Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Bukan Arwah gentayangan


__ADS_3

Hari ini Anne dan Agatha sama-sama merasa bahagia, dan sangat menikmati peran mama sementara itu. Agatha yang sejak dulu menginginkan anak perempuan, akhirnya hari ini bisa terwujud juga. Dari dulu, Agatha memang sangat ingin sekali memiliki anak perempuan yang bisa Ia ajak jalan, shoping, spa dsb.


Kebahagiaan Agatha membuatnya lupa kalau mereka telah berbelanja barang banyak sekali sampai semua tangan mereka penuh dengan tas belanjaan.


"Ma, bukankah belanjaaannya sudah terlalu banyak?" tanya Anne saat Agatha masih ingin memilih baju-baju lagi.


Agatha melihat belanjaannya dan Anne, memang sudah terlalu banyak. Padahal masih banyak lagi barang-barang cantik dan lucu yang ingin sekali Ia beli untuk Anne.


"Em ... Sepertinya memang sudah terlalu banyak," jawabnya sambil tersenyum.


"Yasudah kalau begitu, Kita tidak perlu belanja lagi, ya?" pungkas Anne.


"Tapi—"


"Ma, Mama sudah terlalu banyak menghabiskan uang buat Anne," selanya yang sudah tidak merasa enak.


Hubungan mereka saat ini hanyalah Mama dan anak sementara, tetapi Agatha sudah menghabiskan banyak uang untuknya. Awalnya Anne ingin membayar barang-barang itu sendiri. Namun, Agatha melarangnya dengan keras. Ia tidak mau Anne membayar barang yang sudah Ia pilihkan untuk Anne.


Sebenarnya Anne merasa sedikit bersalah jika Ia berbelanja banyak barang yang sebenarnya tidak terlalu di butuhkan seperti ini. Melihat Anne yang terlihat sudah lelah, Agatha mengajaknya ke spa bersama untuk melakukan pijatan.


Merasakan tubuhnya yang memang terasa sangat pegal Anne menyetujui ajakan Agatha. Setibanya di spa mereka langsung di sambut ramah dengan para pegawainya.


Anne memesan ruangan vip khusus untuk dua orang. Tempat spa ini sangat bersih, dan tertata rapi dengan dekorasi aestetik sehingga membuat pelanggan akan merasa lebih nyaman lagi saat berada di sini.


"Anne, apakah Kamu sering Massage di sini?" tanyanya penasaran karena melihat ada beberapa pegawai di sini yang terlihat seperti sangat mengenal Anne dengan baik.


"Dulu sering, tetapi beberapa tahun ini sudah jarang sekali datang ke sini, " jawabnya singkat sambil menikmati pijatan dari terapis.


"Kenapa?"


"Karena Oma sudah meninggal," jawabnya dengan menutup mata sambil mengingat kembali masa dimana Ia sering datang ke tempat ini untuk menemani Carol melakukan massage.


" Maaf Anne, Tante gak tau!"

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa kok, Tan. Lagian Oma juga sudah lama meninggalnya," tandas Anne.


Melihat raut wajah Anne yang berubah sedih lagi , membuat Agatha merasa bersalah. Ternyata di balik senyum ceria di wajah gadis cantik ini, Ia menyimpan begitu banyak sekali kisah masa lalu.


***


Di sisi lain terlihat seorang pegawai wanita datang ke ruangan sang owner spa untuk mengatakan bahwa ada anne yang datang melakukan massege.


Mendengar bahwa Anne datang, Renita sang pemilik spa segera bergegas pergi untuk menemui Anne.


" Hai, baby ... "sapa Renita dengan menghampiri Anne lalu memeluknya erat. Ia sangat rindu sekali dengan gadis kecil yang dulu sering datang untuk menemani Omanya, tetapi setelah Carol meninggal Ia sudah sangat jarang sekali datang berkunjung.


" Apa kabar Aunty? " tanyanya saat Renita telah melepaskan pelukannya.


" Kabar baik Anne, Kamu udah besar sekali sekarang... sampai pangling Aunty. Oh ya ... Kenapa gak bilang dulu kalau mau datang, andai Kamu bilang dulu, Aunty pasti akan menyiapkan sesuatu yang sepesial," gerutunya sambil mencubit pipi Anne karena merasa gemas.


Saat Agatha keluar dari ruangan, Renita langsung di buat terkejut.


"Astaga ... naga!" serunya sambil memegang dadanya yang hampir saja copot saat melihat ada wanita mirip dengan Dira keluar dari ruangan massege.


"Maksud Aunty apa? Arwah siapa?" tanya Anne bingung.


Saat Agatha berjalan mendekat, Renita segera menarik Anne ke belakangnya agar arwah Dira 'tak bisa menyentuhnya.


"Dir ... Kenapa arwahmu masih gentayangan di bumi ... Ini sudah 16 tahun ... pergilah ... hidup tenang di alammu ..." lirihnya sambil mengusir Agatha dengan kedua tangannya.


Saat mendengar Renita mengatakan itu, Anne baru tersadar kalau yang di maksud arwah adalah Agatha. Sedangkan Agatha hanya terdiam dan tidak mengerti dengan maksud dari wanita paruh baya di depannya saat ini.


Anne segera pindah berdiri di depan Renita. "Aunty jangan salah paham dulu, Ini bukan arwah mama, dia manusia hanya saja mirip dengan Mama," terang Anne yang langsung membuat Renita semakin terkejut dan mencoba memperhatikan wanita yang sangat mirip dengan Dira.


Renita mencoba memegang tubuh Agatha untuk memastikan ucapan dari Anne kalau dia itu manusia bukan arwah, dan ternyata Anne benar, Ia 'tak tembus pandang seperti di dalam film-film horor.


"Apa sekarang Aunty sudah percaya?" tanya Anne dan dia angguki oleh Renita.

__ADS_1


Renita belum bisa mengatakan apapun saat ini, Ia masih benar-benar syok saat melihat seorang wanita yang sangat mirip sekali dengan Dira. Melihat Renita masih syok, Anne membantunya duduk di sebuah sofa untuk merilekskan diri.


Setelah meletakkan bokongnya di sofa, Renita masih menatap ke arah Agatha dengan perasaan heran dan tidak percaya.


"Anne, coba cubit pipi Aunty deh," pintanya yang di turuti oleh Anne.


Auuuh .... Sakiitt...


Teriakan Renita terdengar sambil memegang pipinya yang habis di cubit anne ...


Ternyata Ia tidak mimpi atau melihat arwah gentayangan di siang bolong. Setelah itu, Renita meminta Anne untuk menceritakan siapa Agatha dan dimana Ia bisa bertemu dengannya sampa bisa melakukan spa bersama.


Setelah Anne menceritakan semuanya, Renita masih saja terdiam.


"Anne, apakah Tante memang benar mirip dengan mamamu?" tanya Agatha yang sejak tadi sudah sangat penasaran.


"Sangat, sangat mirip!" jawab Renita dan diangguki oleh Anne.


Jadi, Anne memintaku menjadi Mama sementara karena wajahku yang mirip dengan almarhum Mamanya? gumam Agatha dalam hati.


" Apa Aku boleh melihat fotonya? "tanya Agatha penasaran serta ingin memastikan kalau apa yang dikatakan Renita dan Anne itu benar.


Anne membuka dompetnya dan memberikan selembar foto Dira kepadanya. Saat melihat foto itu, Agatha terbelalak. Wanita yang ada di dalam foto memang sangat mirip sekali dengan dirinya saat muda, serta wajah bayi yang di gendong dalam foto itu juga terlihat sangat tidak asing.


Seketika ingatan mimpi buruk yang selama ini Ia alami terlintas kembali. Sebuah wanita menggendong bayi, dua anak kecil serta seorang pria berlari menghampirinya dengan memanggil mama. Dalam potongan mimpi itu wajah si wanita semakin terlihat jelas, tetapi yang lainnya masih samar-samar.


Saat Agatha mencoba agar bisa lebih melihatnya dengan jelas, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit.


"Tan ... Tante kenapa?" tanya Anne cemas saat melihat Agatha memegang kepalanya dengan raut wajah kesakitan.


Renita mencoba membantu untuk meluruskan kaki Agatha agar aliran darahnya lebih lancar serta memberikan Agatha air minum.


"Tante tarik nafas dalam ... lalu hembuskan perlahan ... tarik nafas lagi... dan hembuskan perlahan." Anne mencoba memberikan intruksi itu berulang sampai Agatha merasa lebih rileks.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2