Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Tak ada kata damai


__ADS_3

Sang surya telah datang menyapa makhluk yang ada di bumi ini, menandakan bahwa pagi telah datang dan hari baru akan dimulai lagi. 


Di dalam ruangan dengan nuansa warna abu-abu terlihat seorang pria tengah sibuk memilih pakaian mana yang akan ia kenakan untuk kencan pertamanya. Suara dentuman jam terus berdetak menunjukan sudah pukul 9 pagi, hari Ini Andrian janjian dengan Senja pukul 10.


Selesai bersiap-siap ia segera keluar dari kamar dengan membawa sebuah kamera yang akan dipakai untuk memotret senja. Suara ketukan lantai dengan sepatu terdengar sedang menapaki anak tangga. Setelah sampai di parkiran m,. Andrian segera suk deam mobil lalu menginjak gas untuk pergi menjemput senja di rumahnya. 


Hari ini adalah weekend, sehingga banyak orang yang pergi untuk menikmati waktu libur mereka. Begitupun juga dengan Rian dan Senja yang menikmati waktu berlibur mereka dengan berjalan-jalan bersama, sekalian kencan. 


Selang beberapa menit, akhirnya ia sampai di depan pintu  gerbang rumah Senja. Ia segera mengirimkan pesan chat untuk memberitahu bahwa ia sudah datang. 


Andrian : halo tuan putri, kakak sudah ada di depan rumah. Bisa bukan pintu gerbangnya? 


Senja : Baiklah kak, ini Senja akan turun ke bawah untuk membukakan pintu. 


Setelah mendapatkan  pesan teks Dari Andrian yang mengatakan bahwa ia telah tiba di depan rumah, Senja segera mengambil tasnya dan turun ke lantai bawah untuk membukakan Andrian pintu gerbang rumahnya. 


Selang beberapa menit Senja sudah membuka pintu gerbang. Terlihat seorang pria sedang berdiri bersandar di depan mobil sport miliknya dengan tangan di tekuk di depan dada serta kacamata hitam yang masih bertengger di hidung ya yang mancung. 


"Kaka sudah nunggu lama?" tanya Senja. 


"Tidak juga kok, gak pamit dulu sama mama?" tanya Andrian. 


"Oh … kita langsung berangkat aja kak, soalnya lagi gak ada orang di rumah," ujar Senja dengan memberikan senyuman dan menutup pintu gerbang. 


Di rumah senja memang tidak ada satpam yang berjaga karena memang dia berasal dari keluarga yang sederhana, bukan dari kalangan kaya raya seperti Andrian. 


Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil, serta Andrian yangbsegera mengemudikan mobilnya melaju menerobos jalanan kota Jakart untuk menuju ke tempat yang akan mereka datangi. 


Di dalam perjalanan mereka terus saja berbicara dan bercanda Ria. Rian memang cowok humoris yang selalu bisa mencairkan suasana, sedangkan Senja juga sudah mulai menanggapi lelucon yang di lontarkan oleh Rian. Sampai tanpa tersadar mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju.


Sesampainya disana mereka segera turun dari mobil, dan mulai berjalan-jalan dan saling memotret keindahan yang ada di tempat itu.



......................


Di sisi lain terlihat seorang wanita dengan pakaian branded yang menempel pada tubuhnya, tangan yang menentang tas seharga ratusan juta serta karangan buah, dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya terus berjalan menelusuri koridor rumah sakit. 


"Mb, Boleh tanya kamar anak atas nama Kean dimana ya?" tanya Sandra kepada resepsionisi dengan menurunkan kacamatanya sedikit.

__ADS_1


"Oh dia ada di ruangan VVIP no 003 bu." 


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sandra kembali menutup kacamata yang sempat ia turunkan sebentar lalu pergi menuju kamar rawat inap Kean.


"Tuh ibu-ibu datang menjenguk orang sakit kenapa dandanannya seperti mau ke pemakaman aja, pakai serba hitam … sombong lagi! Ucapan terimakasih aja gak ada. Kata resepsionis itu dengan kesal.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Sandra sampai juga di depan kamar Kean. Ia mulai mengetuk pintu kamar itu dan tak butuh waktu yang lama ada seseorang yang datang untuk membukakan pintu. 


Melihat siapa yang datang, membuat Netra keduanya saling bertatapan satu sama lain. Dira terkejut ketika melihat siapa yang datang, wanita yang ada di hadapanya saat ini adalah wanita yang ia kenal karena merupakan adik sepupu dari mantan suaminya dulu.


"Sandra, Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dira yang tak mengerti kenapa bisa Adik sepupu Darren bisa datang ke rumah sakit dengan membawa karangan buah di tanganya.  


"Dir … siapa yang datang?" panggil Carol yang penasaran siapa yang datang karena Dira hanya berdiri di depan pintu tanpa mempersilahka orang itu masuk ke dalam. 


"Lama tidak bertemu Dira," sapa Sandra " Aku datang kesini  untuk menjenguk anak kamu Dir," ucap Sandra.


Dira mengernyitkan dahinya. Menjenguk Kean? Kenapa Sandra bisa kenal dengan Kean? Sandra ... apa jangan-jangan dia Sandra … Batin Dira.


Melihat Dira yang masih saja berdiri di depan pintu, membuat Carol semakin penasaran dan segera menghampirinya untuk melihat siapa yang datang sampai membuat Dira terdiam. Ketika melihat siapa yang datang Carol terkejut dan terbelalak. 


"Ngapain kamu kesini!" ujar Carol dengan nada yang sedikit tinggi. 


"Gak perlu, Saya tidak menerima tamu wanita yang kejam!" ujar Carol dengan tatapan yang tajam


Mendengar ucapan Carol yang pedas dengan raut wajah yang begitu marah, Dira semakin bingung dan tak mengerti ada apa sebenarnya. 


"Mama kenal sama Sandra?" 


"Tentu saja! Loh … kamu kenal juga sama wanita ini!" tunjuk Carol kepada Sandra yang di balas dengan sebuah anggukan oleh Dira. " Darimana kamu kenal dia?" 


"D-dia adalah adik sepupu dari mantan suamiku dulu ma."


Mendengar apa yang dikatakan Dira, Carol langsung menoleh kearah Sandra dengan tersenyum kecut. 


"Oh … pantas saja dia wanita yang gak punya hati, memang sudah dari gennya seperti itu!" sindir Carol dengan tatapan yang merendahkan.  


"Maksud anda apa bilang seperti itu?" ujar Sandra yang tak suka dengan tatapan serta ucapan yang Carol katakan. 


"Sudah Dir, kita masuk aja gak usah ladenin orang seperti dia," ujar Carol yang mencoba mengajak Dira untuk masuk dan ingin menutup pintu.

__ADS_1


Melihat Carol yang ingin menutup pintu, Sandra segera menahanya.


" tunggu! Saya kesini hanya mau minta maaf dan ingin berdamai!" ucap Sandra dengan menahan pintu yang akan di tutup.


Mendengar ucapan Sandra Carol hanya menyeringai. Sedangkan Dira menjadi lebih bingung dan tak mengerti dengan suasana yang ada saat ini. 


"Tidak ada kata berdamai untuk orang seperti kamu!" cetus Carol.


" Maksud kamu apa mau minta maaf dan berdamai. Apa kamu adalah wanita bernama Sandra yang telah mencelakai anakku?" tanya Dira untuk memastikan apakah dugaanya benar atau tidak.


" Iya, itu aku. Tapi aku melakukan itu karena gak sengaja ...


Plak… 


Sebuah tamparan melayang di pipi Sandra sampai memberikan sebuah bekas merah jari di pipinya. Sandra merintih kesakitan sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang di berikan oleh Dira.


"Maksud kamu apa menampar aku, aku kan belum menyelesaikan ucapanku," protes Sandra yang merasa geram dengan sikap yang diberikan oleh Dira. Ingin rasanya ia kembali menampar Dira, tapi apalah daya di sini dia harus menjadi pemeran protagonis bukan antagonis agar mereka mau berdamai dan tidak melanjutkan masalah ini.


" Kamu pantas mendapatkannya karena kamu tidak hanya mencelakai tubuh anakku, tapi mental mereka juga dengan perkataan kamu yang tak benar itu."


"Apanya yang tidak benar, bukankah itu memang benar adanya kalau kamu itun...


Sebelum Sandra menyelesaikan ucapannya, Dira segera membungkam mulut Sandra dan menyeretnya pergi dari kamar Kean agar Kean dan Lean tidak terbangun dan mendengar pertengkaran mereka.


Emm ..... Erang Sandra karena mulutnya masih di bungkam oleh Dira. Setelah mereka sedikit menjauh dari ruangan pasien, Dira segera melepaskan bungkamanya.


"Kamu apaan sih, kenapa kamu menyentuh mulut aku dengan tangan kotor kamu itu!" protes Sandra.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, karena tangan aku yang jadi kotor karena mulut kotor kamu!" cetus Dira yang tak kalah kesal karena Angel sempat meludahi tanganya.


Sandra ingin menampar Dira yang mengatakan bahwa mulutnya kotor, tapi Dira dengan cepat menangikisnya.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku berkata seperti itu, Sandra kamu itu seorang ibu seharusnya kamu bisa berkata yang baik lagi terhadap anak kecil, dan aku tidak akan mencabut gugatan yang di berikan oleh mertuaku. Karena itu sebagai bentuk pelajaran supaya kamu bisa sadar dengan apa yang telah kamu perbuat. "


" Dir ... Aku mohon sama kamu dir, tolong cabut gugatan itu ya ... Soalnya kalau kamu tidak mau berdamai suami kamu akan melibatkan bisnis suami aku juga!" pinta Sandra yang tiba-tiba mengenggam tangan Dira untuk memohon, karena mengingat kembali bagaimana ancaman yang di berikan oleh Adimas jika ia tidak bisa mendapatkan maaf dari keluarga Fabio.


" Aku akan bilang kepada suamiku untuk tidak melibatkan bisnis suami kamu, tapi aku tidak akan menarik gugatan aku kepada kamu!" ungkap Dira dengan melepaskan tangan Sandra dan segera pergi meninggalkan Sandra yang masih terdiam membeku.


Sombong sekali kamu Dira, jika aku hancur kamu juga harus hancur!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2