
Setelah pulang dari acara pernikahan Ken dan Dira, Rian kembali ke rumah sakit untuk menemui Nala dan Nathan.
Saat membuka pintu kamar rawat inap Nathan, di dalam ruangan terlihat Senja sudah berada di sana.
"Kamu baru datang, Pi?" tanya Jingga yang hanya di jawab sebuah anggukan oleh Rian.
Hubungan mereka berdua, semakin hari semakin terlihat canggung. Melihat Rian telah datang, Nala tersenyum dan segera menghampiri Rian dan mencium tangannya.
"Papi tidak lupa dengan pesanan Nala?" tanyanya dengan antusias.
"Tentu saja tidak dong, sayang. Masak sama pesanan anak sendiri lupa, " Rian menyodorkan paper bag yang Ia bawa.
Nala mengambil paper bag itu dengan wajah gembira.
"Makasih ya, Pi," ujarnya sambil memeluk Rian.
"Iya, sama-sama." Rian mengelus puncak kepala putrinya yang terlihat sangat manja.
Melihat sikap Nala yang jauh berbeda ketika Rian datang, membuat hafi Senja merasa sakit. Nala seakan membuat hal itu agar Senja cemburu dengan mereka.
Sejak kejadian hari itu, Nala benar-benar masih belum menyapa Senja lagi. Padahal dulu dia jauh lebih dekat dengan Senja, tapi kini sangat dekat dengan Rian.
"Kamu baru pulang dari kerja, Mi?" tanya Rian.
"Oh, Ya Pi. Katanya Nala Kamu pergi ke pernikahan Ken, ya? Kok Kamu gak bilang sih sama Aku kalau Ken mau menikah?"
"Kalau Aku bilang, apakah Kamu bisa datang?" Bukannya menjawab, Rian justru melontarkan sebuah pertanyaan kembali.
"Ya ... Nggak juga, tapi kalau Papi bilang kan Mami bisa___"
"Yasudah, tetep gak bisa datang juga, kan!? Jadi lebih baik gak usah bilang sekalian, toh mereka juga sudah tahu kalau kamu sibuk," sela Rian saat Senja belum menyelesaikan perkataannya.
Senja menatap Rian dengan wajah kesal karena Rian. Memotong ucapannya terlebih dahulu. Ucapan Rian seakan dia sudah tak di anggap ada lagi. Meskipun apa yang dikatakan Rian benar kalau dia tak bisa datang, tapi seenggaknya Senja bisa membelikan kado pernikahan untuk Ken jika dia tahu.
Kalau seperti ini, kesannya Senja sudah tak peduli lagi dengan sahabatnya.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu, Mi? Kamu kesal gara-gara Aku tidak memberitahumu bahwa Ken menikah?" tanya Rian lagi saat melihat Senja menatapnya dengan tatapan kesal.
"Tidak, sudahlah! Aku mau keluar sebentar untuk menghirup udara segar." Senja mengambil tasnya, lalu pergi keluar dari kamar Nathan.
Dia sudah tak sanggup lagi berada di dalam ruangan Nathan lagi. Senja memegang dadanya yang terasa sesak saat melihat Rian dan Nala sama-sama seperti sedang mengucilkannya.
Kenapa rumah tanggaku harus seperti ini sekarang? Apakah salah jika Aku ingin mengejar impianku? Apa Aku harus mengalah dan resign dari pekerjaanku agar rumah tanggaku bisa kembali seperti dulu?
__ADS_1
Senja terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju taman rumah untuk menghirup udara segar.
Jika senja sedang menenangkan pikiran, berbeda dengan Nala yang sedang asyik memakan pizza yang dia pesan oleh Rian.
"Papi mau?" tawarnya dengan menyodorkan sepotong pizza.
"Papi masih kenyang, Nala saja yang makan biar kenyang,"pungkasnya.
Tiba-tiba Nathan mulai mengerjapkan mata dan terbangun dari tidurnya.
" Papi sudah pulang?" tanya Nathan.
Melihat Nathan sudah bangun, Rian segera bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju ranjang Nathan.
" Kamu sudah bangun Nath? Apa ada yang Kamu inginkan?" tawar Rian.
Nathan bangun dari tidurnya, lalu duduk bersandar di atas ranjangnya.
" Apakah acaranya lancar, Pi?" tanya Nathan.
"Alhamdulillah lancar semua," jawabnya.
"Alhamdulillah, apa Papi punya foto pernikahan om Ken?
" Kenapa wajah Mama baru Anne sangat mirip sekali dengannya?" tanya Nathan.
"Tentu saja mirip karena dia memang Mama Anne!" timpal Nala.
Rian dan Nathan menatap ke arah Nala, seakan mempertanyakan atas jawaban Nala. Sedangkan Nala menjadi bingung saat melihat Rian dan Nathan menatapnya lekat-lekat.
"Kenapa semuanya menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah?" Nala meraba wajahnya takut ada makanan yang menempel.
"Apa Kamu tahu sesuatu, Nal? Tentang Mama baru Anne?" tanya Rian yang sudah penasaran.
"Oh ... Nala kira ada apa, kalau soal itu Nala hanya tahu kalau dia adalah Mama Anne yang di selamatkan oleh seseorang dari tebing 16 tahun lalu ..." Nala menceritakan apa yang dia tahu saat Lean dan Anne datang ke ruangan ini bersama Dira beberapa hari lalu.
" Jadi, Mama Anne pernah datang ke sini? "tanya Nathan.
" Pernah, tapi saat itu Kakak masih koma. Jadi gak tahu deh! "pungkasnya.
" Kenapa Nala gak pernah cerita sama Papi kalau tahu soal ini?"
" Ya, Papi juga gak pernah tanya, kan? Jadi, Nala ya diam saja, "tandasnya yang hanya di angguki oleh Rian. Karena yang di katakan Nala ada benarnya, selama ini Rian memang tidak pernah bertanya soal Ken. Jadi pantas saja Kalau Nala tak berkata dengannya.
__ADS_1
***
Matahari mulai terbenam, pemandangan Senja di langit terlihat begitu cantik dan indah. Namun, Keindahan senja hanya datang sebentar, lalu pergi lagi.
Di kediaman fabio, terlihat para maid, pegawai, Kean, Lean, Anne, sudah berada di mushola untuk melaksanakan sholat maghrib. Sedangkan di dalam kamar pengantin baru, terlihat wanita cantik baru saja selesai mandi.
Melihat Dira keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobe pendek selutut, membuat Ken menelan salivanya. Bukan hanya itu saja, ada sesuatu yang mengeras di bawah sana.
Kenapa hanya melihat istriku memakai bathrobe saja sudah membuatmu berdiri sih, jun! Batin Ken seraya berjalan menghampiri Dira.
"Aroma tubuhmu begitu harum sayang," bisik Ken di dekat telinga Dira.
"Mas ... Aku masih mau ganti pakaian dulu," ungkap Dira sambil melepaskan lengan Ken yang melingkar di perutnya. Namun, Ken tak mau melepaskannya.
"Biarkan begini sebentar saja, ya? Soalnya Kamu telah membangunkan sesuatu di dalam sana," pungkasnya.
"Ha? Maksud mas apa?" tanya Dira yang tak paham dengan pembicaraan Ken.
"Bukan apa-apa, Mas hanya ingin memeluk istri Mas lebih lama lagi."
"Tapi, mas ... Ini sudah maghrib, kita harus sholat dulu. Aku juga jadi batal deh, gara-gara mas melukku!" gerutu Dira.
"Habisnya kamu sendiri yang mancing, sih!" Ken tak mau kalah ber-argumen.
"Ha? Mancing? Aku gak sedang memancing, kok!" lagi-lagi Dira tak paham dengan maksud Ken.
Melihat istrinya yang masih saja polos seperti dulu, membuat Ken hanya tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Yasudah kalau begitu mas wudhu dulu." Ken berjalan pergi menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah itu, gantian Dira yang wudhu kembali gara-gara Ken memeluknya, membuat dia batal dari wudhu.
Selesai mengambil air wudhu, mereka berdua turun bersama ke lantai satu untuk sholat maghrib berjamaah di mushola keluarga Fabio.
Melihat Ken dan Dira sudah datang, Lean segera bangun dari duduknya untuk mengumandangkan iqomah.
Setelah itu, semua orang sholat maghrib berjamaah dengan khusyuk.
...****************...
Hai.. Hai, maaf kalau up.nya sedikit slow dan malam2. Oh ya? Menurut kalian gimana kalau Bab MP. Papa Ken dan Mama dira di skip aja.
Setuju atau tidak! Komen di bawah ya...
__ADS_1