Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Akan ku bantu obati (S2)


__ADS_3

Melihat Dira yang terus merasa sedih, Ken mengajakanya masuk ke dalam kamar bersama Anne. Setelah berhenti menangis, Ken memberikan segelas air putih agar Dira jauh lebih tenang.


"Mas, Aku izin pulang ke New York, ya?" Ucap Dira.


Ken terbelalam saat mendengar ucapan Dira, Ia masih tidak mengerti kenapa Dira tiba-tiba menangis sesegukan, lalu izin minta pulang ke New York. Padahal tadi pagi, mereka hampir saja mempertaruhkan nyawa gara-gara Dira tidak ingin pulang, tapi kenapa...


"Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Ken yang tak mau menyimpulkan sesuatu sendiri.


"Anakku sakit parah," jawabnya.


Ken mengerutkan kening, mencoba mencerna ucapan Dira. "Anak? Maksud kamu___"


"Anak Samuel yang sudah ku rawat selama 16 tahun terakhir," pungkasnya.


Entah kenapa ketika melihat Dira se-sayang itu dengan anak angkatnya, membuat Anne merasa sakit. Tidak bisa di pungkiri kalau Anne merasa iri dengan Brian karena bisa di sayang seperti itu dengan mamanya, tetapi Anne juga tidak bisa bersikap egois, bagaimanapun mamanya memang telah merawat anak itu selama 16 tahun. Jadi, pantas saja kalau mamanya bisa begitu sayang dan khawatir ketika mendengar dia sedang sakit parah.


"Jadi, Kamu mau pulang ke New York? Lalu bagaimana kalau Samuel___"


"Aku tahu mas khawatir, tapi Aku juga tidak bisa tenang jika belum melihat kondisi Brian," pungkasnya yang sudah kembali meneteskan air mata.


Melihat Dira yang seperti ini membuat Ken menjadi serba salah juga, Ia tidak ingin bersikap egois, tetapi bagaimana dengan perasaan Anne, Lean dan Kean ketika mendengar Dira begitu menyayangi anak orang lain seperti ini.


"Kita bicarakan dulu dengan anak-anak ya," ujar Ken yang tidak mau mengambil keputusan sendiri karena masih ada anak-anak.


Dira hanya menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa Ia setuju dengan ucapan Ken. Setelah itu, Ken menyuruh Anne memanggil Kean dan Lean untuk datang ke kamarnya.


Anne menuruti perintah Ken, lalu dia segera keluar dari kamar untuk memanggil Kean dan Lean. Anne menghela nafas panjang, dengan berat hati Ia berjalan menuju kamar Kean dan Lean.


Sesampainya di kamar Kean, Anne mengetuk pintu kamarnya. Sambil menunggu pintu di buka, Anne memutuskan untuk mengetuk pintu kamar kamar Lean juga yang berada di samping.


Jika dulu, Kean dan Lean satu kamar, sekarang mereka memiliki kamar sendiri, tetapi masih berdampingan.


Ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar, Kean segera bangun dari duduknya berjalan untuk membukakan pintu, begitupun dengan Lean.

__ADS_1


Melihat Anne berdiri di pembatas antara kamar Kean dan Lean membuat mereka mengerutkan kening.


"Ada apa, dek?" tanya Kean.


"Papa menyuruh kakak semua datang ke kamarnya,"pungkasnya.


" Ke kamar papa?"tanya Lean yang masih bingung kenapa Ken menyuruh mereka datang ke kamarnya malam-malam begini.


" Kita berdua? " imbuh Kean dan di jawab anggukan kepala oleh Anne.


Setelah itu, mereka bertiga berjalan beriringan menuju kamar Ken. Karena penasaran, Lean mencoba bertanya ada apa mereka semua di panggil, tetapi Anne tidak menjelaskan.


"Nanti Kakak akan tahu sendiri," pungkasnya.


Lean dan Kean semakin bingung dan mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat Ken mengumpulkan mereka semua di kamarnya. Karena biasanya jika ada sesuatu yang ingin di bicarakan, mereka akan berkumpul di ruangan keluarga, bukan kamar pribadi Ken.


Sesampainya di kamar Ken, mereka bertiga langsung saja masuk karena pintu tidak di tutup. Ketika melihat Dira juga ada di sana dengan wajah yang terlihat seperti habis menangis, membuat Kean dan Lean semakin bingung.


Kean, Lean, dan Anne hanya menuruti perintah Ken, tanpa membantah atau berkata sedikitpun.


Setelah melihat mereka semua duduk, Ken menarik nafas panjang. Lalu mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi. Awalnya Kean menolak kalau dira harus pulang ke New York karena melihat sikap Samuel yang licik membuatnya khawatir dan tidak tenang.


"Kalau misalkan papa ikut pergi menemani mama, gimana?" tawarnya.


"Mas, yakin mau menemani aku pulang ke New York? Bukankah urusan di perusahaan banyak? Kalau mas pergi nanti___"


"Kean setuju, urusan kantor biar Kean yang handel. Jadi mama sama papa gak usah khawatir soal itu," pungkas Kean.


"Lean tidak setuju!"


Semua terkejut dan menatap ke arah Lean saat mendengar dia mengatakan tidak setuju.


"Kenapa Kamu tidak setuju, Le?" tanya Dira.

__ADS_1


"Lean tidak setuju kalau mama dan papa pergi ke New York. Lean juga seorang dokter, meskipun peralatan medis di luar negri jauh lebih baik, tetapi kecanggihan di rumah sakit tempat Lean bekerja juga tidak kalah. Soal menyembuhkan kanker tidak hanya tentang alat medis yang lengkap saja, tetapi keahlian dokternya juga di perlukan, dan mukjizat dari Allah. Lean tidak menyombongkan diri, ataupun mengejek keahlian dokter di sana. Lean hanya mau mengatakan bahwa Lean mau membantu menyembuhkan Brian," jelas Lean.


Jika berbicara soal keahlian, Lean memang tidak bisa di ragukan karena sebenarnya dia juga pernah mendapatkan tawaran bekerja dari rumah sakit ternama di luar negeri. Namun, Ia menolaknya karena Lean lebih suka menyembuhkan orang-orang yang ada di negerinya sendiri sehingga bisa membuat kemajuan medis di Indonesia juga tak kalah dari luar negeri.


Jika untuk menjadi relawan, Lean memang sering ikut, tetapi untuk bekerja di rumah sakit negara lain, dia menolak.


"Kamu serius, Le? Mau membantu menyembuhkan Brian?" tanya Dira untuk memastikan lagi.


"Apa Kamu ada waktu, Le? Bukankah antrian operasimu masih sangat panjang?" timpal Ken yang tahu kalau Kean bukanlah dokter senggang.


"Antrian operasi memang panjang, tetapi itu bisa di atur. Saat ini, Lean butuh rekaman medis dari Brian dulu agar Lean tahu apa yang harus di lakukan" jelasnya.


Ada perasaan lega di hati Dira, dia segera memeluk Lean dengan erat. "Terimakasih, Le,"lirihnya.


Lean melakukan ini semua agar Dira bisa tenang dan tidak lagi kembali ke negara itu, Lean takut kalau Dira kembali akan ada sesuatu tak terduga yang terjadi. Jadi, lebih baik Ia mengalah untuk menambah shif kerjanya demi menyembuhkan Brian.


Setelah itu, Dira segera menghubungi Jessy untuk mengirimkan rekam medis Brian agar Ia bisa membantu mencari pengobatan bagi Brian. Awalnya Jessy tidak yakin kalau dokter yang di rekomendasikan oleh Dira jauh lebih baik dari tim dokter yang ada di sana, tetapi setelah mengetahui siapa dokter itu sebenarnya Jessy langsung setuju.


Lean merupakan dokter genius yang sering di bicarakan di kalangan dokter ahli bedah, tetapi identitas aslinya di sembunyikan dengan rapat. Selama ini, Lean tidak pernah mau di sorot media medis, ataupun yang lainnya. Keahlian Lean di ketahui dari mulut ke mulut pasiennya, kalaupun memberikan materi dia akan menyamar menjadi orang lain.


Ketika ada yang mencoba mencari tahu tentang identitasnya, Kean akan untuk memblokir orang itu. Dari dulu Kean yang selalu membantu menjaga identitas Lean agar tidak terjadi kejadian serupa seperti saat mereka masih kecil.


"Jadi, Kamu seriusan dokter misterius itu?" tanya Jessy yang belum percaya. Kebetulan Jessy juga sedang mencarinya untuk mengobati Brian, tetapi Ia belum bisa menemukan dokter misterius itu.


"Ya, itu saya! Tapi tolong rahasiakan identitas saya, jangan sampai ada yang tahu. Saya mau membantu menyembuhkan Brian karena mama, tapi kalau saya tahu kamu membocorkan identitas saya. Saya tidak akan mau membantu," tutur Lean yang hanya di angguki oleh Jessy.


Ia bisa merahasiakan hal itu, asalkan Brian bisa sembuh. Dan kebetulan ada Dira juga sehingga Bri akan lebih mudah lagi untuk melakukan pengobatan.


Ternyata dokter misterius itu adalah anak Agatha? Sungguh kebetulan yang menguntungkan! Ternyata keputusanku untuk memberitahukan Agatha tidak salah! Batin Jessy.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya... Terima kasih sudah selalu mensupport karya author. Semoga kalian tetap suka dengan alur ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2