Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Ken sakit


__ADS_3

Tubuh bidang itu terkulai lemas dalam pelukan wanita dengan tubuh yang masih terbalut mukena.


"Pak.... Pak Ken bangun," panggil Dira yang badanya mulai terhuyung tidak stabil karena menopang tubuh besar Ken.


Melihat Dira yang hampir jatuh, dengan cepat Rendi membantu Dira untuk mengambil tubuh Ken. Ternyata Ken sudah pingsan, Dira mengecek dahi Ken ternyata badanya demam. Segera Dira menyuruh Rendi untuk membawa Ken masuk kedalam rumah, karena merasa keberatan Rendi memanggil pak salaman untuk membantunya memapah Ken masuk kedalam rumah. Sesampainya di dalam rumah mereka mencoba  menidurkan Ken di sofa dengan pelan. 


Rendi mencoba mengatur nafasnya yang tersengkal-sengkal, karena memapah tubuh besar Ken. Walaupun sudah di bantu oleh pak salaman mereka tetap ngos-ngosan memapah tubuh tinggi dan tegap Ken. 


"Aduh... Boss, anda sangat berat sekali!" gerutu Rendi. 


"Bukankah sudah saya ingatkan untuk istirahat dulu, tapi anda tidak mau mendengarkan saya! Jadilah seperti ini." Cetusnya sambil menatap Ken yang terbaring lemas diatas sofa.


Suara ketukan langkah mulai terdengar mendekat, dilihatnya Dira yang keluar dari balik gorden dengan membawa sebuah nampan yang berisi handuk kecil dan baki yang sudah berisi air hangat.


Mula-mula Dira mengetes suhu tubuh Ken menggunakan termometer, setelah melihat angka yang tertera pada termometer dira terkejut.


"Astagfirullah.... Suhu badan pak Ken tinggi sekali, sampai mencapai 39,3!" dengan cepat dira memeras handuk kecil yang sudah ada di dalam baki, lalu mengompres dahi Ken.


Rendi juga ikut cemas saat mendengar perkataan Dira. "Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?" tanyanya kepada Dira.


"Kita pantau saja dulu dalam waktu satu jam kedepan, kalau demamnya belum turun kita bawa pak Ken ke rumah sakit!" tutur Dira.


Rendi hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia setuju dengan apa yang diucapkan Dira. Setelah itu, rendi melangkah untuk duduk di sofa yang lain. Dia mencoba merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, dipegangnya dahi yang mengkerut karena merasa pusing. 


"Pak Rendi mau saya buatkan teh hangat?" tawarnya yang melihat Rendi seperti sedang membutuhkan air hangat.


"Boleh, kalau tidak merepotkan!" pungkas Rendi.


Dira hanya tersenyum, dan segera bangun dari duduknya melangkah berjalan menuju dapur. Selang beberapa menit Dira sudah kembali dengan membawa sebuah nampan yang sudah berisi 2 cangkir teh hangat dan sepiring Roti. Di letakkan cangkir yang berisi teh hangat itu di meja depan Rendi dan Salman.


"Terimakasih mb," ucap pak salman yang dibalas dengan sebuah senyuman ramah oleh Dira. Sedangkan Rendi sudah menutup matanya.


"Apa pak Rendi sudah tertidur?" tanya Dira kepada pak Salman.


"Sepertinya iya mb" jawab pak salman.

__ADS_1


"Ya sudah, biarkan saja pak. Oh ya, silahkan bapak menikmati air hangat dan rotinya biar tubuh bapak lebih hangat." ucap dira dengan mempersiapkan pak Salman untuk segera meminum teh yang sudah dibuatnya. 


Pak Salaman hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Dira pamit untuk masuk ke kamarnya. 


Selang beberapa menit kemudian, Dira keluar lagi dengan membawa selimut dan bantal. Dilihatnya pak salman juga sudah ikut tertidur di sofa. Akhirnya Dira sendiri yang  membantu meletakkan kepala Ken diatas bantal dan memberinya selimut.tak lupa pula dira juga memberikan selimut kecil kepada Rendi dan pak salman. 


Pasti mereka sangat capek dan lelah. Batin dira. Tanpa berlama-lama Dira kembali lagi ke kamarnya untuk membangunkan Kean dan Lean untuk sholat subuh berjamaah. 


Dua bocil itu mulai mengerjapkan Matanya. Karena masih merasa sangat mengantuk, mereka bangun dengan mata yang masih tertutup. Dengan sabar dira menuntun mereka untuk berjalan ke kamar mandi. Selesai mengambil air wudhu mereka sholat berjamaah di sebuah ruangan yang dijadikan sebagai mushola kecil. 


Selesai melakukan kegiatan rutin yang dilakukan  setelah sholat subuh. Dira mulai memberitahu Dira soal kedatangan Ken. 


"Lean... Semalam om Ken datang, dan pingsan karena demam tinggi. Mama boleh minta Lean untuk memeriksanya lagi?  Soalnya mama sama uti mau menyiapkan makanan untuk sarapan," tuturnya dengan pelan. 


"Kenapa om Ken ada disini ma?" tanya Kean. 


"Mama juga gak tau" jawab Dira. 


" Sudahlah kak....nanti kita bisa tanyakan sendiri sama om Ken. Yaudah Lean akan memeriksanya, tapi om Ken ada dimana ma?" tanya Lean yang tidak tahu dimana keberadaan Ken. 


Tanpa bertanya apa-apa lagi. Lean segera mengambil peralatan dokternya yang selalu dibawa ketika bepergian kemana saja. Setelah mengambil sebuah tas yang berisi perlengkapan kesehatan, Lean dan Kean berjalan menuju ruang tamu. 


Dilihatnya Ken belum Sadar kan diri juga. Segera Lean mengecek suhu tubuh Ken lagi, dan ternyata suhu tubuhnya masih tinggi. Keringat dingin mulai keluar, di dahi Ken dengan suara parau Ken mengigau. Dir... Dira... Jangan tinggalkan aku lagi Dir....


Mendengar Ken yang terus  mengigau memanggil nama mamanya, kean dan Lean mencoba membangunkan Ken. 


"Om... Om bangun om." panggil Kean dengan menggoyangkan lengan tangan Ken. 


Mendengar ada suara yang memanggilnya Ken berusaha untuk membuka matanya yang terasa sangat berat, dengan perlahan akhirnya Ken bisa membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah  wajah kedua anak kembarnya, melihat hal itu Ken langsung bangun dan memeluk kean dan Lean dengan erat, sampai membuat kedua anak itu sesk dan terbatuk-batuk. Mendengar suara batuk-batuk dari Kean dan Lean seketika Ken melepaskan pelukannya. 


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Ken dengan wajah pucatnya. 


"Kita tidak apa-apa, Hanya om terlalu kuat saat memeluk kita. Makanya kita terbatuk-batuk karena sesak"cetus Kean. 


Ken hanya tersenyum lebar." Om hanya terlalu senang, karena bisa melihat wajah kalian lagi! " ucap Ken. Kemudian dia teringat dengan mainan yang sudah ia beli di dalam mobil, tanpa berlama-lama Ken mencoba untuk bangun dari duduknya. 

__ADS_1


Au... Pekiknya dengan memegang perutnya yang terasa sangat sakit saat bergerak, dan tubuhnya juga sangat lemas. Akhirnya Ken duduk kembali di sofa. 


"Om kenapa? Apa ada yang sakit? Tanya Lean memastikan. 


Ken masih terdiam karena menahan rasa sakit perutnya yang lama-kelamaan  semakin sakit. Karena tidak ada jawaban dari Ken, lean dan Kean membantu Ken untuk membaringkan badanya dulu di sofa. Setelah itu Lean memeriksa anggota tubuh Ken yang kesakitan. Lean terus menekan dan mencoba memperkirakan apa penyakit yang diderita Ken. Sedangkan, Ken terus berteriak kesakitan saat Lean memeriksa  perut bawah bagian kanan miliknya , sampai membuat Rendi dan pak salman terbangun karena teriakanya. 


"Anda kenapa boss?" Tanya Rendi yang sangat  panik ketika melihat Ken yang terus berteriak kesakitan. Begitu juga dengan  pak Salman yang  ikut merasa panik. 


"Sepertinya kita harus segera bawa om Ken kerumah sakit deh,"ucap Lean yang sejak tadi diam memastikan apa yang diderita Ken. 


" Memangnya boss sakit apa? Sampai harus dibawa ke rumah sakit? "tanya Rendi. 


" Untuk gejala awal, sepertinya Apendisitis (Usus buntu). Tapi, Lean belum memastikan lebih detailnya. Karena harus diperiksa lebih lengkap di rumah sakit! "jelas Lean.  


Ken terbelalak saat mendengar ucapan Lean. "Tidak perlu ke rumah sakit!" tungkas Ken. 


Lean mengerutkan kening dan melotot ke arah Ken. "Kenapa om gak mau dibawa ke rumah sakit? Om mau terus kesakitan?" tanya Lean. 


Rendi yang melihat ekspresi Lean rasanya ingin tersenyum melihat bosnya yang dipelototi oleh seorang anak kecil.


"Boss itu takut jarum suntik!" celetuk Rendi yang langsung menutup Mulutnya dengan wajah yang tidak merasa bersalah itu, karena membongkar rahasia Ken di depan anaknya. 


Mendengar ucapan Rendi Ken langsung menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Sedangkan Kean dan Lean menatap Ken dengan heran. Bisa-bisanya orang dewasa dengan tubuh tinggi dan kekar takut dengan jarum suntik! 


****************


Gimana guys... Ceritanya... Bagus gak?


Oh ya... Author hanya ingin mengingatkan kepada kalian untuk jangan menimbun bab bacaan ya. Karena itu akan mempengaruhi level novel ini. Kalau sampai levelnya turun kan kasian author..😢😢


Kalian boleh komen gimana caranya agar kalian tidak menimbun bab.


Dan jangan lupa untuk untuk like, komen, vote, dan klik tombol favorit ya... Itu sebagai bentuk apresiasi dari kalian untuk author biar novel ini bisa lebih berkembang lagi. Oke👌


Salam sayang dari author untuk kalian💕💕🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2