
Hadirmu menjadi sebuah anugerah terbesar dalam hidup momy, tetapi kenapa Tuhan mengambilmu begitu cepat. Bahkan sebelum momy bisa bertemu denganmu di dunia ini.
~Chika Anastasia~
Setelah dari acara Dira, Aron masih terus diam tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Melihat Aron yang seperti itu membuat Chika ikut kesal karena dicuekin seperti tak dianggap kehadirannya.
Sesampainya di parkiran apartemen, tanpa basa basi seperti biasanya. Chika segera turun tanpa menunggu Aron, Ia berjalan dengan menimbulkan hentakan kaki yang cukup keras, menandakan bahwa Ia sedang kesal.
Melihat tingkah Chika yang seperti itu membuat Aron bingung dan mengerutkan dahinya. Kenapa sekarang jadi Dia yang ngambek! Bukankah seharusnya aku yang ngambek, " gumam Aron yang segera ikut keluar dari mobil.
Ketika sampai di apartemen, Chika membanting pintu dengan cukup keras dan menguncinya.
" Sayang … kok aku di kunciin sih! "protes Aron yang melihat Chika mengunci pintu kamar.
Aron terus mengetuk pintu dan memanggil Chika, tetapi tak ada jawaban. Justru Chika memutar musik dengan keras agar tak mendengar panggilan dari Aron.
" Dasar wanita! seharusnya suami marah itu di bujuk, belai, di sayang-sayang bukan malah ikut kesal gini!" pungkas Aron yang segera pergi ke ruang tamu.
Jika rumah tangga Aron sedang terjadi perang dingin, berbeda dengan Rian dan Senja yang asik menikmati melakukan adegan panas lagi. Pasangan suami istri itu lagi terbuai saling menyalurkan rasa cinta dan g****h yang sudah terpendam.
Begitulah kehidupan pernikahan yang tak melulu tentang cinta atau s**s. Pasti akan ada pertengkaran, perang dingin, perdebatan dsb. Kehidupan harmonis tanpa ada masalah sedikitpun itu hanya ada dalam anganan belaka, atau terjadi pada dongeng dan cerita-cerita dalam buku, tetapi pada kenyataannya tak semanis itu.
Menghadapi Istri yang sedang hamil itu tak mudah karena emosinya begitu naik turun, seorang pria harus tau dan lebih mengerti lagi. Sejak semalam Chika belum keluar juga dari kamar, membuat Aron hanya bisa menarik nafas panjang.
"Sayang ... Bukain pintunya. Aku minta maaf kalau aku salah, jadi bukain pintunya ya ..." bujuk Aron dengan terus mengetuk pintu kamar.
Tak lama kemudian, Pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita dengan penampilan acak-acakkan, mata sendu, bibir pucat, tengah berdiri membukakan pintu sambil memegang perutnya. Tiba-tiba Chika pingsan, membuat Aron semakin panik.
Melihat darah segar keluar dari alat kewanitaan Chika, membuat Aron semakin cemas lalu segera menggendong Chika pergi ke rumah sakit. Aron melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Tak butuh waktu lama Ia sudah sampai di rumah sakit, Aron segera membawa Chika keluar dari mobil masuk ke rumah sakit. Melihat ada kondisi darurat, seorang perawat pria segera menghampirinya dengan membawa sebuah brankar. Aron segera meletakkan Chika di atas brankar lalu mendorongnya menuju ruang UGD.
Beberapa menit kemudian seorang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan UGD dengan mendorong brankar Chika.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan istri Saya dok? Dia mau dibawa kemana?" tanya Aron.
"Kita ingin melakukan USG terlebih dulu pak, untuk mengecek kondisi kandunganya ," papar dokter itu.
Setelah itu dokter membawa Chika menuju ruangan dokter kandungan untuk melakukan USG dan ternyata dugaannya benar bahwa Chika mengalami keguguran.
Saat Aron mendengar bahwa Chika keguguran Ia benar-benar syok, dadanya terasa sesak, dunianya seperti berhenti sejenak. Tanpa terasa buliran bening menetes dari pelupuk matanya. Ia benar-benar merasa sangat kehilangan meskipun anak itu belum lahir kedunia. Bahkan belum lama hadir dalam rahim Chika.
"Lalu bagaimana kondisi Istri saya dok?" tanya Aron lagi.
"Kondisi Ibu Chika juga sangat lemah, sepertinya Ia sangat kekurangan cairan," tungkas dokter wanita itu.
"Kalau begitu lakukan yang terbaik untuk istri Saya," ujar Aron yang tak mengerti mau mengatakan apa lagi.
Pikirannya benar-benar kacau saat ini, Ia tidak tahu bagaimana mengatakan kepada chika setelah sadar nanti. Dia yang tak mengandung saja merasa kehilangan, apalagi Chika yang sudah mengandungnya serta melewati beberapa fase kehamilan.
Semoga nanti kamu kuat sayang ... Batin Aron.
Saat ini Chika sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dengan infus yang terpasang di telapak tangan untuk menambahkan cairan tubuhnya yang hilang. Keringat dingin keluar dari dahi Chika, suaranya terdengar seperti tengah merintih.
Mata Chika terbuka dan langsung duduk dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan melihat bahwa Ia sedang tidak berada di kamarnya.
"Ini dimana ? Kenapa aku memakai baju rumah sakit dan kenapa Aku di infus? Apa yang sudah terjadi? Bayiku—" Chika mulai meracau dan histeris.
Aron segera memeluk Chika untuk menenangkannya. Sebelumnya Chika bermimpi buruk tentang bayinya yang meninggal sehingga membuatnya histeris seperti ini.
" Sayang, Aku kenapa bisa ada di sini ? Bayiku masih ada kan? Tadi aku sempat bermimpi bahwa anak Kita—," tanya Chika.
Aron memalingkan wajahnya untuk menahan air matanya yang ingin jatuh. Melihat Chika seperti ini, membuat Ia semakin tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa anak mereka telah pergi.
" Aron ... Kenapa kamu diam saja? Lihat aku dan jawab pertanyaanku!" cetus Chika yang merasa sedikit kesal melihat Aron yang memalingkan wajah dan tak kunjung berbicara menjawab pertanyaannya.
Setelah sudah bisa menahan airmata itu untuk tak jatuh, Aron kembali menghadap ke Chika.
__ADS_1
" Kamu tenang dulu ya, A-ku ... " Mulut Aron terasa berat untuk mengatakanya.
" Kamu yang jelas dong ngomongnya!" gerutu Chika yang sudah tak sabar ingin mendengar jawaban Aron.
"A-nak Kita, Dia sudah pergi."
Ketika mendengar ucapan Aron, Hati Chika terasa bagaikan tertusuk seribu jarum, dunianya teras berhenti, dadanya sesak bagaikan tertimpa benda besar. Air matanya tanpa permisi jatuh dari pelupuk mata. Chika menggeleng, Ia tak percaya bahwa bayi yang Ia kandung yelah pergi.
Chika menarik baju Aron. "Kamu bohong, kan?" Chika tersenyum tetapi menangis. "Anak Kita masih hidup, Dia gak benar-benar pergi, Kan? Dia masih ada didalam rahimku! Ini pasti hanya mimpi, Iya ini pasti mimpi!"
Aron juga sudah tak mampu membendung airmata itu lagi, Ia memeluk Chika erat. "Kamu yang sabar ya Sayang ... Aku juga berat menerimanya, tetapi ini adalah kenyataan bahwa kamu sudah keguguran."
Chika menangis sejadi-jadinya dengan terus memukul-mukul Aron. Ia belum bisa menerima bahwa tuhan mengambil anaknya secepat ini. Ia masih ingin melihatnya dia tumbuh berkembang dan lahir ke dunia ini dan bertemu dengannya.
" Kenapa tuhan tega mengambil anak kita secepat ini ... Apakah kita punya salah dengan Tuhan? " ucap Chika yang terus menangis di pelukan Aron.
***
Setelah mengetahui bahwa Ia telah keguguran, Chika terus melamun dan terdiam. Ia tidak ingin melakukan apapun, dirinya sekarang bagaikan mayat hidup yang tak memiliki semangat sama sekali.
Aron mencoba untuk membujuk dan menghiburnya agar Chika mau makan, tetapi Ia tetap tak mau. Aron mencoba menghubungi Senja dan Dira, siapa tahu mereka bisa menghibur Chika dan memberikan Ia semangat hidup lagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu terdengar. Aron segera membukakan pintu, ternyata Senja, Rian, Dira dan Ken yang datang.
Chila menatap lurus kedepan, pikiranya kosong entah kemana sampai Ia tak menyadari bahwa ada yang datang. Melihat kondisi Chika yang begitu memperhatikan membuat Dira dan Senja merasa kasihan.
Mereka segera menghampiri Chika dan memeluknya. Pelukan Senja dan Dira membuyarkan lamunanya , ketika melihat Senja dan Dira datang. Chika segera memeluk mereka sambil menumpakahkan rasa sedihnya.
"Kamu yang sabar ya Chik, mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran kamu sekarang. Kamu harus bangkit dan kuat menghadapi ini semua. Tuhan memberikan kamu cobaan ini, mungkin Tuhan ingin melihat seberapa dekat kamu dengan-Nya, " tutur Dira.
"Iya Chik, yang sabar ya ..." imbuh Senja. Sedangkan Chika hanya menganggukkan kepala.
Dira juga bingung harus mengatakan apa kepada Chika karena iman dan kepercayaan mereka berbeda sehingga Dira tak terlalu bisa menasihati Chika.
__ADS_1
Sekarang aku baru sadar bahwa semua yang di dapatkan dengan cepat dan mudah itu tidak selamanya akan berakhir bahagia. Sebelumnya Aku sempat merasa iri dan kurang bersyukur karena melihat Chika yang cepat sekali hamil dan aku tidak. Batin Senja.
...****************...