
"Hai, Anne. Mau ketemu dokter Lean?" sapa salah satu perawat yang menyukai Lean.
"Iya, Kakak ada di ruangannya atau—"
"Dia masih ada operasi mendadak mungkin dua jam lagi baru selesai," ujar perawat itu.
"Oh ... yasudah gapapa. Lagian Aku juga mau menjenguk temen dulu kalau gitu duluan ya, Kak," pamit Anne ramah. Kemudian berlalu pergi menuju kamar Nathan.
"Assalamualaikum ..." salam Anne saat masuk ke kamar Nathan.
"Waalaikumsalam ..." jawab Nala sambil menghampiri Anne.
Nala terperangah saat melihat Anne datang bersama seorang wanita yang sangat mirip sekali dengan Anne.
"Nal, ada apa?" tanya Anne saat melihat Nala menatap Agatha tanpa berkedip.
"Eh, Iya." Nala sedikit kaget saat Anne memanggilnya. "Ini si-apa Anne?" tanya Nala.
"Kenalin, Ini Tante Agatha dan Ini sahabatku Nala," Anne mencoba memperkenalkan Agatha kepada Nala.
Agatha mengulurkan tangan untuk berkenalan dan di sambut dengan sopan oleh Nala. Saat mereka berjabat tangan, Nala masih terus menatap Agatha lekat. Ia masih terkejut serta tidak percaya bisa melihat wanita yang sangat mirip dengan Anne bagaikan melihat Anne versi tua.
"Oh, ya. Silahkan duduk, Tan." Nala mempersilahkan Agatha dan Anne untuk duduk di sofa.
"Gimana kondisi Nathan? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Anne.
"Alhamdulillah, kata kak Lean kondisi kak Nathan sudah jauh lebih membaik setelah operasi,"terangnya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Oh, ya oma sama opa gak ada yang datang?" tanya Anne.
"Papi memang sengaja gak bilang karena takut membuat mereka cemas dan khawatir sekaligus tidak ingin mereka tahu kalau hubungan rumah tangga Mami sama Papi lagi gak baik," jelas Nala.
Anne memeluk Nala. "Yang sabar ya, Nal. Aku doakan semoga keluargamu bisa kembali seperti semula."
"Amin."
Setelah itu mereka saling curhat dan bercerita bersama Agatha sambil menunggu Lean selesai operasi.
Setelah dua jam kemudian, Lean baru keluar dari ruang operasi. Ketika kembali ke ruangannya, Lean segera mengecek ponselnya dan ternyata ada pesan dari Anne.
__ADS_1
Anne : Kak, Aku tunggu di ruangan Nathan, dan ada surprise buat Kakak! Jadi cepetan datang!
Lean tersenyum saat membaca pesan dari adik kesayangannya itu. Berhubung jadwal istirahatnya hanya ada 20 menit, Ia segera pergi untuk menemui Anne di kamar Nathan.
Mendengar suara pintu di ketuk, Anne segera bangun dari duduknya untuk membukakan pintu kamar. Melihat Anne yang membukakan pintu, Lean berpura-pura jatuh ke tubuh Anne.
"Kakak!" gak usah becanda deh, berat tau! "protes Anne yang mulai terhuyung saat tubuh Lean jatuh ke tubuhnya seperti orang pingsan. Anne menghembuskan nafas panjang saat Lean masih berpura-pura dan belum bangun juga. Jadi, terpaksa Anne mencubit pinggang Lean dengan kuat.
Auuu .... teriak Lean.
" Sakit dek! Suka banget nyubit orang, deh!" gerutunya sambil mengusap bekas cubitan Anne.
"Siapa suruh pura-pura pingsan! Udah di bilangin bangun, gak mau bangun! Kakak itu berat, tau!"lontarnya dengan bibir manyun.
Melihat Anne yang cemberut, Lean menarik hidung Anne karena gemas.
" Kakak!!!!!" seru Anne yang semakin kesal melihat Lean sangat jahil.
" sssttt ... jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit!"tuturnya.
Saat mereka masih saling cubit, tiba-tiba Agatha keluar dari kamar mandi. Bagaikan mimpi di siang hari saat melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan mamanya keluar dari kamar mandi. Perlahan Lean berjalan mendekati Agatha tanpa berkedip sedikitpun.
"Mama," ucap Lean sambil menyentuh pipi Agatha.
Saat mendengar Lean memanggilnya dengan sebutan Mama, hatinya merasa sangat bahagia.
"Aku gak mimpi, Kan?" ucapnya lagi dan langsung memeluk Agatha.
Jika biasanya Agatha akan marah ketika ada orang yang menyentuh atau memeluknya tiba-tiba, tapi kali ini Ia justru menikmati pelukan hangat dari Lean. Pelukan pria muda yang tidak Ia kenal justru lebih seperti rasa rindu mendalam baginya.
Suasana di ruangan itu menjadi sangat haru, meskipun Agatha bukan Mamanya. Setidaknya Anne bisa membuat Lean mengobati rasa rindunya dengan Mama.
Tinggal Kak Kean dan Papa yang belum bertemu dengan Tante Agatha. Gumamnya.
Pelukan ini terasa begitu nyata dan sama seperti pelukan Dira, rasanya Lean tidak ingin melepaskannya. Ia semakin erat memeluk Agatha sampai tidak terasa genangan air itu jatuh juga.
Mimpi ini begitu nyata! Bisakah Aku tidak bangun dari mimpi ini! Aku benar-benar rindu dengan pelukan hangat , Mama.
Melihat Lean yang 'tak kunjung melepaskan pelukannya membuat Anne menghampiri mereka.
__ADS_1
"Kak, Ma sudah pelukannya. Jangan lama-lama!"ujar Anne yang langsung membuyarkan mimpi Lean. Saat membuka mata dan menyadari bahwa Ia sedang memeluk seseorang, Lean segera melepaskannya.
Ketika melihat ini semua nyata, Lean terkejut sampai sedikit mundur karena masih tidak percaya kalau ini nyata. Lean mengucek mata lalu membukanya lagi, dan ternyata wanita itu masih ada.
"Anne! Ini, Mama?" tanya Lean memastikan dan di jawab sebuah gelengan.
Lean mengerutkan dahinya lalu menatap ke arah wanita itu kembali. "Jika bukan Mama, terus siapa?"
"Em ... kenalin, ini Tante Agatha dia adalah orang yang membelikanku kado-kado kemarin!" pungkas Anne.
Lean terperangah dan masih terlihat bingung. "Jadi, Tante ini bukan, Mama," lontarnya dan di jawab sebuah anggukan oleh Anne.
Saat mendengar Anne dan Lean mengatakan bahwa bukan Mama, entah kenapa hati Agatha terasa sakit seperti teriris.
Ada apa denganku? Kenapa Aku seperti tidak terima jika mereka mengatakan bahwa Aku ini bukan mamanya? Apalagi melihat wajah pria muda ini terlihat sendu dan kecewa membuatku semakin terasa sakit.
Agatha mendekati Lean dan menyentuh pipinya lalu mendongakkan wajah yang menunduk itu. "Kamu boleh kok menganggap Tante sebagai Mamamu seperti Anne," ucap Agatha sambil tersenyum.
Netra keduanya saling bertatapan, Lean tahu jelas bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam tatapan wanita ini.
Tatapan wanita ini ... Pelukannya, wajahnya, semua mirip dan filingku juga mengatakan bahwa dia adalah, mama. Batin Kean dan terus menelitik wajah itu lekat-lekat.
"Anda bukan Agatha, tapi Mamaku Anindira fidelya," ucap Lean.
Anne terkejut saat Lean mengatakan bahwa Agatha adalah Mamanya.
"Kenapa Kamu bisa berasumsi seperti itu? Bahkan kita baru saja bertemu?" lontar Agatha.
Lean tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya dengan Agatha.
"Karena apa yang anda miliki semua sama seperti Mama. Lean tahu kalau saat ini, Mama sedang mencari jati diri Mama yang hilang," ucapnya yang mampu membuat Agatha terperangah karena pemuda ini tahu apa isi dalam pikirannya.
Apa dia bisa membaca pikiran atau mempunyai keahlian khusus? Batin Agatha.
Lean tersenyum. "Aku adalah Muhammad Leanne ar-rayyan yang tidak bisa di bohongi sejak kecil. Mama pasti merasakan hal yang sama dengaku, kan? Perasaan akrab dan juga hangat," pungkasnya.
...****************...
Gimana? Suka dengan endingnya? Kalau suka jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Besok lagi, author mau tidur...bye..