
Ada rasa lega dan bahagia di hati Dira setelah memberitahukan semuanya kepada Ken. Ingatan ungkapan lamaran dari Ken teringat kembali, hatinya sedang berbunga-bunga seperti seorang gadis muda yang tengah jatuh cinta, padahal sudah berusia kepala empat.
Lamaran Ken seakan memberikan magnet begitu kuat di hatinya, selama 16 tahun ini Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Ternyata kebahagiaannya memang bukanlah menjadi sebagai Agatha istri dari Samuel, melainkan istri seorang pria yang sangat setia dan mencintai istrinya Kenzo.
Di sisi lain, terlihat seorang pria juga tengah merasakan betapa bahagia hatinya. Ternyata hatinya tidak mati, tetapi hanya bisa mencintai satu wanita saja yaitu Dira.
Semua pikiran-pikiran aneh itu telah sirna setelah Dira menjelaskan semuanya, apalagi Dira tadi juga langsung menerima lamaran untuk menikah kembali. Jadi, sebentar lagi mereka bisa kembali bersama seperti sedia kala.
Melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 1 dini hari, Ken memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum tidur. Besok pagi Ia akan pergi menemui Samuel untuk menanyakan apa alasan Ia melakukan ini semua.
***
Rembulan malam telah pergi, tergantikan fajar yang mulai datang untuk menyinari bumi ini. Adzan subuh mulai terdengar berkumandang di mushola keluarga fabio, suara alarm juga terdengar nyaring membangunkan seseorang yang masih tertidur.
Ken mulai mengerjapkan mata, lalu mencari ponselnya untuk mematikan alarm. Ia turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah bersama keluarga.
Selesai mengambil air wudhu, Ken keluar dari kamar.
"Papa sudah bangun?" sapa Kean dan lean yang sudah siap dengan pakaian sholat menuju mushola.
"Apa Anne sama mama belum bangun?" tanya Ken yang dijawab gelengan kepala oleh Kean dan Lean.
"Yasudah kalian bangunin, ajak sholat subuh berjamaah," pinta Ken yang di angguki oleh Lean.
Setelah itu, Lean berjalan menuju kamar Anne untuk membangunkannya.
Cukup lama Lean mengetuk pintu, baru ada pergerakan seseorang yang berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, memperlihatkan wajah Dira yang terlihat seperti baru bangun tidur.
"Mama baru bangun?" tanya lean dan di jawab sebuah anggukan oleh Dira.
"Kalau gitu, ayo sholat berjamaah," ajak Lean.
Dira langsung mengerutkan kening serta menggaruk tengkuknya saat mendengar Lean mengajak sholat berjamaah. "Em___"
Melihat ekspresi Dira yang terlihat begitu bingung, Lean tiba-tiba mempunyai prasangka tak enak.
"Kenapa, ma? Apa Mama sudah tidak pernah sholat lagi?" tanya Lean yang di angguki oleh Dira.
"Astagfirullah hal adzim, jadi selama 16 tahun ini mama tidak pernah sholat?" tanya Lean kembali untuk memastikannya.
"Bukannya tidak pernah sholat, tapi Agama mama selama ini di New York adalah__"
Lean menunggu jawaban Dira yang tidak di lanjutkan. "Adalah apa, ma?"
__ADS_1
"Kristen," ungkapnya.
Dada Lean terasa sakit bagaikan tertusuk seribu jarum saat mendengar jawaban dari dia bahwa selama ini Dira beragama kristen. Wajahnya terlihat begitu kecewa, marah, sekaligus sedih sampai membuat tangannya sudah mengepal erat.
Ia tidak bisa menyalahkan Dira sepenuhnya karena Ia tahu bahwa Dira mengalami amnesia. Untuk agama mungkin Dira kebawa dengan Samuel yang seorang kristiani, apalagi mereka tinggal di negara dengan mayoritas beragama kristen.
"Baiklah, kalau begitu tolong bangunin Anne saja ya ma, soalnya semua sudah menunggu di mushola," pungkas Lean lalu pergi.
Apakah Lean kecewa atau marah? Batin Dira lalu pergi untuk membangunkan Anne.
Mendengar Dira yang mengatakan bahwa semuanya sudah menunggu, Anne segera beranjak bangun dan berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah itu, Ia segera memakai mukenahnya dan menuju mushola. Melihat Anne yang keluar dengan terburu-buru membuat Dira tersenyum.
Sedangkan Dira mencucu muka dan menggosok giginya, lalu turun ke bawah untuk melihat mereka melaksanakan sholat. Hatinya terada dingin dan nyaman melihat pemandangan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya karena selama ini, Ia hanya melihat orang beribadah di gereja saja. Saat beribadah di gereja pun Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini.
"Apa wanita itu semalam menginap di sini?"
"Sepertinya, Iya."
"Kira-kira wanita itu siapa ya? Kenapa wajahnya tidak asing dang mirip sekali dengan..."
"Mamaku," jawab Anne saat mendengar para maid sedang berbisik membicarakan Dira.
"Maaf, non kalau kita sudah lancang___"
Anne tertawa saat melihat wajah para maid itu menunduk karena merasa malu dan bersalah.
"Gapapa kok, wajar aja kalau kalian penasaran."
"Tapi, non. Itu seriusan Mamanya Non, bukannya istri tuan sudah___"
"Mama selamat dan masib hidup," jawab Anne lalu pergi meninggalkan mereka untuk menghampiri Dira.
Selesai sholat, melihat Dira yang termenung sambil menatap ke arah mereka membuat Ken, Kean, dan Lean saling pandang.
Ken menghembuskan nafas panjang, lalu menepuk pundak Kean dan Lean.
"Gak usah khawatir, Mama kan masih bisa masuk islam lagi," pungkasnya untuk menenangkan kedua anaknya.
Melihat Anne menghampirinya dengan tersenyum membuat Dira ikut tersenyum. Lalu Ia menggandeng tangan Dira mengajaknya untuk berkenalan dengan para maid. Sedangkan Dira hanya bisa mengikuti keinginan Anne untuk berkenalan dengan para maid.
Saat ada para pengawal pria yang memandang ke arah Dira, Ken segera menatap mereka dengan sorot mata yang tajam.
"Tundukkan pandangan kalian, dan pergi dari sini! Jangan menatap istri saya seperti itu!" pungkas Ken yang segera membuat para pengawal itu pergi ketakukan.
__ADS_1
Ehem ...
"Kenapa Le? Apa ada yang salah denganmu?" tanya Ken saat melihat Lean berdehem.
"Gapapa kok Pa, Lean hanya seperti mencium ada bau-bau cemburu sekaligus aroma orang sedang jatuh cinta," sindirnya dengan menahan senyum saat melihat wajah Ken terlihat blush.
Ken memukul lengan Lean. " Au ... sakit, Pa!" seru Lean sambil memegang lengannya.
" Makanya gak usah meledek orang tua! " pungkas Ken.
Lean justru tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucaoan Ken." Ciyee ... jadi ada yang mengaku sendiri___ padahal Lean kan gak nyebutin siapa," ucapnya yang segera berlari ketika melihat wajah marah Ken yang hampir saja memukulnya kembali.
"Lean ...," seru Ken.
"Ampun, pa ..." pungkas Lean yang sudah bergelandot manja di tubuh Dira untuk meminta perlindungan seperti seorang anak kecil.
Keluarga ini terlihat kembali penuh warna seperti sedia kala. Ada maid yang ikut tertawa melihat keluarga ini kembali bahagia seperti, tetapi ada juga maid yang merasa patah hati saat melihat nyonya di rumah ini telah kembali lagi.
Setelah bercanda, Ken meminta mereka berkumpul bersama untuk membahas tentang mereka yang akan menikah lagi serta membahas agama Dira saat ini.
"Jadi gimana Dir, apa Kamu siap untuk memeluk agama islam lagi?" tanya Ken yang dijawab sebuah anggukan oleh Dira.
"Apakah Mama yakin?" timpal Kean untuk memastikan karena soal pindah kepercayaan itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi Dira sudah menjalaninya selama 16 tahun terakhir.
"Mama yakin, karena Mama merasa seperti ada ketenangan tersendiri saat Anne memakaikan hijab, dan ketika tadi melihat kalian sholat. Toh ini juga agamaku yang sebenarnya," pungkas Dira.
"Alhamdulillah," seru Ken, Kean, Lean, dan anne.
Mereka semua langsung memeluk Dira bersama, Ken ikut merasa bahagia melihat keluarga ini kembali utuh.
"Oh, ya. Papa juga mau bilang kalau___"
Kean, Lean Anne langsung menatap ke arah menunggu kelanjutan ucapan Ken.
"Kalau apa, Pa?" tanya Anne yang sudah sangat penasaran dengan kelanjutannya.
"Kalau Mama sama Papa akan menikah lagi," pungkasnya yang diangguki oleh Dira.
"Hore...," seru Kean, Lean, dan Anne.
Mereka semua kembali memeluk Dira, lalu bergantian memeluk Ken. Suasana canggung itu telah hilang berganti rona kebahagiaan di wajah mereka semua.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya... Biar Author semangat untuk up.
__ADS_1