
Pemilihan Panti Asuhan Pelita Bunda adalah ide dari Lean, untungnya panti asuhan itu adalah salah satu panti asuhan yang mendapatkan donatur tetap dari keluarga Fabio. Sehingga Ken dengan mudah untuk membuat sebuah acara di tempat ini.
Ruangan Aula panti asuhan yang awalnya terlihat sederhana, seketika menjadi ruangan yang begitu cantik dan indah dengan dekorasi bunga-bunga mawar putih dan pink serta balon-balon dengan warna senada yang begitu banyak. Dekorasi di ujung dinding ruangan itu, terlihat sebuah tulisan 'Happy Birthday Anindira Fidelya yg ke 27'
Tidak hanya ruangan yang didekorasi, tetapi juga banyak makanan-makanan enak, serta hadiah untuk para anak-anak panti yang sudah tertata rapi semua di dalam ruangan itu.
Ini adalah hal pertama yang bisa dilakukan oleh seorang Kenzo untuk Dira, jadi sebisa mungkin Ken mempersiapkannya dengan baik dan teliti.
Melihat wanita cantik serta anak-anaknya yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi, telah datang. Ada perasaan bahagia sekaligus merasa sakit pada hati Ken. Bagaimana tidak sakit, Dira datang tidak hanya bersama Kean dan Lean, tetapi juga bersama dokter tampan yang beberapa hari lalu sempat membuat Ken gegana (gelisah, galau, merana).
Ingin rasanya Ken menghampiri Dira, tapi itu tidak bisa ia lakukan. Jika Ken menghampiri Dira sekarang, maka rencana surprise yang telah ia rencanakan akan gagal. Ken hanya bisa mengepalkan tangan dan menahan emosinya dari kejauhan.
"Ayo bos, kita masuk ke ruangan!" ajak Rendi.
Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah pergi, meninggalkan Dira yang masih bersama dengan pria itu.
Melihat sikap ken yang mulai aneh, Rendi menggandeng Ken dan Memaksanya untuk melangkah pergi. Ken pun hanya bisa diam dan terus berjalan mengikuti Rendi, walau tatapnya masih tertuju ke arah Dira berada, bukan ke arah jalan di depannya.
Di sisi lain, Lean meminta Dira untuk menutup matanya dengan penutup mata yang telah ia siapkan. Awalnya Dira menolak, tapi Lean terus merengek meminta Dira untuk menutup matanya. Pada akhirnya Dira setuju untuk menutup matanya.
Kean dan Lean yang sudah berada di sisi kanan dan sisi kira Dira untuk memandu langkahnya. Sedangkan Rian mengikuti mereka dengan berjalan di belakang. Sesampainya di ruangan yang telah dituju, Lean memberitahu Dira untuk membuka penutup matanya dan Kean membuka pintu.
1….2….3….
"Surprise……"Deru suara yang ada didalam ruangan itu.
Dira tersenyum Lebar, melihat apa yang ada didepannya saat ini. Tetapi senyuman itu, mulai memudar ketika melihat seorang pria yang tengah membawa sebuah cake di tanganya yang terus berjalan menghampirinya.
Suara dentingan sepatu dengan lantai terus terdengar dan semakin mendekat. Sampai akhirnya pria itu telah berdiri di hadapannya.
"Happy Birthday my sunshine … I hope you can forever be my sunshine," ucap Kenzo dengan tulus di hadapan Dira, Kean, Lean, dan Andrian.
Dira terbelalak, ketika mendengar Ken mengatakan bahwa dia adalah matahari bagi Ken. Jika dilihat dari raut wajah dan tatapan mata Ken, memperlihatkan bahwa ucapannya begitu tulus dari hati bukan pura-pura. Hal itu membuat dira sedikit tersentuh mendengarnya.
__ADS_1
Sedangkan Rian, terkejut sekaligus penasaran dengan pria yang ada di hadapan Dira saat ini. Bukankah Dira mengatakan bahwa dia single mom? Lalu siapa pria ini? Pengejar atau saingan cinta? Batin Rian.
Kean mencoba menyenggolnya lengan mamanya yang masih terus saling tatap-tatapan dengan Ken. Sakibatnya Dira tersentak dan tersadar… "Astaghfirullah hal Adzim" gumamnya lirih.
Dari kejauhan Bunda Iriana atau ibu panti yang terus memperhatikan siapa yang datang, langsung berjalan menghampiri Dira, dan memeluknya. Dira pun menyambut pelukan hangat yang pernah ia rindukan itu.
"Ya ampun Dir…. Ternyata ini benar kamu nak…" ucapnya dengan mata berkaca-kaca yang masih memegang pipi Dira.
"Iya… bunda, ini Dira.." jawabnya dengan senyuman yang lebar.
Melihat interaksi mereka yang tak biasa membuat Ken bingung.
"Apa Ibu Ana mengenal Dira?" tanya Ken.
"Tentu saja kenal pak Ken, Dira ini sudah saya anggap seperti anak sendiri. Dulu waktu masih SMA dia sering sekali datang ke panti ini, tapi sudah sangat lama sekali saya tidak pernah bertemu denganya lagi. Sampai akhirnya beberapa tahun terakhir ini, Dira kembali menjadi donatur tetap di panti ini. Awalnya saya tidak pernah menyangka bahwa ini benar-benar Dira anak perempuan saya, karena yang saya tahu dia masih tinggal di luar negri."Paparnya panjang sekali.
Jadi, selama ini Dira juga adalah donatur tetap panti ini!
" Ganteng-ganteng sekali…. "ujar Iriana yang mengelus pipi si kembar.
" Bunda… apakah bunda melupakan Andrian…"Ucap Andrian yang berdiri di belakang Dira.
Iriana melihat kearah suara itu. " Dia…. "Iriana memandangi wajah Rian dan terus mengingat-ingat kembali siapa dia. Apa kamu ...
" Iya bun, Dia Rian resek yang selalu ikut Dira kesini! "imbuh Dira.
" Ya Allah… ternyata…"Iriana langsung melangkah menghampiri Rian dan memeluknya. Pelukan itu disambut dengan pelukan juga oleh Rian.
" Maafin bunda ya… karena sempat lupa dengan kamu! Soalnya kamu tambah ganteng! "puji Ana dengan menepuk pundak Rian. Sedangkan Rian hanya tersipu malu, mendengar pujian Iriana.
Setelah acara nostalgia, Acara yang sesungguhnya dimulai dengan sangat meriah bersama para anak-anak panti. Mereka melakukan permainan, game, tebak-tembakan, dsb. Semuanya merasa ikut bergembira dan bersenang-senang.
Selesai bercanda gurau, mereka berfoto bersama-sama. Disaat sesi foto bersama antara Ken, Dira, Kean dan Lean. Semua yang ada di dalam ruangan itu akan berpikir bahwa mereka adalah satu Keluarga, ditambah dengan pakaian mereka yang senada terlihat seperti keluarga yang kompak.
__ADS_1
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah waktunya untuk menjalankan sholat dzuhur. Mereka semua bergegas mengambil air wudhu dan menuju ke mushola panti asuhan. Setelah semuanya berkumpul, tiba-tiba Kean memberikan sebuah permintaan yang membuat Ken terbelalak.
"Om… om kenapa diam saja! Ayo… silahkan om jadi imam buat kita semua," desaknya yang melihat Ken masih saja terdiam.
Bukanya Ken tidak mau jadi imam, tapi dia sudah lama tidak pernah sholat. Mungkin terakhir waktu kakeknya masih hidup dulu, itu pun dia masih kecil. Jadi, dia lupa-lupa ingat dengan bacaan serta gerakan sholat.
"Papa … orang islam kan?" tanya Lean,yang juga bingung melihat Ken yang hanya terdiam.
Melihat perdebatan mereka, Andrian tersenyum.
"Biar uncle aja ya… yang imamin," tungkas Rian.
"Memangnya om bisa!" cetus Kean.
Andrian hanya tersenyum, dan melangkah menuju ke tempat imam berada.
Sebenarnya Ken merasa sangat malu dan merasa tersaingj, Apalagi melihat ekspresi Rian yang seperti menantang begitu. Sedangkan Kean hanya mengangkat bibirnya sedikit, seperti ada yang telah dipikirkan oleh bocah itu.
Dasar papa…. Masak kalah start sama saingan sih!. Batin Lean dengan menatap Ken tajam serta bibir manyunnya yang ditujukan kepada Ken.
Lean memang sudah menyadari bahwa Rian juga menyukai mamanya. Makanya Dia berharap bahwa papanya lebih unggul dan bisa bergerak cepat untuk bisa memiliki hati mamanya. Tapi, masih di babak awal persaingan saja, sudah kalah.
Bacaan sholat dan suara Andrian memang cukup bagus. Membuat Kean tidak menyangka bahwa di balik penampilan yang seperti itu, dia masih bisa menjadi imam sholat. Sedangkan, Ken langsung mati kutu saat disuruh untuk menjadi imam.
Sepertinya aku harus memberikan beberapa syarat dan tantangan deh, sama om Ken!. Batin Kean.
...****************...
Aku jadi semangat banget nulisnya ketika baca komenan kalian, makanya aku kasih tulisan yang lebih panjang di part ini.
Jangan lupa like, komen, vote, dan klik Favoritnya ya... Hadiahnya juga gpp😂😂
Kalau part ini tembus 30 komen dan 250 like aku akan up lagi malam ini. Jika tidak tembus berarti besok lagi ya.... Bye.. Bye🖐️🖐️
__ADS_1