
Ken hanya bisa tertawa melihat wajah Kean yang sudah tak biasa. Tatapanya tajam bagaikan harimau yang siap memangsa makananya. Sebenarnya, Ken hanya ingin membuat Kean lebih rileks, biar tidak tegang dengan wajah datar yang tak ada senyuman sedikit pun menghiasi bibirnya.
Sepertinya jika Kean menikah, dia harus mendapatkan gadis yang ceria, dan memiliki kepribadian kebalikan dari ken agar hidupnya lebih berwarna lagi. Tidak monoton tentang pekerjaan saja karena akan ada cinta di dalamanya.Tiba-tiba Ken teringat dengan gadis imut, genius, ceroboh dan cerita itu.
Sebentar ... Namanya siapa ya? Kenapa aku bisa jadi pelupa seperti ini?. Batin Ken sambil mengingat-ingat siapa nama gadis itu.
"Pa! kenapa diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Kean?" Tanyanya yang membuat Ken tersadar dari lamunanya.
"Eh, Iya ada apa?" jawab Ken dengan nada terkejut.
"Papa melamun, ya?" tebak Kean.
Ken menghembuskan nafas panjang, serta menampilkan ekpresi yang terlihat kesal akibat. Menandakan bahwa tebakan Kean benar, kalau ia memang sedang melamun.
"Papa melamunin apa, sih? Sampai pertanyaan anaknya aja terabaikan!" ketus Kean.
Ken tersenyum karena dia telah mengingat kembali nama gadis itu. "Oh, ya Kean. Kabarnya Dinda gimana?"
Khuk ... Khuk...
Kean terbatuk batuk lagi saat mendengar ayahnya menanyakan bagaimana kabar gadis ceroboh itu.
"Kamu kenapa tersedak mulu sih, setiap di tanya,". Celetuknya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Kean meminum air minumnya kembali, lalu menghembuskan nafas panjang. "Habisnya Papa dari tadi pertanyaannya aneh dan tiba-tiba. Jadi, Kean kaget dan tersedak!" dustanya.
Ken tersenyum ketika melihat wajah Kean yang terlihat memerah. Wajah yang memerah itu entah karena kebanyakan tersedak atau rasa malu. Yang jelas tingkah Kean menjadi berubah menjadi salah tingkah.
Sedangkan Kean memicingkan matanya ketika melihat tatapan serta senyuman Ken terlihat begitu penuh arti yang tak ia mengerti apa itu.
"Papa kenapa aneh sekali sih?" tanyanya ketika tak bisa menebak ekspresi ken saat ini.
"Bukan Papa yang aneh, Kamu aja yang__" ken tak melanjutkan ucapannya.
"Oh ya, kamu tolong hubungi Dinda ya, suruh dia datang ke perusahaan lagi." Ken berdiri dari tempat duduknya berlalu pergi menuju meja kerjanya.
"Buat apa Papa memanggil gadis ceroboh itu lagi?" Tanya Kean yang tak mengerti kenapa Ken tiba-tiba menyuruhnya untuk memanggil gadis itu kembali. Padahal tak ada masalah yang bersangkutan dengannya.
"Sudah, Kamu hubungi saja! Besok Kamu akan tahu sendiri," jawab Ken yang kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kean masih terdiam bingung menatap ke arah Ken yang kini telah fokus menatap ke leptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda oleh sholat dzuhur dan makan siang.
__ADS_1
Apa Papa beneran sedang merencanakan sesuatu? Tapi Apa? Lalu kenapa membawa gadis itu segala? Ah ... Kenapa Aku yang jadi kepikiran begini, sih! Gumam Kean yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
***
Ketika berjalan untuk menebus obat Nathan, tiba-tiba Rian merasa seperti sedang berpapasan dengan wanita yang mirip sekali dengan Dira. Ia menghentikan langkahnya, lalu kembali menengok ke arah wanita yang barus saja berpapasan dengannya. Namun, wanita itu sudah terlihat jauh melenggang pergi.
"Kenapa Aku merasa seperti melihat Dira? Ah, tidak mungkin! Dira kan sudah meninggal jadi gak mungkin dia masih ada di bumi ini!" elaknya yang menepis pikiran bahwa Dira masih hidup.
Meskipun jasad Dira tidak di temukan, semua orang sudah memastikan kalau Dira tak selamat dan meninggal. Dia pun tahu bagaimana terpukulnya Ken saat di tinggal Dira sampai membuatnya menduda selama ini.
Rasa cintanya kepada Dira tak mudah tergantikan dengan wanita lain, kesetiaan itu juga yang membuat Rian salut dengan ken. Meskipun di tinggal istrinya, Ia masih bisa mengurus ketiga anaknya dengan baik. Tak seperti dirinya yang rumah tangganya sudah berada di ujung tanduk, serta tak bisa mengurus kedua anaknya dengan baik.
***
Sesampainya di depan ruangan ICU, Dira segera menghampiri Jessy.
"Jess," panggilnya ketika sudah berada di depan Jessy.
"Mrs." Jessy bangun dari duduknya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu? " Tanya Dira yang sedikit khawatir saat mendengar Jessy menelponnya.
"Oh, tidak! Itu, pihak rumah sakit menyuruh untuk mengurus pemindahan Brian ke ruangan rawat inap biasa, tetapi Aku bingung berkomunikasi dengan mereka yang tak bisa berbahasa inggris,"pungkas Jessy.
" Yasudah, kalau begitu biar aku yang mengurusnya," Dira melihat kondisi Brian dari jendela transparan terlebih dahulu, sebelum pergi ke meja resepsionis untuk mengurus pemindahan kamar Brian.
Kondisi Brian sudah membaik sehingga Ia sudah bisa tinggal di ruangan rawat inap biasa karena ruangan ICU juga di gunakan secara bergantian dengan orang lain yang lebih cocok berada id ruangan itu. .
Ketika Dira sedang mengurus pemindahan kamar Brian, Anne menelponnya.
Anne : Halo, Ma. Mama ada dimana?
Dira : Mama masih ada di rumah sakit sayang, ada apa?
Anne : Oh ... Kirain Mama ada di rumah. Apa anak Mama itu sudah sampai di Indonesia?
Dira : Iya, Dia sudah sampai tadi pagi. Kenapa nada suara anak Mama yang cantik ini terlihat seperti sedang kesal. Apa terjadi sesuatu?
Anne : Tidak, Anne hanya malas pulang ke rumah saja kalau gak ada Mama.
Dira : Yasudah, kalau begitu kamu ke rumah sakit saja ya. Sekalian Mama kenalin dwngan Bri.
__ADS_1
"Makasih ya Sus," ucap Dira ketika seorang perawat memberikan nota pembayaran perawatan Brian.
Anne : Apakah boleh? Nanti__
Dira : Tentu saja boleh sayang, dia juga sudah tahu kok kalau mama punya anak dan keluarga di sini.
Setelah berbicara cukup banyak, akhirnya Anne memutuskan untuk menyusul Dira ke rumah sakit. Daripada Ia pulang ke rumah dan kesepian.
Selesai mengurus Semuanya, Dira berjalan kembali menunu ruangam ICU. Sesampainya disana sudah ada petugas yang membantu pemindahan Brian ke ruangan rawat inap VVIP.
Mendengar ada ribut-ribut, Brian terbangun dari tidurnya.
"Aku mau dibawa kemana, Mom?" tanya Bri saat melihat ada beberapa perawat mendorong brangkarnya.
"Pindah ke ruangan yang jauh lebih nyaman, Bri,"pungkasnya dan Bri hanya terdiam.
Ketika memasuki ruangan rawat inap, Dira merapikan posisi Brian agar lebih nyaman lagi. Ia juga membuka sedikit jendela agar ada hembusan angin masuk serta membantu mengganti udara yang ada di ruangan itu.
Untungnya cuaca hari ini tidak terlalu terik, sedikit sejuk sehingga udaranya juga sedikit nayaman untuk di hirup.
"Apa Kamu butuh sesuatu, Bri?" tanya Dir dan di jawab gelengan kepala oleh Brian.
"Mom, apa tidak masalah jika Momy di sini terus menemani Bri? Nanti gimana dengan anak dan keluarga Momy?"
Dira tersenyum serta mengusap pucuk kepala Bri. "Kamu tenang saja, mereka adalah orang yang baik dan pengertian. Anak perempuan Momy juga sebentar lagi datang kesini," ujarnya.
Brian terkejut saat mendengar Dira yang mengatakan bahwa anak perempuannya akan datang menjenguknya.
Anak yang dimaksud Momy, Apakah gadis yang mengangkat panggilanku tempo hari?. Batinnya.
Selang beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar daei luar. Jessy segera beranjak bangun dari tempat duduknya untuk membukakan pintu. Ketika melihat seorang wanita berwajah bule yang membukakN pintu, Anne sedikit mencoba untuk melihat nama dan nomor kamar yang di beritahukan Dira.
"Kamu putrinya Mrs. Dira?" Tanya Jessy ketika melihat wajah Anne yang sedikit bingung.
"Ya, Apa ini benar kamarnya__"
"Iya benar, silahkan masuk," sela Jessy yang sudah membuka pintu dengan Lebar.
Anne tersenyum ramah, lalu memasuki kamar itu. Di dalam ruangan terlihat Mamanya tengah duduk di sisi ranja g seorang Pria yang terbaring di atas brankar.
"Anne, Kamu sudah datang?" sapa Dira yang segera bangun dari duduknya. Lalu menghampiri Anne.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...