Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Selamat~Brian (S2)


__ADS_3

Lean menghembuskan nafas panjang, setelah Ia berhasil meneyelamatkan Brian. Nafasnya sedikit terengah-engah, tatapi ada perasaan lega juga.


Melihat kondisi Brian yang mulai stabil kembali, Lean mencoba berbicara dengan tenaga medis yang membawa Brian sebelumnya.


Lean mengerutkan keningnya, ketika mendengar penjelasan mereka yang mengatakan bahwa sebelumnya Brian memang mendapatkan suntikan obat tidur.


"Apa kalian tidak mengerti kalau itu berbahaya?"


"Kami hanya memberikan dosis yang sesuai aturan, tidak lebih! Biasanya juga tidak terjadi apa-apa, " kata petugas medis itu.


"Ya, itu tidak akan masalah jika Pasien memang tidak bisa tidur dan membutuhkannya, tetapi kalian memberikannya di saat Pasien setelah mengalami collaps agar tidak sadarkan diri kalian berikan suntikan obat tidur. Lalu melakukan perjalanan udara selama belasan jam, untung saja dia masih bisa di selamatkan. Kalau tidak, apakah kalian bisa tanggung jawab dengan keluarganya?" cercanya yang sudah naik pitam.


" Itu kami lakulan juga atas perintah keluarganya! " Timpal petugas medis lainnya yang tak terima melihat Lean memarahi mereka.


Lean mengusap wajahnya kasar, Ia mencoba menahan emosi. Menurutnya percuma saja berdebat dengan seseorang yang tak mau di salahkan. Toh, nasi juga sudah menjadi bubur, saat ini yang terpenting Brian selamat. Setelah Brian sadarkan diri dan kondisinya jauh lebih stabil, barulah operasi akan di jadwalkan.


Lean pergi meninggalkan dua orang petugas medis itu, untuk menemui mamanya yang sudah menunggu di depan ruangan ICU.


Melihat Lean keluar, Dira dan Jessy segera menghampirinya.


"Gimana kondisinya Bri, Le?" Tanya Dira dengan memegang tangan Lean.


"Iya, bagaimana kondisinya, Bri! Bukankah sebelumnya baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba seperti ini?" imbuh Jessy dengan pertanyaan panjang.


"Alhamdulillah Brian selamat," jawab Lean.


Mendengar hal itu, Dira segera memeluk Lean. Ia merasa bahagia sekali mendengar kabar kalau Brian masih selamat. Lean ikut merasa senang jika bisa bisa membuat mamanya merasa lega seperti ini.


"Makasih ya, Le," lirihnya di dekat telinga Lean.


"Apakah kita bisa menjenguk, Bri?" Tanya Dira


setelah melepaskan pelukannya.


"Boleh, tetapi satu-satu," jawab Lean.

__ADS_1


Dira tersenyum, lalu pergi menuju ruang ganti agar bisa masuk kedalam ruangan ICU untukmenjenguk Brian. Melihat mamanya yang begitu sayang dan perhatian dengan anak itu, membuat Lean merasa sedikit cemburu.


Ketika Jessy ingin pergi juga, Lean tiba-tiba mencegahnya." Lain kali jangan main-main dalam mengambil keputusan berbahaya untuk pasien," terngnya.


Jessy mengerutkan keningnya. "Maksud Kamu apa ya?" Tanya Jessy yang tak mengwrti maksud dari Lean.


"Sebelumnya Kamu kan yang mengambil keputusan untuk memberikan obat tidur untuk Brian," ujarnya yang di angguki oleh Jessy.


Lean menghembuskan nafas panjang setelah mengetahui bahwa petugas medis itu tidak berbohong kalau yang meminta memberikan obat bius itu adalah keluarga pasien. Namun, sebagai petugas medis. Seharusnya mereka juga bisa mencegah jika itu dapat membahayakan pasien. Jadi, mereka bersua di sini sama-sama salah.


" Apa kamu tahu, kalau hal itu yang menyebabkan Brian begini?"


Mata Jessy membola sempurna ketika mendengar ucapan dari Lean, Ia terkejut dan merasa bersalah kalau tindakannya hampir saja membuat Brian berada dalam bahaya.


"Lain kali jangan sbertindak gegabah kalau tidak tahu," pungkasnya yang di jawab anggukan kepala oleh Jessy.


Setelah itu, Jessy pergi dan dengan perasaan penuh rasa bersalah. Dia hanya menundukkan kepalanya berjalan menuju ruangan ganti untuk bisa masuk ke ruangan ICU.


Melihat hal itu, Lean ikut merasa bersalah, tetapi dia juga harus mengatakannya agar tidak ada kelalaian lagi.


"Apa Kamu baik-baik saja, Le?" Tanya Ken ketika melihat wajah Lean berubah sendu melihat Dira masuk kedalam ruangan ICU.


Lean mencoba tersenyum agar rasa cemburu dan sedihnya tidak di ketahui oleh Ken. "Lean gapapa kok, Pa. Papa gak berangkat ke kantor?" Ujar Lean unguk mengalihkan pembicaraan.


Ken menepuk pundak Lean. "Gak usah bohong sama papa. Papa tahu kok kalau kamu cemburu kan, melihat mama sangat perhatian dengan anak itu?" Tebak Ken. "Kamu yang sabar ya, bagaimanapun dia adalah anak mamamu juga. Jadi, Kamu harus bisa menganggap dia sebagai adik," tutur Ken.


"Lean tahu, tapi dia bukan anak mama. Itu kan __"


"Jangan pernah berbicara seperti itu, apalagi di depan mama. Dia akan meras sedih, meskipun anak itu bukan anak kandung mama. Dia lebih lama hidup bersama mama daripada kalian. Jadi, anggap saja dia anak mama dan adikmu," pungkas Ken.


Sebenarnya Ken juga berat menerima Brian, tetapi itu semua harus Ia lakukan agar hubungan keluarga ini tetap berjalan dengan baik. Toh, Brian juga yang telah membuat Dira bisa kembali ke keluarga ini. Jadi, Ken juga berhutang ucapan terimakasih dengannya yang mau melepaskan Dira.


Lean hanya bisa menganggukkan kepala mendengar perkataan Ken, mungkin itu adalah jalan terbaik. Asalkan dia tidak merebut dan membawa Dira pergi, Lean bisa menerima Brian sebagai adiknya. Namun, jika sebalikanya, Ia tidak akan segan-segan memisahkan dira dengan anak itu.


"Oh ya, Pa. Papa gak jenguk Nathan? Dia ada di rumah sakit ini juga loh!" Ujar Lean.

__ADS_1


"O, Iya. Papa sampai lupa sama Nathan. Nanti deh, Papa akan pergi ke ruangannya," pungkas Ken dan di jawab anggukan kepala oleh Lean.


Setelah itu, Lean pamit untuk masuk kerja karena sebentar lagi dia akan ada jadwal operasi sehingga membutuhkan persiapan.


Ketika Jessy ingin memasuki ruangan ganti, Ia bertemu dengan dua tenaga medis itu yang sudah menunggunya. Jessy hanya menghembuskan nafasnya kasar saat melihat wajah itu.


"Ada apa?" Tanya Jessy ketika melihat mereka menatapnya tajam.


"Kita mau minta uang karena mau pulang ke New York," jawab salah satu temannya.


Tanpa berlama-lama, Jessy mengambil ponselnya lallu mentransfer sejumlah uang ke rekwning mereka.


"Sudah, sekarang kalian boleh pergi!" ujar Jessy.


Ketika melihat nominal uang yang di berikan Jessy tidak sesuai dengan perjanjian di awal, mereka protes.


"Kalian masih protes, apa kalian tahu kalau tugas kalian itu gak becus!" cercanya.


Dua lelaki itu tak terima, Mereka mencoba protes kembali dengan mengatakan bahwa itu juga permintaan Jessy. Jadi, bukan salah mereka. Namun, Jessy segera mengancam akan melaporkan itu semua ke rumah sakit tempat mereka bekerja karena sebelumnya tidak ada penolakan atau penjelasan sedikitpun ketika Jessy meminta untuk melakukan hal itu.


Andai sana mereka menjelaskan kalau hal itu bisa berakibat fatal, Jessy juga tidak akan melakukannya. Melihat Jessy yang mengancam seperti itu, mereka pergi dengan wajah kesal karena jika Jessy melapor jabatan mereka akan di cabut.


***


Di dalam ruangan ICU, terlihat Dira sudah berdiri di samping ranjang Brian. Ia memegang tangan dingin dan lemas itu, Ia sentuh wajah pucat Brian.


"Kenapa kamu jadi sekurus ini, Bri! Maaafkan Momy yang tidak bisa menjaga dan merawatmu dengan baik. Kamu harus kuat melawan Kanker ini ya, Bri. Momy akan selalu ada di sampingmu dan menemanimu di sini, jadi nertahanlah, Nak. Momy merindukanmu," ucapnya sambil memeluk tubuh Brian.


Wajah tampan itu, belum juga membukakan mata. Namun, detak Jantungnya masih terus berdetak normal di layar monitor. Suara hembusan nafanya juga masih terdengar teratur, menandakan bahwa ia masih hidup.


Di karenakan waktu kunjugan di batasi dan tidak boleh terlalu lama, Dira pamit pergi meninggalkan Brian karena gantian dengan Jessy yang juga ingin bertemu dengan Brian.


...****************...


Semoga suka ya, banyak yang menjodohkan Jessy dengan Lean. Hello Jessy itu jauh lebih dewasa dari Lean. Jadi ya.... Entahlah!

__ADS_1


Pokoknya like, komen, vote, dan hadiahnya yang banyak biar author lebih semangat lagi upnya. Semoga nanti malam gak ketiduran lagi dan bisa up. Happy reading


__ADS_2