
Selang beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah tenda penjual sate dan gulai kambing. Awalnya Ken mau makan di restoran tapi Dira tidak mau, maunya di pedagang kaki lima dan waring tenda itu cukup ramai pengunjung.
"Sayang kamu yakin mau makan di sini?" tanya Ken untuk memastikan lagi. Seumur hidupnya Ken tidak pernah makan di tempat seperti ini.
"Iya, memangnya kenapa mas? Tempatnya ramai pasti makanannya enak!" ujar Dira.
Ken hanya bisa menelan salivanya, rasanya dia tak ingin keluar dan makan di tempat itu.
"Sayang, gimana kalau kita makanya di mobil aja. Soalnya disana terlalu ramai," bujuk Ken.
"Yaudah kalau mas gak mau, Aku makan sendiri aja!" cetus Dira yang sudah mau keluar.
"Eh ... Iya ... Iya mas ikut," kata Ken yang tak rela jika Dira makan sendiri apalagi disana banyak para buaya yang bisa saja menggoda istrinya yang cantik.
Akhirnya mereka turun dengan bergandengan tangan dan memesan dua porsi sate dan gulai serta es jeruk. Benar saja dugaan Ken, padahal Dira sudah selalu ia gandeng tapi masih aja ada yang terus menatap istrinya yang cantik.
Ken hanya menyadari laki-laki yang terus menatap Dira, padahal lebih banyak wanita yang terus menatapnya, serta berbisik-bisik.
"Eh cowok itu ganteng banget ..."
"Ingat ada istrinya di sampingnya."
"wajah mereka kok seperti gak asing ya, kayak pernah lihat tapi dimana gitu..."
"Alah percuma ganteng tapi makannya masih di tempat seperti ini!"
"Eh ... Lo gak lihat mobil yang mereka kendarai, ya mungkin mereka memang merakyat aja! Gak usah sirik deh!"
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Dira segera memberi bumbu gulenya dengan jeruk nipis dan juga sambel. Sedangkan Ken masih belum ***** untuk makan. Melihat Ken yang hanya diam saja dan belum menyentuh makananya sedikitpun, Dira menatapnya lekat-lekat dengan memberi kode untuk Ken segera memakan makanannya
Saat mulai menyantap makanan nya, Dira merasa bahagia tapi hanya beberapa suap saja karena perutnya sudah tak bisa diajak kompromi untuk makan nasi lebih banyak lagi. Setelah selesai makan mereka pulang ke rumah. Saat sudah masuk ke dalam mobil Dira sudah tertidur lagi, sungguh seperti putri tidur.
................
Malam yang menjadi saksi permintaan aneh Dira telah pergi berganti dengan fajar yang mulai terdengar. Suara alarm juga terus berbunyi untuk membangunkan dua insan yang masih tidur terlelap sambil berpelukan. Deru suara alarm yang tak kunjung berhenti, akhirnya Ken bangun juga.
"Sayang ... Ayo bangun, sudah subuh," ujar Ken yang masih membangunkan Dira.
Bukanya bangun, Dira justru semakin mengeratkan pelukannya kepada Ken. Membuat Ken juga ingin tidur lagi tapi mereka harus sholat dulu.
"Sayang ... ayo sholat dulu, nanti habis sholat gapapa tidur lagi," bujuk Ken. Setelah sekian purnama akhirnya Dira membuka mata sambil mengucek mata yang terasa gatal.
"Mas wudhu duluan ya ... Nanti aku nyusul!" dengan melepas pelukannya kepada Ken.
Setelah itu Ken bangun dan beranjak turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Selesai Ken wudhu, giliran Dira dengan membawa tespek ke dalam kamar mandi karena ken yang sudah menyiapkan agar Dira tak lupa.
__ADS_1
Meskipun Dira sudah pernah hamil dia tak pernah menggunakan alat ini dan ini pertama kalinya karena waktu Hamil Kean dan Lean ia tahu kalau hamil dari dokter bukan dari tes seperti ini.
Dira mulai melakukan petunjuk pemakaian yang ada di kotak itu, saat menunggu ternyata no pregnant. Melihat apa yang tertulis di alat itu Dira hanya mengambil nafas panjang dan keluar dari kamar mandi.
Ken yang sudah menunggu harap-harap cemas, ketika mendengar pintu kamar mandi segera ia menghampiri Dira.
"Gimana hasilnya sayang?" tanya Ken penasaran.
"No pregnant," ucap Dira dengan menunjukkan hasil tespeknya.
Ken terdiam sebentar, ternyata Dira belum hamil! batinya.
"Mas kenapa wajahnya seperti itu? Apakah mas kecewa karena aku belum hamil?" tanya Dira yang melihat Ekspresi Ken yang terdiam.
"Gapapa kok, mas gak kecewa. Mungkin memang belum rezeki kita untuk segera punya anak lagi. Yaudah kita sholat subuh dulu ya … nanti keburu habis waktunya, " ajak Ken yang diangguki oleh Dira.
Apa mas Ken sudah sangat menginginkan ada bayi di rahim ini? Gumamnya dalam hati sambil mengelus perutnya.
......................
Pagi telah menyapa, dalam sebuah ruangan terlihat sepasang calon pengantin yang melihat nama-nama undangan ke acara pernikahan mereka. Mereka berdua memang memutuskan untuk menyebar undangan bersama agar sekalian bertemu dengan teman yang akan diundang
" Oh ya kak, kita mau mengirim undangan ke siapa dulu?" tanya Senja lagi
" Kamu masih peduli banget sama mb Dira …" cetus senja dengan wajah yang mulai ditekuk.
Melihat wajah calon istrinya yang terlihat sedikit cemberut membuat Rian mendekati senja sambil memeluknya.
" Kamu cemburu? "
" Enggak kok, siapa juga yang cemburu!"
Andrian mencubit pipi senja karena merasa sangat gemas melihat wajah calon istrinya yang begitu menggemaskan ketika sedang cemburu.
"Kak … sakit tau!" protes senja yang tak suka di cubit pipinya.
"Habisnya kamu itu cemburu kok sama Dira, dia kan udah punya suami yang sangat dicintainya buat apa kamu cemburu sama dia. Lagian kakak perhatian karena dia adalah teman baik kakak," papar Rian agar Senja tak salah paham.
"Teman baik sekaligus cinta pertama kan?" cetus Senja.
Andrian tak bisa menahan senyumnya ketika Senja membahas soal itu lagi. Mungkin memang begini sifat cewek kalau di kasih tau sedikit-sedikit di bahas kalau gak di kasih tau katanya gak jujur kan susah jadi cowok kalau begini. Batin Rian.
Tanpa permisi Andrian segera membalik memgang tengkuk senja dan segera menempelkan bibirnya ke bibir wanita itu, awalnya senja menolak dan memukul-mukul dada bidang Andrian tapi Andrian justru semakin memperdalam ciumannya. Lambat laun Senja mulai mengikuti permainan Andrian sampai melingkarkan tanganya di leher Rian. Melihat senja yang mulai aktif, Rian tersenyum dan melanjutkan permainya.
Tiba-tiba ada bunyi telpon masuk, membuat kedua insan yang saling menyatukan rasa cinta mereka, seketika berhenti dari aktivitas yang sedang mereka lakukan.
__ADS_1
Senja mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya, selesai berbicara di telepon mereka memutuskan untuk segera pergi menyebar undangan dan yang pertama kali adalah di kediaman fabio.
Ketika memasuki area rumah fabio, Senja terus saja menatap ke sekitarnya lewat jendela mobil yang ia turunkan sedikit.
" Wow … rumah ini besar sekali bak istana di negeri dongeng," puji Senja yang memang baru pertama kali masuk ke rumah yang begitu megah, bukanya norak tapi senja memang bukan dari kalangan orang kaya. Sedangkan Andrian hanya tersenyum ketika melihat wajah senja yang begitu takjub.
" Kak … ini beneran rumah kak Dira?" tanya Senja penasaran.
" Lebih tepatnya rumah keluarga suaminya, Kalau Dira dia bukan anak dari orang kaya."
" Oh … berarti kak Dira sama kayak aku donh. Anak dari keluarga biasa biasa yang bisa menikah dengan seorang pangeran dari keluarga kaya!"pungkas Senja.
Andrian memberhentikan mobilnya tepat di pintu utama kediaman fabio." Kamu kalau ngomong gak usah berlebihan seperti itu , justru kakak yang bersyukur bisa mendapatkan berlian seperti kamu, jadi gak usah terlalu merendahkan diri oke! " tutur Andrian dengan mengusap puncak kepala Senja.
Setelah itu mereka keluar dan masuk kedalam kediaman Fabio. Kedatangan mereka disambut oleh Carol.
" Hallo Rian …, " Sapa Carol sambil memeluk Rian.
" Hallo tan, Tante sehat? "
" Alhamdulillah sehat, oh ya ini calon istri kamu?" tanya Carol yang dijawab sebuah anggukan oleh Rian.
" Hai tante," sapa Senja dengan mencium tangan Carol. Sedangkan Carol memberikan sebuah pelukan juga kepada Senja agar mereka tidak terlihat canggung.
Setelah berpelukan sebentar, kemudian Carol melepaskanya. " Ternyata Rian pintar juga milih calon istri, "goda Carol yang berhasil membuat Rian dan Senja bersemu merah.
Carol memang dekat dengan Andrian sejak mereka bertemu di acara pernikahan Dira dan ternyata mama Rian juga teman satu arisan Carol. Sehingga membuat hubungan mereka menjadi lebih dekat lagi.
Setelah itu Carol mempersilahkan Andrian dan Senja untuk duduk di sofa, dan menyuruh maid untuk mengambilkan mereka cemilan dan minuman.
"Oh ya Dira gimana kabarnya tan?" tanya Rian di sela-sela obrolan mereka.
"Ya seperti yang tante sudah ceritakan. Satu minggu terakhir ini dia lebih jauh berbeda dari biasanya bahkan sampai jam segini dia belum bangun. Tante khawatir dan takut dia kenapa-kenapa tapi dira marah saat kita mau membawa dia ke dokter, terus tante juga sempat mengira bahwa dia itu sedang hamil. Eh … ternyata tadi pagi di tes katanya negatif.
" Berbedanya seperti gimana tan? "tanya Senja.
" Emosinya gak bisa dikontrol, awalnya tidak ***** makan, bau aroma - aroma yang aneh dia langsung mual, terus melihat makanan kesukaanya juga mual, justru pengen makanan yang dulu gak dia suma dan hanya tidur terus padahal dulu dia tidak begitu. Pokoknya Dira berubah 180 derajat, makanya waktu pertunangan kalian gak bisa datang karena kondisi Dira yang up and down," papar Carol.
" Kalau boleh tau mb Dira sekarang dimana tan? Boleh Senja coba periksa tan? kebetulan Senja sekolah spesialis kandungan, meskipun masih mau ambil sekolah profesi in sya Allah sudah bisa kalau hanya memeriksa hamil atau tidaknya, " ujar Senja.
" Oh ya, jadi istri kamu juga dokter Ri? "tanya Carol yang di jawab sebuah anggukan oleh Rian.
...****************...
Bonus bab buat kalian semua... . Jangan lupa like, komen, vote serta hadiahnya ya... 😊😊😊
__ADS_1