Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Nathan masuk rumah sakit


__ADS_3

Setelah mendapatkan panggilan itu, Rian segera masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat dimana Nathan di rawat. Pikirannya semakin tidak tenang, Ia merasa sangat bersalah karena tidak tahu apa yang sedang dilakukan Nathan selama ini.


Rian mencoba menghubungi nomor Senja, tetapi tak kunjung di angkat.


"Kamu dimana sih, Sen? Masak sibuk banget sampai tidak bisa mengangkat teleponku!"


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Rian sampai di rumah sakit tempat Nathan di rawat. Rian segera turun dari mobil dan berlari memasuki rumah sakit, Ia pergi ke ruang pemberitahuan untuk menanyakan dimanaa keberadaan pria yang baru saja mengalami kecelakaan.


Saat mengecek datanya, ternyata Nathan masih berada di ruang UGD. Setelah itu, Rian segera pergi menuju ke ruanga UGD.


Sesampainya di sana, Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan UGD untuk mencari dimana keberadaan Nathan, sampai matanya berhenti pada satu titik dimana ada seseorang yang tubuhnya penuh perbaan dan gips.


Ia berjalan perlahan untuk menghampiri orang itu, dalam hati Ia berharap itu bukanlah Nathan . Namun, ternyata apa yang Ia pikirkan tidak sesuai harapan. Karena orang yang penuh perban itu adalah Nathan putranya.


Tubuh Rian terasa lemas, Ia mencari sebuah pegangan untuk menopang tubuhnya yang hampir saja terjatuh. Hari ini hidupnya bagaikan tersambar petir serta seperti bom waktu yang tiba-tiba meledak membuatnya hancur.


"Kamu kenapa bisa jadi seperti ini, Nath? Maafin Papi ya karena kurang peduli dengan Kamu sampai Papi tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh anaknya sendiri," lirihnya sambil memegang tangan Nathan. Tidak terasa buliran putih nan hangat jatuh dari pelupuk mata membasahi pipi.


Beberapa detik kemudian, ada seorang petugas rumah sakit yang memberikan tas dan handphone Nathan. Tiba-tiba Rian ingin membuka ponsel Nathan untuk mengetahui apa saja yang ada di sana.


Saat Rian membuka pesan chat, serta aplikasi lainnya, Ia terkejut saat mengetahui apa alasan Nathan ikut balapan liar.


Ternyata apa yang di ucapkan Ken benar, bahwa hati anak laki-laki itu lebih sulit untuk di tebak. Selama ini Ia mengira bahwa Nathan cuek, bandel di sekolah, itu karena perangainya yang memang sudah berubah menjadi anak bandel. Namun, ternyata semua itu Ia lakukan hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya.


Setelah itu, Rian meminta suster untuk segera memindahkan Nathan ke kamar rawat inap agar Istirahatnya lebih maksimal dan tidak terganggu dengan pasien lainnya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi, dan panggilan itu berasal dari Nala.


Nala : Halo Assalamu'alaikum, Pi. Gimana? Apakah Papi sudah menemukan kak Nathan?


Rian : Sudah, Nal.

__ADS_1


Nala : Apa kak Nathan baik-baik saja? Kenapa suara Papi terlihat seperti orang habis menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi?


Rian : Nathan mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit xy.


Seketika tangan Nala melemas sampai membuat ponselnya terjatuh ke lantai. Ia tidak mengira bahwa firasatnya kepada Nathan benar terjadi.


"Nal ... ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Anne yang sejak tadi berdiri di samping Nala.


Bukannya menjawab pertanyaan Anne, Nala justru langsung memeluk Anne dengan menangis.


"Anne ... Kak Nathan Anne ..." lirihnya.


"Nathan kenapa? Apa yang terjadi?"


"Kak, Nathan kecelakaan ..." Nala semakin terisak.


Meskipun mereka tidak terlalu akrab, tapi Nala sangat menyayangi Nathan. Nathan baginya adalah separuh jiwa dan Kakak yang selalu menjaganya. Dibalik sifat cuek Nathan, Ia masih selalu melindunginya dari apapun. Apalagi saat di sekolah, Nathan akan menjadi orang pertama yang akan berdiri di depannya saat ada yang mengganggu.


Mendengar ucapan Nala yang mengatakan bahwa Nathan mengalami kecelakaan, Ken segera mengantarnya untuk pergi menuju rumah sakit dimana Nathan di rawat.


Saat ini yang ada di dalam pikirkannya adalah segera bertemu dengan Nathan. Saat sampai di depan kamar inap Nathan, Nala langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Ia menghambur menghampiri sosok kakak yang terbaring lemah dan belum sadarkan diri.


"Kenapa Lo bisa jadi seperti ini, Kak? Kenapa Lo gak mau dengerin omongan gue ... bangun Kak ..." pekik Nala sambil menggoyangkan tubuh Natha.


Rian segera memeluk Nala untuk menenangkannya, Ia tahu kalau Nala juga sama sepertinya sangat sedih saat melihat orang yang di sayang tengah terbaring lemah seperti ini. Padahal baru tadi pagi, Nathan masih menjahilinya, tapi sekarang ....


"Mami Mana, Pi?" tanya Nala yang tidak melihat ada keberadaan Senja di ruangan itu.


"Mami ...—"

__ADS_1


"Mami masih kerja dan tidak bisa di hubungi, ya!" sela Nala.


Rian terkejut saat mendengar tebakan Nala yang benar. Sedangkan Nala hanya menyeringai. "Ternyata pekerjaan lebih penting dari anaknya!" seru Nala.


***


Di sisi lain, terlihat seorang wanita tengah sibuk mengurus pasien. Kesibukannya saat ini sampai membuatnya lupa untuk mengecek ponsel.


Jabatan Senja di rumah sakit saat ini adalah menjadi seorang dokter kepala bagian Obygn. Tiap hari Ia mengurus banyak sekali ibu hamil dan melahirkan. Hal itu membuatnya merasa capek dan lelah.


Saat membuka ponsel, ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab masuk dari Rian. Ia segera mencoba menghubungi Rian kembali untuk menanyakan apa keperluannya.


Saat mengetahui bahwa Nathan sedang masuk rumah sakit, Senja segera pamit pulang. Untungnya jaga shiftnya sudah habis. Sesampainya di sana, Senja mendapatkan tatapan tajam dan sangat sinis dari Nala.


"Ternyata Mama masih ingat juga, kalau masih punya anak!" pungkasnya.


"Apa Maksud Kamu ngomong seperti itu dengan Mami, Nal?" tanya senja yang tidak mengerti apa maksud dari Nala.


"Maksud Nala ... Kenapa Mami baru datang sekarang, di saat Kami sudah menghubungi Mami sejak, tadi!" cerca Nala.


"Kamu kan tahu, kalau Mami masih kerja jadi gak tahu kalau kalian menelpon. Lagian Mami juga langsung kesini saat mendengar kalau Nathan kecelakaan, terus apa lagi salah, Mami?"


Nala menyeringai. " Mami masih tanya apa salah, Mami? Salah Mami adalah ... Mami terlalu sibuk dengan Pekerjaan sampai lupa dengan Anak-anak Mami! "pekiknya.


Melihat Nala yang berbicara dengan nada sedikit tinggi seperti itu, membuat Senja sakit hati. Sedangkan Rian mencoba menenangkan Nala dengan membawanya pergi keluar dari kamar.


Ia tidak mau Nala membuat keributan di depan Nathan yang masih belum sadarkan diri. Apalagi ini rumah sakit, takutnya akan menganggu pasien yang lain.


"Nal ... Kamu gak boleh ngomong seperti itu sama Mami, bagaimana juga dia adalah Mami yang harus Kamu hormati sayang. Gak boleh seperti itu lagi, ya? Papi gak mau melihat anak cantik Papi ini menjadi anak durhaka kepada orang tuanya!" tutur Rian.


"Habisnya, Nala sudah tidak bisa menahan emosi Nala lagi saat Mami selalu saja beralasan sedang bekerja, bekerja dan bekerja ..." tandas Nala.

__ADS_1


Rian memeluk Nala agar gadis itu lebih tenang lagi. Ia juga tidak ingin kalau anak-anaknya jadi membenci Senja seperti ini. Namun, Senja juga sulit sekali untuk di nasehati agar Ia lebih peduli lagi dengan Anak-anaknya. Namun, ini juga bukan sepenuhnya salah Senja karena Rian juga sebagai kepala keluarga ikut bertanggung jawab dalam memperhatikan kedua anaknya.


...****************...


__ADS_2