Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Mengantar kembar ke sekolah


__ADS_3

Pagi yang cerah, seperti wajah Dira yang terlihat begitu bahagia. Hari ini tak seperti biasanya Dira tak tidur lagi setelah shalat subuh. Biasanya dia akan tidur lagi sampai siang, kalau tidak ia akan muntah-muntah parah. 


Melihat kondisi Dira yang hampir kembali normal seperti biasanya yang bisa menyiapkan pakaiannya, melayaninya, serta memakaikan dasi membuat Ken merasa senang. Meskipun ia belum bisa mencium aroma makanan, itu sudah jauh lebih baik. Selama hamil Dira memang tak bisa mencium aroma minyak goreng yang terkena bumbu, tidak bisa makan nasi, sehingga selama 2 bulan lebih ini ia tak pernah masuk ke dapur sama sekali dan tidak makan nasi. 


"Mas seneng deh, kamu bisa seperti ini lagi!" ucap Ken yang terus memandangi wajah cantik istrinya yang sedang memasangkan dasi. 


"Oh ya?" sahut Dira dengan mengulas senyum di bibirnya. 


Melihat wajah cantik serta bibir merah muda yang hanya dioleskan sedikit lipgloss itu membuat Ken tak tahan untuk tidak menciumnya. 


"Mas …" Dira sedikit kesal karena Ken tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman panas, tidak sekedar bibir yang menempel saja. Melihat Ken yang semakin ganas, membuat Dira terpaksa menggigit bibir Ken agar ia melepaskan ciumanya.


"Au …" pekik Ken sambil memegang bibir yang digigit oleh Dira. "Kamu kenapa gigit bibir Mas? Kan sakit ..." gerutu Ken. 


"Habisnya Mas makin lama makin ganas, sampai gak menyadari kalau istrinya sudah hampir kehabisan nafas!" ketus Dira dengan wajah yang begitu kesal.


Melihat Dira yang marah membuat Ken memeluknya untuk meminta maaf dan menenagkanya. " Mas minta maaf ya ... Habisnya bibir kamu itu bikin candu, jadi Mas gak bisa mengintrolnya," bisik Ken yang masih memeluk Dira.


Setelah itu, mereka keluar dari kamar untuk sarapan bersama dan mengantarkan Kean dan Lean ke sekolah. 


Sesampainya di meja makan, Ken menarik sebuah kursi untuk Dira duduki dan ia juga duduk disamping Dira. 


"Wah … rasanya sudah lama sekali ya kita tidak sarapan bersama dengan formasi lengkap seperti ini," ujar Carol. "Kamu udah bisa tidak tidur pagi lagi Dir?" imbuh Carol. 


"Alhamdulillah hari ini baik-baik saja ma, semoga bisa seperti ini Seterusnya ," jawab Dira yang mulai mengambilkan nasi goreng untuk Ken. Sedangkan ia hanya memakan dua potong sandwich. 


"Syukurlah kalau begitu, Mama jadi ikut senang kalau melihat kondisimu sudah membaik. Karena tidur pagi juga gak terlalu baik buat ibu hamil," papar Carol yang dijawab sebuah anggukan oleh Dira.


Selesai makan, Dira, Ken, Kean dan Lean pamit untuk pergi. Tersisa Carol dan para maid di rumah yang besar itu. 


Hari ini Kean dan Lean sangat ingin pergi ke sekolah diantar oleh Dira dan juga Ken. Karena sudah lama sekali mereka tak diantar ke sekolah bersama kedua orang tuanya lengkap. Apalagi sejak Dira hamil, Kean dan Lean tak pernah bertemu Dira saat pagi hari. 


"Ma, Apakah boleh kalau mama sama papa mengantar kita sampai di depan kelas?" tanya Kean yang mulai membuka pembicaraan. 

__ADS_1


"Boleh saja!" jawab Ken. 


"Hore … " seru Kean dan Lean. Sedangkan Dira hanya bisa tersenyum memandang wajah bahagia kedua anaknya itu. Mungkin mereka memang sangat ingin diantar ke sekolah sampai di depan kelas, karena selama Ken dan Dira menikah mereka belum pernah mengantar Kean dan Lean bersama ke sekolah. 


Kean, Lean ingin diantar sampai di depan  kelas  hanya ingin membuktikan kepada teman-temannya kalau mereka itu mempunyai keluarga yang  lengkap. Dan sebentar lagi juga akan mempunyai adik. 


Sesampainya di parkiran sekolah Fabio International School. Mereka berempat turun dari mobil dan berjalan menuju kelas dengan bergandengan tangan. Kean menggandeng tangan Dira dan Lean menggandeng tangan Lean. 


Kedatangan mereka langsung menjadi pusat perhatian. Apalagi bagi orang yang belum mengetahui kalau Kean dan Lean adalah putra dari pemilik sekolah ini. Banyak sorot mata yang terus memandang ke arah mereka ada yang merasa takjub ada juga yang merasa iri. 


Banyak Para wali murid yang mengantar anaknya bergumam ketika melihat mereka berjalan bersama.


"Jadi, anak kembar itu benar anak dari Kenzo!" 


"Wah … keluarga idaman," 


"Pantes saja anak kembar itu sangat tampan, mama dan papanya aja bibit unggul!" 


Ada juga seorang wanita yang ingin memotret kebersamaan mereka untuk di uplod ke media sosial. Karena menurutnya foto ini akan menjadi berita trending, karena selama ini Ken masih menyembunyikan identitas anak-anaknya. Sebelum ia memotret, Ken dan Lean lebih dulu menghampiri wanita itu. 


Mendengar ada yang berbicara ddidepanya. Wanita yang sudah membuka media sosial itu, segera mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara. Wanita itu terbelalak ketika melihat Ken sudah berdiri di depanya dengan tatapan tajam serta ucapan yang terdengar mengancam. Membuat wanita itu diam membeku dan tak bisa berkata apa-apa.


Ken segera mengambil ponsel wanita itu dan menghapus foto yang sudah ia potret. Setelah menghapusnya Ken mengembalikan ponsel itu kembali. Lalu pergi meninggalkan wanita yang masih diam membeku.


Kenapa dia tidak mau foto wajah anak-anaknya tersebar di media sosial. Apa benar kalau mereka ini adalah … makanya ditutup-tutupi! batin Wanita itu ketika melihat Ken sudah melenggang pergi meninggalkanya. 


Ken melakukan itu demi keselamatan anak-anaknya, karena ia tidak ingin wajah anak-anaknya jadi sorotan dan juga incaran saingan bisnisnya. Jika wajah Kean dan Lean tersebar di media sosial, pasti akan ada saja yang berusaha untuk mencelakainya. Mengingat status mereka yang merupakan ahli waris keluarga Fabio selanjutnya. 


"Pa, memangnya kenapa kalau foto wajah kita tersebar? Apa papa tidak ingin semua orang tahu kalau kita adalah anak papa? Apa papa malu? " begitu banyak pertanyaan yang Lean katakan kepada Ken. Karena ia penasaran ketika melihat Ken mengancam wanita itu dengan tatapan yang tak biasa. 


Ken menghentikan langkahnya, lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Lean." Lean, bukanya papa tidak mengakui kalian. Kalau papa tidak malu mengakui kalian, mana mungkin papa mau mengantar kalian ke sekolah sampai di depan ruangan kelas seperti ini. Papa melakukan hal itu ada alasanya dan itu semua demi kebaikan kalian sendiri. Nanti ketika kalian dewasa pasti kalian akan mengerti sendiri " Ken mengusap puncak kepala Lean sembari tersenyum padanya. 


Melihat tatapan Ken tidak seperti orang yang sedang berbohong, membuat Lean mengerti dan memakluminya.

__ADS_1


Setelah itu Mereka kembali melanjutkan berjalan untuk menghampiri Kean dan Dira yang masih berdiri di menunggu mereka berdua.


"Kalian tadi ngomongin apa?" tanya Dira saat Ken telah berada di depanya. 


"Tidak ada kok!" ucap Ken.


Karena Bel sudah berbunyi, mereka segera mengantar Kean dan Lean menuju kelasnya yang sudah tak jauh lagi. 


Setelah mengantarkan Kean dan Lean Sekolah. Dira masih ikut bersama Ken, karen tiba-tiba Dira ngidam pengen menemani Ken bekerja di kantor. 


Dikarenakan Ken ada meeting diluar terlebih dulu dengan klien, jadi mereka pergi menuju tempat meeting terlebih dulu sebelum ke kantor. Tak lama kemudian mereka sampai juga di restoran yang sudah dijanjikan. 


Saat perjalanan menuju ke private room yang sudah dijanjikan, tiba-tiba Dira merasa ingin buang air kecil. Sehingga Ia pergi ke toilet terlebih dahulu, sedangkan Ken pergi menemui klien sendiri karena takut klien menunggu lama. 


Sesampainya di private room, benar saja klien yang akan ditemui Ken sudah menunggu disana. Ken segera menghampiri dan menyalami wanita itu, serta mengucapkan permintaan maaf karena terlambat.


Wanita itu hanya tersenyum dan mencoba mendekatkan Diri dengan duduk di sebelah Ken. Membuat Ken merasa sedikit tak nyaman.


"Nona Juwita, sepertinya posisi kita tidak terlalu nyaman kalau seperti ini!" pungkas Ken.


"Oh ya. Saya hanya ingin duduk lebih dekat saja tuan Ken, agar kita lebih mudah membicarakan proyek yang akan kita lakukan bersama. Apakah itu salah?" tanya Juwita dengan nada yang dibuat sedikit mendesah.


Dira yang sudah berdiri di depan pintu segera membuka pintu itu." Tentu saja salah nona, karena pria yang ada disamping anda ini adalah pria yang beristri! " pungkas Dira yang segera berdiri di tengah-tengah mereka untuk menjauhkan wanita itu.


Juwita terbelalak ketika melihat Dira tiba-tiba datang. Ia memang tak membaca berita Ken yang telah menikah. Yang ia tahu Ken masih singke dan ia sangat menyukainya. Sehingga ketika mendapatkan kesempatan untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan Ken, ia sangat antusias dan berharap bisa mendapatkan hati ken.


"Siapa kamu?" tanya Juwita dengan tatapan sinis.


"Maaf nona Juwita, dia adalah istri saya. Kebetulan asisten saya tidak bisa menemani, sehingga Istri saya yang ikut!" jawab Ken.


Juwita memicingkan matanya." Saya kira anda orang yang profesional Tuan Ken, ternyata tidak! Bahkan bekerja saja harus membawa istri! " pungkas Juwita yang segera mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Ken dan Dira. Ia segera pergi karena merasa di permalukan.


Dira menyungutkan bibirnya ketika melihat juwita pergi." Mas besok-besok gak boleh meeting sendirian bersama wanita kayak uler keket gitu! Main nempel-nempel suami orang seenaknya," gerutu Dira sambil melipat tanganya di depan dada.

__ADS_1


Melihat ekspresi Dira yang kesal sekaligus cemburu membuat Ken tersenyum. "Iya sayang..." ujar Ken dengan memgang pundak Dira, agar ia beristighfar. Apalagi ia sedang hamil sekarang.


"Amit-amit jabang bayi ..." ujar Dira sambil mengelus perutnya.


__ADS_2