
Chika masih terus saja meminta Aron menuruti keinginanya sampai Ia mengancam akan menyuruh Aron tidur di luar kalau Ia tak mau menuruti permintaanya. Padahal Ken sudah mengatakan bahwa Rendi tidak akan mau karena dia tidak suka di sentuh oleh wanita, tetapi Chika masih tetap ngotot sebwlum tahu sendiri.
Melihat Chika yang sudah ngambek sampai memunggungi badanya, membuat Aron menghembuskan nafas panjang dan terpaksa memenuhi permintaan itu.
"Ternyata seorang playboy insyaf bisa bucin dan takut istri juga!" ledek Rian lagi.
Mendengar Rian yang meledek Aron, Senja langsung mencubit pinggangnya.
"Au … sakit sayang, Kamu kenapa jadi seperti kepiting gitu sih! Tukang nyubit. Apa mau kue cubit?" ujar Rian yang langsung membuat Senja membolakan matanya karena di ledek.
"Tadi bilang apa?" tantang Senja.
Melihat Ekspresi Senja seperti ini membuat nyali Rian menciut, lalu menoleh ke lain arah.
"Cih, sesama takut istri jangan suka meledek deh … kena juga kan! " tandas Aron yang segera bangun dari tempat duduknya untuk mengajak Chika menemui Rendi.
Ken dan Dira hari ini seperti sebuah patung pajangan yang hanya bisa melihat interaksi mereka yang tak jelas.
" Makanya Ri, jangan sok-sokan. Nanti kalau Senja hamil, kamu akan merasakan sendiri!" pungkas Ken.
Di sisi lain terlihat Aron dan Senja datang menghampiri Rendi yang sedang berdiri di temani oleh Lala.
"Hei Ren," sapa Aron kepada Rendi.
"Halo juga Pak Baron, ada apa ya?" tanya Rendi yang melihat sepertinya Aron tak hanya sekedar menyapanya.
"Saya tidak disapa Mas ganteng?" sahut Lala.
"Eh, Iya lupa, tapi Aku lupa nama Kamu. Kamu pacarnya Rendi?" tanya Aron.
"Bukan! Calon!" seru Lala dan Rendi bersamaan.
Chika tertawa ketika melihat tingkah Lala dan Rendi yang bertentangan seperti tom and jerry. Setelah mengucapkan kata yang tak sinkron, Lala dan Rendi saling tatap dan berdebat sampai tak menghiraukan keberadaan Aron dan Chika.
__ADS_1
"Ehm …" dehem Aron yang melihat mereka tak kunjung usai berdebat.
"Oh, Iya pak Baron maaf. Lagian dia memang sedikit—" Rendi tak meneruskan ucapannya karena takut Lala tersinggung. "Bapak ada apa ya memanggil saya? Apa ada perlu?" lanjut Rendi.
"Em … begini, Ren … Saya …" Aron bingung harus berbicara bagaimana, ada rasa malu sekaligus bimbang untuk mengatakannya. Apalagi sebelumnya Ken mengatakan bahwa Rendi itu adalah pria datar, kaku, dan tidak suka jika wanita menyentuhnya membuat Aron semakin tidak enak untuk mengatakannya. Takut kalau Rendi menolak dan Chika akan sakit hati.
" Begini Mas tampan, Saya lagi ngidam pengen cubit pipi Mas boleh? " celetuk Chika yang to the point sambil tersenyum manis.
Saat mendengar Chika berkata to the point tanpa berbasa-basi membuat Aron, Rendi dan Lala terperangah. Aron tak menyangka bahwa Chika bisa bersikap seperti ini kepada seorang pria.
Apa benar ini bawaan hamil? Ini keinginan Chika atau anak yang masih didalam kandungan? Kenapa Dia bisa se ganjen ini! Batin Aron.
Rendi terkejut karena ini pertama kalinya dia mendengar ibu hamil ngidam ingin mencubit pipinya seorang pria . Biasanya kan orang ngidam pengen makanan apa gitu seperti Dira waktu ngidam, la ini kenapa ngidam pengen nyubit pipi. Gumam Rendi dalam hati.
Begitupun dengan Lala yang masih terbelalak karena melihat Chika yang berpenampilan Elegan ternyata lebih centil darinya.
Memang gak boleh memandang orang hanya lewat penampilan luarnya saja! Padahal udah punya suami tampan, masih aja genit sama pria lain! Desis Lala dalam hati.
"Kok pada diem … gak boleh ya …" lontar Chika dengan nada rendah seperti sedang kecewa.
"Mb ini ngidam apa ngefans sama abang gantengku, sih!" cetus Lala yang mencoba menggandeng lengan Rendi, tetapi segera ditepis.
Rendi jadi bingung harus menjawab apa karena dia merasa aneh, tapi disisi lain Dia juga merasa tak enak menolak permintaan dari wanita hamil yang sedang ngidam. Bukankah hanya cubit pipi aja.
"Sedi-kit aja mas tampan, janji gak bakalan sakit kok!" Chika mencoba memohon kepada Rendi agar dia mau di cubit sedikit pipinya. Entah kenapa sejak melihat Rendi, Chika sangat ingin sekali mencubit pipinya seperti sedang merasa gemas.
Melihat Chika yang memohon seperti itu membuat Rendi menjadi lebih tidak tega lagi, terpaksa dengan berat hati Rendi menganggukkan kepalanya. Melihat Rendi yang menganggukkan kepalanya membuat wajah Chika seketika berbinar-binar.
Chika segera menggeser tubuh Aron agar Ia bisa lebih dekat lagi dengan Rendi. Aron melongo saat melihat Chika seantusias itu sampai menggeser tubuhnya hanya untuk berdiri lebih dekat dengan Rendi. Seharusnya Ia senag karena Rendi tidak menolak permintaan Chika sehingga Dia tidak akan sedih, tetapi hati kecilnya merasa sakit dan kesal melihat posisinya saat ini seperti sudah tersingkirkan oleh Rendi, saat Chika ingin mencubit Pipi Rendi…
"Stop!!! Seru Lala dan Aron bebarengan.
" Apalagi sih! " protes Chika saat tiba-tiba Aron menghentikan aksinya.
__ADS_1
" Ren, tutup mata kamu! Jangan sampai memandang wajah istri saya! " celetuk Aron. Dia tidak rela jika Rensi memandang wajah cantik Chika, padahal Rendi saja tidak tertarik sama sekali.
" Mb jangan kalau megang pipi tampan Abang saya jangan terlalu lama, nanti suka lagi!" Imbuh Lala.
" Kalian berdua kenapa sih? Kan cuman mau cubit pipi aja, kok repot! Orang yang punya pipi aja sudah pasrah! " seloroh Chika yang sudah tak menghiraukan Aron dan Lala lagi. Ia segera mencubit Pipi Rendi dengan penuh semangat dan aura penuh dengan kebahagiaan.
Setelah selesai memenuhi ngidamnya, Aron segera membawa Chika pergi dari Rendi agar Ia tak lebih menyukai Rendi. Sedangkan Rendi masih memegang pipinya yang habis di cubit oleh Chika.
Dasar wanita sulit di percaya! Bukankah tadi bilangnya sedikit, tetapi Kenapa begitu gemasnya kalau nyubit. Apakah pipiku ini squishy! Gerutu Rendi dalam hati.
Melihat pipi Rendi yang memerah, Lala ingin menyentuhnya tapi lagi-lagi Rendi segera menghindar dan berlalu pergi dari tempat acara.
Aron kemmbalinke meja tempatnya duduk dengan wajah yang di tekuk, entah kenapa dia merasa sangat kesal melihat sikap dan ekspresi chika tadi.
" Om Galon kenapa wajahnya di tekuk gitu?" tanya Lean yang sudah ada di sana.
Lean memang memanggil Aron dengan panggilan Om Galon karena dia pernah melihat Aron demi ingin berkenalam dengan seorang wanita rela membantu mengangkat galon untuk membantu wanita cantik itu.
Awalnya Aron tidak menyukai Lean yang memanggilnya dengan sebuat Om galon, tetapi lama-kelamaan dia sudah terbiasa mendengar Lean memanggil dengan sebutan om Galon.
"Om Aron lagi kesal sekaligus cemburu sama tante Chika," bisik Rian yang masih terdengar oleh Aron.
"Ledek aja terus ... Sampai puas! Lihat saja nanti kalau Senja hamil, ngidamnya akan lebih parah lagi! " cetus Aron yang sudah merasa sangat kesal. Emosinya sekarang sudah tidak bisa di kontrol lagi.
Semua yang ada di situ langsung menatap Aron dengan tatapan tajam. Senja sampai menepuk meja sambil mengucapkan Amit-amit agar ucapan Aron tidak terjadi beneran.
"Aron, gak boleh nyumpahin yang jelek seperti itu!" tutur Dira untuk mengingatkan Aron agar dia tidak berkata yang buruk.
"Sorry Dir, habisnya Rian juga udah tau ada orang kesel masih saja ngledek!" tandas Aron.
...****************...
Semoga suka ya...
__ADS_1
Kira-kira kalian ingin lihat gimana Senja ngidam gak?
Jangan lupa like, komen, vote, serta hadiahnya ya... Biar author semangat lagi upnya.