
Setelah drama menangis usai, mereka semua mengambil air wudhu lalu mengirimkan doa untuk mengenang 16 tahun kepergian Dira. Suara lantunan bacaan yasin, tahlil serta doa terdengar mengisi ruangan.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 malam, tetapi semua masih terjaga dan belum ada yang mengantuk.
"Pa, bisakah ceritakan kisah tentang Mama di hari ulang tahun, Anne?" tanyanya.
"Bukankah Kamu bilang sudah tau, lalu kenapa masih meminta Papa untuk cerita sayang,"pungkasnya.
" Anne hanya Ingin mendengarkan cerita versi papa sambil mengenang Mama."
Ken menatap ke arah Kean, Lean, Lala, dan Kemal. Ia menatap mereka seakan meminta izin untuk bercerita karena cerita ini menyangkut semuanya.
" Papa boleh cerita kok, Kean juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hari itu! " paparnya karena selama ini Ken memang menyembunyikan cerita yang sebenarnya terjadi.
Ken mengambil nafas panjang, lalu menceritakan semua apa yang terjadi hari itu. Ia juga menceritakan apa pesan terakhir Dira kepadanya saat malam sesudah acara ulang tahun Anne selesai.
"Jadi, yang mencelakai Mama adalah mantan suaminya?" tanya Kean dengan tatapan penuh amarah. Ia mengepalkan kedua tangan untuk menahan emosinya saat ini, semua kisah tentang Darren masih tercetak jelas dalam ingatannya!. Ia benar-benar tidak mengira bahwa pria itu tetap saja dalang di balik semua ini.
" Pa, jasad Mama 'kan tidak di temukan. Apa ada kemungkinan bahwa Mama itu masih hidup?" tanya Anne.
Ken, Kean, Lean, Lala dan Kemal sedikit terkejut dengan pertanyaan Anne.
"Kenapa Kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Dek?" tanya Lean.
"Ya ... Anne hanya tanya saja. Siapa tahu masih ada kemungkinan kalau Mama itu ternyata masih hidup!" tandasnya.
Ken mengerutkan keningnya, dan mencoba mencerna ucapan Anne. Ia mencoba mengingat-ingat kembali apakah ada sesuatu informasi yang Ia lewatkan saat pencarian Dira di lakukan. Ketika Tim-SAR mencari mereka mengatakan sendiri bahwa tidak ada jejak yang mereka dapatkan, bahkan saat itu mereka sudah mencari di segala titik sampai memakan waktu beberapa hari.
"Pa ... kenapa Papa melamun?" tanya Anne dengan menyenggol lengan Ken.
"Oh ... Papa gapapa kok!"sahut Ken dengan sedikit gugup.
__ADS_1
Setelah itu, Ken pamit untuk masuk ke kamar terlebih dahulu, serta menasehati agar mereka segera tidur dan jangan begadang terlalu malam. Melihat sikap Ken yang sedikit aneh membuat Lean mencurigai sesuatu.
Apa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh, Papa? Batinnya.
Papa kenapa Ya ... Apa aku salah bertanya? Atau pertanyaanku membuat Papa sedih lagi sampai membuat nya segera pergi? .gumam Anne dalam hati.
Sepertinya sedang terjadi sesuatu dengan Papa! Batin Kean.
Setelah kepergian Ken, mereka menuruti perintahnya untuk segera istirahat di kamar masing-masing.
***
Jika keluarga Ken saling menguatkan satu sama lain, berbeda dengan keluarga Rian yang sedang terjadi perang dingin. Sejak masuk kembali ke kamar rawat Nathan, Nala terus saja diam tanpa kata. Kediaman Nala membuat senja merasa canggung, Ia memang sering perang dingin dengan Rian. Namun, dengan Nala tidak pernah, hanya konflik ringan yang tak menimbulkan perang dingin seperti ini.
"Nal, Kamu tidur saja sayang ... biar Papi saja yang jaga Nathan," ucap Rian agar Nala mau istirahat.
"Nala belum ngantuk kok, Pi. Kalau Papi sudah ngantuk, Papi boleh tidur duluan, sekarang biar Nala aja yang jaga." Melihat interaksi Rian dan Nala masih baik-baik saja, membuat Senja merasa seperti orang asing yang tidak dianggap keberadaannya.
Nala hanya menoleh ke arah Senja sebentar, lalu mengalihkan pandangannya lagi. Ia lagi malas berbicara dengan Senja, takut kalau emosinya kepancing lagi dan bisa membentak Senja.
" Apa begitu caramu menjawab pertanyaan Mami, Nal? Apa Kamu masih marah? Jika Mami salah, Mami minta maaf kalau bisa Kamu katakan saja dari pada diam seperti ini!" tuturnya yang memang sangat tak suka di cuekin atau diemin.
"Nala tidak marah karena Nala tidak pantas melakukannya, lalu Minta maaf juga tidak akan bisa mengembalikan waktu yang telah terjadi, kan? " pungkasnya.
Ucapan Nala seakan bagaikan tombak yang langsung menancap di hati Senja dan Rian. Entah kenapa perkataan itu sangat menusuk hati.
" Apa maksud Kamu berbicara seperti itu, Nal? "
Nala menghembuskan nafas panjang, mungkin ini saatnya untuk Ia mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatinya.
"Nala tidak pantas marah karena Nala hanya seorang anak yang semuanya masih membutuhkan Mami dan papi, kalau membentak Nala akan di cap sebagai anak durhaka kepada orang tua. Namun, apakah orang tua tidak bisa mengerti sedikit saja apa yang di butuhkan anaknya?" ucapnya.
__ADS_1
" Memangnya Mami sama Papi belum memenuhi kebutuhanmu, Nal? selama ini, Kamu tidak pernah kekurangan uang, 'kan? " jawab Senja.
Nala menyeringai." Apa Mami pikir uang saja sudah cukup! Kita juga butuh kasih sayang dan perhatian dari Kalian! Bukan hanya kebutuhan materi saja! "pekiknya.
Selama ini, Nala dan Nathan memang tidak pernah kekurangan soal materi, tetapi mereka kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya yang terlalu sibuk bekerja.
Sejak Senja naik jabatan, ketika Nala membutuhkan Senja untuk menemaninya pergi kemana. Ia selalu menjawab dengan alasan sibuk, dan menyuruhnya pergi sendiri atau pergi bersama Rian.
Tak semuanya Rian bisa handle karena Ia juga sibuk harus mengurus perusahaan ayahnya sekarang.
"Apakah kasih sayang yang kami berikan untuk Kamu masih kurang?" tanya Senja.
" Sekarang Nala tanya sama Mami dan Papi. Apa kalian tahu alasan Kak Nathan menjadi seperti ini?"
Nala menaikkan sudut bibirnya. "Dulu Nala merasa bersyukur karena masih mempunyai orang tua lengkap, tidak seperti Anne yang sudah di tinggal ibunya sejak kecil. Namun, ternyata sekarang justru Nala yang iri dengan kehidupan Anne. Meskipun Anne tidak mempunyai ibu, Ia masih selalu mendapatkan perhatian penuh dari Papa, dan kedua kakaknya. Sedangkan Nala punya kedua orang tua, tapi seperti tidak punya! "jelasnya.
" Apa maksud Kamu berkata seperti itu, Nal? " Senja mulai naik pitam serta bangun dari tempat duduknya.
" Mama pikirkan saja sendiri, toh Mama bukan anak kecil lagi, 'kan? Tentu bisa lebih paham! " cetusnya.
Saat Senja ingin menampar Nala karena perkataannya yang mulai tak sopan, Rian segera mencegahnya lalu menarik Nala untuk berada di belakangnya.
"Jangan pernah melakukan kekerasan kepada anak! Lebih baik Kamu pergi dari sini, Sen," usir Rian.
"Kenapa Papi justru mengusir Mami dan melindungi anak yang sudah tidak sopan itu!" cercanya.
"Nala bukan tidak sopan, dia hanya mengutarakan apa isi hatinya. Seharusnya Kamu itu intropeksi diri dan renungkan apa yang di katakan oleh Nala! Bukan malah seperti ini!" pungkas Rian.
Dengan perasaan yang kesal, Senja pergi keluar dari kamar Nathan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Suami dan anaknya. Dia juga ingin di mengerti bahwa pekerjaannya ini juga tidak mudah untuk di dapatkan.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya... 😊😊😊