
"Loh La, Kamu kok sendiri? Dira kemana?" tanya carol saat melihat Lala kembali sendirian tanpa Dira.
"Loh, bukannya Nyonya Dira sudah kembali duluan Nyonya? Soalnya tadi disana sepi. Jadi, Lala kira Nona sudah kembali," papar Lala.
Carol menautkan kedua alisnya.
"Kamu serius? Sejak tadi Dira belum kembali." Carol bangun dari duduknya, perasaanya mulai tak enak.
"Kalian semua cepat cari Dira sampai ketemu! Dan panggil Ken, katakan bahwa Dira hilang!" perintah Carol kepada para pengawal dan maid.
"Baik Nyonya,"
Setelah mendapatkan perintah dari Carol semua bergerak untuk mencari dimana keberadaan Dira.
Ken yang mendengar bahwa Dira hilang segera berhenti main speed boat dan berlari menghampiri Carol.
"Ma, Apa benar Dira hilang?" tanya ken penuh cemas dan Carol hanya bisa menganggukkan kepala sambil mencoba menenangkan Anne yang terus menangis.
Sepertinya Anne mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi dengan Dira sehingga Ia terus saja rewel dan menangis. Ken membolakan matanya, tanpa berpikir panjang Ia segera pergi ikut mencari di mana keberadaan Dira.
Kean dan Lean baru saja datang dari Main speed boat.
"Oma, katanya Mama hilang. Apa itu benar?" tanya Lean.
"Iya, Mama Kalian hilang," pungkas Carol.
Mendengar bahwa Dira menghilang, Kean dan Lean juga ingin ikut mencari Dira, tetapi Carol mencegahnya karena biar orang dewasa saja yang pergi mencari. Kalau mereka ikut mencari, bukanya mendapatkan Dira justru akan kehilangan mereka juga.
Di dalam mobil, terlihat seorang wanita mulai mengerjapkan mata, Ia mengedarkan pandangannya meneliti dimana Ia berada sekarang.
Saat melihat adabeberapa pria tengah memperbaiki mobil, sedangkan yang lainya tengah sibuk menelpon. Dira yakin bahwa saat ini dia sedang di culik.
Melihat situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk kabur, perlahan-lahan Dira keluar dari mobil dan segera berlari, tetapi Ia segera ketahuan dan dikejar oleh beberapa pria. Jalanan di tempatnya saat ini begitu sepi, hanya ada beberapa pengemudi yang melaju cepat karena ini daerah tebing yang dibawahnya adalah lautan lepas.
Dira terus berlari sambil meminta pertolongan. Namun, tak ada seoran pun yang membantunya mungkin para pengemudi itu takut kalau Dira adalah orang-orang penipu yang sedang berakting meminta tolong sehingga semua orang melaju dengan kecepatan tinggi dan takut berhenti.
__ADS_1
Saat dirinya mulai kehabisan tenaga, tiba-tiba tangannya sudah di cekal oleh seseorang.
"Mau kabur kemana lagi kamu!" ucap Pria itu.
Dira ketakutan saat pria itu berhasil menagkapnya, Nafasnya sudah terengah-engah akibat berlari dari kejaran para penculik itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada Dira berusaha untuk memberontak dan melawan para pria itu. Di tengah perkelahian mereka, tanpa sengaja Dira terpeleset dari atas tebing dan jatuh ke lautan lepas.
Melihat ada wanita jatuh dari tebing, banyak pengendara langsung memberhentikan mobilnya dan menangkap para pria itu lalu memanggil polisi.
Saat melintasi jalanan tebing, ketika melihat ada keramaian serta banyak mobil patroli berhenti di pinggiran jalan. Seketika hati Ken ingin memberhentikan mobilnya dan melihat apa yang telah terjadi.
"Kem, berhenti dulu,"pinta Ken kepada Kemal supir sekaligus pengawalnya.
Kemal memberhentikan mobil sesuai perintah dari Ken. Ken segera turun dan bertanya kepada salah satu orang yang ada disana.
"Ini ada kejadian apa ya Pak?" tanya Ken kepada salah satu pria .
"Katanya sih, ada wanita jatuh dari tebing!"
Mendengar perkataan itu, pikiran Ken mulai tak tenang. Ia segera menyerobot masuk ke dalam kerumunan.
"Saya kurang tahu Pak, karena masih dalam penyelidikan, tetapi menurut saksi mata sepertinya dia sedang berkelahi dan pria itu sudah dibawa ke kantor polisi sekarang," ungkap polisi itu sambil memegang sebuah bukti di tangannya.
"Apakah itu benda wanita yang jatuh dari tebing?" tanya Ken dan dijawab sebuah anggukan.
"Apa boleh Saya melihatnya sebentar untuk memastikan kalau itu bukan Istri saya yang hilang," pungkas Ken dengan wajah memelas.
Polisi Itu ragu-ragu untuk memberikan kepada Ken karena itu merupakan benda dari korban. Namun Ken terus memohon sampai polisi itu hanya memperlihatkan saja tanpa memberikan kepada Ken.
Dalam hati, Ken penuh harap bahwa wanita itu bukanlah Dira. Saat melihat gelang yang ada di tangan polisi itu, Ken terkejut, dunianya seakan berhenti, tubuhnya melemah, air mata yang Ia coba tahan seketika jatuh tanpa permisi.
"Tidak ... tidak mungkin ..." Ken geleng-geleng kepala mencoba untuk tidak percaya.
"Tuan, Anda Kenapa?" tanya pengawal Ken saat melihat Tuanya jatuh di tanah.
"Tidak ... Itu pasti bukan ... Kamu gak mungkin Ninggalin Aku secepat ini kan Sayang ..." Gumam Ken.
__ADS_1
Seketika bayangan memori tentang ucapan Dira semalam terlintas kembali dalam ingatanya. Dimana perkataan Dira semalam bagaikan sebuah pesan terakhir dari Dira untuknya.
" Mas, kalau misalnya Aku pergi duluan, tolong titip jaga anak-anak ya. Didik mereka menjadi anak yang baik, sholeh sholeha, jangan terlalu memanjakan mereka dengan menuruti semua keinginan mereka tanpa ada usaha. Aku tahu Mas punya segalanya, tetapi aku ingin mereka menjadi anak yang mandiri, bisa mendapatkan sesuatu dengan usahanya sendiri, ringan tangan untuk membantu orang lain, gemar bersedekah, dan tidak melihat orang lain dari segi materi. "
" Kamu kenapa berkata seperti ingin pergi saja, memangnya Kamu mau kemana? Mas gak akan pernah biarin kamu tinggalin Mas dengan anak-anak begitu cepat karena kita semua masih membutuhkan Kamu. Jadi, gak usah mikirin yang enggak- engak. Lebih baik tidur aja karena besok jadwal kita banyak! ".
" Yang namanya umur kan gak ada yang tahu Mas, Aku hanya jaga-jaga saja. Kalau nanti Mas mau menikah lagi juga tidak apa-apa, Aku ridha agar Mas ada yang urusin, tetapi Dia juga harus sayang sama anak-anak juga. "
" Sudah, tidur. Jangan meracau lagi, lagian Mas gak akan pernah menikah lagi dengan wanita lain karena hanya Kamu istri Mas satu-satunya sampai mati. "
Pikiran Ken terus saja memikirkan perkataan Dira semalam sampai Ia tak sadar kalau sudah sampai di depan kantor polisi tempat penjahat itu berada. Saat Kemal memanggilnya, Ken segera turun dari mobil dengan langkah besarnya, serta emosi yang menggebu berjalan masuk menuju kantor polisi.
Ken mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu, dimana tempat ruang Investigasi. Saat menemukan sebuah papan yang bertuliskan ruang Investigasi, Ia segera berjalan menuju ruangan itu.
Sesampainya disana, Ada 3 pria yang tengah di Introgasi. Tanpa berpikir panjang, Ken menyelonong masuk dan mengangkat kerah leher pria yang sedang duduk di kursi Introgasi . Saat melihat tiba-tiba Ken masuk tanpa permisi, para polisi ingin menangkapnya, tetapi pengawal Ken segera menghadang.
" Siapa wanita yang jatuh ke tebing? Dan Siapa kamu?" tanya Ken dengan nada berat serta tatapan tajam membunuh.
"Em ... An-da Si-apa?" tanya Pria itu dengan nada terbata-bata.
"Jawab pertanyaan Saya! Siapa wa-nita Itu!" pekik Ken yang semakin mencengkram kuat.
"Pak, Anda tenang terlebih dulu, kita bisa selesaikan ini baik-baik," tutur kepala Investigasi.
Ken melirik pria itu. " Saya tidak bertanya dengan Kamu! Cepat Jawab! Atau—
" Di-ra ... Saya hanya di suruh oleh seorang pria bernama Darren Maxwell!"tandas pria itu.
Sebuah bogeman mendarat ke wajah pria itu, semua orang mencoba melerai Ken sampai polisi mengeluarkan senjatanya jika Ken tidak berhenti memukul pria itu.
" Hukum mati semua pria ini! Kalau tidak, Saya akan hancurkan kantor polisi ini!" Ancam Ken, lalu bergegas pergi mencari dimana keberadaan Darren Maxwell serta menyuruh tim profesional untuk mencari Dira.
"Hei, Siapa Kamu! Berani-beraninya mengatur polisi!" pekik seorang kepala Introgasi yang tidak terima Ken memerintahnya dengan seenaknya.
Saat Ken pergi, salah satu pengawal Ken segera memberi tahu siapa Ken. Mereka juga akan segera mengirim sebuah pengacara handal untuk datang mengurus kasus ini.
__ADS_1
...****************...