
Langit malam begitu gelap disertai gemuruh suara petir dan rintikan hujan yang turun untuk membasahi bumi ini. Seperti halnya dua buah mata yang terus mengeluarkan buliran putih yang membasahi pipi. Bibirnya terus mengucapkan kalimat istighfar serta jari tangan yang terus memainkan tasbih. Hanya ada untaian doa yang terpanjatkan kepada sang pencipta untuk memohon ampun atas dosa yang telah ia lakukan selama ini.
Suara petir semakin keras, membuat dua anak kembar itu terbangun dari tidurnya, dan segera berlari menuju kamar mamanya.
Kean dan Lean mengetuk pintu kamar Dira dengan keras, mendengar ada suara ketukan yang begitu keras dari balik pintu. Membuat Dira menghentikan dzikirnya, dan segera bangun dari duduknya untuk membukakan pintu.
Melihat pintu telah dibuka Kean dan Lean langsung memeluk Dira dengan erat. Melihat hal itu, Dira juga langsung membalas pelukan mereka. Dira tahu, kalau saat ini mereka tengah ketakutan dengan gemuruh suara petir yang begitu kencang. Entah kenapa, sejak kecil Kean dan Lean begitu takut dengan suara petir.
"Tenang ya…. Mama ada disini! Ucap Dira sambil menenangkan kedua putra kembar ya itu.
" Lean takut ma…. "
" Kean juga, Petir ya kencang sekali! "imbuh Kean.
" Iya…. Mama tau, sekarang kita masuk dulu ya…"ajaknya kepada Kean dan Lean. Sedangkan mereka berjalan dengan memeluk Dira dengan erat.
Melihat mereka yang seperti ini, membuat Dira tersenyum dan merasa sangat bahagia karena mereka terlihat seperti anak seusianya. Ketika takut langsung berlindung mencari mamanya.
Setelah naik ke atas ranjang, Kean, Lean masih memeluk Dira dan meminta untuk menemani mereka tidur.
Dira tersenyum dan menganggukkan kepalanya, segera ia membuka mukena yang masih ia kenakan dan segera memeluk kedua anak kembarnya yang sedang ketakutan dibawah selimut.
Dengan melantunkan lagu-lagu islami serta sholawat, akhirnya mereka terlelap bersama sambil berpelukan.
Di sisi Lain, terlihat seorang pria baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dia mulai merenggangkan otot-otot tangan dan tubuhnya, lalu berjalan menuju kamar tidur.
Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya itu.
__ADS_1
"Ah... Capek sekali...." gumamnya yang mulai memejamkan matanya sampai akhirnya dia terlelap dalam alam mimpi.
......................
Hujan serta suara gemuruh petir telah hilang, tersisa embun dan tetesan air yang masih menempel pada dahan juga dedaunan membuat mereka terlihat basah. Fajar shodiq telah mulai muncul, menandakan bahwa malam telah hilang dan waktu subuh telah tiba. Begitupun dengan Suara adzan subuh yang berkumandang memecahkan kesunyian malam dan hiruk pikuk kota Jakarta.
Kean mulai mengerjapkan Matanya, dilihatnya Lean dan mamanya masih tertidur pulas. Pelan-pelan Kean membangunkan Lean, dan berbisik "Dek...sudah subuh, bangun… waktunya kita buat kejutan buat mama!" bisik Kean di telinga Lean.
Mendengar bisikan Kean, Lean mulai membuka matanya yang masih terasa mengantuk. Tapi, dia ingat kalau hari ini adalah ulang tahun mamanya, dan mereka belum sempat memberikan sebuah kejutan, karena semalam ada suara petir yang sangat menakutkan.
Mereka turun dari ranjang dengan hati-hati, takut kalau Mamanya akan terbangun. Kemudian, Mereka berjalan dengan mengendap-endap dan membuka pintu dengan sangat pelan.
Esampainya di dapur, Kean mengambil sebuah tart di dalam kulkas, yang telah mereka simpan semalam disaat melihat Dira sudah tertidur. Mereka tau betul dengan kebiasaan mamanya, kalau sudah masuk ke dalam kamar untuk tidur, dia tidak akan keluar sampai selesai sholat subuh. Maka dari itu, mereka bereaksi saat mamanya sudah tertidur
Kean dan Lean juga tak lupa mengambil sebuah kado yang telah mereka siapkan, jauh-jauh hari.
Dira terkejut dan juga terharu ketika melihat kedua anak kembarnya masuk kedalam kamar dengan membawa sebuah kue ulang tahun ditanganya. Kean dan Lean juga menyanyikan lagu Mabruk alfa Mabruk….
"Barakallah fii Umrik mama…." seru Kean dan Lean….
Tidak terasa air mata Dira menetes karena terharu, Dira merentangkan tangannya menunjukkan bahwa dia ingin memeluk anak-anaknya itu. Melihat hal itu, Kean segera menyimpan tart di atas nakas, dan memeluk mamanya.
"Terimakasih malaikat pelindung mama…" ucap Dira.
"Sama-sama, Kean hopes that Mama will always be healthy, live long, and always be happy" ucap Kean di telinga Dira dan mengecup pipi mamanya.
"Doa yang sama dari Lean dan…. Semoga mama bisa segera menikah dengan papa ken!" imbuh Lean dengan mengecup Dira.
__ADS_1
Ucapan Lean membuat Dira terpaksa memberikan senyuman yang palsu. Hatinya terasa sedikit tersayat mengingat siapa Ken sebenarnya. Tapi, disisi lain Dia tidak ingin membuat Lean kecewa dan sedih. Entahlah, hatinya saat ini sedang Dilema antara tetap menerima Ken atau tidak. Karena Dira juga butuh waktu untuk bisa menerima semuanya dan bisa memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya antara menerima atau menolak!.
Semuanya harus di pertimbangkan dengan baik, karena Dira tidak ingin bersikap egois. Bagaimanapun juga, Ken tetap ayah biologis Kean dan Lean.
"Oh… ya, kita juga punya kado buat mama," ucap Kean yang membuka sebuah kotak yang ada di tangannya. Sebuah kalung dengan liontin yang bertuliskan namanya 'Anindira' . Sedangkan Lean memberikan sebuah gulungan kertas.
Dira mengambil kalung itu dan memakainya." "Sungguh cantik!" ucapnya dengan memegang liontin itu.
kemudian Dira membuka sebuah gulungan kertas yang diikat dengan pita. Sebuah lukisan Keluarga lengkap yang tergambar disana, ada mama, papa, Kean dan Lean. Sebuah lukisan itu membuat Dira terdiam membeku, hanya bisa tersenyum dan kembali memeluk kedua putra kembarnya itu.
Dira tidak pernah mengira bahwa anaknya yang masih berumur lima tahun ini, akan memberikan sebuah kado yang begitu berarti.
Buliran bening kembali menetes di pipinya, sungguh mereka tidak seperti anak umur 5 tahun. Mama masih ingin melihat kalian seperti anak umur 5 tahun pada umumnya. Apa karena kalian tumbuh tanpa seorang ayah? Jadi, kalian bersikap lebih dewasa dari anak-anak seusia kalian? Maafkan mama ya, karena belum bisa memberikan sebuah keluarga yang utuh untuk kalian. Mama hanya berharap di umur mama sekarang, mama bisa menjadi seorang ibu yang baik buat kalian berdua. Karena Kalian lah dunia mama dan segalanya untuk mama di dunia ini. Jika tidak ada kalian berdua, entah bagaimana nasib mama. Semoga kalian bisa tumbuh jadi anak yang baik, soleh dan sehat selalu. I love you malaikat pelindung mama.
"Ya sudah… kita sholat subuh dulu ya" ajak Dira yang diangguki oleh Kean dan Lean.
......................
Pagi telah menyama, sinar matahari telah terbit dan bunyi alarm juga telah berdering sejak tadi. Ken mulai mengerjapkan matanya dan meraba-raba mencari dimana handphonenya berada. Dilihatnya jam Di layar itu menunjukkan pukul setengah 7 pagi.
"Astaga.... Kenapa gue bisa telat bangun! Padahal kan gue mau buat surprise ke Dira!"segera Ken menuju kamar mandi.
...****************...
Terimakasih buat kalian yang sudah menunggu novel ini untuk up. Dan juga author minta maaf karena ada beberapa hal yang membuat author belum bisa up ataupun crazy up. Semoga kalian bisa mengerti.
Jangan lupa like, komen, klik favorit, serta votenya ya...
__ADS_1
Kalian juga bisa kasih author sebuah hadiah untuk mengapresiasi karya ini.