
Saat berada di dalam mobil, Kean dan Anne saling terdiam beberapa menit.
"Kak …" panggil Anne.
"Iya…"
"Ayo carikan Istri buat Papa …"
Shitt …. Kean seketika mengerem mendadak.
"Kakak hati-hati dong kalau nyetir, Untung aja jantung Anne gak copot!" gerutu Anne.
Kean menjitak dahi Anne. "Jantung kamu gak akan copot semudah itu! Kamu kira mainan, Lagian … Kamu itu anak kecil gak usah ikut campur urusan orang dewasa. Lebih baik, gunakan otakmu itu untuk belajar yang betul biar nilai akademikmu lebih bagus lagi!"tuturnya sambil menatap Anne yang mengerucutkan bibirnya sambil mengusap dahi yang Ia jitak.
Anne memang malas sekali untuk belajar, dia lebih suka melukis, menggambar kartun dll. Nilai pelajaran akademik Anne di bawah rata-rata, tetapi Imajinasinya luar biasa.
Melihat Anne yang berbeda dengan Kean dan Lean yang sangat pandai dalam bidang akademik, tidak membuat Ken membedakan atau menuntut Anne untuk belajar lebih giat lagi.
Ia justru mensupport bakat Anne dengan menyekolahkan dia di SMA Seni Erudio School of Art bukan di sekolah Fabio International School yang mengutamakan nilai akademik.
"Ye … mulai deh lagi … sudah berapa kali Anne bilang ... kalau Anne gak suka belajar! Karena belajar itu membosankan!" ketus Anne sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Kean hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat raut wajah Anne yang terlihat kesal saat di suruh belajar lalu melajukan mobilnya kembali menuju sekolah Anne.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai juga di depan sekolah Anne. Dengan wajah kesal, Anne mencium tangan Kean lalu turun dari mobil tanpa sepatah kata.
Kean menurunkan sedikit jendela mobilnya.
"Nanti pulang suruh jemput supir aja ya … tapi, jangan pulang terlalu sore" ucap Kean yang tak di hiraukan oleh Anne.
Kebiasaan Anne adalah setelah pulang sekolah adalah pergi hengout bersama teman-temannya, hal itu Anne lakukan karena merasa bosan harus di rumah sendiri di saat semuanya masih sibuk kerja.
__ADS_1
Anne akan pulang tepat waktu di saat Lean kerja shift malam saja, atau saat Ken ada di rumah, selain itu Ia jarang pulang tepat waktu, tetapi masih pulang di jam yang wajar.
Kean masih terdiam di dalam mobil sambil menatap pundak Anne yang sudah melenggang masuk kedalam sekolah. Sebenarnya dulu sebelum Carol meninggal, Carol juga pernah menyuruh Ken untuk menikah lagi agar ada yang menemani dan membantu menjaga anak-anak, tetapi ken selalu saja menolak dan mengatakan bahwa Ia bisa mengurus 3 anaknya sendiri.
Carol meninggal 5 tahun lalu, Carol meninggal karena mengidap Sarkoma jaringan lunak atau biasa disebut dengan tumor ganas (kanker) yang bermula di jaringan lunak.
Saat itu, Kean dan Lean masih menempuh sekolah di luar negeri. Saat itu, Carol memang tidak memperbolehkan Ken untuk memberitahu mereka karena takut mengganggu konsentrasi belajar Kean dan Lean sampai di detik-detik terakhir Ken baru mengatakan bahwa Carol sedang sakit parah.
Benar firasat Carol, Ketika mendengar berita tentang Carol yang sakit parah. Kean dan Lean langsung pulang ke Indonesia tanpa memperdulikan studinya. .
Sebelumnya Carol sempat berobat diam-diam ke Amerika sekalian melihat Kean dan Lean dari kejauhan. Saat itu kondisinya sudah parah dan tidak bisa lagi di sembuhkan, jadi Carol memutuskan pulang ke Indo karena Ia tidak mau meninggal di negara orang.
Di tinggal Carol dalam kondisi sakit parah, membuat Kean menjadi lebih mengutamakan kebersamaan dengan keluarga. Kean tidak mau lagi kehilangan orang yang di sayang tanpa tahu apapun.
Setelah lama berdiam diri sambil mengingat memori tentang Carol, Kean melajukan mobilnya pergi dari kawasan sekolah Anne.
......................
Di sisi lain, terlihat seorang dokter tampan telah selesai melakukan operasinya. Saat tiba di ruangan Istirahanya, pasti sudah ada coffee dan cemilan yang datang dari para suster yang mengidolakannya.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"Iya Masuk."
"Permisi Dok, sudah waktunya untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan pasien!" ujar perawat wanita itu.
"Baiklah, siapkan saja semuanya. Setelah ini saya akan kesana," terang Lean.
Setelah itu, Lean bangun dari tempat duduknya, memakai jas putih lalu pergi ke ruangan praktek tempat Ia melakukan pemeriksaan kepada pasien rawat jalan.
......................
__ADS_1
Hari ini pekerjaan di kantor sangat sibuk sekali, membuat Kean memijat pelipisnya karena sedikit pusing. Waktu jam makan siang sudah tiba, tetapi EKean masih di sibukkan dengan berbagai dokumen-dokumen sistem keamanan perusahaan PT. Fabio grup.
Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar.
"Masuk," ucapnya dengan nada serak gagah.
Saat melihat siapa yang datang, Kean terperangah.
"Papa kok ada di sini?" tanya Kean saat melihat Ken sudah masuk kedalam ruangannya sambil membawa paper bag yang berisi makanan.
"Apakah Papa tidak boleh mengunjungi, Putra Papa sendiri saat bekerja?" tanya Ken sambil meletakkan Paper bag yang Ia bawa.
Kean tersenyum, lalu menghampiri Ken dengan mencium tangannya.
"Boleh saja, Kean hanya kaget aja melihat Papa datang tanpa memberitahu dulu," paparnya.
Setelah itu Kean dan Ken duduk di sofa yang berada di ruangan Kean.
"Papa memang sedang ada pertemuan dengan klien di dekat sini, jadi sekalian mampir untuk membawakan Putra sulung Papa ini makan siang. Pasti Kamu belum makan, kan?" tebak Ken yang diangguki oleh Kean.
Ken tersenyum saat melihat Kean mengakui bahwa Ia memang belum makan. Sifat dan kebiasan Kean semakin mirip dengannya dulu yang ketika sibuk akan lupa makan, tetapi Kean tetap tidak melupakan kewajiban sholatnya.
Berbeda dengan Ken yang sholat setelah bersama Dira, sebelumnya Ia selalu melupakan kewajiban itu. Selesai makan siang bersama, Kean tiba-tiba ingin berbicara sesuatu dengan Ken. Awalnya Ken mengira Kean akan membahas pekerjaaan. Namun, ternyata bukan, melainkan pertanyaan yang tidak di sukainya.
" Pa, dulu papa menolak untuk menikah karena takut kalau istri baru Papa tidak bisa sayang dan menjaga kita, tapi sekarang kita sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri. Jadi, Papa boleh kok kalau mau menikah lagi. Lagian Papa berhak bahagia tanpa memikirkan kita terus."
Ken menepuk pundak Kean. "Kean ... Selama ini Papa sudah sangat ... Bahagia karena kebahagiaan Papa itu terletak pada Kalian. Jadi, tanpa menikah pun Papa sudah sangat bahagia asalakan bisa terus beraama kalian," jelas Ken.
" Tapi Papa juga butuh pendamping hidup agar Papa tidak kesepian dan terus mengingat Mama yang akan membuat Papa merasa bersalah dan sedih. Mama diatas juga pasti ikhlas kok, kalau Papa menikah lagi, "pungkasnya.
Ken tersenyum." Sudah ya ... Jangan bahas soal itu lagi karena Papa tidak akan menikah lagi dengan wanita lain. Cinta papa hanya untuk Mama selamanya, jadi tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikannya," tandas Ken.
__ADS_1
...****************...
Gimana? Lunas ya tentang dimana oma Carol... Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komen, vote, dan hadiahnya....