Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Pernikahan kedua part 1 (S2)


__ADS_3

Rembulan malam telah pergi, tergantikan sang fajar yang mulai muncul ke permukaan bumi. Semalam adalah momen yang bersejarah dimana Dira telah kembali ke kehidupannya semula. Menjadi seorang muslim kembali setelah 16 tahun berkelana di agama lain.


Kehidupan barunya kini akan di mulai, sejak pagi suasana di kediaman keluarga Fabio sudah ramai dengan para maid yang sibuk memasak makanan untuk perjamuan hari ini.


Meskipun hanya acara akad dalam islam, tetap ada beberapa teman dekat yang hadir untuk menyaksikan pernikahan mereka. Tak ada dekorasi sedikitpun karena pernikahan ini terjadi dengan waktu yang sangat singkat, dan Dira juga tak ingin di buat seperti pernikahan pada umumnya. Asalkan mereka bisa kembali sah menjadi suami istri seperti sedia kala.


Di dalam ruangan dengan nuansa pink, terlihat Anne sibuk membantu Dira untuk merias diri. Wajahnya terlihat sangat bahagia sekali karena sekarang Ia telah memiliki seorang ibu di sisinya.


"Anne bahagia sekali, akhirnya hari ini tiba juga. Dimana Mama sama Papa akan kembali sah menjadi suami istri," ucapnya sambil memeluk Dira.


"Mama juga bahagia karena sudah kembali menemukan cahaya terang dalam hidup mama setelah selama 16 tahun hidup dalam kegelapan. Maafkan Mama ya Anne ... Selama ini kamu sudah tumbuh tanpa Mama di sampingmu." Dira memeluk Anne dengan erat karena rasa bersalhnya telah melewatkan tumbuh kembang Anne sampai tak terasa air mata menetes.


Anne mengusap airmata yang sudah jatuh membasahi pipi Dira." Mama jangan nangis, nanti make upnya luntur loh! Lagian, itu semua bukan salah Mama. Ini semua sudah takdir dari Allah, kita sebagai manusia hanya bisa menjalaninya. Lagipula sekarang kita juga sudah bisa kembali bersama. Jangan pernah pergi lagi ya, Ma. " Anne kembali memeluk Dira.


Anne berharap semoga kebersamaan mereka kali ini bertahan lama, tak ada lagi masalah yang datang menghampiri


***


Di lantai bawah, para tamu mulai berdatangan. Chika, Aron dan Sabrina juga sudah datang. Saat bertemu Ken, Aron langsung memukul pundak Ken.


" Au ... Sakit, Ron. Datang-datang main pukul aja! " protes Ken sambil memegang pundaknya yang di pukul oleh Aron.


"Itu hukuman bagi orang yang gak bilang-bilang kalu mau nikah! Kamu tau gak sih, Chika langsung ngajakin pulang ke Jakarta gara-gara Kamu telepon bilang mau nikah hari ini," kesalnya yang hanya di balas senyuman oleh Ken.


"Kan surprise, Om," sahut Lean dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Kemudian, Chika mendekati Lean dengan menatapnya lekat-lekat. "Anak mantu Momy kenapa terlihat sangat kurus sekali ... Pasti Kamu sering telat makan dan kerja lembur terus ya?" Chika mengecek tubuh Lean, serta memegang pipinya yang sudah tak chuby lagi.


" Perasaan berat tubuh Lean tetap sama kok Mom, gak berubah sediktpun!" Jelas Lean dengan senyum mengembang.

__ADS_1


" Yakin? Kok Momy melihatnya seperti kurusan," elak Chika yang masih tak percaya dengan ucapan Lean. Sedangkan Lean hanya menjawab dengan anggukan kepala.


" Eh, Ken. Mana calon istrimu? Dan juga anak perempuanku? Kok gak kelihatan, "tanya Chika saat tak melihat ada Anne atau calon pengantin wanita.


" Em ... Dimana ya? " Ken mulai menjahili Chika yang sudah sangat penasaran.


" Mulai, deh! Jahilnya keluar. Oh, ya. Apa Rian sama Senja juga belum datang?" ujar Chika ketika tak melihat ada keluarga Rian di sini.


" Kamu mencariku, Chik?" seru Rian yang baru saja datang.


" Lho, Kamu kok sendirian? Senja sama Nala gak ikut?" introgasi Chika.


" Senja ada shift pagi, kalau Nala jaga Nathan. Sebenarnya dia mau ikut, tapi kasihan Nathan kalau di tinggalin sendirian," pungkas Rian.


Nala memang sebenarnya ingin datang, tetapi melihat Nathan yang sendirian membuatnya tak tega untuk meninggalkannya hanya bersama dengan mbak.


Saat ini, Nathan sedang membutuhkan banyak perhatian dari keluarganya sehingga Nala mengalah dan menyuruh untuk Rian saja yang datang. Toh, Ia juga sudah meminta maaf kepada Anne karena tidak bisa hadir.


" Iya gak papa, lagian kondisi Nathan juga sudah jauh lebih baik. Mungkin besok sudah boleh pulang," pungkas Rian.


"Syukurlah kalau begitu."


Tak lama kemudian, Dira dan Anne turun dari tangga menuju ruangan tengah tempat akad akan di langsungkan.


Semua mata tertuju menatap ke arah Dira dan juga Anne. Aron, Chika dan Andrian sampai tak berkedip sedikitpun saat melihat siapa wanita yang berjalan bersama Anne.


Tatapan mereka bukan karena takjub menatap kecantikan sang pengantin wanita, melainkan terkejut dan tak percaya kalau calon istri Ken sangat mirip sekali dengan almarhum Dira.


"Dad, coba cubit tangan Momy." Chika menyodorkan tangannya di depan Aron agar di cubit. "Au ... Sakit Dad!" pekik Chika.

__ADS_1


"Bukankah Kamu sendiri yang nyuruh!" elak Aron.


"Sebentar jika sakit, berarti ini bukanlah mimpi dong," seru Chika. Kemudian mereka saling memandang tak percaya, lalu kembali menatap ke arah Anne untuk memastikan kembali dengan apa yang mereka lihat.


"Ri, kalau natap istri gue jangan seperti itu!" seru Ken yang mengusap mata Rian yang tak berkedip sedikitpun.


Ketika Anne dan Dira semakin mendekat, Chika tiba-tiba berjalan mendekati Dira.


"Apa ini nyata?" lirihnya yang masih menatap Dira lekat-lekat.


Sedangkan Dira hanya terdiam tak mengerti kenapa wanita yang ada di depannya menatapnya seperti ini. Ketika Chika ingin menyentuhnya, Dira menghentikan tangan Chika.


"Apa Kamu mengenalku?" tanyanya dengan tersenyum.


"Kenapa mirip sekali ..." Tiba-tiba tubuh Chika melemas, untung saja Aron dengan sigap menangkapnya.


"Kamu gapapa?" Tanya Dira ketika melihat Chika yang hampir saja terjatuh di lantai. Tiba-tiba Chika bangun dan memeluk Dira dengan Erat.


Pelukannya sama hangatnya seperti pelukan Dira dulu, sampai tak terasa genangan air di matanya jatuh juga.


"Ken, Lo harus ceritakan kepada kita. Siapa wanita ini!" seru Aron dan Rian yang sudah mentap Ken dengan tatapan meminta penjelasan.


"Seperti yang kalian lihat, dia adalah Anindira Istriku yang jatuh dari tebing 16 tahun yang lalu," pungkas Ken.


Mata Aron dan Rian membola sempurna, mereka benar-benar terkejut saat mendengar ucapan Ken. Kemudian Rian dan Aron kembali menatap Dira tak percaya kalau wanita yang ada di depan mata mereka saat ini adalah Dira sahabatnya yang telah meninggal 16 tahun lalu.


Di sisi lain, terlihat Brian sedang duduk di kursi roda menatap ke arah perkumpulan itu. Dia tersenyum, akhirnya Ia bisa mengembalikan Dira kepada keluarga serta teman/temannya.


Ternyata banyak yang menyayangi Momy di sini. Jadi, keputusanku sudah tepat! Sepertinya Momy juga lebih pantas berada di lingkungan yang penuh dengan rasa kasih sayang ini, daripada di lingkungan gelap dadynya.

__ADS_1


"Kamu mau ke sana, Bri?" tawar Jessy yang dijawab sebuah gelengan oleh Brian.


...****************...


__ADS_2