
Malam yang menjadi saksi kisah pertempuran dari dua insan yang saling merindukan satu sama lain telah pergi, bergantikan dengan fajar yang sudah muncul ke bumi ini. Suara adzan subuh telah berkumandang di masjid dan mushola-mushola. Begitupun dengan adzan subuh di mushola keluarga Fabio.
Setiap masuk waktu sholat, pasti akan ada yang mengumandangkan adzan di mushola keluarga Fabio. Ada satu peraturan dan ketentuan yang harus di patuhi ketika bekerja di keluarga Fabio yaitu, setiap pegawai muslim yang bekerja di sini harus siap melaksanakan sholat lima waktu.
Ken melakukan hal itu semua karena kediaman keluarga Fabio jauh dari masjid dan mushola, sehingga dia ingin di mushola dalam rumah sama seperti mushola di pemukiman. Meskipun bukan rumah seorang ustadz ataupun kiyai, Ken ingin rumahnya penuh dengan keberkahan, kenyamanan, dan nilai-nilai agama. Jadi, setiap waktu sholat harus selalu ada yang sholat berjamaah di dalamnya.
Di dalam ranjang king size, terlihat seorang pria tengah mengerjapkan matanya. Setelah sepasang mata itu terbuka, hal yang pertama dia lihat adalah wajah istrinya yang masih tidur terlelap di sampingnya.
Ken tersenyum dan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
"Ternyata ini bukan mimpi, dan aku bahagia ketika bangun tidur, hal yang pertama kulihat adalah wajah cantikmu," lirihnya lalu mengecup kening istrinya.
Kecupan kening itu, membuat Dira menggeliat, namun matanya masih terpejam.
Mengingat waktu subuh tak lama, Ken segera turun dari ranjang untuk mandi terlebih dulu.
Selesai mandi dan menyiapkan air hangat di bathup, Ken baru membangunkan Dira.
"Sayang bangun, sudah subuh." Ken mencoba membangunkan Dira.
Mendengar ada yang memanggilnya, sepasang mata nan indah itu terbuka. Di lihatnya wajah tampan suaminya, membuat Dira tersenyum.
"Mas sudah bangun?" tanyanya yang mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tanpa sadar selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap sampai memperlihatkan tubuh polos tanpa pakaian itu.
Ken terkesiap, serta menelan salivanya ketika melihat tubuh polos istrinya penuh bekas merah terpampang nyata. Ken langsung membalikkan tubuh membelakangi Dira.
"Apakah Kamu ingin menggodaku lagi, sayang?" tanyanya tanpa menantap ke arah Dira. Ken terus menarik dan menghembuskan nafasnya agar sesuatu yang telah terbangun itu terduduk kembali.
Dira mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan dari suaminya sampai dia tersadar ...
" Astaga!"Dira segera menutup tubuh polosnya dengan selimut kembali.
" Maaf mas, Aku gak tau kalau__" Dira tak kuat melanjutkan ucapannya, dia merasa sangat malu sekali.
"Iya, gak apa-apa. Lebih baik Kamu segera mandi, lalu kita sholat subuh berjamaah," pungkas Ken dan di angguki oleh Dira.
__ADS_1
"Oh, ya. Mas juga sudah siapkan air hangat di bathup untuk Kamu mandi," ucap Ken sebelum Dira turun dari ranjang.
Dira hanya tersenyum, ketika melihat suaminya yang begitu perhatian dengannya. Setelah itu, Ken pergi untuk melaksanakan sholat sunnah dua rakaat sambil menunggu Dira selesai mandi.
***
Sedangkan suasana di mushola keluarga Fabio, terlihat semua orang telah sholat jamaah terlebih dahulu. Sebelumnya Ken memang memberitahukan kepada mereka semua bahwa sholat akan di laksanakan setelah 15 menit adzan di kumandangkan. Jika ada yang belum datang, dalam waktu 15 menit berarti di tinggal.
Selesai sholat, ketika melihat Ken dan Dira tak ada membuat Anne sedikit bingung. Karena biasanya Ken tak pernah absen sholat jamaah ketika ada di rumah, kecuali sakit.
"Kak, kok tumben Papa dan Mama tidak sholat jamaah di mushola?" tanya Anne kepada Kean.
"Mungkin mereka telat bangun," jawab Kean seadanya.
"Masak sih, Papa telat bangun." Anne sedikit tak percaya karena selama ini yang Anne ketahui Ken jarang sekali telat bangun. Kemudian, dia mencoba berpikir kembali alasan apa yang membuat papanya itu tidak sholat jamaah di mushola.
"Gak usah di pikirin, lebih baik Kamu ngaji. Soalnya dulu waktu mama masih ada, Papa memang sering seperti ini. Hanya ketika Mama tak ada saja, Papa jarang absen sholat jamaah subuh!" pungkas Kean.
Sedangkan Anne hanya manggut-manggut mendengarnya.
***
"Mas kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dira.
"Apakah menatap istri sendiri tidak boleh?" bukanya menjawab Ken justru melontarkan pertanyaan kembali.
"Em ... bukannya tidak boleh, hanya__" ucapan Dira terhenti ketika Ken menghujani ciuman di pipinya.
"Mas, sudah cukup!" ucap Dira ketika merasakan Ken yang tak hanya menghujani ciuman ke pipinya saja, tetapi ke lehernya juga.
"Habisnya Mas gemas sekali ketika melihat istri mas yang sedikit jaim, ini!" pungkasnya.
"Gombal deh, lagian siapa juga yang jaim? Sudah tua dan keriput begini, masa masih menggemaskan!"
Ken mengerutkan keningnya sambil menatap lebih dekat lagi wajah sang istri yang katanya sudah keriput. Tiba-tiba Dira mengusap wajah Ken agar dia berhenti menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
" Kamu kenapa sih? Mas kan hanya ingin melibat apakah benar kalau istriku ini sudah keriput, dan ternyata___" Ken menghentikan ucapannya, membuat Dira menjadi menunggu jawabannya.
"Ternyata apa?" ucap Dira yang sudah semakin penasaran.
"Ternyata tidak ada keriput sama sekali, hanya ada garis-garis halus di dekat mata saja, dan itu adalah hal yang wajar!" ucapnya.
"Masak sih? Aku baru tahu, ternyata seorang Kenzo Clarence itu seorang pria yang mulutnya maaanisss sekali."
"Apa Kamu baru tahu kalau Suamimu ini sangat sweet? Tapi di mata Mas, istriku memang masih sangat cantik sama seperti dulu." Ken memegang pipi Dira.
Dira tersenyum dan memeluk Ken. Dia merasa seperti seorang ABG yang baru saja jatuh cinta, hatinya berbunga-bunga setelah sekian lama sepi dan hampa.
Memeluk Ken sungguh ada rasa nyaman tersendiri, sampai membuatnya candu untuk terus berada dalam pelukan pria itu. Hanya dalam waktu singkat, Ken sudah mampu membuat hatinya penuh akan dirinya saja. Ternyata hati itu tahu, siapa yang dia cinta dan tidak.
Setelah merasa cukup, Dira melepaskan pelukannya. Namun, Ken kembali menarik pinggang istrinya untuk mendekat lagi.
"Mas bahagia sekali, bisa merasakan hal ini lagi. Seakan waktu berputar kembali ke masa dahulu, rasanya mas masih rindu dan ingin berduaan saja, tetapi masih begitu banyak pekerjaan di kantor." wajah Ken terlihat begitu sedih dengan bibir yang mengerucut sedikit.
Dira tersenyum sambil menopang wajah Ken dengan kedua tangannya.
" Sudah, jangan cemberut lagi, nanti kita kan bisa bertemu lagi. Lagian aku hari ini juga harus menemani Brian untuk operasi, "pungkasnya.
Ken mengangguk dan masih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya." Tapi, setelah operasi Brian selesai, Kamu bisa pulang ke rumah, kan? "tanya Ken dengan penuh harap.
" Aku usahakan ya, tapi gak janji," ucap Dira.
" Sayang, bukanya Mas melarang Kamu untuk mengurus Brian, tapi Kamu juga harus ingat bahwa ada anak-anak dan suamimu yang juga butuh perhatianmu di sini," pungkasnya.
Dira tersenyum. "Iya suamiku, Aku akan berusaha untuk bersikap adil kepada kalian semua. Nanti akan aku usahakan pulang untuk menemani kalian juga. Jadi, jangan cemburu dan berkecil hati lagi, ya?" Dira mencium pipi Ken.
Dira tahu, kalau dia harus bisa membagi waktu, dan perhatiannya agar tak ada yang merasa cemburu.
Setelah itu, mereka berdua keluar bersama untuk sarapan pagi bersama.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau upnya lama maaf ya, karena review noveltoon sedikit eror.