
Melihat Dira masih belum bisa untuk di kunjungi, Ken memutuskan untuk mengadzani putri kecilnya terlebih dahulu. Ken dan Lean berjalan beriringan menuju ruang bayi dimana tuan putri keluarga Fabio berada.
Dari kejauhan terlihat Carol dan Lean masih berdiri didepan jendela kaca ruang bayi, tatapan Lean lurus tertuju kepada adik kecilnya yang baru beberapa jam lahir keduania. Lean sangat bahagia sekali melihat adik yang lahir adalah perempuan seperti keinginannya selama ini.
Sesampainya didepan Ruang bayi, Ken dan Kean ikut serta berdiri di samping Lean dan Carol menatap seorang bayi dalam inkubator yang bertuliskan bayi Ny, Anindira Fidelya.
Menyadari bahwa yang datang adalah Ken dan Lean, Carol menatap kearah mereka.
"Papa sudah kesini? Gimana kondisi Mama pa?" tanya Lean.
"Alhamdulillah Mama selamat," jawab Ken sembari melihat kearah Lean.
"Alhamdulillah ..." sahut Lean dan Carol bebarengan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan sebagai bentuk syukur mereka.
Ken memeluk Carol dengan erat. Ia merasa sangat bersalah karena selama ini belum menjadi anak yang baik bagi mamanya. "Makasih ya Ma, sudah menjadi ibu yang hebat bagi Ken," ungkap Ken kepada Carol.
"Iya, Kamu kenapa akhir-akhir ini jadi melow gini sih … Mama kan jadi ikutan sedih," pungkas Carol yang tak terasa air matanya mengalir.
Setelah menemani proses Dira dari hamil sampai melahirkan membuat Ken sadar bahwa ternyata menjadi seorang Ibu itu tak mudah. Meskipun Ken tidak bisa menyaksikan proses kelahiran putrinya, tetapi ia tahu bahwa mamanya dulu pasti sangat berjuang sampai mempertaruhkan nyawanya agar bisa melahirkan dirinya.
" Bagaimana kondisi Dira Ken?" tanya Carol saat Ken sudah melepaskan pelukannya.
"Masih berada di ruang observasi Ma," ucap Ken sambil mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Setelah itu, Ken meminta izin kepada perawat masuk kedalam ruangan baby agar bisa mengadzani putri kecilnya karena dia memang belum melakukan hal itu. Saat Ken masuk kedalam ruangan bayi dan melihat putrinya dari dekat, Ia tersenyum.
"Assalamualaikum Tuan putri, selamat datang ke dunia ya ...putri kecil papa. Semoga kamu cepat sehat dan bisa berkumpul dengan kita," ujar Ken di samping inkubator. Selesai berkenalan dengan putri kecilnya, Ken melanjutkan untuk melantunkan adzan dan juga Iqamah.
Melihat Ken yang sudah selesai melantunkan adzan dan iqamah. Seorang perawat wanita datang menghampirinya.
"Permisi pak, mau tanya nama buat putrinya siapa ya?" tanya Perawat Wanita itu.
__ADS_1
Ken mengulas senyum. " Bhadrika Anneta Fabian," ujar Ken kepada perawat wanita itu.
Nama ini adalah rangkaian nama yang sudah disiapkan oleh Kean, Lean, Dira dan juga Ken.
Dikarenakan bayinya tidak pernah mau memperlihatkan jenis kelaminnya saat hamil sehingga mau tidak mau mereka harus menyiapkan dua nama. Satu untuk bayi perempuan dan satu bayi laki-laki.
Mereka memberikan nama ini memiliki harapan bahwa putri dari Fabian bisa menjadi anak yang ramah dan juga pembawa keberuntungan. Nama Fabian diambil dari nama belakang Kenzo agar Anne bisa terus mengingat bahwa ia adalah putri dari seorang Kenzo Clarence Fabian.
Selang beberapa menit, perawat memberitahukan bahwa jam besuknya sudah habis dan Ken harus keluar dari ruangan bayi. Sebelum Ken keluar dari ruangan, Ia memotret Anne terlebih dulu untuk diperlihatkan saat nanti Dira sadar karena ia belum bisa menemui Anne secara langsung.
"Oh ya sus, kalau boleh tahu anak Saya bisa keluar dari Inkubator kapan ya?" tanya Ken.
"Mengingat kondisi Anne yang sudah jauh lebih normal, sepertinya besok sudah bisa keluar dari inkubatir pak," jawab perawat itu.
Setelah mendengar penjelasan dari perawat, Ken pamit keluar lebih kepada Anne, dan mereka akan bertemu lagi besok.
Ketika sudah memastikan bagaimana kondisi putrinya, Ken kembali lagi untuk menanyakan apakah ia sudah bisa menjenguk Cordelia apa belum.
Ken terus menatap wajah istrinya sambil memegang tanganya. Disaat melihat perjuangan Dira untuk melahirkan sampai seperti ini membuat Ken sudah tak ingin lagi memiliki anak . Cukup sudah mempunyai dua pangeran dan satu putri. Ia benar-benar takut jika harus kehilangan Dira.
"Apa A-nak Kita selamat Mas?" pertanyaan pertama yang Dira ucapkan. Sedangkan Ken menjawab dengan sebuah anggukan kepala. Begitulah seorang ibu, ketika nyawanya sudah diambang kemartian ia tetap saja mempertanyakan bagaimana kondisi anaknya terlebih dahulu.
"Apa mau sesuatu?" tawar Ken.
"Aku haus!" jawab Dira.
Ken segera mengambilkan Air minum yang sudah dibeli sebelum masuk kedalam ruangan ini. Sebelumnya Suster telah mengatakan kepada Ken bahwa Pasien hanya boleh minum saja, setelah itu baru boleh makan roti dalam jumlah sedikit.
Ken membantu Dira untuk minum menggunakan sedotan, tubuhnya terasa sangat menyakitkan ketika dibuat gerak bagaikan habis di keroyok babak belur.
"Mau makan?" tawar Ken kembali. Dira hanya menggelengkan kepalanya sedikit, menunjukkan bahwa Ia tidak mau makan.
__ADS_1
" Apa aku bisa melihat anak kita mas?" tanya Dira.
" Besok aja ya, soalnya Tuan putri sedang tidur dan gak mau di ganggu tapi, tuan putri tadi berpesan. Jika Mama ingin bertemu denganya, Mama harus sehat dulu," tutur Ken.
" Tuan pu-tri … apa Anak Kita perempuan?" tanya Dira untuk memastikan lagi.
"Iya, dia perempuan yang sangat cantik seperti Mamanya. Bahkan wajahnya tidak ada yang mirip aku sama sekali," protes Ken.
Dira tertawa melihat ekspresi Ken saat ini yang mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal. Padahal Dira tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Ken adalah untuk menghiburnya.
"Kan Aku Mama dan yang mengandungnya selama 9 bulan, Mas. Jadi, gak masalah kan kalau dia mirip aku,"papar Dira.
" Kan aku juga yang nyumbang benihnya! "
" Kayak tanaman aja, nyumbang benih! Cetus Dira.
Setelah itu merwka berdua tertawa bersama. Saat Dira tertawa luka bekas operasinya terasa sangat sakit, bahkan bukan hanya luka bekas operasi yang terasa sakit, tetapi seluruh tubuhnya juga terasa sakit semua bagaikan habis di keroyok dan di pukuli sampai babak belur.
Akibat tak bisa tertawa membuat Dira menahan tawanya dan fokus kepada kesembuhan serta proses pemulihannya. Kemudian Ken juga memperlihatkan foto wajah Anne agar Dira semakin semangat untuk sembuh.
......................
Pagi menyapa, Dira sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan Anne juga sudah dibawa ke kamar Dira. Ken terus menatap wajah Anne yang begitu menggemaskan, tiba-tiba Anne menangis dan Ken spontan menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Mas bisa gendong?" tanya Dira.
"Gen-dong? Em … enggak! Gimana caranya?" tanya Ken yang bingung melihat Anne masih menangis.
Setelah itu Dira menyuruh Ken mendekatkan box Anne kepadanya. Dira mencoba menahan rasa sakit tubuhnya untuk mengajari Ken cara menggendong bayi.
Ken sangat antusias dan memperhatikan setiap apa yang diajarkan oleh Dira dengan seksama, Ia benar-benar Ingin bisa membantu Dira untuk mengurus Anne agar Dira tidak terlalu capek. Apalagi kondisi Dira yang belum pulih kembali membuat Ken semakin ingin bisa menggendong dan juga mengganti popok Anne.
__ADS_1
...****************...
Maaf ya kalau telat update karen author lagi sibuk mengurus yang lainya. Semoga suka dan di tunggu up selanjutnya