Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Bangkok, Thailand


__ADS_3

Bangkok merupakan salah satu kota dengan perkembangan terpesat, dengan ekonomi yang dinamis dan kemasyarakatan yang progresif di Asia Tenggara.  Kota ini juga mencatat sebagai salah satu kota di dunia dengan laju penambahan konstruksi gedung pencakar langit tercepat. Kaya akan situs-situs budaya membuat Bangkok sebagai salah satu tujuan wisata terpopuler di dunia.


Kota Bangkok juga terkenal dengan kota yang mengakui 18 jenis kelamin. Hal itu juga yang membuat olive menjadikan Bangkok sebagai tempat tinggalnya saat ini. Setelah kejadian dicampakkan oleh Darren, serta Ken yang seperti bom waktu yang  bisa meledak kapanpun dan  jika bom itu  meledak habislah dia. Maka dari itu, sebelum bom itu meledak dia segera pergi dari Indonesia untuk memulai hidup yang baru dan mencari pacar baru di Thailand.


Selama pindah ke bangkok, hidup olive jauh lebih menyenangkan daripada tinggal di Indonesia. Karena disini tidak akan ada yang julid kalau dia adalah transgender dan yang terpenting lagi, dia telah mendapatkan pacar yang jauh segalanya dibandingkan Darren. 


Siang telah berganti dengan malam, dan pemandangan kota Bangkok di saat malam sangatlah indah dan ramai. Banyak wisata malam yang terkenal di Bangkok yang sering menjadi incaran para turis yang datang ke Bangkok. 


Di dalam ruangan  apartemen yang terlihat mewah, terlihat seorang pria dengan setelan jas berwarna coklat yang melekat pada tubuh bidangnya sedang duduk bersandar di sofa dengan memegang sebuah handphone di tanganya tengah menunggu sang kekasih yang masih asyik merias diri. 


Disisi lain, terlihat olive yang masih disibukkan dengan mempercantik dirinya karena malam ini dia akan menemani sang kekasih untuk datang ke pesta perjamuan. Selesai memakai  make up, kemudian olive memakai gaun panjang dengan warna yang senada dengan kekasihnya, dan yang  terakhir ialah sentuhan aksesoris dengan kilauan berlian yang cantik. 


Setelah selesai dengan aktivitas mempercantik dirinya, olive segera berjalan untuk menghampiri kekasihnya yang duduk di sofa. 


"Honey ...  I'm done dressing up, so let's go (Sayang...  Aku sudah selesai berdandan, jadi ayo kita pergi)" ajaknya kepada kekasihnya itu. 


Pria itu segera memasukkan handphonenya kedalam saku dan bangun dari duduknya. 


"Wow …  you are so beautiful tonight Honey," pujinya dengan berjalan menghampiri olive serta memberikan sebuah stempel cinta kepada  bibir kekasihnya. 


Setelah selesai memberikan stempel cinta, mereka segera beranjak pergi untuk menghadiri pesta perjamuan. 


......................


Melihat Ken yang terus menatapnya membuat Dira menjadi salah tingkah sendiri. 


"Aku lapar …" ucap Ken lirih. 


"Astagfirullah hal adzim, aku sampai lupa kalau mas belum makan apapun sejak tadi. Maaf ya mas, kalau begitu aku pergi beli makanan untuk kamu dulu ya," tukasnya segera mengambil tasnya untuk beranjak pergi. 


Ketika Dira baru saja berjalan dua langkah, tiba-tiba sudah ada suster yang datang membawa sebuah nampan  berisi makanan untuk Ken. 


" Permisi bu. Saya mengantarkan makanan untuk pasien, " ucapnya sopan dengan menyodorkan sebuah nampan di depan Dira.  Segera alDira  menerima nampan itu. 

__ADS_1


" Makasih ya sus," ujarnya dengan memberikan senyuman. 


" Sama-sama. "


Setelah suster itu pergi, Dira segera berjalan mendekati ranjang tempat Ken terbaring. Mula-mula Dira meletakkan makananya diatas nakas terlebih dahulu, setelah itu dia mengatur posisi ranjang Ken agar nyaman untuk dipakai makan. 


"Mas mau disuapin atau makan sendiri?" tawarnya kepada Ken. 


Sedangkan Ken hanya terdiam, tidak menjawab hanya memainkan bola matanya dan mengerutkan kening. Melihat reaksi Ken seperti itu, Dira baru menyadari bahwa saat ini kondisi Ken sangat lemah. kenapa Pertanyaan ku ini konyol sekali sih … masak iya orang baru sadar dari koma yang sudah gak makan berhati-hari aku suruh makan sendiri. Gerutunya dalam hati.


"Kalau begitu aku suapin ya, " imbuhnya dengan mengambilkan Ken Air putih terlebih dulu agar tenggorokanya basah, kemudian pelan- pelan Dira  menyuapi Ken dengan penuh kesabaran.


Di tengah - tengah sedang menyuapi Ken, tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan memperlihatkan Carol, Lean dan Kean yang datang. 


"Papa …" teriak Lean yang berlari menghampiri ranjang Ken dengan senyuman bahagia. " Apa Papa sudah baikan? Atau masih ada yang sakit? Kalau ada yang masih sakit Papa bilang sama Lean, biar Lean yang periksa," Paparnya dengan antusias dan senyuman yang begitu mengembang. 


Sedangkan Ken masih saja terdiam. "Papa …, apa aku papa kamu?" tanya Ken pelan


"Kok papa ngomong gitu, tentu saja papa adalah papa Lean iya kan ma?" imbuh Lean dengan menatap ke arah mamanya. 


Ken juga ikut menatap ke arah Dira. "Mama … jika dia memanggil kamu mama dan aku papa apa kita suami istri?" tanya Ken. 


Carol yang melihat gerak-gerik Dira yang kebingungan, segera menghampiri mereka dengan Kean. 


"Dia memang anak kamu Ken, dan Dira adalah calon istri kamu. Masak kamu lupa sama mereka?" sahut Carol yang sudah berada di sisi kiri ranjang Ken. 


"Calon istri?  Anak?" Ken bergumam lirih tak mengerti dengan memegang kepalanya. 


"Apa kamu juga melupakan mama?"imbuh Carol untuk memastikan lagi. Sedangkan ken hanya menggeleng, menandakan bahwa dia tidak lupa dengan Carol. 


Melihat kondisi  Ken yang terlihat bingung, Dira membuka suara.


" Mas gak usah bingung dan terlalu memaksakan untuk mengingat kalau belum ingat. Masih banyak waktu untuk mas bisa mengingat lagi, jadi tidak perlu dipaksakan nanti mas stres."

__ADS_1


"Ma … Memangnya papa kenapa? Apa amnesia?" tanya Kean. 


"Papa baik-baik saja kok, hanya saja ingatanya belum pulih sepenuhnya. Jadi kalian harus bisa memahami kondisi papa saat ini ya …" paparnya agar anak-anaknya bisa mengerti. 


Tiba-tiba handphone Dira berbunyi lagi, nama yang tertulis di layar adalah panggilan dari Andrian. Karena handphonenya terus berdering Carol menyuruh Dira untuk mengangkatnya terlebih dahulu. Karena tidak merasa nyaman, Dira keluar dari kamar Ken untuk mengangkat panggilan dari Andrian. 


Dira : Halo Assalamualaikum Ri… 


Andrian : Waalaikumsalam Dir … kamu dimana? Kok aku main ke Apartemen, kamu gak ada? 


Dira : Oh … aku memang lagi gak ada di apartemen Ri, memangnya ada perlu apa? 


Andrian : Gak ada sih, hanya pengen ngajak kamu sama anak-anak kamu untuk jalan bareng. Memangnya kamu ada dimana? Biar aku susulin kamu. 


Dira : Gak perlu Ri. Soalnya sekarang aku belum bisa kemana-mana, karena masih ada urusan penting di luar. Jadi lain kali aja gimana?


Andrian : Em … yaudah deh gapapa. Nanti kalau kamu senggang kamu kabarin aku ya… 


Dira : In sya Allah Ri, tapi gak janji ya … 


Setelah itu Dira mematikan panggilan teleponya dan segera kembali masuk kedalam ruangan Ken. 


Ketika membuka pintu, Dira langsung di suguhkan dengan pemandangan  yang tak biasa. Dalam sekejap suasana ruangan itu telah hangat dan damai. Kean dan Lean mulai mengajak Ken untuk berinteraksi, meskipun Ken tidak mengingat mereka tapi  Ken dengan cepat bisa beradaptasi.


Dira yang melihat itu semua hanya bisa tersenyum bahagia melihatnya, seperti ada desiran halus yang menggelitik dalam hatinya. 


Mungkin ini yang dinamakan darah lebih kental daripada air. Meskipun Dia tidak mengingat apapun, yang namanya hubungan darah akan tetap bisa menjadi dekat. Melihat adegan ini seperti mengingat kembali waktu dirinya mengalami Amnesia 5 tahun lalu.


...****************...


Maaf ya kalau telat up. Semoga suka Ceritanya.


 

__ADS_1


__ADS_2