Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Perdebatan Ken dan Dira


__ADS_3

Aura perdebatan masih terlihat begitu jelas antara Darren dan Dira. Restoran pun mulai banyak pengunjung yang berdatangan, membuat Dira ingin segera menyelesaikan perdebatan ini. 


"Ini peringatan terakhir saya untuk Anda. Jangan lagi pernah datang kedalam kehidupan saya lagi, karena kehidupan saya sudah sangat bahagia dan damai tanpa Anda, mengerti!" "ucapnya dengan nada tegas. Setelah itu Dira beranjak pergi meninggalkan Darren dan Ken yang masih berdiri di tempatnya. 


Melihat Dira yang pergi, Ken mendekatkan wajahnya ke telinga Darren dan berbisik


" Apakah sekarang  kamu menyesal, telah membuang berlian demi seorang  plastik! Dan saya peringatkan sekali lagi, jangan pernah ganggu wanita saya atau kamu akan tahu akibatnya!" bisiknya di telinga Darren dengan menyeringai. 


Bisikkan itu seketika membuat mata Darren melotot  menatap Ken. Sedangkan Ken segera pergi mengejar Dira. 


Kurang **$***… apa maksud dari perkataan pria itu! Tunggu saja Dira, aku akan membuktikan bahwa kamu memang benar masih mencintaiku! Dan kamu pria s**** aku tidak takut sama sekali dengan ancaman kamu! Kamu kira kamu siapa ha? Berani-beraninya mengancam seorang Darren Maxwell! . 


"Dir … Tunggu dulu Dir ... "panggil Ken yang terus mengejar langkah Dira yang semakin lama semakin dipercepat. 


Sampai akhirnya Ken berlari dan bisa meraih tangan Dira. 


" Lepaskan ... Saya mohon lepasin tangan saya sekarang juga! , kalau tidak…. "


Perkataannya terhenti, dan tiba-tiba Ken menarik tanganya sampai membuat tubuhnya jatuh kedalam pelukan Ken. Dira mendongak dan ingin melakukan perlawanan, tapi dia kalah cepat dengan tubuh Ken yang segera mengunci tubuhnya sampai tidak bisa bergerak. 


"Jangan banyak gerak, kalau kamu tidak mau melihat saya bertindak lebih jauh lagi!"bisiknya Di dekat telinga Dira.


Dira terdiam sejenak, membuat Ken merasa bahwa Dira sudah menuruti perkataannya. Akhirnya Ken mulai merenggangkan kunciannya pada tubuh Dira, karena takut Dira kesakitan. 


Hal itu justru memberikan Dira sebuah peluang  untuk bisa melawan Ken. Mula-mula Dira menginjak kaki Ken dengan keras, kemudian menyikut perut dan menendang kepemilikan Ken. Hal itu membuat Ken melepaskan tubuh Dira dan duduk menahan rasa sakit. 


"Ya Ampun Dir… kenapa kamu tega sekali sama mas sih …  Kalau telur mas pecah gimana? Kamu mau tanggung jawab? " tanya Ken yang masih memegang kepemilikan yang tadi di tendang oleh Dira. 


Dira melotot mendengar ucapan Ken yang tanpa disaring dulu kalau ngomong. " kalau ngomong itu disaring kenapa? Lagian Siapa suruh dari tadi, tiba-tiba ngerangkul terus sekarang meluk-meluk seenaknya saja. dan tadi juga ngaku-ngaku jadi suami pula. Kita kan belum muhrim, kenapa main meluk-meluk aja!."cetusnya dengan raut wajah kesal dengan menekuk lengan didepan dada. 


" Makanya kita cepet nikah, biar muhrim dan  bebas mau peluk-peluk seenaknya"pungkasnya dengan wajah tak bersalah.


Pipi Dira mulai merona mendengar perkataan ken, membuatnya segera pergi dari hadapan Ken. Dira tidak ingin Ken  melihat wajahnya yang memerah karena malu. 

__ADS_1


" Tunggu! "teriak Ken yang membuat langkah Dira terhenti. 


Dengan menahan rasa sakit di kepemilikannya, Ken berusaha berjalan menghampiri Dira. 


" Jangan dekat-dekat! "lontarnya dengan tubuh yang masih membelakangi Ken. 


Ken hanya bisa menuruti perintah Dira untuk tidak terlalu dekat. 


" Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan dan bicarakan sama kamu. Jadi, bisa mengobrol dulu? "pintanya kepada Dira. 


" Kalau mau tanya dan bicara, ya ngomong aja di sini! "


" Gak bisa kalau disini, gak enak diliatin orang. Bagaimana kalau masuk mobil atau cari cafe dulu, "tawarnya. 


Dira mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling, benar juga yang dikatakan Ken! .


" Ya ... Sudah kita  bisa bicara di dalam mobilku!"ajaknya yang berjalan menuju  mobil yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. 


Ken mengikuti Dira berjalan di belakangnya dan ikut masuk kedalam mobil Dira. Setelah mereka duduk di kursi depan mobil Dira, Ken mulai membuka pembicaraan mereka. 


"Tanya saja semua yang ingin kamu tanyakan!" sela Dira ketika Ken belum selesai mengucapkan  perkataannya. 


"Baiklah kalau kamu sudah berkata seperti itu. Apa ingatan kamu sudah kembali?" 


Sebuah pertanyaan yang mampu membuat Dira terdiam begitu lama. Sedangkan Ken terus menatap ke arah Dira untuk mendapatkan sebuah jawaban dari pertanyaannya. 


"Iya, ingatanku sudah kembali semua. Kenapa? "jawabnya dengan wajah datar. 


Ada perasaan senang juga terkejut. Jadi, benar saat itu Dira melakukan pengobatan secara diam-diam?. 


" Jadi Kamu sudah ingat siapa aku? Sejak kapan? "tanyanya lagi. 


" Emmb... baru beberapa hari ini."

__ADS_1


Ken menghela nafas panjang serta mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Pantas saja, akhir-akhir ini sikap kamu begitu dingin. Ternyata kamu sudah mengingat siapa aku sebenarnya, tapi kenapa kemarin kamu tidak jujur dan mengatakan yang sebenarnya terjadi?" tuturnya. 


Dira yang sejak tadi menatap kearah depan, akhirnya menatap kearah Ken. 


" Memangnya kenapa? Apakah hal itu penting!"


Ken terbelalak mendengar jawaban Dira." Kenapa kamu berbicara seperti itu Dir? Tentu saja hal itu penting, karena selama ini aku berharap bahwa kamu masih mengingat siapa aku!" pungkasnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. 


Dira kembali menghadap ke arah depan dengan mencengkram kuat setir kemudi. Dira mencoba memalingkan wajahnya agar Ken tidak melihat bahwa saat ini dia sedang  menahan air matanya yang ingin keluar.


"Sekarang silahkan kamu pergi dulu, karena aku … "


" Aku tidak akan pergi, sebelum kita menyelesaikan masalah ini! " sela Ken. 


" Apalagi yang harus diselesaikan? Apa Kamu ingin kita membahas kejadian yang sangat hina itu! " ucap Dira dengan nada suaranya yang naik satu oktaf, dan tidak terasa buliran bening itu keluar juga. 


" Dir… a-ku mau mengucapkan permintaan maaf aku ke kamu, karena… "


"Karena apa? Hanya Ucapan maaf saja tidak akan bisa memutar balikan keadaan itu kembali. Kamu sudah merebut kehormatan yang selama ini aku jagab… dan kamu gak tahu kan bagaimana aku menjalani hidup selama ini setelah kejadian itu! "


"Aku tahu, sebuah permintaan maaf saja tidak cukup. makanya saat itu aku ingin bertanggung jawab sama kamu, tapi kamu justru pergi meninggalkan aku tanpa sepatah katapun hanya meninggalkan gelang kamu saja. Selama bertahun-tahun ini, bukan hanya kamu yang hidup menderita, tapi aku juga. Sejak kejadian itu aku terus mencari tahu dimana keberadaan kamu, aku juga selalu terbayang-batang suara tangisan  kamu saat mengigau, Aku juga .... Ken tidak meneruskan lagi perkataannya. "Jadi, kamu bisa maafin aku kan Dir … kita bisa lupakan semua kejadian itu, dan buka lembaran baru bersama anak-anak kita ya …." pinta Ken memohon kepada Dira. 


" Apa maksud kamu, lupakan? Aku sudah pernah mencoba untuk melupakan, tapi pada akhirnya aku juga tetap mengingatnya kembali! Jadi selama ini kamu mendekati aku hanya karena rasa bersalah dan tanggung jawab? Iya. Dengarkan baik-baik mereka bukan anak-anak kamu, mereka hanya anak aku. Dan aku juga tidak butuh tanggung jawab dari kamu, karena aku bisa merawat anak-anakku sendiri!"


"Tapi aku ayah biologis mereka kan? Jadi, mereka anak-anakku juga. Aku tulus sayang dan cinta  sama kamu Dir, bukan hanya karena tanggung jawab saja!" ucapnya. 


Dira menutup mata dan telinganya dengan kedua tanganya. "Aku tidak mau dengar perkataan apapun lagi, saat ini aku butuh waktu sendiri. Jadi, tolong anda keluar dari mobil saya atau… 


" Baiklah… aku akan memberikan kamu waktu dulu. Tapi, aku mohon jangan pernah pergi dan tinggalkan aku lagi. Oke! "


...****************...

__ADS_1


Gimana guys... Maaf ya kalau ceritanya tidak sesuai ekspetasi kalian. Semoga masih tetap suka karena part selanjutnya akan ada kejutan buat kalian


Jangan lupa like, komen, vote serta klik Favorit ya...


__ADS_2