yang segera melihat pergelangan tangan Dira yang memerah karena dari kejauhan dia melihat Darren mengenggam tangan istrinya dengan kuat.
Dira tersenyum. "Aku gapapa kok mas, Tapi mas tahan emosi mas ya. Soalnya kita sedang berada di tempat umum gak enak kalau dilihatin banyak orang seperti ini."
"Tapi dia ..."
Dira menutup bibir Ken dengan jari telunjuknya, menandakan bahwa Dira tak ingin Ken menyanggah ucapannya.
Sedangkan Darren mencoba berdiri dengan di bantu oleh asistenya. Melihat sikap Dira yang jauh berbeda ketika bertemu denganya membuat Darren sangat kesal sampai ia mengepalkan tanganya.
Ken menghampiri Darren dengan masih memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Apakah peringatan saya belum cukup kepada anda untuk jangan mendekati istri saya lagi!" ucap Ken dengan sorot mata yang tajam.
Darren mengernyitkan dahi. "Saya hanya ingin menyapa ya saja!"
Ken tersenyum kecut ketika mendengar ucapan Darren. "Menyapanya? Untuk apa anda menyapanya sampai memegang tanganya begitu erat?"
"Saya hanya ingin bernostalgia bersama mantan istri saya, apakah tidak boleh!" jawab Darren.
Mendengar Darren menyebut Dira sebagai mantan istrinya membuat Emosi Ken semakin memuncak. Kenyataannya Dira memang mantan istri Darren tapi Ken sungguh tak menyukai hal itu keluar dari mulut Darren.
" Kamu itu lucu sekali Darren Maxwell, bukankah dulu kamu sudah membuangnya dengan kejam. Lalu kenapa sekarang kamu begitu ingin bertemu denganya? Apakah kamu tidak malu! Apa kamu menyesal telah membuang berlian? Tapi saya peringatan sekali lagi sama kamu. Saya punya kartu as kamu dan bisa menghancurkan kamu kapanpun saya mau, jadi bersiap-siaplah, " ungkapnya yang sudah tak main-main lagi.
" Ha ... Ha ... Memangnya aku takut sama ancaman kamu itu? Aku gak takut, karena selama ini kamu hanya bisa mengancam tanpa bisa melakukannya. "
" Rendi! "
" Iya bos, " jawab Rendi yang sudah mendekat.
" Sebarkan semua bukti yang kita punya untuk menghancurkan pria ini! " titah Ken yang diangguki oleh Rendi.
Sedangkan Dira bingung dengan sikap yang di tunjukkan oleh suaminya. Apa maksud dari mas Ken? Bukti apa?. Batin Dira.
"Ayo kita pergi sayang," ucap Ken dengan mencium Dira terlebih dulu di depan Darren untuk memperlihatkan bahwa Dira adalah miliknya.
...****************...
Gimana Visualnya mama Dira sesuai gak ya... Kalau kurang sesuai nanti akan aku carikan lagi.
Semoga suka ya ... Di tunggu kehancuran Darren...
Jangan lupa like, komen, vote serta hadiahnya biar author lebih semangat lagi untuk up.
__ADS_1