
Ketika ingin menjenguk Nathan sekaligus bertemu dengan Rian, tiba-tiba Ken mendapatkan telepon dari kantor ada urusan yang sangat mendadak sehingga ia harus ke kantor terlebih dahulu.
"Mas," panggil Dira setelah keluar dari ruang ICU.
Menengar ada yang memanggilnya, Ken segera membalikkan badan. "Eh, Iya ada apa, Dir?"
"Mas sibuk?" Dira menanyakan hal itu karena dia tadi sempat mendengar sedikit percakapan Ken di telepon dengan seseorang.
"Oh, ini tadi Nino telepon katanya ada urusan penting. Jadi, dia menyuruh Mas untuk datang ke kantor," pungkasnya.
Dir tersenyum, "Yaudah Kalau gitu Mas ke kantor aja dulu, biar aku sama saja yang di sini menjaga Brian."
"Yaudah, kalau gitu mas pamit pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa, Kamu hubungi mas karena Lean hari ini jadwal operasiny full. Jadi, mungkin gak bisa mengurus Brian sepenuhnya, tapi kamu gak usah khawatir. Nanti akan ada Dokter pengganti dan suauter yang akan menjaga," terangnya.
Sedangkan Dira hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu, Ken melenggang pergi ke kantor terlebih dahulu. Sedangkan Dira duduk di kursi tunggu, tubuhnya rasanya lemas sekali. Ia menelungkupkan kedua tangan di wajahnya, mencoba untuk lebih kuat lagi melihat sang anak yang selama ini menemaninya tengah sakit parah.
Dira tahu, penyakit kanker Brian bukanlah penyakit yang mudah di sembuhkan. Namun, Ia berharap semoga masih ada pueluang untuk Brian bisa hidup lebih lama lagi.
Aku memanglah bukan ibu yang mengandungmu, Bri. Tapi Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri.
Di dalam ruangan ICU, terlihat Jessy yang kini menjenguk Brian. Beberapa alat-alat medis masih menempel di tubuh itu, ia mencoba meminta maaf karena sudah ceroboh dalam menjaga Brian. Setelah ini, Jessy janji akan jauh lebih teliti lagi dalam bertindak. Meskipun bukan keluarga, Jessy sudah menyayangi Brian seperti seorang adik.
Jessy mengurus Brian sudah sekitar 5 tahunan, sejak ibunya meninggal, Ia mencoba untuk menggantikannya. Sebenarnya, Brian sudah tak butuh perawat karena sudah ada Agatha yang mengurusnya, lagian dia juga bukanlah anak kecil lagi. Namun, melihat Jessy yang saat itu sedang membutuhkan pekerjaan, keluarga Samuel menerimanya untuk bekerja sebagai perawat atau bisa di sebeut sebagai asisten pribadi yang mengurus semua keperluan Brian.
Saat di terima bekerja, Jessy sudah berjanji untuk selalu menjaga Brian dengan baik, tetapi hari ini dia hampir saja membunuhnya akibat lalai.
Ketika Jessy mencoba terus mengajak berbicara d2ngan Brian. Tiba-tiba jari tangan Brian bergerak, membuat Jessy merasa senang dan memencet tombol pemanggil dokter. Hanya beberpa menit, Dokter segera datang masuk ke kamar Brian.
Melihat bukan Dokter Albert yang datang, Jessy mencoba mencegah dokter jaga pengganti itu untuk menyentuh Rian.
"Stop! Jangan sentuh, Bri." Jessy menghadang dokter pengganti yang ingin mengecek kondisi Brian.
__ADS_1
"Ada, apa? Bukankah ada masalah?" Tanya Dokter pengganti itu yang merasa sedikit bingung dengan Sikap Jessy.
"Di mana Dokter Albert? Kenapa bukan dia yang datang untuk memeriksa? Apakah kalian bisa?" Jessy melontarkan begitu banyak pertanyaan sampai membuat Dokter itu merasa kesal, tetapi Ia mencoba menahan emosinya mengingat mereka adalah pasien eksklusif Dokter Lean.
" Sorry Miss, Dokter Albert sedang ada operasi. Jadi, tidak bisa datang dan Saya adalah dokter penggantinya," pungkasnya.
"Tapi, Saya ingin Dokter Albert yang memeriksa Brian, bukan Kamu!" tolak Jessy.
Dokter pengganti Lean dan dua orang perawat yang menemaninya, hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka merasa malas ketika mendaptkan keluarga pasien yang model seperti ini.
Nih pasien kenapa sulit begini, seenaknya sendiri, dan gak bisa. Menghargai orang lain. Sebenarnya Dokter Lean mendapatkan pasien model seperti ini darimana, sih! Orang luar Negeri kenapa harus berobat kesini? Bukankah peralatan medis rumah sakit di sana jauh lebih baik? Batin dokter itu.
Ketika Dira melihat Jessy sedang bwrdebat dengan Doktwr di ruangan ICU, Dira segera bangun dari duduknya lalu berjala masuk kedalam ruangan.
"Ini ada apa, Jess?" Tanya Dira yang sudah masuk kedalam ruangan ICU.
"Nah, Anda darimana saja sih! Kenapa baru masuk, ini lho aku maunya Dokter Albert yang datang untuk mengecek kondisi Brian, tetapi yang datang justru nih Dokter gak tau siapa," paparnya.
"Dia tadi menggerakkan jarinya, tetapi belum membuka mata sampai saat ini," terangnya.
"Yaudah, kalau gitu biarkan Dokter ini saja yang memeriksa kondisi Brian karena Dokter Albert masih ada operasi lain," ungkap Dira.
Setelah mendengar berbagai bujukan dari Dira, Jessy setuju dan terus memenataunya takut ada yang salah.
Ketika dokter memeriksa Brian, tiba-tiba Brian tengah mengerjapkan matanya. Perlahan ia mulai membuka mata yang terasa sangat sulit sekali di buka.
"Anda sudah sadar? Apakah Anda mengenali Saya?" Tanya dokter itu.
Ketika melihat Brian membuka mata, Agatha dan Jessy segera menghempirinya.
"Bri, Kamu sudah bangun Sayang?" Tanya Dira yang sudah berdiri di sisi samping brankar pasien.
__ADS_1
Brian masih terdiam, ia mengira bahwa wajah Dira saat ini merupakan mimpi baginya. Brian mencoba menutup matanya, lalu membuka kembali untuk memastika kalau apa yanh Ia lihat hanyalah mimpi. Namun, ketika membuka matanya kembali, wajah Dira msih tetap berada ada di sana.
"A-pakah Aku tidak mimpi?" lirihnya.
Dira tersenyum, " Bukan Sayang, Kamu tidak sedang bermimpi. Ini Momy," ungkapnya.
"Kenapa Momy bisa ada di sini?" tanya Brian. Ia masih tidak mengerti kenapa Dira bisa ada menjenguknya. Jika Dira datang, berarti dia sudah tahu tentang penyakitnya.
Setelah itu, Brian mengedarkan pandangan ke ruangan itu, dan ruangannya terlihat begitu berbeda dengan ruangan sebelumnya.
"Di mana Aku? Kenapa Aku ada di sini?" ucapnya yang masih tak mengerti kenapa bisa Ia berada di tempat yang terlihat begitu asing baginya.
"Anda sedang berada di ruangan ICU karena ketika Anda datang, kondisinya kritis," jelas dokter itu.
Melihat Brian yang masih terlihat bingung, kemudian Dira menjelaskan kalau ia sekarang memang sedang berada di Indonesia untuk melakukan pengobatan. Ketika mendengar hal itu, Brian terkejut.
Indonesia? Jadi aku sekarang ada di Indoneaia? Kenapa Aku tidak tahu apapaun? Bukankah butuh perjalanan belasan jam untuk sampai di sini? Apakah Aku tak sadarkan diri selama itu? batin Brian.
"Bri, kamu tidak apa-apa Sayang? Apakah ada yang sakit?" Tanya Dira yang di jawab gelengan kepala. Oleh Brian.
Setelah itu, Dira duduk di sisi samping ranjang pasien. Dira ingin Brian menurut untuk melakukan operasi dan serangkaian pengobatan agar ia sembuh.
Awalnya Brian menolak karena itu percuma saja, persentase kemungkinan hidupnya tetap tidak akan bisa bertahan lebih dari lima tahun. Namun, Dira tidak mau tahu. Brian harus tetap melakukan operasi dan menjalani pengobatan sampai sembuh total, dan Dira akan selalu berada di sampingnya untuk menemani dan menyemangatinya. Jadi, dia tidak boleh mengeluh.
"Mom, kenapa momy masih begitu khawatir dan peduli dengan Brian?padahal Momy tahu kalau Bri itu bukanlah anak kandung Momy," ujarnya yang sejak tadi sudah penasaran.
"Kenapa Kamu berbicara seperti itu? Sampai kapanpun Kamu akan tetap menjadi anak momy. Jadi jangan pernah berkata seperti itu. Nanti Momy akan sedih." Dira mengusap wajah Brian lembut.
Sebenarnya Aku senang bisa melihat momy ada di sampingku, tetapi Aku tidak mau bersikap egois lagi. Bagaimana dengan keluarga Momy, apakah mereka bisa menerima keberadaanku?
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya... Maaf baru up tengah malam karena tadi masih ada kelas.