Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Protektif (S2)


__ADS_3

Melihat tatapan Ken yang begitu tajam, membuat Pangeran ikut menatap tajam kearahnya.


Sialan! Ni pria tua siapa sih? Kalau begini terus, bisa-bisa patah nih, tangan Gue! batin Pangeran.


Melihat raut wajah cowok muda yang ada di depannya saat ini terlihat seperti sedang menahan rasa sakit, Ken akhirnya melepaskan tangannya.


Setelah Ken sudah melepaskan tangannya, rasanya sangat sakit sekali. Namun, Pangeran mencoba menahan dan tetap bersikap cool agar wanita cantik yang Ia suka tidak menganggapnya sebagai pengecut.


" Anne, Ayo pergi!" ajak Ken sambil menarik tangan Anne untuk pergi dari sana.


Anne juga tidak menolak atau berbicara sedikitpun, Ia justru langsung bangkit dari tempat duduknya saat Ken mengajaknya pergi.


Tiba-tiba pangeran mencekal tangan Anne untuk menghalanginya pergi karena Ia belum sempat berkenalan.


" Tunggu!' seru pangeran.


Saat merasakan, Anne berhenti. Ken segra membalikkan badan dan ternyata pria itu memegang tangan Anne. Melihat tangan Anne di sentuh oleh pria itu, tatapanya kembali tajam sambil melepaskan tangan pria itu dengan kasar.


"Jangan sentuh tangan Anak Saya!" pekiknya dengan nada berat.


"Anak?" lirih Pangeran yang sedikit terkejut saat mendengar Ken mengatakan bahwa Anne adalah anaknya.


" Jadi—, Anda adalah Ayahnya?" tanya Pangeran untuk memastikan lagi kalau apa yang Ia dengar tidaklah salah.


" Iya, Ini memang Papaku! sahut Anne.


Bola mata Pangeran membola sempurna saat mendengar jawaban dari Anne.


Jadi pria yang Gue pelototi dan bentak tadi adalah Ayah dari cewek yang Gue suka? Habislah Gue!.


Setelah itu, Pangeran segera mengucapkan permintaan maaf karena sudah kasar dan bersikap tidak sopan dengan Ken. Ia melakukan itu karena tidak tahu kalau Ken adalah Ayahnya. Awalnya Ia mengira bahwa Ken adalah pria tua yang suka dengan wanita muda seperti Anne.


Ken tidak menghiraukan permintaan maaf dari pangeran, Ia justru segera mengajak Anne pergi dari restoran.


"Anne besok lagi, kalau ada pria yang seperti itu mendekatimu harus segera singkirkan! Papa tidak suka Kamu bergaul dengan pria yang tidak punya sopan santu terhadap orang yang lebih tua seperti itu!" tutur Ken saat mereka sudah berada di luar restoran.

__ADS_1


"Siap Papa Sayang ..." jawab Anne sambil memeluk Ken dengan manja. "Lagian tipe Anne juga sangat tinggi kok!" lanjutnya.


"Oh ya? Seperti apa tipemu?" tanya Ken.


"Rahasia! Lebih baik kita pergi saja, daripada di lihatin banyak orang!" ujarnya sambil mengajak Ken pergi.


Saat dalam perjalanan menuju parkiran, tiba-tiba mereka bertemu dengan Aron, Sabrina dan juga Nala.


"Anne!" panggil Nala yang segera berlari menghampiri Anne.


"Kalian Mau kemana?" tanya Aron saat Ia sudah berada di depan Anne dan Ken.


" Iya, Anne masak Kamu sudah mau pulang sih? 'Kan kita aja baru datang!" imbuh Sabrina.


Ken menatap Anne untuk mendapatkan sebuah jawaban apa yang harus mereka lakukan sekarang. Apakah pulang atau kembali masuk kedalam restoran.


"Yaudah, Kalau gitu kita masuk lagi aja ya, Pa?" ujar Anne yang terpaksa di angguki Ken.


Setelah itu, Ken berjalan bersama Aron. Sedangkan Anne berjalan bersama Nala dan Sabrina. Mereka kembali untuk menemui Rian yang masih berada di dalam.


"Papi!" seru Nala yang terkejut saat melihat Rian juga ada di restoran itu.


"Kalian sudah datang?" tanya Rian. "Kalau begitu silahkan duduk!" lanjutnya yang mempersilahkan mereka untuk duduk.


Nala sedikit bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Ternyata papinya sedang ada di sini setelah bertengkar hebat dengan maminya tadi.


"Kamu tadi pamit sama mami dulu apa gak, Nal?" tanya Rian.


"Pamit Kok," jawabnya singkat.


Melihat kondisinya yang terlihat sangat canggung, Anne memutuskan untuk duduk terpisah di meja yang tidak jauh dari Ken. Awalnya Ken ingin menolak, tetapi Anne segera mengkode agar Ken melihat sikon yang terjadi saat ini, dan akhirnya dia menyetujui permintaan Anne.


Setelah itu, Anne, Nala dan sabrina segera bangkit dari duduknya untuk pindah ke meja lainnya.


"Nal, apa twrjadi sesuatu?" tanya Anne dengan menatap wajah Nala lekat-lekat.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Nala justru memeluk Anne erat. Ia menangis dalam pelukan Anne untuk menumpahkan perasaan sakit yang sudah Ia bendung dari tadi. Sedangkan Sabrina yang tidak tahu apa - apa hanya diam termenung memandang mereka berdua.


"Sabar ya Nal ..." ucap Anne sambil menepuk pundak Nala pelan.


"Aku, gak suka Anne kalau terus-terusan mendengar Papi dan Mami bertengkar. Aki gak mau kalau mereka sampai bercerai, Aku ingin keluargaku kembali seperti dulu ..." harap nala yang masih terisak dalam pelukan Anne.


"Kamu tenang dulu, ya. Aku yakin Papi sama mamimu gak akan cerai kok!" pungkasnya untuk menenangkan Nala.


Nala melepaskan pelukannya, dan Sabrina segera memberikan tissu kepada Nala untuk mengusap air matanya. Setelah itu, Anne memberikan Nala minuman agar Ia lebih tenang lagi.


***


Di meja lain, Andrian juga terus menatap ke arah meja Anne. Ia ikut meneteskan air mata saat melihat Nala menangis dalam pelukan Anne. Rian menjadi ikut merasa bersalah karena sudah membuat Nala ikut merasakan sakit ketika melihat rumah tangga kedua orang tuanya yang berantakan.


"Ken, Aku titip Nala dulu boleh? Soalnya Aku gak mau melihat Nala lebih sakit lagi jika pulang ke rumah dan sampai mendengar perdebatanku dan Senja!" tutur Rian.


"Tentu saja boleh, Anne juga pasti sangat senang kalau Nala ada di rumah," pungkas Ken.


"Terus, Nathan gimana?" timpal Aron yang sejak tadi tidak mendengar Rian menceritakan tentang Nathan.


"Nathan jarang di rumah, sejak Senja berubah. Dia akan pulang ketika malam dan akan pergi pagi-pagi sekali. Dia lebih cuek dari Nala!" papar Rian.


"Tapi, Kamu juga harus peduli dan perhatian dengan Nathan Ri, jangan sampai Kamu mengabaikan dia juga. Meskipun terlihat cuek, kita gak tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran Nathan. Mengerti sikap anak laki-laki itu lebih sulit, Nathan beraikap seperti itu karena tidak mau mendengar pertengkaran kalian saja," tutur Ken.


Ken mengatakan hal itu karena Ia juga mempunyai dua anak laki-laki yang sangat sulit sekali di tebak perasaanya. Anak laki-laki itu lebih pintar memendam perasaan mereka yang sebenarnya, daripada anak perempuan.


Rian mendengarkan semua nasihat dari Ken, Ia merasa beruntung di saat seperti ini masih mempunyai sahabat yang mau mendengarkan curhatan serta memberinya solusi.


Setelah mengobrol banyak hal, mereka memutuskan untuk pulang karena hari mulai malam. Nala ikut pulang ke rumah Ken terlebih dahulu, setelah hubungan Rian dan Senja membaik Rian akan menjemputnya pulang.


"Kamu baik-baik tinggal di rumahnya Om Ken ya, jangan terlalu memikirkan masalah Papi sama Papi. Nala tenang saja, Papi akan berusaha mengembalikan keharmonisan keluarga kita seperti dulu lagi, oke!" ucapnya.


Nala segera memeluk Rian. "Tapi, Papi janji ya sama Nala... Kalau Papi sama mami jangan sampai bercerai! Nala gak mau jadi anak broken home!" pungkas Nala.


"Iya, Papi janji sama Nala."

__ADS_1


Setelah itu, Rian mencium kening Nala sebelum merela berpisah.


...****************...


__ADS_2