
Liburan telah usai dan sudah waktunya kembali lagi untuk beraktivitas seperti biasanya. Sejak pagi Dira hanya terbaring di atas ranjang karena rasa kantuk yang terus menyelimutinya. Sedangkan Ken baru keluar dari walk in closet yang sudah berpakaian rapi.
"Kamu masih mengantuk sayang?" tanya Ken yang sudah duduk di sisi ranjang.
"Emm ...Mas sudah mau berangkat kerja? ," dengan suara serak khas bangun tidur serta mata yang masih belum bisa terbuka juga. Sepertinya matanya hari ini terkena lem karena begitu lengket dan sulit sekali terbuka.
"Iya mas sudah mau berangkat. Yaudah kalau kamu masih ngantuk, kamu tidur aja lagi. Tapi ingat jangan bangun terlalu siang dan jangan lupa sarapan oke!" tutur Ken yang masih membelai mesra kepala istrinya membuat Dira semakin mengantuk karena di belai dan ingin memeluk manja suaminya. Entah sejak kapan belaian yang diberikan ken membuat Dira merasa candu akan hal itu dan membuatnya terasa sangat nyaman.
" Yasudah mas berangkat kerja dulu, Assalamualaikum," pamit Ken dengan mengecup kening istrinya lalu beranjak bangun dari ranjang.
"Waalaikumsalam."
......................
Di ruang makan terlihat Kean, Lean dan Carol yang sudah duduk di meja makan dengan menikmati sarapan pagi mereka. Melihat Ken yang baru saja turun sendirian tanpa Dira membuat Carol sedikit curiga karena sejak pagi, ia tak melihat menantunya sama sekali. Biasanya Dira selalu sudah berada di dapur untuk memasak menu sarapan tapi hari ini yang memasak Art.
"Dira kemana Ken? Kok kamu hanya sendirian?" tanya Carol.
"Dira masih tidur ma, katanya masih ngantuk banget…" jawab Ken sambil menarik kursi untuk duduk.
Carol memicingkan matanya karena tidak biasanya menantunya yang rajin itu masih tidur jam segini.
"Ken ... kamu itu jangan membuat Dira lembur tiap malam, mama tau kamu itu gaspoll pengen punya anak lagi tapi gak gitu juga, kan kasihan dira kalau sampai kecapekan gitu," nasehat Carol dengan melanjutkan makanya.
Ken mengernyitkan dahi tak mengerti dengan maksud mamanya. "Dira semalam gak lembur sama sekali kok ma, bahkan dia langsung tidur saat sampai di rumah. Lagian apa hubunganya lembur kerja sama pengen punya anak ma? "
Khuk … khuk …. Carol tersedak saat mendengar jawaban Ken yang begitu polos ternyata.
"Oma kalau makan pelan-pelan biar tidak tersedak," nasehat Lean.
Carol menganggukan kepala saat mendengar nasihat dari Lean, serta mengelap mulutnya.
"Iya oma, lagian kalau mau punya adek mama sama papa harus lembur ya oma?" imbuh Kean.
Carol bingung harus menjawab apa pertanyaan Kean yang selalu ingin tahu apa yang di bicarakan oleh orang dewasa.
"Oh ya kalian bukanya harus sudah berangkat ke sekolah ya. Nanti telat loh!" ujar Carol agar mereka segera berangkat dan Carol bisa leluasa berbicara dengan Ken.
"Iya Oma," jawab Kean dan Lean serentak, kemudian mereka pamit dengan mencium tangan Ken dan juga Carol bergantian sebelum berangkat ke sekolah.
Setelah melihat Kean dan Lean melenggang pergi, Carol melanjutkan pembicaraanya yang sempat tertunda.
__ADS_1
"Ken kamu itu beneran polos atau pura-pura gak tau sih sama yang mama ucapkan? " ujar Carol yang di jawab sebuah gelengan kepala oleh Ken.
Carol hanya bisa menghela nafas panjang di saat melihat ternyata anaknya yang sudah tua itu tidak paham dengan arah pembicaraanya.
" Maksud mama itu, bukan lembur karena pekerjaan tapi lembur buat anak!"
"Oh … kirain lembur pekerjaan. Semalam Ken sama Dira gak buat kok, kita libur! Lagian Ken gak pernah lembur juga," jawab Ken dengan polosnya tanpa malu-malu.
"ha …." Carol hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Ken.
Selesai menghabiskan sarapannya ken pamit untuk berangkat ke kantor.
Di sisi lain terlihat Niken yang sudah datang lagi ke kediaman Fabio dengan pakaian lusuh, rambut acak-acakkan serta mata panda yang menghiasi wajahnya. Penampilanya hari ini jauh lebih mengenaskan dari sebelumnya yang masih terlihat bersih hanya saja dengan pakaian yang lusuh.
Dimas security yang mengusirnya kemarin, ketika melihat Niken yang datang lagi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Si Orgil itu kenapa datang lagi sih!" desisnya dengan berjalan menghampiri Niken yang sudah berdiri di depan pintu serta terus memencet bel.
"Hei Orgil, kenapa datang kesini lagi sih?" tungkas Dimas yang sudah merasa kesal harus menghadapi Niken lagi.
"Eh … kalau bicara itu yang sopan sama orang yang jauh lebih tua, kuwalat mampus loh! Masih muda gak ada sopan-sopannya sama orang tua," cetus Niken.
"Eh buk, bisa anda minggir dulu soalnya tuan saya mau keluar," pinta Dimas kepada Niken.
Ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas, Niken langsung mengulas senyum. Bukannya minggir Niken justru berteriak kencang memanggil nama Dira. Melihat Dimas yang tak kunjung membukakan pintu justru berdebat dengan orang yang ada di luar pagar, terpaksa Rendi turun untuk mengeceknya.
"Sepertinya terjadi sesuatu di luar bos, saya akan memeriksanya terlebih dahulu," ujar Rendi yang segera turun dari mobil dan berjalan menghampiri Dimas untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Dim ada apa?" teriak Rendi yang sudah berada di belakang Dimas.
"Itu Pak Rendi, ini ada ibu gila yang mengaku-ngaku sebagai ibunya nyonya muda," jawab Dimas
"Hei saya bukan orang gila ya, saya memang benar-benar ibunya Dira dan sekarang saya datang kesini karena ingin bertemu anak saya! Jadi kalian panggilkan Dira untuk keluar.
" Maaf ya buk, mungkin anda salah karena setahu saya ibu nyonya sudah meninggal. Jadi bisakah anda minggir karena saya mau keluar, " pinta Rendi dengan pelan.
Mendengar ucapan Rendi yang tak mau membukakan pintu gerbang, Niken tak kunjung mau minggir justru berdiri di tengah-tengah depan pintu gerbang.
Rendi geleng-geleng kepala ketika melihat Niken yang keras kepala tak mau pergi.
" Jika ibu tidak mau minggir juga, saya akan tetap membuka pintu gerbang tanoa memperdulikan ibu lagi," ancam Rendi.
__ADS_1
"Buka saja kalau berani!" tantang Niken dengan membusungkan dada serta melipat tanganya di depan dada, seakan dia tidak perduli dengan ancaman Rendi.
"Dimas, buka saja pintu gerbangnya nanti di akan pergi sendiri!" Titah Rendi yang melenggang pergi menuju mobil, sedangkan Dimas melakukan perintah Rendi untuk membuka pintu gerbang dengan memencet tombol buka otomatis pintu gerbang.
Melihat pintu gerbang yang mulai terbuka, dengan cepat Niken menghindar karena dia juga tidak ingin gerbang itu menabrak tubuhnya.
"Ada apa Ren?" tanya Ken yang melihat Rendi yang baru masuk kedalam mobil.
"Tidak apa-apa Boss," jawab Rendi yang menghidupkan kembali mobilnya serta menginjak pedal gas.
Melihat gerbang yang sudah terbuka Niken segera berlari berdiri di tengah jalan pintu keluar serta merenggangkan tanganya, melihat Niken yang tiba-tiba berdiri di tengah-tengah jalan Rendi mendadak menginjak remnya sampai membuat Ken hampir kejedot kursi depanya.
"Kamu kenapa sih Ren!" teriak Ken.
"Maaf boss, tiba-tiba ada yang berdiri di tengah jalan."
Melihat mobil berhenti Niken segera menghampiri mobil ken dengan menggedor-gedor jendela mobil menyuruh Ken untum membuka pintu.
"Dia siapa Ren?"
"Anda tidak usah membuka pintu bos, biar saya yang menanganinya."
Setelah itu Rendi turun lagi dari mobil dan bertengkar dengan Niken, Dimas juga datang menghampiri mencoba untuk menyingkirkan Niken. Mendengar Niken yang terus berteriak-teriak menyebut nama Dira, akhirnya Ken memutuskan untum keluar karena penasaran dengan apa yang terjadi. Melihat Ken yang turun dari mobil, Niken ingin berteriak tapi mulutnya segera di bungkam oleh tangan Dimas.
"Lepaskan dia dulu Dimas, jangan bersikap kasar dengan wanita tua!" pinta Ken yang segera Dimas lakukan perintahnya untuk melepaskan Niken.
"Ternyata kamu tidak terlalu buruk menantu!" pekik Niken yang seketika membuat Ken membolakan matanya.
"Apa maksud anda memanggil saya dengan sebutan anak mantu?"
"Bukankah kamu suaminya Dira, jadi otomatis kamu adalah menantuku karena aku adalah ibunya Dira," papar Niken dengan sombongnya.
Ken menaikkan sudut bibirnya ketika mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Dia tak mengerti kenapa wanita itu bisa-bisanya mengaku sebagai ibu mertuanya padahal dia tahu kalau ibunda Dira telah meninggal dunia.
" Ibu tidak usah mengaku-ngaku sebagai ibu mertua saya karena ibu mertua saya sudah lama meninggal. Jadi tidak mungkin kan dia bangkit dari kubur!"
"Aku memang bukan ibu kandungnya, tapi ibu tirinya. Aku datang kesini hanya ingin mengatakan bahwa ayahnya sedang kritis di rumah sakit!"
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote serta hadiah bunga dan koinya yang banyak biar author semangat buat up lagi.
__ADS_1