
Di dalam mobil, Anne masih terus saja kepikiran dengan Nala. Awalnya Ia ingin tetap di rumah sakit untuk menemani Nala, tetapi Nala menyuruhnya pulang dan istirahat.
"Kamu mikirin apa, Anne?" tanya Ken yang masih menyetir.
"Anne masih kepikiran sama Nala terus, Pa?" jawabnya.
Ken mengusap puncak kepala Anne dengan tangan kirinya. "Yaudah, besok pagi kita kan bisa kesana lagi," tuturnya.
Anne hanya mengangguk dan menatap ke arah jendela yang memperlihatkan rintikan hujan turun membasahi bumi. Melihat sikap Anne yang sangat peduli dengan orang lain, mengingatkan Ia dengan sikap Dira yang seperti itu.
Dalam diri Anne, memang gen Dira yang lebih menonjol. Mungkin hanya warna kelopak mata, tinggi badan, dan rambut Anne saja yang mirip dengannya, selain itu mirip dengan Dira. Ia bagaikan fotocopy dari Dira. Ketika Ken rindu dengan Dira, Ia akan menatap serta memeluk Anne, itu akan sedikit meredakan rasa rindunya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai juga di kediaman fabio. Awalnya Ken ingin menggendong Anne yang sudah tertidur, tapi ternyata Ia terbangun saat Ken masih ingin menggendongnya.
"Apakah sudah sampai, Pa?" tanya Anne sambil mengucek matanya.
"Sudah sayang," jawab Ken.
Setelah itu, Anne dan Ken berjalan bersama masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu rumah ....
Surprise ....
Happy Birthday, Anne .... Happy birthday ... Anne ... Happy birthday ... Happy birthday ... Happy Birthday ... Anneta ...
Deru suara nyanyian dari Kean, Lean, dan para maid terdengar memenuhi ruangan.
Lean membawakan sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka 17 yang menandakan bahwa usia Anne sekarang sudah 17 tahun.
Anne terharu ketika melihat orang-orang terdekatnya masih selalu setia memberikan sebuah kejutan ulang tahun di setiap tahunnya. Di saat semua tahu kalau hari ulang tahun Anne merupakan hari di mana Dira juga pergi meninggalkan dunia ini, tetapi semua orang tetap berusaha sebisa mungkin membuat hari ulang tahun Anne merupakan hari yang bahagia dan bersejarah.
"Happy Birthday putri kesayangan, Papa ..." ucap Ken yang sudah memeluk Anne dari belakang. "Semoga di usia Anne sekarang, Anne bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya."
"Makasih, Pa ..."
__ADS_1
Setelah itu, Giliran Kean yang memberi selamat serta memeluk Anne.
"Happy Birthday adik bodohku ... Semoga Kamu sehat selalu, dan bisa menjadi jauh lebih pintar ..." ledek Kean.
Anne memukul dada bidang Kean. "Bisa gak doanya yang lebih bagus sedikit ..." protesnya dengan bibir manyun.
Kean tersenyum. " Itu sudah doa terbaik, biar Kamu gak terus-terusan bodoh dan ceroboh!" cetus Kean sambil menarik hidung mancung Anne.
Sedangkan Lean memberikan kue yang Ia pegang kepada maid lalu memeluk Anne." Happy Birthday tuan putri ... Sekarang Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Kakak jadi sedikit sedih dan gak ikhlas melihat kamu begitu cepat sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa ..." ujar Lean.
"Tenang saja ... Aku masih tetap adik kakak yang lucu dan menggemaskan kok!" ujar Anne.
"Semoga Kamu bisa terus bahagia ya Anne, jangan pacaran dulu, Kakak gak tega kalau harus melihat adik kakak nanti nangis karena di sakiti cowok atau putus cinta!" imbuhnya.
"Kakak ..." Anne mencubit perut Lean. "Doanya kok jelek banget sih!" gerutu Anne.
Setelah itu para maid giliran memberikan selamat dan ucapan doa untuk Anne. Saat Giliran Lala, tangisnya seketika pecah melihat Anne sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan baik seperti ini.
Sejak kejadian 16 tahun yang lalu, Lala berjanji akan selalu menemani dan menjaga Anne semasa hidupnya sampai Lala sudah menikah pun, Ia tetap setia bekerja dengan keluarga Fabio. Di antara para maid, hanya ada Lala yang masih setia bekerja di sini.
"Bu Lala jangan nangis dong, seharusnya bu Lala bahagia di hari ulang tahun, Anne," ucapnya yang masih memeluk Lala. Anne memanggil Lala dengan sebutan Bu karena Lala sudah seperti Ibu kedua bagi Anne karena hanya Lala yang mengerti Anne dari maid lainnya serta yang bekerja dengan setulus hati kepada keluarga Fabio.
Setelah acara ucapan selesai, Kean segera memberikan Anne hadiah sesuatu yang sangat ingin sekali Ia miliki. Saat membuka hadiah apa yang di berikan oleh Kean, wajah Anne terlihat berbinar bahagia.
Sepaket cat minyak yang biasa di pakai sekelas seniman terkenal. Sudah lama sekali Ia ingin memilikinya tetapi sangat sulit untuk mendapatkannya dan Kean menghadiahkan itu untuknya.
"Makasih Kak ..." ucap Anne sambil mencium pipi Kean.
"Iya sama-sama," jawabnya.
Kean memang sering meledek Anne bodoh dan ceroboh, tetapi Ia juga mengakui bakat melukis Anne sehingga Ia akan mendukungnya.
"Kakak juga punya hadiah buat, Anne," pungkas Lean yang segera memberikan kotak hadiah berwarna pink untuk Anne.
__ADS_1
Anne sangat penasaran dan segera membuka kotak hadiah itu. Namun, ternyata zonk 'tak ada apa-apa di kotak tersebut. Anne seketika mengerutkan dahinya. "Kak ... LEAN ..." teriak Anne yang kesal karena Lean lagi-lagi mengerjainya dengan sebuah kotak hadiah zonk.
Anne segera mengejar Lean yang sudah berlari kabur, saat Ia bisa menangkap Lean. Lean segera memberikan kado yang asli kepada Anne. Di dalam kotak yang asli berisi sebuah tas yang juga sangat di inginkan oleh Anne.
" Ih ..." gumam Anne yang langsung mencubit lengan Lean.
"Sakit dek, kok suka banget nyubit-nyubit! Kayak kepiting aja!" lontarnya.
"Habisnya, kakak suka jahil sih!"
"Gimana? Suka, gak? Kalau gak suka nanti bisa kakak jual lagi!" cetus Lean yang segera mendapatkan pukulan dari Anne.
"Enak aja, mau di jual lagi! Tapi makasih ya ... Aku jadi terharu ... ternyata Kakaku bisa ngasih kado tas limited edition juga! " celetuknya yang Ingin mencium dan memeluk Lean, tetapi lean berusaha menghindar agar Anne semakin kesal karena Anne paling benci hal itu.
Melihat sikap Lean dan Anne yang masih seperti anak kecil membuat Ken tersenyum bahagia ketika melihat kedekatan anak-anaknya.
Setelah itu, giliran Ken yang memberikan kado untuk Anne.
"Papa, memberikan Anne perhiasan?" tanyanya yang sedikit terkejut melihat Ken memberikannya sebuah kotak perhiasan.
Saat membuka kotak perhiasan itu, Anne terkejut saat melihat sebuah kalung dengan liontin seorang peri yang memegang berlian.
"Ini ..." ucapnya sambil menatap wajah Ken.
"Itu adalah kalung yang sudah Papa pesan, tetapi belum sempat di berikan kepada Mama. Bagi Papa, Mama seperti sebuah berlian dan juga bidadari (peri) yang di berikan Allah untuk Papa, tapi sekarang Anne adalah berlian dan bidadari itu."
Anne segera memeluk Ken erat." Jika Papa ingin menangis, menangislah, Pa. Anne sudah tahu kalau hari ini juga merupakan hari dimana Mama meninggal dunia,"paparnya.
Saat mendengar perkataan Anne, genangan air mata yang Ia tahan, tetap menetes juga. Suasana bahagia menjadi haru kembali ketika mendengar bahwa Anne sudah tahu cerita yang sebenarnya. Akhirnya tidak akan ada tangisan tersembunyi di hari ulang tahun Anne, melihat hal itu semua jadi ikut menangis.
Kean dan Lean juga segera memeluk Ken dan Anne untuk saling memberikan kekuatan satu sama lain
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya...