
Sebuah tempat yang begitu Indah, dengan penuh kebahagian dan kebersamaan di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya mereka makan bersama dengan para maid dan pengawal, biasanya tak pernah ada hal seperti ini. Sungguh kehadiran Dira dan anak-anaknya membawa perubahan yang sangat besar dalam rumah ini.
Carol juga merasa bahwa selama ini dia yang tidak pernah berpikir bahwa makan bersama dengan para maid seperti ini, akan ada rasa bahagia tersendiri seperti sebuah keluarga besar yang tak ada perbedaan di dalamnya.
Tiba-tiba Dira merasa bahwa perutnya terasa sakit dan sedikit pergi dari keramaian. Astaghfirullah hal adzim kenapa pms datang di waktu yang tidak tepat sih, dan kenapa semakin lama semakin terasa sakit sekali. Batin Dira dengan memegang Perutnya.
Ken yang menyadari bahwa Dira yang sedang sedikit menjauh dari kerumunan dengan tangan yang terus memegang perutnya, membuat Ken penasaran dan segera mendekat ke tempat Dira berada.
"Kamu kenapa Dir? Apa ada yang sakit?" tanyanya dengan terus melihat Dira yang sedang setengah berjongkok karena menahan perut yang terasa sakit.
"Gapapa kok mas hanya PMS saja,". jawabnya yang masih terus memegang perutnya yang semakin sakit.
" Wajah kamu sudah pucat seperti itu, masih saja bilang gapapa. Aku antarin ke kamar ya, " tawarnya.
" Gak perlu kok mas, aku bisa kembali ke kamar sendiri. "
Setelah itu Dira berusaha berdiri tegak dan mulai melangkah pergi meninggalkan Ken. Langkahnya terlihat terhuyung-huyung seperti ingin jatuh karena menahan rasa sakit perutnya sampai tubuhnya bergetar dan ….
Dira jatuh pingsan untung saja Ken dengan cepat bisa menangkap tubuh Dira yang hampir jatuh ketanah.
"Dir … bangun Dir …" ucapnya dengan menepuk pipi dira yang sudah tak sadarkan Diri lagi. Segera ia menggendong Dira masuk ke dalam rumah, sedangkan Carol, Kean, Lean serta para maid yang melihatnya langsung ikut berlari mengikuti Ken yang menggendong Dira masuk ke dalam rumah.
Ken ingin membawa Dira naik ke kamarnya, tapi tubuhnya belum pulih betul sehingga energinya belum terlalu kuat untuk manaiki tangga sambil menggendong dira. Akhirnya Ken hanya bisa meletakkan Dira di atas sofa yang ada di lantai satu.
Setelah Ken meletakkan Dira di sofa, Lean segera berdiri di samping Ken untuk memeriksa keadaan mamanya. Tangan Dira begitu dingin sekali, bibirnya kering, dan …
"Dira kenapa Ken? Kok bisa pingsan?" tanya Carol yang ikut menjadi cemas ketika melihat Dira yang sudah tak sadarkan diri.
"Ken juga gak tau mah, katanya hanya PMS terus pamit mau kembali ke kamar, saat berjalan beberapa langkah Dira sudah hampir jatuh dan ternyata udah pingsan," jelasnya yang masih menatap Dira dengan khawatir.
__ADS_1
"Gimana dek kondisi mama?" tanya Kean yang sudah tidak sabar menunggu Lean yang masih terdiam fokus memeriksa Dira.
"Sepertinya mama pingsan karena rasa sakit yang sudah tak tertahan lagi, sebaiknya kita tunggu saja dulu sampai mama sadar kalau kondisi mama belum baikan juga kita bawa ke rumah sakit. Soalnya mama gak pernah PMS sampai seperti ini sebelumnya," tuturnya.
Selama ini Lean memang sudah seperti dokter pribadi bagi Dira yang selalu memeriksanya jika ada apa-apa, tapi Lean tidak pernah melihat Dira yang PMS sampai pingsan seperti ini.
Karena semalam Dira tak kunjung sadarkan diri terpaksa Ken membawa Dira masuk ke kamar Carol yang berada di lantai satu. Bukan hanya Dira saja yang ada di sana tapi Ken, Kean, dan Lean juga ikut tidur di kamar Carol untuk menjaga Dira.
Di tengah malam tiba-tiba Dira terbangun, di lihatnya ke samping ada Carol yang tidur di sampingnya. Dira sedikit terkejut dan melihat ke sekelilingnya ternyata dia tidak sedang berada di kamarnya, kemudian Dira berusaha bangun dari tidurnya dan di lihatnya ada Kean, Lean dan Ken yang tidur di bawah menggunakan kasur tebal.
Kenapa semuanya ada disini? Terus ini kamar siapa? Batin Dira yang terus melihat ke sekeliling kamar itu dalam cahaya lampu yang remang-remang karena memang hanya ada cahaya lampu tidur yang menyala.
Dira mulai mengingat-ingat lagi kejadian apa yang bisa membuatnya ada di sini tapi dia hanya mengingat sampai perutnya yang terasa sangat sakit, terus tiba-tiba bumi terasa bergetar dan pandangannya kabur. Setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi.
Apa semalam aku pingsan ya? Ya Allah … pasti aku sudah membuat semua orang menjadi panik. Gumam ya dalam hati dan hanya bisa menghela nafas panjang.
Dira perlahan mulai turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar itu untuk kembali ke kamarnya. Dira ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu yang sudah tak terasa nyaman sama sekali.
......................
Waktu subuh telah tiba sehingga s3uara bunyi alarm dari handphone Ken terus berbunyi tanpa henti, sampai membuat Ken terbangun dari tidurnya. Perlahan dia ingin bangun, tapi tangannya merasa kebas karena di pakai sebagai bantal bagi kedua anaknya yang sejak semalam tidur di kedua tangannya.
Astagfirullah ... Ini gimana caranya aku bangun kalau seperti ini!. Gumamnya dengan terus menatap kedua anak kembarnya yang masih tidur terlelap sambil memeluknya.
Bunyi alarm terus saja berbunyi membuat si kembar juga ikut terbangun dari tidurnya, perlahan Kean mengucek kedua matanya yang gatal.
"Papa sudah bangun, Kenapa masih baring saja? Itu alarmnya bunyi terus kok gak di matiin sih? " ucapnya tanpa sadar kalau merekalah yang membuat Ken tidak bisa bangun dari tidurnya.
"Iya pa ... alarmnya berisik sekali!". imbuh Lean yang berbicara dengan mata yang masih tertutup dan tangan yang masih memeluk tubuh Ken.
__ADS_1
" Papa juga gak bisa bangun karena kalian masih tidur di lengan papa sambil meluk papa sampai membuat tangan papa terasa kebas! ."
Mendengar ucapan Ken, Kean segera terbangun dan melihat bahwa mereka berdua memang tidur di tangan Ken dan memeluknya.
"Maaf pa, Kean gak sadar. Dek bangun … kasihan papa tuh tangannya kebas gara-gara aliran Darahnya tidak mengalir dengan lancar!" teriak kean yang menggoyangkan tubuh Lean yang tak kunjung mau bangun.
"Kean jangan kasar-kasar bangunin adeknya!" cetus Ken yang ingin membantu membangunkan Lean tapi tanganya masih kebas sekali.
"Habisnya Lean sulit banget di bangunin!"
Karena Lean yang tak kunjung bangun juga, Kean segera menarik lengan Lean sampai dia terduduk.
"Kakak kenapa kasar banget sih banguninya, pelan-pelan aja kan bisa !" celetuknya dengan mata yang masih tertutup rapat karena matanya masih terasa sangat lengket dan berat untuk dibuka.
Carol yang mendengar suara mereka yang ribut-ribut ikut terbangun juga. Di lihatnya Dira sudah tidak ada diatas ranjang membuatnya sedikit panik.
" Ken Dira kemana?" teriaknya yanh langsung duduk dari tidurnya.
Ken yang masih merasakan tangannya yang kebas berusaha segera bangun dan berdiri dari tidurnya. Begitupun juga dengan Lean yang langsung membuka matanya.
" Loh … Bukannya semalam tidur di samping mama? "tanya Ken dengan tubuh yang sedikit terhuyung-huyung dan segera mencari pegangan untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. ini pasti akibat aliran darahnya yang tak lancar semalaman karena di buat bantal oleh kedua anak Kembarnya, lalu berdiri secara spontan tanpa duduk terlebih dahulu.
"Mama juga gak tau, ketika mama bangun Dira sudah gak ada! Apa mungkin sudah kembali ke kamarnya?" tanya Carol lagi.
Setelah tubuhnya terasa sedikit seimbang Ken mulai berjalan pergi dari kamar Carol untuk mencari Dira yang di ikuti oleh Carol, Kean dan Lean juga.
Mereka menaiki tangga dengan langkah yang sedikit cepat dan berjalan menuju kamar Dira. Sesampainya di depan pintu kamar Dira Ken langsung membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan ternyata ...
...****************...
__ADS_1