Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Senja Hamil


__ADS_3

Melihat Senja terperangah ketika menatap layar ponsel, Andrian jadi ikut penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh Senja.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rian. 


Senja tersenyum dan penuh harap, semoga kali ini benar dan bukan zonk. "Aku udah telat datang bulan selama 2 minggu!" sahut Senja sambil menatap Rian. 


"Kamu serius?" tanya Rian untuk memastikan lagi. 


Senja menganggukkan kepalanya, Segera Ia bangun dari tempat duduk untuk mengambil tespek di kotak persediaan obat. Sejak menikah, Senja memang menyetok beberapa tespek di rumah. Jadi, ketika dibutuhkan tidak repot harus beli di apotek.


Setelah mendapatkan apa yang Ia cari, Senja segera meraup benda itu lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi. 


Beberapa menit kemudian, terdengar suara teriakan dari kamar mandi. 


Aaaaa …… 


Mendengar Senja yang berteriak, Andrian segera berlari menuju kamar mandi. Ia segera membuka pintu kamar mandi yang tak terkunci. 


"Kenapa Sayang?" tanya Andrian cemas. 


Melihat Andrian membuka pintu, Senja segera berlari dan memeluknya dengan perasaan sangat bahagia. Rian yang belum tau apa-apa menjadi bingung melihat Senja  memeluknya sambil loncat-loncat kegirangan sampai Ia melupakan kalau dua hari ini tidak bisa mendekati Rian. 


"Sebenarnya kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Rian lagi. 


"Aku hamil." 


Mendengar dua kata itu keluar dari mulut Senja, Rian segera melepaskan pelukannya lalu menatap Senja intens. 


"Kamu serius?" tanya Rian menelitik dan di jawab sebuah anggukan oleh Senja. 


Rian ingin memeluk Senja lagi, tapi Senja segera mendorong tubuh Rian untuk menjauh. 


"Stop!"


" Kenapa Sayang?" tanya Rian yang tak mengerti kenapa Senja tiba-tiba mendorong tubuhnya menjauh.


"Jaga jarak satu meter! A-ku, tiba-tiba ingi muntah saat mencium aroma tubuh kakak!" pekik Senja. 

__ADS_1


Rian menautkan kedua alisnya sambil mencium tubuhnya yang tak bau . "Lagi! Aku kira sudah sembuh karena kamu tadi memeluk kakak dan tidak terjadi apa-apa!" pungkas Rian yang merasa kesal kepada Senja. 


Moment bahagia menjadi tak terlalu bahagia disaat Senja terus mencoba menyuruhnya untuk menjauh karena Senja mengatakan bahwa Ia tidak menyukai Aroma tubuh Rian. Padahal tidak ada yang salah dengan Aroma tubuhnya, masih sama seperti biasanya. Bahkan saat sudah mandi sekalipun Senja masih tak mau didekati oleh Rian. 


Terkadang Rian meras kesal dan aneh dengan perubahan tingkah Senja. Setelah itu, mereka pergi ke dokter kandungan untuk memastikan lagi kalau Senja memang benar hamil. 


Andrian mengemudikan mobilnya, sedangkan Senja duduk di kursi penumpang. Suasana di dalam mobil  saat ini seperti seorang driver dan penumpang . Tak bisa melakukan hal romantis seperti biasanya, sebelumnya ketika Rian mengemudi, tangan kirinya akan mengenggam tangan Senja.


Dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit tempat Senja magang. Mereka akan periksa kandungan ke guru magang Senja, sebelumnya Senja sudah berkomunikasi dengan dokter Arin terlebih dahulu bahwa Dia akan datang periksa karen hari ini dia libur kerja. 


Senja dan Rian berjalan beriringan, tapi tak bergandengan tangan menuju ruangan dokter Arina. Sesampainya di depan ruangan dokter Arin sudah banyak pasien yang tengah mengantri menunggu giliran untuk memeriksakan kandungannya. Senja mendapatkan nomor antrian  nomor 5.


Persatu-satu Ibu hamil itu masuk dan keluar dari ruangan pemeriksaan sampai akhirnya giliran Senja untuk masuk. Tangan Senja sudah berkeringat, Ia sedikit gugup untuk melakukan pemeriksaan. Banyak pikiran serta ketakutan dalam hatinya karena sering di php oleh tespek dan gejala kehamilan palsu sehingga Ia benar-benar harap-harap cemas. 


Meskipun Ia seorang dokter kandungan magang, masih saja ada rasa kecemasan dalam dirinya karena ini adalah pertama kalinya Ia melakukan pemeriksaan sendiri . Selama ini dia hanya selalu membantu dan memperhatikan seorang dokter memeriksa seorang pasien hamil, tetapi saat ini adalah dirinya yang akan melakukan pemeriksaan.  


"Kenapa wajahmu terlihat begitu tegang Sen?" tanya Dokter Arin saat menatap wajah Senja yang tak rileks seperti biasanya.


"Oh … Apakah terlihat dok?" Senja justru balik bertanya  dan dokter Arin hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. 


"Kenapa kamu tegang? Apakah gugup! Bukankah selama ini sudah sering membantu memeriksa ibu hamil? Bahkan kamu juga seorang dokter kandungan," ledek dokter Iriana. 


Saat dokter Arin meletakkan transduser diatas perutnya, tampaklah dua kantung janin di dalam rahim Senja.


"Selamat ya Sen, bayimu kembar dan sehat sekali. Dia sudah berumur 8 minggu!" pungkas dokter Arin. 


Saat mendengar hal itu, tanpa sengaja Air Matanya menetes membasahi pipi. Rasa haru, bahagia, tak percaya semuanya menjadi satu. Ia benar-benar tidak mengira bahwa akhirnya Allah memberikan Ia keturunan, bahkan memberikan dua orang anak sekaligus yang sedang tumbuh dalam rahimnya.


Begitupula dengan Rian yang merasa sangat bahagia saat mendengar dia akan menjadi ayah dari dua orang anak. 


"Apakah itu anak saya dok? Kenaoa kecil sekali? " tanya Rian. 


"Iya dokter Rian, ini adalah anak anda dan Senja. Tentu saja masih kecil karena masih usia 8 minggu. Apakah kalian ingin mendengarkan  detak Jantungnya?" tawar dokter Arin yang diangguki oleh Rian dan Senja. 


Saat mendengar suara detak jantung kedua anaknya, tiba-tiba Rian meneteskan air mata bahagia. Ia segera mengusapnya saat menyadari bahwa ada buliran bening menetes membasahi pipi.


Setelah melakukan pemeriksaan, Senja dan Rian segera memberitahu kedua orang tuanya. Anita sangat senang sekali saat mendengar kabar berita bahwa Senja yengah hamil anak kembar, tetapi saat ini dia masih berada diluar kota untuk menemani Ayah Senja dinas sehingga belum bisa bertemu dengan Senja.

__ADS_1


Sedangkan Sekar langsung menyuruh mereka pulang ke rumah utama. Sekar benar-benar bahagia sekali saat mendengar bahwa Ia kan memiliki cucu kembar seperti yang diharapkan selama ini. 


Tak membutuhkan waktu lama, Senja dan Rian sampai juga di rumah keluarga Prayoga. Mendengar suara mobil Rian datang, Sekar segera berjalan keluar menuju ruang tamu untuk menyambut kedatangan mereka. 


"Assalamualaikum …" Salam Rian dan Senja saat memasuki rumah. 


"Waalaikumsalam …" Sahut Sekar sembari memeluk  mencium Senja. 


Meskipun Sekar cerewet,  tetapi Ia benar-benar menyayangi Senja seperti anak sendiri. Bahkan rasa sayangnya lebih dominan daripada ke Rian. Dibalik  cerewet dan suka mengatur, Sekar kerap mengajak Senja untuk shopping dan merilekskan Diri agar Senja bisa segera hamil. 


"Wah … Mama seneng banget saat mendengar kabar dari Kalian tadi. Coba Mama mau lihat foto usg calon cucu Mama," Ucap Sekar yang sudah penasaran.


"Ma, Apakah Mama melupakan Rian sebagai anak Mama? Kenapa Mama hanya memeluk Senja saja, Rian tidak? Bahkan langsung menanyakan foto Usg!" cetus Rian yang sedikit kesal melihat Sekar yang tak menganggapnya ada.


Sekar tersenyum dan memeluk Rian. "Kamu itu, sudah mau jadi bapak, kok cemburuan!" lonta Sekar dengan melepaskan pelukannya.


"Ya ... Mau gimana lagi, Mama sering lupa sih kalau punya anak setampan ini!" cetus Rian.


Sekar hanya geleng-geleng kepala saat mendengar narsisme Rian keluar. Ia segera menggandeng Senja untuk duduk di sofa, lalu melihat foto Usg Calon cucunya nanti.


Setelah melihat foto hasil Usg itu, raut wajah Sekar berbinar. Ia menyuruh Senja dan Rian untuk tinggal di rumah itu agar Ia bisa menjaga Senja dan calon cuvu kembarnya.


Ia tidak yakin bahwa Rian bisa mengurus Senja dengan baik nantinya, apalagi setelah mendengar keluhan mereka beberapa hari terakhir ini.


"Kamu gak usah ngeluh Ri, waktu Mama hamil kamu dulu juga gitu. Selama sembilan bulan Mama justru gak mau sama sekali melihat wajah papa kamu, kalau melihat ketemu papamu Mama langsung muntah-muntah," papar Sekar.


"Terus papa gimana?" tanya Rian


"Ya tinggal beda rumah, Mama tinggal di rumah Oma," pungkas Sekar.


Rian membolakan matanya Sempurna. "Jadi, kalau Senja sampai sembilan bulan gak mau deket-deket sama aku—"


"Ya puasa!" seru Sekar dan Senja kompak.


Mereka berdua tertawa lebar saat melihat wajah sendu Rian yang harus puasa s***s selama 9 bulan.


Rian menelan salivanya dalam-dalam. "Bisa-bisa karatan nih Juniorku kalau gak kepakek sama sekali!" lirih Rian.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2