Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Tak berjodoh


__ADS_3

Luka yang tak bisa dilupakan bukan berarti dendam, hanya saja melupakan kenangan pahit itu tak semudah membalik telapak tangan. Seperti halnya kaca yang telah pecah tak mudah  untuk mengembalikan kaca itu seperti semula pasti masih meninggalkan bekas dan cela. Begitulah hati jika telah tersakiti  dia tak akan sama seperti dulu, meskipun telah diobati. 


Dira tak pernah mempunyai dendam kepada ayah  yang telah menelantarkan serta  membuangnya, bagaimanapun dia tetap ayah kandungnya. Ayah yang pernah menjadi cinta pertamanya, pernah menjadi ayah yang sangat menyayanginya, ayah yang membuatnya bahagia, serta merawatnya selama 20 tahun hidupnya hingga akhirnya dia membuangnya hanya karena sebuah fitnah dan bukti palsu. 


Setelah selesai sarapan bersama, Dira pamit untuk  mengantarkan Kean dan Lean ke sekolah serta dia mempunyai urusan di luar. Awalnya Ken menawarkan ingin mengantar Dira tapi dia menolaknya. 


Sejak pulang dari makam Dira menjadi pendiam lagi dan irit bicara, sepertinya ada yang sedang ia sembunyikan. Selama ini Dira memang selalu menutupi  perasaannya, dia selalu berpura-pura baik-baik saja tapi sebenarnya dalam hatinya ia sangat rapuh. 


"Ma …  Apa mama ada masalah? Kenapa Lean perhatikan mama sangat berbeda hari ini," tanyanya yang duduk di kursi pengemudi. 


"Mama gapapa kok sayang …" jawabnya dengan melontarkan senyum yang lebar agar Lean percaya dengan ucapannya. 


Tak terasa mereka telah sampai di depan sekolah Fabio International School. Lean, Kean dan Dira segera turun dari mobil. 


Kean dan Lean berpamitan dengan mencium tangan Dira, sedangkan Dira akan memberikan sebuah ciuman di pipi mereka berdua dengan melontarkan senyuman dan lambaian tangan untuk ucapan perpisahan mereka. 


Melihat Kean dan Lean yang sudah memasuki ruang Kelasnya Dira kembali melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke suatu tempat. 


Mobil Honda brio kuning itu terus melaju menembus hirup pikuknya jalanan di kota Jakarta. Dira terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang selalu ia kunjungi ketika ingin menghilangkan penat. 


Setelah sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya dia sampai juga di danau yang dulu sering ia kunjungi ketika akhir pekan bersama keluarganya. Dalam ingatannya masih tergambar jelas dimana setiap akhir pekan bunda dan ayahnya akan membawanya piknik ke tempat ini dan tempat ini juga dimana ia bertemu dengan cowok gendut yang selalu menangis jika ia jahili. 


Dira kecil adalah seorang gadis yang selalu ceria serta jahil. Ia pernah berlari-lari di padang rumput ini bersama kedua orang tuanya dengan senyuman penuh kebahagiaan. Setelah capek bermain mereka akan makan di atas tikar yang  di gelar di atas rumput serta terdapat berbagai kotak makan berisikan makanan yang enak-enak. 


Angin terus berhembus menerpa wajahnya yang mulai basah karena tetesan air mata yang terus mengalir. Air mata kebahagian ketika mengingat kembali kenangan indah itu, tapi ketika Dira berumur 10 tahun ayahnya sudah mulai berubah sikapnya. Ayah yang dulu lembut, sabar, dan baik hati tiba-tiba menjadi seorang ayah yang pemarah, pemukul dan tak pernah peduli lagi denganya. Entah apa yang membuat ayahnya tiba-tiba berubah seperti itu yang membuat Dira kecil semakin merasa takut ketika melihat ayahnya. 

__ADS_1


"Dir …" 


Sebuah panggilan yang membuatnya tersentak dari lamunan masa kecilnya. Orang yang memanggilnya adalah cowok gendut yang selalu menangis ketika ia menjahilinya, sekarang telah menjadi pria dewasa yang memiliki wajah tampan serta tubuh tinggi dan bidang. Dia adalah Andrian Prayoga teman waktu kecilnya yang selalu datang dan pergi. 


Karena pekerjaan Ayah Andrian yang sering berpindah tugas membuat dia juga sering berpindah-pindah tempat. Awal mereka bertemu di saat umur 7 tahun, dan mereka berteman selama satu tahun lebih. Setelah itu Andrian pindah ke Kalimantan karena ayahnya pindah tugas di sana. Sejak itu mereka tak bertemu lagi sampai akhirnya Dira masuk SMA yang sama dengan Andrian. Saat pertemuan mereka kembali, Andrian sudah jauh berbeda dari Andrian kecil yang cengeng menjadi Andrian yang selalu menolongnya. Tapi pertemanan mereka lagi-lagi tak lama hanya dua tahun, karena Dia harus pindah ke luar Negri sampai beberapa minggu yang lalu mereka bertemu lagi di tempat ini juga. 


" Apa kamu sudah menunggu lama Dir?" 


"Lumayan sih …" tungkasnya dengan tersenyum. 


"Maaf ya … Soalnya tadi pagi  tiba-tiba ada urusan mendadak, jadi  datang kesininya telat deh," jelasnya. 


" Iya gapapa santai aja. Lagian aku juga yang salah ngajak kamu ketemuan di hari kerja dan masih pagi pula."


" Oh ya Dir, sebelumnya kamu bilang ada yang ingin kamu katakan sama aku, Apa? "


" Emm … begini Ri, berhubung kamu adalah satu-satunya teman terbaik aku. Aku ingin … " Dira memotong ucapannya karena ingin tertawa melihat sikap Rian yang begitu antusias mendengarkan ucapan Dira selanjutnya. 


" Aku ingin apa? Kenapa gak dilanjutkan, malah ketawa! " ucapnya Geram karena Dira justru tertawa lepas bukanya melanjutkan ucapannya. 


"Aku ingin kamu hadir menjadi saksi di hari Pernikahan ku!" 


Pernikahanku! satu kata yang mampu membuat detak jantung Rian berhenti sejenak, tubuhnya seketika diam membeku mendengar apa yang diucapkan oleh Dira barusan. 


Apa benar Dira akan menikah? Apa aku terlambat lagi?

__ADS_1


"Ri… kamu kok malah diam aja sih, kamu gak senang ya dengar aku mau nikah! " cetusnya kesal yang melihat tak ada ekspresi bahagia sama sekali di wajah Rian. 


Bahagia? Apa iya aku harus bahagia ketika mendengar wanita yang sudah aku suka dari kecil tiba-tiba ingin menikah dengan orang lain lagi. 


" Sama siapa? " 


" Sama pria yang kamu temui di acara ulang tahunku kemarin!" 


" Apa kamu sudah yakin Dir, ingin menikah dengan dia? Apa kamu cinta dan bisa  bahagia ketika menikah dengan dia?" tanya Rian beruntun seperti sedang mengintrogasi dengan wajah yang tak biasa. 


Dira yang melihat sikap Rian yang tak biasa merasa sedikit  bingung, Apa yang harus dia jawab kepada Rian. Sedangkan dia sendiri juga tidak tahu apakah dia sudah mencintai Ken atau belum, karena selama ini  dia hanya merasa ikut bahagia ketika melihat anak-anaknya yang begitu bahagia saat  bersama ayahnya dan sikap tulus Ken yang membuat Dira akhirnya menerima lamaran ken. Dira memang sudah membuka hati untuk Ken tapi sebenarnya dia belum siap untuk mencintai Ken, karena rasa trauma  mencintai seseorang masih sangat melekat di dalam hatinya.  


"Ri, Aku tahu kamu khawatir sama aku karena kamu adalah dokter yang menyembuhkan penyakitku dan tau tentang cerita masa laluku. Tapi ketik aku sudah memutuskan untuk menikah dengan seseorang, berarti aku telah memikirkannya matang-matang. Jadi, Kamu tidak perlu khawatir lagi, In sya Allah dia pria yang baik dan tidak sama dengan mantan suamiku dulu. "


"Baiklah, jika kamu sudah yakin dengan keputusanmu. Aku sebagai teman hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, semoga dia benar-benar bisa menjadi pelabuhan terakhir kamu yang bisa menjaga serta mencintai kamu dan anak-anak kamu."


"Terimakasih banyak ya Ri, kamu memang teman aku yang paling baik," ujarnya dengan tersenyum kembali menatap Rian. 


Teman terbaik? Ternyata selama ini kamu hanya menganggapku sebagai temanmu saja Dir, padahal aku menginginkan hubungan kita bisa lebih dari itu. Tapi mungkin kamu memang bukan jodohku, semoga kamu bisa bahagia bersama pilihanmu sekarang. 


Setelah selesai mengobrol, mereka mumutuskan untuk pulang, ketika di dalam perjalanan menuju tempat parkir tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menjambret tas Dira. Segera Rian mengejar dan menangkap jambret itu, ketika melihat siapa jambret itu Dira terbelalak dan terkejut ....


...****************...


Hai guys kita main tebak2an Kira2 siapa jambret itu sampai membuat Dira terkejut?

__ADS_1


__ADS_2