Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Nathan Siuman (S2)


__ADS_3

Hembusan angin masuk membuat goreden di jendela menari-nari, cahaya sinar mentari juga mulai muncul lewat celah-celah jendela yang terbuka. Di atas ranjang pasien, terlihat seorang pria mulai menggerakkan jemarinya satu persatu, serta mulai mengerjapkan mata seakan menandakan bahwa Ia telah sadar dari koma.


Merasakan ada yang bergerak, Nala segera melihat apa yang telah terjadi. Dia tersenyum saat melihat Nathan yang mulai menandakan bahwa Ia telah siuman. Perlahan dua bola mata indah itu mulai terbuka untuk melihat kembali dunia ini.


"Pi ... Papi, kakak sudah siauman," teriak Nala untuk memberitahukan bahwa Nathan telah sadarkan diri.


Rian yang masih berada di dalam kamar mandi cepat-cepat menyelesaikan aktivitasnya, lalu keluar untuk segera melihat kondisi Nathan.


Ketika matanya telah terbuka, hal pertama yang Nathan lihat adalah raut wajah bahagia dari Rian dan Nala.


"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya Rian yang di jawab dengan kedipan mata oleh Nathan.


Badan Nathan masih terasa kaku, tubuhnya lemas, tenggorokannya kering sehingga belum bisa berkata apapun.


"Apa ada yang Kamu inginkan, Nath?" ucap Rian saat melihat wajah Nathan seperti sedang membutuhkan sesuatu.


"A-ir," lirih Nathan.


Rian segera mengambilkan Nathan air putih dan membantunya untuk minum. Tenggorokan yang begitu kering sekarang telah basah di siram dengan air membawa sebuah kelegaan.


Setelah itu, Nala memanggil dokter untuk mengecek kondisi Nathan saat ini. Sebenarnya dokter Nathan adalah Lean, tetapi hari ini Lean ganti shift dengan temannya sehingga dokter pengganti yang mengecek kondisi Lean.


"Gimana dok, kondisi anak Saya?" tanya Rian saat dokter selesai mengecek Nathan.


"Kondisinya sudah jauh lebih baik, tinggal masa pemulihan saja," ungkap dokter itu.


Rian dan Nala menghembuskan nafas lega ketika mendengar bahwa kondisi Nathan semakin membaik. Rian mengusap kepala Nathan dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dia merasa bersyukur karena Allah masih memberikan keselamatan bagi Nathan sehingga Ia bisa siuman dari koma.


"Makasih ya, dok," ucap Rian dan diangguki oleh dokter itu. Lalu sang dokter dan perawat keluar dari kamar Nathan.


"Papi kenapa kelihatan sedih?" lirih Nathan.


"Nggak kok, Papi bukannya sedih, tapi bahagia karena Kamu sudah siuman. Maafin Papi ya Nath, selama ini Papi kurang perhatian dan kasih sayang untuk kalian. Papi janji akan mencoba meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk kalian," papar Rian dengan tersenyum.


Nathan hanya mengedipkan matanya, lalu mengedarkan pandangan untuk mencari dimana keberadaan Senja. Namun Ia tidak menemukan sosok wanita itu ada disana, hanya ada Nala dan Papinya saja.


" Mami kemana, Pi? "tanya Nathan.


Rian dan Nala saling pandang saat mendengar Nathan mencari dimana keberadaan Senja.


" Em Mami___"

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Nathan, membuat Rian dan Nala menengok ke pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum...," salam senja yang sudah membawa beberapa kantong plastik makanan dan buah-buahan.


Saat melihat Senja datang, Rian sedikit lega karean tidak harus menjawab pertanyaan yang di lontarkan Nathan. Sedangkan Nala terlihat cuek, dan acuh taak acuh saat melihat Senja datang.


Ketika melihat raut wajah Nala, memperlihatkan bahwa Ia masih marah dengan Senja.


"Syukurlah kamu sudah siuman, Nath. Mami sudah bawa sarapan untuk kalian semua jadi di makan ya, mumpung masih hangat,"papar senja seakan tidak ada masalah apapun diantara mereka.


" Apa Mama baru datang? "tanya Nathan.


" Mama__"


"Nggak Nath, Mama tadi keluar untuk membeli sarapan untuk kita," sela Rian yang sedikit berbohong dan diangguki oeh Senja saat melihat Rian memberi kode.


Ia tidak mau sampai Nathan tahu kalau selama beberapa hari ini Senja tidak datang menjeguknya, jadi biarkan dia berbohong sedikit agar Nathan tidak terluka. Sedangkan Nala hanya terdiam saat mendengar Rian membohongi Nathan, demi Senja.


"Gimana kondisimu, Kak? Apakah ada yang terasa sakit?" tanya Nala.


"Bukan sakit sih, lebih tepatnya terasa kaku dan mati rasa," ungkap Nathan.


"Oh, mungkin itu efek dari obat bius yang masih belum hilang. Apalagi Kamu juga baru sadarkan diri" jelas Rian.


Wajah Nathan terlihat bahagia saat melihat Senja yang kembali perhatian lagi dengannya, Ia makan cukup banyak saat senja menyuapinya. Apalagi Ia memang merasa sangat lapar sekali.


***


Semalam Ken memberikan baju Dira pakaian yang masih tersimpan di dalam lemarinya, tetapi tidak mungkin Ia menyuruh Dira memakai pakaian lama itu kembali hari ini sehingga Ia menghubungi temannya yang mempunyai butik untuk mengirimkan perlengkapan wanita dewasa ke rumah.


Awalnya Sinta teman Ken terkejut saat mendengar Ken membutuhkan perlengkapan wanita dewasa karena Ia tahu kalau selama ini Ken tidak pernah lagi memesan hal itu setelah istrinya meninggal.


Sinta : Ken, apa kamu sudah menikah lagi? Kenapa Kamu tidak memberitahuku?


Ken : Bukan menikah lagi, lebih tepatnya istriku telah kembali" pungkasnya.


Sinta : What? Apa maksudmu Ken? Bukankah Dira sudah meninggal? Lalu bagaimana bisa kembali lagi?


Ken menjauhkan ponsel dari telinganya yang sudah berdengung karena mendengar teriakan dari Sinta.


Ken : Sudahlah, ceritanya panjang. Jika Kau ingin tahu datanglah kerumahku dengan membawa barang-barang yang Aku pesan.

__ADS_1


Sinta : Aish ... kebetulan Aku lagi berada di luar kota! Tapi tenang saja, aku akan menyuruh asistenku untuk menyiapkannya lalu mengirim ke rumahmu.


Ken : Baiklah, Aku tunggu! Tapi jangan lama-lama karena ingin segera di pakai.


Sinta : Kamu ini ya, kebiasaan selalu saja seperti ini! Kamu tahu ini jam berapa Ken! Kau menelpon dan membangunkan tidur nyenyak-ku! lalu minta berbagai barang Jika bukan temanku sudah ku depak kau ken!


Ken hanya tersenyum saat mendengar omelan Sinta di telepon.


Ken : Yasudah, sorry karena sudah menganggu tidur nyenyak - mu Nyonya Sinta kalau begitu kumatikan saja, biar Kamu bisa melanjutkan mimpi yang sempat tertunda.


Saat Ken ingin mematikan panggilanya.


" Tunggu! Kamu masih punya hutang penjelasan padaku! Jadi, setelah Aku pulang harus jelaskan semuanya.


Setelah itu, Sinta mematikan telepon panggilannya.


Ken hanya geleng-geleng kepala setelah mendengar ocehan Sinta di telepon.


Sekitar kurang lebih satu jam setelah pembicaraan itu, paketan dari Sinta datang. Segera Ken memberikannya kepada dira yang berada di dalam kamar Anne.


Ketika mendengar suara ketukan pintu , Dira segera berjalan untuk membukakan pintu. Di depan kamar Anne sudah terlihat Ken membawa beberapa Paper bag berisi pakaian.


"Apa ini, mas?" tanya Dira.


"Pakaian untukmu, untuk yang lainnya nanti kita belanja setelah mall buka saja ya?" pungkas Ken yang diangguki oleh Dira.


Setelah memasukkan beberapa Paper bag itu kedalam kamar Anne, Ken pamit keluar biar Dira.


Melihat begitu banyak Papaer bag berisikan pakaian lengkap, Dira hanya tersenyum.


Kenapa Kamu begitu sweet sekali mas? Bahkan Kamu masih mengingat ukuranku? Batin Dira saat melihat beberapa pakaian itu.


Bentuk tubuh Dira memang tidak jauh berbeda dari 16 tahun yang lalu sehingga Ken masih mengingat berapa saja ukuran pakaian Dira. Beberapa menit kemudian, Anne baru saja keuar dari kamar mandi.


"Itu apa ma?" tanya Anne saat melihat begitu banyak paler bag di depan Dira.


"Oh, pakaian buat Mama dari papa," jawab dira yang gantian masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah itu, Anne segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya


__ADS_2