Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Kean jatuh


__ADS_3

Suasana meja makan menjadi begitu hening dan canggung. Tak ada yang bisa menjelaskan tentang pertanyaan yang diajukan oleh Kean, sedangkan Kean juga menjadi ikut bingung melihat semua orang terdiam membisu.


"Kenapa semuanya jadi diam, Apakah pertanyaannya begitu sulit untuk dijawab?" tanya Kean lagi saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari Carol, maupun Dira dan Ken. 


"Kean … sudah ya, gak usah di bahas lagi. Lagian Kalian kan harus berangkat sekolah, nanti kalian telat loh!" Kata Dira untuk mengalihkan pertanyaan dari Kean.


" Tapi Pertanyaan Kean …" 


"Sudahlah kak, kita berangkat sekolah dulu nanti bisa telat!" Sela Lean agar Kean tidak terus meminta jawaban atas pertanyaannya. Lean segera turun dari tempat duduknya lalu berpamitan kepada Dira, Ken dan juga Carol. Sedangkan Kean dengan bibir yanh manyun harus terpaksa ikut berangkat ke sekolah juga, padahal rasa ingin tahunya tentang jawaban dari pertanyaannya masih begitu besar.


Melihat wajah Kean yang manyun, Dira sudah paham kalau anaknya itu sedang ngambek dan kesal karena pertanyaannya yang tak terjawab. Kean memang tipe anak yang rasa ingin tahunya sangat besar, setiap dia ingin mengetahui suatu hal dia harus segera mengetahui jawabannya kalau tidak dia akan merasa kesal. 


Melihat Kean dan Lean sudah berangkat, Ken juga ikut pamit untuk berangkat ke kantor. Sebelum berangkat ke Kantor dia akan mencium kening istrinya terlebih dahulu. 


......................


Di dalam ruangan dengan nuansa yang terlihat sangat klasik terlihat seorang pria tengah duduk bersandar di ruang kerjanya dengan terus stalking instastory wanita yang sedang ia kejar. Melihat Senja yang membuat instastory sedang berbelanja di mall, Rian segera bangun dari duduknya dan segera melepas jas dokternya lalu pergi.



Para karyawannya merasa bingung ketika melihat Rian yang keluar dari ruanganny, berjalan dengan terburu-buru sampai tak mendengar panggilan mereka.


Dokter Rian mau kemana ya? Kok sepertinya buru-buru sekali? Apa ada sesuatu yang darurat? Gumam salah satu karyawan yang melihat Rian keluar dengan terburu-buru.


Sebelum pergi ke mall, Rian mengganti sepatunya terlebih dulu agar tidak terlihat seperti dia sedang bolos di waktu Kerja. Setelah selesai dia segera mengemudikan mobilnya melaju ke mall dimana Senja berada.


Selang beberapa menit Rian sudah sampai di parkiran mall tempat senja berbelanja. Segera Lian turun dari mobilnya dan berjalan menuju mall. Rian membuat rencana sebuah pertemuan yang tak sengaja, sehingga dia duduk di kursi panjang agar terlihat seperti sedang menunggu seseorang.



Sekian lama ia menunggu, akhirnya dia bertemu juga dengan senja. Melihat senja yang hampir berjalan di depanya bersama temanya, sengaja Rian menjatuhkan kacamata ya tepat di depan Senja.


Ketika ia berdiri tanpa sengaja ia berpapasan dengan senja.


"Hai," Sapa Rian. 


"Hai juga," balas senja yang sedikit mengingat siapa pria yang menyapanya.

__ADS_1


"Kebetulan sekali bisa bertemu kamu di sini, apa kamu sedang shopping?" ujar Rian yang melihat Senja sedang menenteng paper bag.


"Sen … dia siapa? Kok kamu bisa kenal dengan cowok seganteng ini sih? Kenal dimana?" bisik Tania sahabat Senja. 


Sedangkan senja tak menjawab pertanyaan dari Tania, justru balik bertanya kepada Rian sekedar basa basi.


"Iya, kamu sendiri sedang apa di sini?". 


"Oh … aku sedang menunggu teman, tapi sepertinya dia tidak datang. Soalnya dari tadi belum datang-datang juga. Oh ya, kalian mau kemana lagi? "


"Em.. Kita mau ke Cafe sih, mau nongkrong!" 


"Apa boleh gabung? Soalnya gak enak kalau jalan sendirian," cetus Lean untuk membuat sebuah alasan.


" Boleh kok! Sahut Tania antusias yang tak mau kehilangan kesempatan bagus ini. Sedangkan Senja hanya bisa menganggukkan kepala ketika Rian menanti jawaban darinya.


Akhirnya mereka pergi bersama untuk ke Cafe langganan Senja. Sesampainya di Cafe itu, Senja dan Tania memesan berbagai Cake juga Minuman, sedangkan Rian hanya memesan Cofee. Sejak sampai di Cafe Tania terus menatap Rian tanpa berkedip, sampai membuat Rian merasa tidak nyaman. 


Saat berada di cafe justru Tania yang lebih banyak berbicara dan bertanya kepada Andrian. Meskipun Tania yang selalu bertanya, tatapan serta pertanyaan  Andrian selalu tertuju kepada Senja. 


...****************...


Mrs Nawang : Halo ... Selamat siang Ibu Dira, Ini saya Mrs Nawang kepala sekolah dari Fabio International School mau mengatakan bisakah anda segera datang ke rumah sakit xy, soalnya Kean jatuh dari tangga bu. Ucap Mrs Nawang di balik telepon.


Mendengar perkataan dari Mrs Nawang seketika Dira terbelalak, badanya terasa Lemas, dadanya sesak rasanya sangat sakit ketika mendengar berita bahwa anaknya jatuh dari tangga. Tanpa berpikir lama Dira segera memakai kerudungnya serta mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari kamar. 


Carol yang melihat Dira turun dari tangga dengan terburu-buru serta terus mengusap air matanya, segera menghampiri Dira. 


" Kamu mau kemana Dir? Kok sepertinya buru-buru sekali dan menangis begitu?" 


"Dira mau ke rumah sakit Ma, Ke-an ja(tuh dari tangga," ujar Dira dengan nada yang terbata-bata.


"Astagfirullah hal adzim. Yasudah mama juga ikut sama kamu ya, biar kita pergi di antar oleh supir." ungkap Carol yang diangguki oleh Dira. 


Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Air mata terus menetes membasahi pipi Dira, Raut wajahnya terlihat begitu cemas memikirkan bagaimana kondisi anaknya. Karena merasa terlalu Cemas Dira sampai menyuruh supir untuk mengemudi lebih cepat lagi. Melihat kecemasan Dira yang seperti inj, Carol hanya bisa menenangkannya. 


Perkataan apapun saat ini tak akan bisa menutupi kecemasan seorang ibu ketika mendengar kabar buruk tentang anaknya, karena Carol juga pernah merasakan hal ini ketika mendengar Ken kecelakaan.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit yang dikatakan oleh Mrs Nawang. Segera Dira turun dan berlari masuk ke rumah sakit tanpa menunggu Carol. Perasaannya saat ini begitu panik, dalam pikiranya saat ini hanya ingin segera bertemu dan melihat bagaimana kondisi anaknya. 


Ketika Melihat Dira yang sudah datang, Mrs Nawang segera  memanggil Dira. Mendengar ada yang memanggilnya, Dira menoleh ke sumber suara itu dan dilihatnya dari kejauhan ternyata Mrs Nawang yang memanggilnya. Segera Dira berlarj menuju keberadaan Mrs Nawang saatbini. 


"Mama … seru Lean ketika melihat Dira datang dan langsung memeluk Dira dengan seru tangisan. 


Wajahnya terlihat sembab serta ada luka memar, sepertinya mereka habis berkelahi. 


" Wajah kamu kenapa sayang? kenapa memar seperti ini?"tanya Dira yang meneliti wajah tampan serta tubuh anaknya itu. 


" Lean gapapa, ta-pi Ka-kak ma. … " Ucap Lean yang terbata-bata dengan isak tangis yang belum berhenti juga.


"Sebenarnya apa yang terjadi dan agaimana kondisi Kean Mrs? " Tanya Dira yang sudah meng gendong Lean untuk menenangkannya.


" Saya juga belum tahu bu, soalnya Kean masih berada di dalam ruangan UGD sedang diperiksa sekarang."


Dira mencoba duduk di kursi dengan tubuh yang masih memangku Lean. Dia berusaha kuat di depan anaknya tapi sesungguhnya hatinya sangat hancur saat ini.


Tiba-tiba Carol datang menghampiri mereka, melihat kedatangan Carol mrs Nawang merasa terkejut. Kenapa Direktur bisa ada di sini?  Gumam Nawang.


" Bagaimana kondisi Kean Dir?" tanya Carol yang tak kalah cemas, sedangkan Dira hanya bisa menggeleng kan kepala karena mulutnya sudah tak mampu mengeluarkan kata-kata apapun lagi.


Melihat Lean yang terus  menangis dalam pangkuan Dira, Carol juga ikut menenangkan Lean. 


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan cucu saya Mrs Nawang? "tanya Carol dengan tatapan yang tajam. 


Raut wajah Carol yang terlihat sangat marah, membuat Mrs Nawang sedikit ketakutan. Apalagi di tambah dengan Carol yang mengatakan bahwa Kean adalah cucunya, membuat nawang semakin ketakutan dan cemas.


" Sa-ya ju-ga tidak tahu Direktur!" jawab Nawang sedikit terbata-bata.


"Tidak tahu? Terus bagaimana tanggung jawab kamu sebagai kepala sekolah sampai tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan cucu saya!" Paparnya dengan Emosi yang sedikit memuncak.


Melihat Carol yang tidak bisa menahan Emosi, Dira mencoba membuat Carol untuk lebih tenang karena ini adalah rumah sakit. Takutnya banyak pasien yang akan terganggu dengan ucapannya.


...****************...


Sudah sering author ingatkan untuk kalian jangan menjadi reader yang silent. Jadi tolong like, komen, vote serta hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2