
Cahaya sinar matahari begitu terik membuat baju basah menjadi kering, terkena kulit manusia menjadi hitam, benda-benda mati menjadi panas sampai membuat orang yang berjalan di bawah bawah sinar matahari langsung harus memicingkan matanya karena terlalu silau.
Asap kendaraan berhembus bersama angin membuat polusi bertebaran kemana-mana. Hiruk pikuk suara kendaraan yang bising memekakkan telinga memberitahukan bahwa jalanan saat ini sedang macet. Sebenarnya Dira sudah lewat jalan tol, tapi tetap ada jalan umum yang harus ia lewati ketika menuju ke butik.
Karena bangunnya yang kesiangan membuat Dira sampai lupa membuka pesan Ken yang ada di handphone dan juga lupa untuk sarapan terlebih dahulu.
Bunyi handphone berbunyi membuat Dira merogoh tasnya dengan satu tangan karena tangan satunya harus memegang setir kemudi. Dira memang mengemudikan mobilnya sendiri, sedangkan Carol sudah berangkat terlebih dahulu karena dia ada urusan di sekolah Fabio International School sekalian menjemput si kembar sebelum berangkat ke butik.
Ken : Assalamualaikum … Halo Dir, Kamu dimana ? Kok belum sampai di butik, padahal mama sama anak-anak sudah sampai.
Dira : Waalaikumsalam ... Iya maaf mas, aku lagi di jalan kena macet karena bangunnya terlalu kesiangan. Jadi mungkin sedikit telat datang ke butik dari jam janjian.
Ken : Astagfirullah hal adzim … yaudah kalau gitu kamu hati-hati di jalan ya … fokus nyetirnya gak usah buru-buru kita bakalan nunggu kamu sampai datang, oke!.
Dira : Iya mas, maaf ya…
Ken : Iya gapapa, yaudah kalau gitu Mas matiin telponnya biar kamu lebih fokus nyetir.
Setelah itu panggilan telah dimatikan dan Dira kembali fokus untuk mengemudi, sedangkan Carol, Kean dan Lean yang menunggu di butik hanya bisa menghembuskan nafas panjang setelah mendengar cerita dari Ken.
Sekitar 25 menit terkena macet, Akhirnya Dira sampai di butik yang tempat mereka melakukan fitting baju pernikahan. Meskipun hanya ada acara ijab qabul dan syukuran kecil- kecilan, mereka tetap memesan baju seragam untuk acara tersebut.
Selesai memarkirkan mobilnya, Dira turun dan segera berjalan memasuki butik. Disana keluarganya sudah menunggu kehadirannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum … Maaf ya datangnya telat," ujarnya dengan menyalami Carol dan juga bunda Iriana.
Setelah Dira datang, sang designer langsung menyuruh Dira untuk masuk ke dalam ruangan untuk mencoba gaun pengantinya apakah sudah pas apa belum. Tapi tidak ada acara saling melihat saat fitting baju yang dikenakan karena agar bisa menjadi sebuah surprise di saat hari pernikahan tiba.
Selesai melakukan fitting baju pernimahan, Dira ingin mengajak Ken untuk ke makam almarhum bundanya untuk memperkenalkan Ken serta meminta doa restu. Sedangkan Carol ada arisan bersama teman-temannya, sehingga Dia pulang terlebih dahulu.
Selesai Sholat dzuhur dan. Makan siang,. Mereka melanjutkan pergi ke makam menggunakan mobil Ken, sedangkan Mobil Dira di kemudian oleh Rendi untuk diantar ke kediaman keluarga Fabio.
Perjalanan menuju makam ibundanya tercinta memakan waktu kurang lebih 30 menit saja, Sesampainya di gerbang makam mereka segera turun dari mobil, kemudian berjalan menuju tempat dimana bunda Dira di makamkan.
Sesampainya di makam Bundanya Dira sedikit terkejut karena. Melihat ada sebuah taburan bunga segar yang berada di atas gundukan itu, sepertinya ada seseorang yang barusan datang mengunjungi makam ibundanya.
Siapa yang datang? Apakah ayah?. Dira celingukan melihat ke sekeliling kuburan tapi dia tak menemukan sosok orang yang dulu ia panggil ayah.
"Aku hanya penasaran saja mas, siapa ya yang baru saja datang mengunjungi makam bunda karena bunganya masih begitu segar pasti belum lama, tapi tak ada satupun pengunjung di sini hanya ada penjaga kuburan saja."
"Apa mungkin ayah kamu yang datang?"
"Entahlah …" kemudian Dira duduk berjongkok di samping kuburan Ibundanya.
"Assalamualaikum Bun, Bunda gimana disana apa baik-baik saja. Hari ini Dira datang lagi tidak hanya bersama si kembar tapi bersama dengan calon suami Dira nanti bun."
"Assalamualaikum bun, perkenalkan saya Kenzo calon suami Dira. Maaf kalau kami baru sempat datang kesini hari ini, semoga bunda tenang di sisi Allah ya … kita di sini hanya bisa mengirimi bunda doa dan sekaligus minta doa restu kepada Bunda agar pernikahan kami berjalan dengan lancar, tanpa ada halangan apapun. Ken tidak bisa memberikan janji apapun, tapi Ken akan berusaha semampu Ken untuk bisa menyayangi, melindungi, serta membuat Dira dan anak-anak bahagia saat bersama Ken." ungkapnya dari dasar hati yang paling dalam. A
__ADS_1
"Assalamualaikum Nek, kita berdua datang lagi menjenguk nenek. Apakah nenek senang kita datang? Oh ya Nek, Akhirnya kita punya papa nek, Nenek disana pasti sudah sangat tenang kan karena sekarang sudah ada malaikat pelindung yang akan jagain kita bertiga," Ucap Kean yang di angguki oleh Lean.
Selesai menyapa bundanya mereka melanjutkan menyekar bunga yang telah mereka bawa serta membacakan yasin & tahlil di atas makam ibunda Dira tercinta. Setelah itu mereka pamit untuk pulang.
Di dalam perjalanan pulang Dira hanya diam termenung memikirkan siapa yang datang ke makam ibundanya. Meskipun Ayahnya telah mengusir dan tidak mengakui ya sebagai anak, Dira tetap masih ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Apakah baik-baik saja?
"Dir kamu kenapa? Apa masih memikirkan hal yang tadi? Apa perlu kita datang berkunjung ke rumah ayah kamu?" tanya Ken memastikan.
"Aku gapapa kok mas, lagian kita gak perlu kesana karena beliau sudah membuang aku. Aku takutnya kalau kita kesana nanti mereka akan mengusir kita atau mereka akan memanfaatkan status kamu, Aku tidak mau itu terjadi."
"Tapi bagaimanapun beliau tetap ayah kamu kan, dan juga wali nikah bagi kamu!" tungkas Ken.
" Beliau sudah gugur menjadi wali nikahku, karena sudah membuang dan mengusir ku dulu! Kita gak usah bahas itu lagi ya ... Soalnya aku takut sampai kembar bangun dan mendengar apa yang sedang kita bicarakan," cetusnya dengan melihat ke arah kedua anak kembarnya yang sudah tidur terlelap di kursi belakang.
Ken hanya bisa terdiam dan tidak membicarakan lagi, karena raut wajah Dira sudah terlihat sangat kacau. Mungkin ingatan tentang masa lalunya dulu terlintas lagi di benaknya.
Aku tidak tahu bagaimana hidupmu sebelumnya bersama keluargamu Dir, sampai orang yang pendiam seperti kamu berbicara seperti itu. Apakah mereka sudah menorehkan luka yang begitu dalam? Meskipun kamu mengatakan bahwa tidak ingin bertemu lagi, tapi dalam hati kecilmu sepertinya kamu masih peduli dengan ayahmu.
Ken terus mengemudikan mobilnya melaju menembus jalanan menuju kediaman Fabio. Sedangkan Dira membuka sedikit jendela mobil dengan memandangi Gedung-gedung tinggi yang menjulang, mobil yang berlalu lalang melewati jalan tol dengan hembusan angin mulai menerpa wajahnya lewat celah jendela mobil yang terbuka untuk menghilangkan rasa penat dalam hatinya.
Entah kenapa jika mengingat lagi kehidupannya 6 tahun lalu dapat membuat dadanya terasa sesak, hatinya terasa sakit semua potongan-potongan memori kehidupannya yang dulu … seketika muncul lagi di pelupuk matanya. Ia tidak ingin menjadi orang yang pendendam tapi dia juga gak bisa menghilangkan memori itu, karena di saat memori itu sempat hilang. dia akan tetap mengingatnya melalui mimpi buruk. Mungkin karena kehidupannya dulu memang bagaikan mimpi buruk dalam hidupnya.
...****************...
__ADS_1