
Selesai sholat dzuhur berjamaah, mereka semua pamit untuk pulang. Awalnya Dira ingin pulang bersama Andrian, tapi Lean merengek minta pulang bersama Ken. Mau tidak mau Dira harus menuruti keinginan anaknya yang terus merengek itu.
"Maaf ya Ri, aku gak bisa pulang bareng sama kamu, soalnya Lean terus merengek meminta pulang bareng sama papanya" ujar Dira yang sedikit berat ketika menyebut Ken sebagai papa Lean.
"Iya Dir, gapapa kok, tapi kamu ambil dulu kado dari aku yang ada di bagasi mobil!" celetuknya. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Apalagi barusan Dira menyebut pria itu dengan sebutan papa bagi anak-anaknya.
Papa? Apa dia mantan suami Dira? Dan ingin kembali bersama?.
Setelah itu Dira mengambil kado dan bunga dari Rian dan masuk ke mobil Ken. Suasana di dalam mobil, begitu hening tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Ken terus menatap Dira yang terus menatap ke arah jendela. Kenapa sikap Dira hari ini sangat berbeda? Begitu dingin, tidak seperti sebelumnya! Apa aku melakukan kesalahan?.
Dira yang menyadari bahwa Ken terus menatapnya sejak tadi, hanya bisa menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dan menutup matanya, seolah-olah ia tertidur. Karena saat ini Dira masih tidak ingin berbicara apapun.
Lean yang melihat aura kecanggungan dan keanehan antara papa dan mamanya, memberanikan Diri untuk bertanya.
"Pa… apa papa sama mam sedang bertengkar?" tanya Lean yang duduk di kursi belakang.
Bertengkar? Saling komunikasi saja tidak! Apalagi bertengkar? Apa Dira marah karena….
Ken tersentak saat Lean menepuk Pundaknya.
"Ah…. Ma-af sayang, papa sama mama tidak bertengkar kok!" jawab Ken dengan senyuman agar anaknya percaya.
"Tapi, kenapa sejak tadi sikap papa dan mama aneh gitu, seperti sedang diem-dieman!" celetuknya.
"Sudah… Lean gak usah terlalu mikirin tentang mama sama papa ya… kita tidak sedang bertengkar kok, mungkin mama hanya sedang capek saja!" pungkasnya agar Lean mengerti.
Sedangkan Lean hanya manggut-manggut dan kembali ke posisi duduknya seperti semula.
Rendi terus mengemudikan mobil itu melaju menuju Apartemen. Selang beberapa menit mereka telah sampai.
Disaat Ken ingin membangunkan Dira, Dira terlebih dulu sudah bangun, di saat mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ternyata mereka sudah sampai, dilihatnya kedua anak kembar itu masih tertidur di kursi belakang pengemudi.
"Biarkan saja mereka tidur, biar mas sama Rendi yang menggendongnya ke Apartemen!"ujar Ken, sedangkan Dira hanya mengangguk setuju dengan perkataan Ken.
__ADS_1
Selesai menidurkan Kean dan Lean di atas ranjang. Rendi pamit untuk pergi, agar Ken dan Dira punya waktu berdua untuk bisa bicara.
" Dir, boleh kita bicara berdua? "tanya Ken kepada Dira yang masih mencopot sepatu Kean dan Lean.
" Mau bicara apa! "
" Sepertinya tidak enak kalau bicara disini, kita bisa duduk di sofa dulu, "tawar Ken.
Setelah mereka duduk di sofa, suasana menjadi lebih canggung.
" Katanya tadi mau ada yang dibicarakan. Mau bicara apa? "tanya Dira.
Kenapa nada bicara Dira dingin lagi, tidak ada panggilan Mas seperti sebelumnya. Padahal aku sangat menyukai panggilan itu.
" Apa aku melakukan kesalahan? Soalnya sejak tadi sikap kamu berubah menjadi dingin sekali dengan mas! "
Dira hanya mengangkat sudut bibirnya dan menghela nafas panjang. " Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Apakah kamu merasa melakukan kesalahan?" Bukanya menjawab, Dira justru memberikan sebuah pertanyaan.
" Jika kamu tidak merasa melakukan kesalahan, ya berarti tidak ada! Kenapa masih bertanya? Aku hanya capek, dan ingin istirahat dulu. Jadi, sebaiknya Anda bisa pulang dulu," cetusnya.
"Baiklah. jika kamu ingin istirahat, Aku akan pergi. Kalau aku punya salah, aku minta maaf ya Dir ... walaupun aku tidak tahu apa kesalahan! Karena aku kurang suka melihat kamu yang terlalu dingin dan diam terus! "pungkas Ken yang segera bangun dari duduknya dan pergi keluar dari apartemen Dira.
Setelah kepergian Ken, Dira hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hanya ada Hembusan dan tarikan nafas panjang yang terdengar.
Maafkan aku, karena belum bisa jujur bahwa aku sudah mengingat siapa kamu sebenarnya. Jujur aku benar-benar belum siap untuk menerima ini semua. Ketika melihat wajah kamu bayangan masa lalu yang kelam itu, langsung kembali terlintas di pelupuk mataku. Dimana diriku begitu kotor yang telah melakukan zina yang sangat dibenci oleh Allah. Padahal aku juga tak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi malam itu, kenapa aku bisa tidur dengan pria yang bukan muhrimku! , sampai aku memiliki dua anak kembar. Dira terus saja meneteskan airmata ketika mengingat kembali bagaimana kenangan itu, serta perjuangan dia selama ini untuk bisa terus menghidupi dua orang anak sendiri. Sungguh itu bukanlah hal yang mudah baginya.
Dentuman jarum jam terus saja berdetak dan berputar, seperti siang yang telah berganti malam. Tetapi Ken masih tetap pada posisinya terbaring terlentang diatas kasur dengan tatapan kosong. Tiba-tiba bunyi notifikasi masuk, membuatnya tersadar dari lamunannya.
Ternyata pesan chat dari Kean. Melihat apa yang tertulis di sana, membuat Ken langsung terbelalak dan tidak mengerti dengan maksud anak kecil itu.
Ken : Kean, Are you serious about the requirements your provide?
Kean : tentu saja! Jika om mampu memenuhi syarat - syarat yang Kean berikan, Kean akan menerima om sebagai papa kean begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Ken hanya bisa menggeleng-geleng bingung, melihat sikap bocil satu ini. Dia memang jauh berbeda dengan Lean, sangat sulit ditaklukkan!. Tapi, aku juga tidak bisamenyerah begitu saja. Kenapa membaca persyaratan yang diberikan Kean, seperti membaca persyaratan dari calon papa mertua. Anak ini beneran bocil atau bukan sih? Kenapa pikirannya dewasa sekali.
Karena merasa pusing setelah membaca persyaratan yang diajukan Kean, Ken mencoba menutup matanya. Siapa tahu, setelah bangun tidur dia bisa lebih fresh dan bisa memikirkan cara agar dia bisa Seger memenuhi persyaratan itu.
......................
Sejak pagi, Dira sudah sibuk menyiapkan makanan dan sudah berdandan rapi. Karena hari ini dia harus bertemu dengan klien yang telah membuat janji temu beberapa hari lalu untuk membahas proyek yang akan dikerjakan oleh Dira.
"Mama mau kemana? Kenapa sudah rapi sekali?" tanya Kean.
"Mama ada rapat sama klien di luar, setelah selesai mengantar kalian ke sekolah"
"Mama sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Lean.
"Iya, pekerjaan freelance mama. Ada sebuah perusahaan yang ingin bekerja sama dengan mama untuk membuat sebuah desain!"paparnya.
"Oh...semangat ma, semoga sukses!" seru Kean dan Lean bersamaan. Dira hanya membalas dengan senyuman dan Mereka pun melanjutkan untuk sarapan.
Setelah selesai mengantar Kean dan Lean, Dira segera mengemudikan mobilnya melaju menuju restoran dimana mereka telah membuat janji.
Sesampainya di sebuah restoran bintang lima, Dira langsung menuju private room yang telah dipesan oleh kliennya.
Suara heels yang mengetuk lantai restoran semakin lama semakin mendekat ke tempat private room tersebut. Dira perlahan mengetuk pintu ruangan itu yang masih tertutup.
"Masuk!" satu kata yang terucap dari suara serak dari bilik pintu ruangan itu.
Perlahan dira membuka pintu ruangan itu, ketika melihat siapa yang ada disana Dira terbelalak...
...****************...
Kira-kira apa ya persyaratan yang diberikan oleh Kean untuk Ken? Dan siapa orang yang ada didalam private room tersebut!. Kalau kalian tahu jawab di kolom komentar ya...
Aku minta pendapat sama kalian. Apa kalian ingin novel ini segera end atau tidak?.
__ADS_1