
Rendi sudah mau pamit untuk kembali Ke hotel, tapi di cegah oleh Lean. Segera Lean turun dari ranjang dan menghampiri Rendi, dan menyuruhnya untuk berjongkok agar tinggi mereka setara. Rendi pun menurutinya dia berjongkok dihadapan bocil 5 tahun itu. Lalu Lean membisikkan sesuatu yang cukup panjang dengan Rendi. Awalnya Rendi menolak, tapi Lean mengancam Rendi dengan suatu hal yang tidak Bisa dia tolak.
Melihat interaksi mereka yang cukup dekat, membuat semua orang yang ada di ruangan itu penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan oleh dua orang itu.
"Kalian sedang ngomongin apa? Kenapa bisik-bisik dan serius begitu?" tanya Dira yang penasaran.
"Iya, Lean ngomongin apa sama om Rendi?" imbuh Ken.
"Ee...." Lean langsung memberikan kode mengunci mulut yang artinya harus tutup mulut gak boleh bilang ke siapapun. "Bukan apa-apa kok, Lean hanya mau pesan martabak telor... Iya martabak telor..." ucap Rendi bingung mau menjawab apa.
Lean hanya menepuk jidat, mendengar alasan yang Rendi buat. Kenapa om ini oon sekali sih? Masak iya siang-siang nitip martabak telor. Semoga saja tidak ada yang curiga! . Batin kean dalam hati sambil menatap Rendi dengan sorot mata yang tajam dan heran.
"Martabak telor?" tanya Dira bingung mendengar jawaban Rendi. "Memangnya siang-siang ada yang jual martabak telor? Bukankah semalam sudah beli! Lean apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Dira.
"Lean gak menyembunyikan apa-apa kok ma. Maksud om Rendi martabak telornya gak buat siang ini, tapi buat nanti malam!" imbuh Lean yang diangguki oleh Rendi.
"Oh... Kirain siang-siang kamu pengen makan martabak telor. Tapi, kamu gak boleh sering-sering makan seperti itu. Kurang sehat! Kamu gak usah turutin dia Ren, gak perlu di belikan!" tuturnya.
"Em.... Iya, ya sudah kalau begitu aku pamit pulang ke hotel dulu ya..." pamit Rendi yang langsung segera pergi dari kamar Ken takut kalau ada yang mengintrogasinya lagi.
Di dalam kamar tinggal sisa mereka berempat Dira, Ken, Kean dan Lean. Suasana ruangan menjadi hening, karena tidak ada pembicaraan sama sekali. Semua sibuk dengan dunianya sendiri.
Kean sibuk dengan ipadnya, Dira juga begitu dia sedang membaca email-email yang masuk. Sedangkan Ken dan Lean sibuk main game bersama. Tiba-tiba ada bunyi suara kentut yang membuat semuanya berhenti dari aktivitasnya dan saling melirik satu sama lain.
Ken hanya terdiam membisu, dia malu jika semuanya tau kalau kentut itu berasal darinya. Melihat wajah Ken yang begitu tegang, mereka tahu kalau itu kentut dari Ken, tapi dia malu untuk mengatakannya. Jadi, semua tidak mempermasalahkanya, toh memang dari tadi mereka mengharapkan agar Ken bisa secepatnya buang angin
Melihat Ken yang sudah bisa buang angin, Dira segera bangun dari duduknya untuk mengambilkan Ken bubur yang di simpan dalam Crown Food dan juga soup yang ada di soup termos. Dira memang sengaja memasukkan bubur dan soup ke wadah yang tahan panas, agar makanannya awet hangat.
Selesai mengambilkan makanan, Dira berjalan mendekat ke samping ranjang Ken.
__ADS_1
"Silahkan, bapak makan dulu buburnya. Pasti sudah sangat lapar kan?" tawarnya sambil menyodorkan mangkuk berisi bubur putih.
" Dir... Jangan panggil bapak lagi ya... Seperti aku terlihat terlalu tua dan sediki kurang enak di dengarnya. Panggil Ken atau apa gitu!" ujarnya.
Dira sedikit canggung kalau harus memanggil nama Ken, karena umur ken jauh lebih tua darinya.
" Kalau panggil mas aja gimana? Soalnya sedikit canggung kalau langsung panggil nama dengan yang lebih tua. " saranya.
Ken hanya menganggukkan, menyetujui saran Dir. Mas, sepertinya bagus juga dan terdengar lebih enak dan dekat.
"Ya sudah kalau begitu di makan buburnya ya.. Keburu dingin!."
"Em... Boleh minta tolong suapin gak? Soalnya tangan kananku di infus," dengan menunjukkan tangan kanannya yang masih di infus.
Awalnya perawat ingin memasang jarum infus di tangan kiri, karena sudah mencoba beberapakali tetap tidak masuk. Terpaksa infus terpasang di tangan sebelah kanan, itupun bisa karena bantuan dari Lean yang mengalihkan ketakutan dan ketegangan Ken.
"Om kok manja sih..." kan masih bisa pakai tangan kiri! "cetus Kean."
"Ma... Masak mama gak kasian sama papa sih, harus berusaha makan pakai tangan kiri. Sekarang Papa kan seorang pasien, mama bantuin suapin papa ya... Gak sulit kan ma?" papar Lean dengan memperlihatkan pupy eye.
Karena merasa kasihan, dan tidak enak menolak permintaan Ken dan Lean. Akhirnya Dira menyuapi Ken dengan sabar. Hal itu, membuat hati Ken sangat berbunga-bunga. Ternyata sakit ini tidak sepenuhnya buruk! Batin Ken.
Selesai menyuapi Ken, Dira menyuruh Ken meminum kaldu sup yang terbuat dari daging, wortel dan jahe. Karena makanan itu sangat bagus untuk pemulihanya. Ken pun menurut untuk meminum ya sampai habis, meskipun rasanya...
Selesai menyuapi Ken, Dira menawarkan buah lagi. Dan di jawab dengan sebuah anggukan oleh Ken. Lean juga mengatakan bahwa dia juga mau makan jeruk. tapi harus di suapi, karena sedang sibuk main game. Dira pun menyuapi Ken dan Lean bergantian, hanya Kean yang tidak bergabung. Entah apa yang sedang dikerjakan sampai dia sangat fokus dengan Ipadnya.
Sikap perhatian Dira membuat Ken terus menatapnya dengan perasaan penuh cinta dan rasa bahagia. Sedangkan Dira mulai salah tingkah karena tatapan Ken yang begitu dalam, seperti sedang menyelam samudera. Suasana di ruangan itu juga menjadi sangat damai dan harmonis, selayaknya sebuah keluarga yang saling menyayangi satu sama lain.
...----------------...
__ADS_1
Dalam ruangan besar dengan desain monokrom serta di lengkapi dengan Furnitur yang tertata rapi, terlihat Seorang Pria tampan dengan tubuh tegap sedang duduk bersandar di kursi Kebangsaanya. Di depanya terlihat seorang pria dengan setelah jas berwarna navy sudah berdiri dengan tegap.
"Bagaimana... Apa kamu sudah menemukan informasi tentang Anindira?" tanyanya dengan Pria yang berdiri didepanya.
"Sudah boss," Jawabnya dengan menyodorkan sebuah aipad yang di dalamnya sudah tercatat dengan detail tentang Anindira.
Raut wajah bahagia dengan senyum yang mengembang di bibirny, Ketika membaca apa yang ada di layar aipad itu.
Sampai bertemu lagi Dira... Aku sungguh sudah tidak sabar untuk bisa bertemu lagi denganmu. Apakah kamu masih sama seperti dulu? Atau sudah berubah?. Gumamnya lirih dengan sebuah senyuman penuh arti.
" Jadi, apa kamu sudah mempunyai rencana agar saya bisa bertemu denganya?".
"Sudah boss, saya sudah mengirimkan sebuah email kerjasama denganya dan sudah di Acc."
"Bagus, jadi kapan saya bisa bertemu denganya?."
"Dia mengatakan akan memberitahu kapan dan dimana kita bisa bertemu setelah kembali ke Jakarta , karena saat ini dia sedang ada diluar kota!" imbuhnya.
"Ya sudah... Kamu boleh pergi!."
Setelah itu, pria dengan setelah jas berwarna navy itu keluar dari ruangan Bossnya.
Ternyata kamu sudah mempunyai anak, dan hidup dengan baik Anindira Fidelya!.
...****************...
Oke... Lunas ya.....
Kira-kira apa ya... Yang di bisikan Lean ke rendi? Dan siapa pria yang i gin bertemu dira?
__ADS_1
Kalau kalian tau, boleh komen di bawah ya....
Jangan lupa like, komen, vote dan klik Favoritnya... Terima kasih 🙏