Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Manjat Pohon mangga


__ADS_3

Di saat mendengar apa permintaanya Dira, Ken hanya bisa terdiam membeku sampai menelan saliva saja sulit. Ada perasaan menyesal telah berkata apapun yang diinginkan oleh Dira akan di turuti, ingin sekali ia menarik ucapan itu kembali tapi tidak mungkin. 


Apakah ngidamnya orang hamil sampai segperti ini? Anak masih dalam perut aja sudah seperti ini, apalagi kalau sudah keluar nanti! Batin Ken sambik menggaruk tekuknya.


"Mas, mas kenapa? Mas gak bisa ya? Bukankah tadi katanya akan menuruti semua permintaanku. Saat ini baby dalam perut ingin sekali makan itu," rengek Dira sambil memasang wajah sedih.  


Ken menghembuskan nafas kasar. " Sayang, memangnya dimana ada mangga muda?" tanya Ken. 


" Itu! " tunjuk Dira ke arah jendela yang memperlihatkan pohon mangga besar yang ada di kebun belakang. 


Kamar mereka memang bisa menikmati keindahan kebun belakang kediaman fabio. Keluarga Fabio memang mempunyai kebun buah-buahan yang ditanam oleh kakek Ken dulu, sampai sekarang kebun itu tetap banyak berbagai buah-buahan serta sayuran-sayuran organik yang ditanam disana. Bahkan ada tukang kebun khusus yang merawat serta menanam sayur dan buah-buahan disana. Sehingga sayuran dan buah-buahna yang di makan keluarga Fabio kebanyakan hasil panen sendiri dan organik.


Ken melihat ke arah Jendela, dan benar saja banyak buah mangga bergelantungan di pohon mangga yang begitu besar dan tinggi itu.


"Mas, ayo" Dira menarik tangan Ken untuk bangun agar Ken mau memetikkan mangga muda yang sangat diinginkanya saat ini. Dengan terpaksa ken bangkit dari tempat duduknya untuk mengikuti Dira berjalam keluar dari kamar.  


Saat merka sudah sampai di lantai bawah, Carol yang melihat Dira berjalan sambil menarik lengan Ken, menautkan kedua alisnya.


"Kalian mau kemana?" tanya Carol yang sudah berjalan menghampiri mereka.


"Mau ke kebun belakang ma, pengen mangga muda," jawab Dira. 


" Oh …  kalau mau mangga muda biar diambilkan sama tukang kebun aja," kata Carol memberikan saran yang diangguki oleh Ken. 


"Dira pengen nya Mas Ken sendiri yang ngambilin langsung dari pohonya Ma, gak mau diambilin sama tukang kebun," tungkasnya.  


Carol sempurna membolakan matanya ketika mendengar perkataan yang Dira ucapkan Dira.


Apa? Psngen Ken manjat pohon untuk metik mangga muda? Apa iya Ken mau? Batin Carol yang masih tak mengerti.


Ken memang sudah lama tak pernah memanjat pohon karena saat kecil pernah terjatuh sampai  pergelangan kakinya patah. Sejak saat itu ia tak pernah mau lagi namanya memanjat pohon. Seperti ada rasa trauma dalam hatinya.


Setelah memberikan ungkapan itu, Dira pergi meninggalkan Carol. Sedangkan Ken yang berjalan di belakang Dira menatap Carol sambil memberikan kode agar ia membantunya. Jujur saat ini Ken ada sedikit rasa takut, cemas, dsb.


Carol memicingkan matanya sambil mengikuti mereka berdua yang berjalan menuju kebun belakang. Ia penasaran akankah Ken beneran memanjat pohon itu, atau tidak.

__ADS_1


Sesampainya di kebun belakang, Dira merasa takjub karena melihag begitu banyak buah-buahan disana yang bisa dipanen. Pak Sarman tukang kebun keluarga Fabio segera menghampiri tuan dan nyonya mudanya ketuka melihat kedatangan Ken dan Dira.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan dan Nyonya muda?" tanya Pak Sarman dengan membungkukkan pundaknya.


"Kita cuman mau panen buah kok pak, Bapak lanjutkan saja aktivitas bapak," tungkas Dira yang mempersilahkan pak Sarman untuk kembali melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda karena kedatangan mereka. 


"Kalau mau panen buah, biar saya saja nyonya," ujar Pak Sariman karena itu adalah pekerjaanya.


"Gak perlu pak, saya lagi pengen panen sendiri," Jawab Dira dengan mengulas sebuah senyuman.


"Pa Sarman ada jala?" tanya Ken. 


" Ada Tuan, tapi buat apa ya?" 


Ken ingin menjawab pertanyaan pak Sarman tapi Dira segera melirik ke arahnya. 


"Mas buat apa minta jala? Aku kan pengenya lihat mas manjat dan memetiknya langsung pakai tangan, bukan pakai jala!" protes Dira. 


" Sayang … tapi coba deh kamu lihat, pohon mangganya begitu tinggi dan besar masak iya mas harus manjat ... " Bujuk Ken agar Dira memperbolehkan dia memakai jala untuk mengambil buah mangga. 


" Oh, Mas gak mau. Yaudah, kalau gitu gak jadi! " tandas Dira yang segera pergi meninggalkan Ken dengan raut wajah kesal. 


Ia berjalan menghampiri Ken dan Dir yang masih saling berdebat." Ken … kamu apakan Dira, kenapa dia sampai cemberut seperti itu?" tanya Carol yang sudah mendekati Dira. 


"Ini, nih ma. Mas Ken, masak iya mau ambil mangganya pakai jala! Padahal kan aku pengenya mas Ken langsung memetik buah mangganya pakai tangan mas Ken sendiri bukan pakai jala!" hiks ... Isak tangis Dira. "Padahal ini juga kemauan bayi yang ada di dalam perut dan Mas Ken juga tadi sudah janji bakalan nurutin semua permintaan nya, tapi sekaranv hanya minta seperti ini aja gak di turutin! " pungkas Dira.


" Bukanya gak mau sayang … Mas kan cuman ..."


"Ken, kalau istri ngidam usahakan di turutin. Kalau kamu gak mau nurutin, kamu mau anak kamu ileran gara-gara papanya gak mau menuruti permintaanya," sela Carol sebelum Ken menyelesaikan ucapanya.


Ken terdiam, dia bingung harus menjawab apa lagi. Ia tidak mau melihat anaknya nanti ileran tapi disisi lain dia juga sedikit takut manjat pohon yang tinggi. Dia juga tidak mau dianggap cemen hanya karena gak bisa memanjat pohon mangga.


Akhirnya Ken hanya bisa menghembuskan nafas panjang serta mengusap wajahnya kasar. Ia kembali menatap pohon mangga yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Kemudian dia berjalan melangkah ke sana. Tangannya mulai gemetar, keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah tampanya dan juga telapak tanganya.


Sesampainya dibawah pohon mangga, Ken menutup matanya sebentar untuk menghilangkan rasa takutnya serta berdoa untuk keselamatanya. Demi keinginan sang buah hati yang masih berada dalam kandungan, ia berusaha mengusir semua rasa takutnya.

__ADS_1


Ken menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya pelan, begitupun seterusnya. Setelah merasa tenag, ia bersiap memanjat pohon mangga yang sudah ada dihadapanya sekarang. 


Sebelum memanjat, dilihatnya wajah istrinya yang sudah menunggu dengan wajah penuh harap di kejauhan. Wajah itu menjadi kekuatan baginya, perlahan ia memanjat pohon mangga yang besar itu. Setelah sampai di atas, ia tak berani melihat ke bawah agar tak takut. Sebenarnya Ken tidak fobia ketinggian, hanya saja kalau masalah memanjat pohon, dia mempunyai kenangan pahit tersendiri.


Sesampainya di puncak, Ken segera mengambil buah mangga dan meletakkannya di dalam kantong plastik yang sudah ia bawa sebelumnya di tangan sebelah kiri. Setelah mendapatkan beberapa mangga ia mencoba turun ke bawah dengan pelan-pelan. 


" Ini sayang mangga mudanya. Sudah kan? " Ken memberikan kantong plastik itu ke Dira, terlihat raut wajah bahagia itu terlintas dari wajahnya. Dira segera memeluk Ken sambil menghujaninya dengan ciuman tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sana, dunia serasa milik berdua dan yang lain ngontrak.


Melihat sikap bagaikan anak kecil yang kegirangan. Carol dan beberapa orang yang ada di situ hanya bisa ikut tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat sikap Dira saat ini. Dira hamil, sungguh benar-benar seperti anak kecil yang begitu manja. Tubuh ken yang tadinya merasa lemas kembali segar setelah mendapatkan sebuah hadiah nomplok berupa hujan ciuman di pipi.  


Setelah mendapatkan mangga, Dira mengambil beberapa jambu madu deli yang ada di kebun itu juga. Ia berencana ingin membuat rujak buah. 


Selesai memanen beberapa buah, mereka kembali ke dalam rumah. Para maid mengambil buah-buahan yang sudah dipanen untuk Dira untuk di cuci serta membuatkan sambal rujak yang diminta oleh Dira. Ia tak melakukanya sendiri karena Dira akan merasa mual ketika mencium aroma makanan yang ada di dapur, sedangkan para maid sedang memasak untuk makan malam mereka.


Tak lama kemudian, Lala sudah keluar dengan membawa nampan berisi buah-buahan yang telah di potong serta sambal rujak. Lala segera meletakkan nampan itu di depan Dira. Sesangakn Dira sudah menelan salivanya dan sudah tidak sabar untuk menyantap buah-buahan itu.


Dira menyantap buah-buahan itu dengan raut wajah penuh kegembiraan, tapi ia hanya memakanya sedikit karena ia sudah cukup.


"Makanya sudah sayang, gak di habisin?" tanya Ken.


"Sudah cukup!"


" Tapi mangganya masih banyak loh," protes Ken yang melihat mangga yang ia ambil susah-susah payah hanya dimakan beberapa suapan.


" Ken, namanya juga orang ngidam. Ketika sudah di turutin ya sudah," pungkas Carol yang dianvvuki oleh Dira.


Ken hanya bisa melongo mendengar ucapan Carol. Jadi, hanya begitu saja? Ngambilnya susah payah dan hanya dimakan sedikit.!.


...****************...




__ADS_1


Makasih buat dukungan yang kalian berikan, maaf gak bisa ss semuanya. Tapi author benar-benar mengucapkan terimakasih buat kalian yang sudah mendukung novel ini dengan memberikan, like, komen, vote, hadiah tips maupun bunga. Semoga rezeki kalian semuanya berlimpah... 🙏🙏


Salam sayang dari author buat kalian semuanya


__ADS_2