Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Duka


__ADS_3

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ


(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). QS. Al-Baqarah:156


Hakikatnya hak Allah untuk mengambil sesuatu dan memberi sesuatu kepada umatnya, segala sesuatu yang ada di sisinya dibatasi oleh ajal. Oleh sebab itu, bersabarlah karena kepergiannya, dan carilah ridho Allah yang sebesar-besarnya.


Di dalam perjalanan, Risa terus saja menangis mengingat semua kenangan saat bersama ibunya.


Setelah perjalanan yang panjang mereka sampai di rumah Risa. Saat ini  rumah Risa sudah dipenuhi dengan kerabat dan para tetangga yang melayat. 


Risa yang menyadari bahwa sudah sampai di rumahnya, langsung berlari keluar dari mobil menuju dimana ibunya berada. 


Ketika sampai di pintu rumahnya, langkah risa mulai pelan, dilihatnya dari kejauhan tubuh yang terbaring  dengan ditutup  kain kafan dan kain batik. Melihat hal itu, Air mata Risa semakin menetes dengan deras. Sesampainya di depan tubuh ibunya, Risa langsung memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bergerak sama sekali. Tubuh dingin yang sudah tak bisa lagi memeluk ya seperti dulu. Semua memori ketika  bersama ibunya, seperti berputar kembali dalam ingatanku. Maafkan Risa bu... Risa belum sempat buat ibu bahagia, bahkan Risa tidak ada di samping ibu saat ibu menghembuskan nafas terakhir. Sebenarnya Risa belum siap untuk kehilangan ibu, Risa rindu pelukan ibu... Semoga ibu tenang disana ya.....


Kakak Risa yang ada di sampingnya, langsung ikut memeluk risa untuk memberikan Risa kekuatan. 


"Sabar ya dek ... kita ikhlasin ibu pergi. Doakan saja agar ibu tenang disana ya, " ucap Rina.


Risa tak bisa berkata apapun lagi. Tenggorokannya tercekat, bibirnya terasa kelu tidak bisa mengeluarkan kata-kata, hanya ada air mata yang terus mengalir tanpa henti. 


Dira, Nisa, Kean dan Lean yang sudah selesai menurunkan koper mereka. Berjalan masuk ke dalam rumah Risa. 


Tak lupa pula, Mereka menyalami dan menyapa para tetangga yang juga mereka kenal. 


" Ma Sya Allah.... Ini si kembar? Wis gedhe lan tambah guanteng yo dir... (sudah besar dan tambah ganteng ya Dir)," ucap bu warni dengan bahasa jawanya. 


"Injih bu, panjenengan pripun kabar? Sehat to?" Sapa Dira. 


"Alhamdulillah sehat," Dengan mencubit pipi Kean dan Lean yang gembul menggemaskan. 


Setelah selesai bersalaman, Dira pamit untuk masuk kedalam rumah Risa, dengan sopan. 


Terdengar Bisik-bisik para tetangga. 


"Ya Allah.... Iku mau Dira kae to. Panggah ayu ae masio anak.e wis gede-gede." (Ya Allah... Itu tadi Dira. tetap cantik saja, meskipun anaknya sudah besar-besar) 

__ADS_1


"La jarene nang Luar Negeri, kok iso merene?." ( bukankah ada di luar negeri, kok bisa kesini?.) 


"Wis balik. Tapi, tinggal nang jakarta. (sudah pulang. Tapi, tinggal di jakarta)." 


"Masio pernah urip nag luar negeri gak sombong blas, sek panggah sumanak banget." (meskipun pernah hidup di luar Negeri tidak sombong dan masih  Ramah sekali).


****************


Akhirnya pesawat bisa Landing dengan selamat. Kekhawatiran dalam hati Ken mulai mereda. Karena masih merasa lemas, setelah guncangan yang dahsyat di dalam pesawat. Ken berjalan dengan pelan menuju pintu kedatangan. 


Setelah keluar dari pintu kedatangan, dari kejauhan sudah terlihat supir Ken datang menjemput mereka berdua. Ken dan Rendi masuk ke dalam mobil. Ken duduk bersandar untuk merilekskan tubuhnya. Kepalanya sedikit pusing mungkin efek jetlag, ingin rasanya Dia tertidur tapi, tidak bisa hanya matanya yang tertutup. Tapi, Ken masih sepenuhnya sadar. 


"Pak... Nanti mampir ke toko mainan ya?" 


"Siap Tuan."


Tempat Mainan? Kenapa bos ingin berhenti ke tempat mainan? Untuk apa?. Ah... Biarkan saja, aku ingin tidur saja. Kepala pusing akibat guncangan dahsyat yang terjadi tadi. Untung saja masih bisa selamat, rasanya seperti mau menuju gerbang kematian. Tapi, untung tidak jadi! . Gumam Rendi dalam hati dengan mata yang tertutup. 


Rendi duduk di samping supir, sedangkan Ken duduk di kursi penumpang. 


"Sudah sampai Tuan."


Mendengar ucapan pak Salman, supir Ken. Akhirnya Ken membuka matanya, dan melangkah keluar dari dalam mobil. 


Ketika masuk ke dalam toko itu, para wanita penjaga toko seperti terhipnotis oleh ketampananya, di saat melihat Ken yang masuk dari pintu. 


" Astaga... Cowok itu tampan dan keren sekali..." 


"Sumpah.... Apa dia model atau artis hollywood." 


"Matanya indah sekali, jantung langsung seperti terpanah oleh sorot mata itu." 


Ken tidak memperdulikan tatapan-tatapan mereka kepadanya. Karena itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Ken. 


"Selamat sore tuan, ada yang bisa dibantu! " Sapa seorang pria penjaga toko. 

__ADS_1


"Oh... Saya mau mencari mainan anak-anak," ucap Ken sedikit kaku.


"Oh.... Anda mau mencari mainan yang seperti apa? Untuk Anak Laki-laki atau perempuan? dan umur berapa?"tanya Sales itu dengan Sopan. 


Ken mulai berfikir, mainan apa yang ingin dibelinya. Pasalnya ini adalah  pertama kalinya dia membeli mainan anak-anak. Terakhir kalinya disaat umurnya 5 tahun, pasti mainnya juga berbeda dengan zaman sekarang. 


Melihat Ken yang bingung dan Terdiam, sang penjaga toko itu mengajak Ken untuk masuk melihat-lihat, dan Ken pun Mengikutinya. Setelah beberapa menit mencari akhirnya Ken menemukan apa yang ingin dia belikan untuk Kean dan Lean. 


Disaat Ken menunjuk Semua mainan yang ingin dibelinya, Sales pria itu tertegun. Sumpah... Ini mah Sultan! Beli mainan sebanyak ini, tanpa lihat harga. dan yang dibelinya semua edisi terbatas. Beruntung sekali anaknya.  


"Sudah tuan?" tanya Sales itu lagi. 


Saat melihat  ke tempat keranjang belanja, ternyata mainan yang dibelinya sudah banyak sekali.


"Sudah." 


Sesampainya di kasir. "Tuan mau bayar pakai Cash atau kartu?" tanya kasir perempuan dengan nada yang dibuat lembut dan mendayu-dayu. 


"Pakai kartu saja!" Ken mengeluarkan Black Card miliknya. 


Wanita itu tertegun. Ya Ampun... Udah ganteng, gagah kaya pula. Tapi, beli mainan sebanyak ini buat siapa? Masak anaknya? Walaupun udah punya anak atau istri, gue mau kok jadi istri keduanya. Halu wanita kasir. 


Ken yang melihat sikap kasir itu yang mulai aneh. Membuatnya mulai risih. Setelah mengambil Kartunya kembali, Ken langsung pulang dan meminta Sales yang menemaninya memilih mainan untuk membawakan mainnya ke dalam mobil. Setelah selesai memasukkan kedalam mobil,ken memberikan tips 5 lembar uang seratus ribu kepada  pria itu. 


"Terimakasih banyak tuan." 


Ken hanya membalas dengan menaikkan sudut bibirnya. 


Akhirnya mobil pun melaju menuju apartemen.


Saat ini wajah Ken terlihat begitu bahagia, setelah keluar dari toko mainan itu. Dia tidak sabar melihat wajah bahagia kean dan Lean, ketika melihat Ken membawa mainan yang banyak. Rendi yang melihat wajah bahagia Ken dari rear vision mirror ikut tersenyum sekaligus bingung. Ini adalah hal yang langka, seorang Kenzo Clarence  mau membeli mainan anak-anak sendiri. Selama ini, jika ada keponakanya yang ultah, dia akan menyuruh Rendi yang membelinya. Tapi, sekarang tidak. 


****************


Terimakasih untuk kalian yang sudah setia membaca Cerita papa bucin yang posesif. 

__ADS_1


Jangan lupa like, komen yang menarik, vote dan klik Favorit. Ditunggu part selanjutnya akan ada surprise buat kalian semua😊😊


__ADS_2