Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Bertemu (S2)


__ADS_3

Melihat Dira yang datang menghampirinya Anne segera mencium tangan Dira, dan saling cipika cipiki. Anne juga datang dengan membawakan sekeranjang buah-buahan segar, lalu memberikannya kepada dira.


"Kamu seharusnya gak perlu repot-repot sayang," ucap Dira dengan tersenyum lebar sambil menerima keranjang buah itu.


"Gapapa kok, Ma. Lagian gak repot juga hanya buah-buahan saja!" pungkasnya dengan tersenyum. Setelah itu, Dira memperkenalkan Anne dengan Brian dan Juga Jessy.


Jadi, ini anak perempuan momy? Memang benar-benar mirip! Tapi warna bola matanya jauh lebih indah.


Melihat Jessy yang terus menatapnya intens membuat Anne sedikit canggung dan risih.


"Apa ada sesuatu yang aneh denganku?" Tanya Anne yang membuat Jessy tersenyum


"Tidak! Hanya saja wajahmu sunggung mirip dengan Mrs Dira, bagaikan pinang di belah dua!" pungkasnya. Sedangkan Anne hanya tersenyum simpul, karena ini bukanlah orang pertama yang mengatakannya.


Setiap orang yang kenal dengan Dira, ketika melihat Anne pasti akan mengatakan hal yang sama. Jadi, oa sudah terbiasa dengan ucapan itu. Mungkin karena dia anak perempuan dan kehadirannya juga bersamaan dengan kepergian Dira sehingga membuat Ia lebih condong mirip ke Dira untuk membuat orang-orang lebih mudah ketika merindukan Dira. Hanya tinggal melihat Anne, bagaikan melihat Dira versi muda yang sedikit bule.


Setelah itu, Jessy mempersilahkan Anne untuk duduk di sofa bersama dengannya. Sedangkan Dira tetap duduk di kursi dekat ranjang Brian untuk mengupaskannya buah. Dira tidak hanya mengupaskan untuk Bri, tetapi untuk Anne juga agar ia tak cemburu.


"Bagaimana sekolahmu tadi, Anne," tanya Dira.


"Seperti biasanya, tak ada yang spesial. Hanya ada materi melukis."


"Kamu bisa melukis?" tanya Jessy antusias. Ia mencoba untuk lebih akrab lagi dengan Anne agar tidak merasa bosan, dan Anne juga bahasa inggrisnya lancar sehingga membuat percakapan mereka lebih mudah.


"Ya, Aku hobi melukis dan juga sekolah melukis karena tak pandai dalam bidang akademik."


"Oh, ya? Padahal kakakmu sangat hebat dan genius, loh!" ucap Jessy.


"Yah, Aku memang berbeda dari kedua kakak kembarku yang sangat genius dalam bidang Akademik," pungkasnya.


"Kamu punya kakak kembar?" Tanya Jessy yang semakin antusias berbicara tentang keluarga Anne.


"Yah, Aku punya Kakak kembar," jawabnya singkat.


Sebenarnya Anne sedikit kurang nyaman berbicara dengan Jessy, tetapi Ia tetap berusaha untuk ramah dan menjawab beberapa pertanyaan yang tidak terlalu privasi.


Di ruangan operasi terlihat seorang Dokter tampan barus saja menyelesaikan operasinya. Setelah operasi, dia ada jadwal untuk mengecek kondisi Brian karena Ia sempat mendapatkan laporan kalau wali Brian menolak dokter pengganti.


"Terimakasih untuk kerja kerasnya hari ini," ungkap Lean kepada tim yang sudah membantunya melakukan operasi dengan lancar.


Setelah itu, Lean melepaskan pakaian operasinya dan mencuci tangannya.


"Apa Kamu akan langsung ke ruangan orang asing itu, Le?" tanya Abi rekannya.

__ADS_1


"Iya." Lean masih fokus membersihkan tangannya.


"Tumben kamu mau menerima orang asing, Le. Biasanya Kamu mau mengobati orang asing ketika menjadi relawan saja, tetapi tiba-tiba membawanya ke rumah sakit ini. Padahal jadwal operasimu sangat padat," pungkas Abi yang sedikit penasaran dengan alasan Lean.


Selama ini Lean memang jarang menerima operasi tambahan jika bukan keadaan darurat karena seorang Dokter juga butuh istirahat. Namun, kali ini Lean mau menambah jam operasinya, dan sedang mencari tim yang mau membantunya untuk mengoperasi Brian.


"Kenapa Kamu hanya diam saja, Le. Apakah Kamu sudah tidak menganggapku sebagai sahabat lagi? Aku tahu Kamu bukan tipe orang yang melakukan hal itu demi uang yang di berikan pasien karena Kamu tidak sedikitpun kekurangan dalam hal itu," imbuhnya.


Abi tahu betul siapa Lean, dia bukanlah dokter yang menyembuhkan orang demi uang yang di berikan oleh keluarga pasien. Bahkan ketika ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongan, tetapi tak mempunyai biaya, Ia justru membantu pembayaran dengan mengatasnamakan bantuan dari rumah sakit.


Ia dokter hebat sekaligus rendah hati, tetapi punya pengalaman buruk dengan orang asing sehingga membuatnya lebih berhati-hati lagi dengan mereka.


"Jika Aku mengatakan demi Mamaku, apa Kamu akan percaya?" ucapnya setelah terdiam cukup lama.


Abi terkejut dan menatap ke arah lean lekat-lekat. "Mama? Apa hubungannya mamu dengan pasien itu? Bukankah mamamu sudah meninggal?" Abi masih bingung dan belum bisa mencerna perkatan Lean.


Lean menghembuskan nafas panjang, dia malas menjelaskan dengan rekan sekaligus sahabatnya yang loading ini. Jadi, Lean mengajak Abi untuk ikut mengontrol ke ruangan Brian agar dia tahu.


Sedangkan Abi yang begitu penasaran menerima ajakan itu, lagipula dia juga sudah tidak ada jadwal lagi setelah ini.


Lean dan Abi berjalan beriringan menuju ruangan Brian yang sekarang. Sebelumnya Lean sudah mendapatkan kabar kalau Brian telah di pindahkan ke ruangan rawat inap karena kondiainya sudah jauh lebih stabil.


Sesampainya di depan pintu kamar Brian, Lean mengetuk pintu kamar itu.Tak lama kemudian, pintu terbuka.


Setelah itu, Lean dan Abi masuk kedalam ruangan. Ketika memasuki ruangan Lean dan Abi sedikit terkejut saat melihat Anne ada di ruangan itu juga.


"Anne!" seru Lean dan Abi bersamaan.


"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Abi dan Lean yang bersamaan lagi.


Lean menatap ke arah Abi, ketika mendengar Ia terus mengatakan kalimat yang sama. Sesangkan Anne hanya diam saja, dengan tersenyum kecut ketika melihat Abi juga datang.


Anne paling tidak menyukai Abi yang selalu saja menggodanya, meskipun Lean sudah memperingati untuk tidak mendekati Anne atau menggodanya. Abi masih saja keras kepala karena dia memang menyukai Anne sejak awal sehingga membuat Lean lama-lama jengah memperingatinya. Asalkan Abi tak melakukan suatu hal yang bahaya, atau berlebihan Lean masih mentolerir, tapi kalau Abi macam-macam jangan harap dia akan lolos dengan mudah.


"Kamu sudah selesai operasinya, Le?" tanya Dira.


Abi menoleh ke sumber suara yang memanggil Lean tanpa embel-embel dokter. Ketika melihat siapa orang itu, Abi tercengang sampai membuatnya terdiam membeku. Abie mencoba mengucek-ngucek kedua matanya, lalu menatap ke arah Dira lagi.


" Le, coba cubit gue! Gue lagi gak mimpi, kan?" Abi membentangkan lengannya agar Lean mencubitnya.


Ide jahilnya kluar sehingga membuat Lean mencubit Abi dengan keras sampai membuatnya berteriak.


Auu ...

__ADS_1


"Sakit banget sih, Le! Pelan-pelan dong!" protes Abi yang memukul lengan Lean.


"Kok, Lo malah mukul Gue, Sih! Kan Elo sendiri yang nyuruh nyubit, ya Gue cubit, lah."


"Ya, tapi jangan keras-keras juga Le, sakit banget tau! Lihat ni, tangan gue sampai memerah." Abi memperlihatkan tangannya yang memerah akibat cubitan dari Lean. Sedangkan Lean hanya tersenyum dan memukul tangan itu lagi.


Bola mata Abi membola sempurna saat melihat sahabatnya yang sangat jahil itu. Ketika Abi ingin membalas, panggilan Anne membuatnya berhenti.


"Kenapa Kalian malah berantem di sini! Gak malu ya?" pekik Anne ketika melihat Lean dan abi. Seperti anak kecil yang berantem hanya karena sebuah cubitan. Padahal mereka adalah seorang dokter.


Abi hanya bisa menghela nafas panjang karena ia tak ingin terlihat buruk di mata Anne. Andai saja tak ada Anne, mungkin Ia sudah membalas perbuatan Lean.


Setelah itu, Lean berjalan menghampiri Brian untuk mengecek kondisinya saat ini. Jika kondisi Brian sudah stabil, mereka bisa segera melakukan operasi, dan tugas Lean akan lebih cepat selesai.


Sedangkan Abi, terus menatap ke arah dira lalu menata ke Anne.


Wanita ini siapa? Kenapa. Mirip sekali dengan mendiang Ibu Lean? Wajahnya juga sangat mirip sekali dengan Anne, apa jangan-jangan ... Ini yang dimaksud oleh Lean? Abi terus berpikir keras.


"Kondisimu sudah jauh lebih stabil. Jadi, Kita bisa segera melakukan operasinya agar ukuran sel kanker tidak semakin membesar," ungkap Lean.


"Jika Saya menjalani operasi? Apakah Aku bisa sembuh total?" Tanya Bri.


Lean tersenyum. "Asalkan Kamu punya keinginan yang kuat untuk sembuh, tidak ada hal yang tidak mungkin. Jadi, ubah dulu mindset kamu." Lean mendekatkan wajahnya Ke Brian. "Saya tahu kalau saat ini, Kamu sedang pesimis dengan kesembuhanmu. Jadi, tanamankan pikiran bahwa Aku bisa melawan kanker ini dan sembuh!" ucapnya sambil menunjuk hati Brian.


Brian merasa bingung ketika melihat dokter ini jauh lebih berpengalaman dan tahu tentang pikirannya saat ini. Padahal dia masih terlihat begitu muda, tetapi dia benar-benar sunggu dokter hebat yang tahu masalah pada pasiennya.


"Apakah Kamu juga anak Momy?" tanya Brian dan di jawab sebuah anggukan oleh Lean.


"Kenapa Kamu mau menyembuhkan Aku? Apa Kamu tak membenciku karena telah mengambil ibumu selama ini?"


Lean terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Dia juga tidak tahu, haruskah dia membenci anak ini atau tidak.


"Karena Aku adalah seorang Dokter dan tugasku menyembuhkan orang yang sakit!" pungkasnya.


"Kalau begitu, bisakah Aku meminta satu permohonan?" pinta Brian dengan wajah serius.


Lean memicingkan matanya, Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Brian. Ia sudah berbuat baik dengan mau menyembuhkannya, tetapi anak ini semakin melunjak saja sepertinya.


...****************...


Ada yang bisa menebak apa permintaan Bri?


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya yang banyak yah...

__ADS_1


Semoga hari ini otak author lancar. Jadi bisa crazy up di akhir bulan. Salam sayang buat kalian semua😁


__ADS_2