Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Janji ( Bonus bab season 1)


__ADS_3

Setelah keluar dari kantor polisi, Ken segera pergi menuju di mana tempat persembunyian Darren. Beberapa pengawal Ken, sudah dulu bergerak mencari keberadaan Darren. 


Ken duduk bersandar di kursi penumpang sambil mengusap wajahnya kasar. Suasana hatinya saat ini sangat marah, sedih, sakit, semua bercampur jadi satu. 


Ken membuka layar ponselnya sambil melihat lagi foto kebersamaan mereka semalam yang diwarnai penuh canda, tawa, dan bahagia. Didalam foto itu, Dira terlihat tersenyum bahagia, tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan pergi meninggalkannya seperti ini. 


Semoga kamu masih selamat sayang? Aku benar-benar belum bisa—, bukan belum bisa melainkan tak sak sanggup harus hidup tanpa kamu… jika Kamu pergi seperti ini, apakah aku masih sanggup hidup tanpa kamu di sisiku? Apakah sanggup menjalakan pesan terakhir kamu? Aku dan anak-anak benar-benar masih membutuhkan Kamu … apalagi Anne masih terlalu kecil, Dia masih membutuhkan sosok ibu disampingnya.


Dadanya benar-benar sesak bagaikan tertindih batu besar, pikirannya kacau, bagaimana Dia akan menjelaskan ini semua kepada Kean, Lean, dan juga Anne. 


Seharusnya hari ini adalah, waktunya mereka berbahagia bukan duka yang akan meninggalkan kenangan pahit di hari ulang tahun Anne. 


Bunyi telp Ken berdering, ternyata dari pengawalnya. 


+628xxx : Kita sudah menemukannya Tuan, sekarang dia sudah ada dalam pantauan kita. 


Ken : Bagus! Bawa Dia ke tempat sepi yang jauh dari keramaian orang! Saya akan segera kesana! 


+628xxx : Baik, Tuan. 


Setelah itu Ken segera menyuruh Kemal melaju ke tempat yang sudah di bicarakan oleh Ken dan pengawalnya tadi di telp.


Ken mengepalkan tanganya kuat, matanya memerah, aura kemarahan tergambar jelas sampai membuat Kemal bergidik ngeri saat melihat raut wajah Ken saat ini. 


Tatapan Tuan benar-benar menakutkan! Sepertinya kemarahan Tuan sudah level tertinggi! Batin Kemal yang terus fokus mengemudi dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan dari Ken. 


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai ke tempat sepi, jauh dari keramaian hanya ada padang ilalang. 


Ken segera keluar dan mencari dimana keberadaan pengawalnya dan Darren. Saat Netranya sudah melihat wajah Darren, dengan tangan mengepal, Ken berlari dan melayangkan sebuah bogeman keras sampai membuat Darren terpental. 


Kucuran darah segar keluar dari wajah Darren. Ken menarik kerah lehernya Darren dengan tatapan mematikan. Sedangkan Darren hanya menyeringai penuh dengan rasa puas karena sudah berhasil membuat ken merasakan apa yang Ia rasakan. 


Beberapa pukulan lagi mendarat ke wajah Darren sampai membuat semua wajahnya penuh dengan luka dan darah berkucucuran.

__ADS_1


"Berani-beraninya Kamu datang lagi dan mencelakai istri saya! Apa belum puas dengan karma yang sudah Kamu terima?" pekik Ken yang sudah naik pitam. 


Darren mencoba mennyeringai meskipun bibirnya terasa perih. "Kenapa? Bagaimana dengan pembalasan dari Saya? Bukankah setimpal! Sekarang Kamu juga sudah merasakan, bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kita sayang! Sama seperti  Aku yang kehilangan semuanya, termasuk ibuku! Dan itu semua karena kalian berdua! " bentak Darren dengan mata yang melotot. 


Sebuah bogeman mendarat lagi di wajah Darren yang sudah penuh dengan darah. 


"Kehancuran Kamu itu bukan salah kita, tapi itu adalah balasan  dari perbuatanmu sendiri!" 


"Cuih... " Daren meludah "Namanya penjahat tidak akan pernah mengaku penjahat!" tampik Darren. 


Emosi Ken benar-benar sudah memuncak, ingin rasanya Ia membunuh Darren sekarang juga. 


"Kenapa Kamu diam saja, Ha? Bukankah sekarang Kamu ingin membunuh Aku, Coba saja! Aku sudah tidak takut mati! 


Saat Ken benar-benar ingin membunuh Darren, Dia kembali teringat dengan janjinya kepada Dira.


" Mas, boleh Aku minta sesuatu kepada Mas? "


" Kamu Mau minta apa aja boleh." 


Ken terkejut saat apa yang diminta oleh Dira. Padahal selama ini dia menutupi jati dirinya dalam-dalam dari Dira, tapi kenapa Dia bisa tahu siapa dirinya. 


" Apa Mas terkejut saat  Aku  tahu siapa Mas? Selama ini aku sudah tahu, hanya diam saja! Karena Aku tahu, suamiku melakukan hal itu pasti ada alasanya, tetapi Aku ingin dia bisa berubah dan menjadi orang yang jauh lebih baik lagi, boleh kan? 


Ken tersenyum. "Mas  janji, tidak akan menjadi Hungry Lion lagi dan akan berusaha berubah menjadi suami yang  Kamu harapkan." 


Dira juga ikut tersenyum saat melihat Ken mau memenuhi permintaanya. 


"Kenapa tidak jadi! Apa Kamu takut?" tantang Darren. 


Ken  menjauh dari Darren, Ia mencoba mengatur emosi yang sudah membuatnya mengingkari janjinya kepada Dira. 


"Asingkan dia ke Afrika! Buat hidupnya menderita sampai mati! Dan tidak akan bisa masuk ke Indonesia lagi!" perintah Ken kepada para pengawalnya. 

__ADS_1


"Baik, Tuan." 


Setelah melihat Ken berlalu pergi dari tempat itu, para pengawal Ken segera melakukan perintahnya. 


Saat di dalam mobil, Ken terus saja mengusap wajahnya secara kasar. Ia benar-benar menyesal karena sudah mengingkari janjinya kepada Dira. 


" Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Kemal takut-takut. 


"Kamu fokus  menyetir saja! Kita pergi ke tempat  Dira terjatuh untuk melihat perkembangan pencarian tubuh Dira." 


Setelah itu, hanya ada keheningan di dalam mobil. 


Sesampainya di tempat kejadian Dira terjatuh, para tim pencari mulai berhenti dan pergi. Angin badai mulai menerjang, ombak besar serta kabut di atas tebing membuat mereka tak bisa melanjutkan pencarian lagi. 


Ken berjalan gontai, menerjang Angin besar. 


"Kalian Mau kemana? Apakah Istri saya sudah di temukan?" tanya Ken kepada salah satu orangbtim pencarian.


"Kita tidak bisa menemukannya pak, sepertinya Hujan badai akan turun sehingga bahaya jika melakukan pencarian. Kami tidak mau mempertaruhkan nyawa Kami demi mencari orang yang belum tentu masih hidup!" cetus salah satu orang. 


"Iya Pak, sebaiknya Anda juga pergi dari sini kalau tidak Anda akan terkena bahaya juga! Magnet di tebing ini sangat besar!" salah satu orang lagi mencoba mengingatkan Ken.


"Bos, sepertinya benar dengan apa yang mereka katakan. Lebih baik Kita pergi dari sini!" 


"Tidak! Sebelum Saya bisa menemukan Dira, Saya tidak akan pergi!" 


"Tapi boss, kasihan Anak-anak Anda jika harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus! Mereka membutuhkan Anda, Tuan. Jadi, jangan egois," teriak Kemal yang berusaha mengajak Ken untuk pulang. Terserah jika Ia nanti di pecat atau di marahi, yang Ia pikirkan saat ini adalah keselamatan Ken.


Mendengar ucapan dari Kemal, ingatan pesan daro Dira terbayang lagi. 


Kamu dimana sayang? Apakah Kamu masih hidup? Pasti saatbini kamu kedinginan! Jika kamu sudah meninggal, semoga Aku masih bisa menemukan jasad Kamu untuk di kebumikan. Semoga Kamu tenang dan bahagia dimana kamu berada. Besok, setelah badai ini menghilang, Aku akan kembali mencari kamu lagi! Maafkan Aku yang belum bisa menemukan Kamu sekarang, tapi Aku janji akan terus berusaha mencari sampai Kamu ketemu, dan Akan mengingat pesan terakhir Kamu untuk menjaga Anak-anak.


Dengan berat hati, Ken ikut Kemal pergi karena badai semakin kencang menerjang tubuh mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2