
Andrian Prayoga atau biasa di panggil dokter James merupakan psikiater yang cukup terkenal di New York. Setelah tinggal lama di New York Andrian merasa bosan dan ingin pulang ke Indonesia. Tujuan awal Kepulanganya ke Indonesia adalah untuk bisa bertemu dengan wanita yang sudah lama ada di hatinya. Walaupun mereka sudah lama tidak bertemu, dan berkomunikasi. Tapi, entah kenapa Andrian mempunyai keyakinan bahwa wanita itu masih single. Mengingat dulu dira pernah mengatakan bahwa, dia tidak akan menikah sebelum cita-citanya tercapai menjadi seorang ahli gizi yang terbaik.Tapi, Takdir Allah tidak ada yang tahu. Manusia hanya bisa berencana, dan Allah yang memutuskan.
Panggilan Andrian ke dira, membuat semua para karyawan terkejut. Suasana di ruangan yang awalnya santai, menjadi sangat horor.
Banyak pasang mata yang memperhatikan dira dengan tatapan yang mengintimidasi. Tatapan mereka membuat dira bergidik ngeri. Perasaan ini tempat psikiater deh! Bukan kamar mayat ataupun ruang introgasi. Tapi, kenapa suasana nya terasa begitu horor dan mencengkram.
"hei... Dir, Kamu kenapa?. Kok hanya diam saja?" tanya rian.
"oh.... gapapa kok. Oh ya... Ini ada bingkisan buat kamu, sebagai tanda ucapan selamat atas pembukaan tempat praktek kamu." Dira memberikan sebuah bingkisan yang tadi sempat di ambilnya di sebuah toko, sebelum sampai ke tempat praktek Andrian.
Andrian tersenyum bahagia." kenapa repot-repot sih Dir. Kamu mau datang kesini aja aku sudah seneng banget. Tapi, makasih loh ya " ucap Andrian.
"iya sama-sama."
"yaudah.... Kalau gitu kita masuk ke ruanganku."
Dira mengikuti Andrian dari belakang. Menyadari dira yang berjalan di belakangnya membuat Andrian berhenti dan membalikkan badan.
Hal itu, seketika membuat mereka saling berhadapan. Saat ini jarak mereka begitu dekat, sampai Hembusan nafas mereka tercium satu sama lain.
"Astagfirullah hal adzim," dengan cepat dira memundurkan Langkahnya. Suasana terlihat begitu canggung, dan membuat mereka berdua salah tingkah. untung saja tidak sampai bertabrakan.
Melihat dira yang hanya terdiam rian mencairkan suasana dengan tertawa. Melihat hal itu dira mengejutkan dahinya, tidak mengerti dengan sikap rian.
"kamu kenapa tertawa rian?" Tany Dira.
" Tidak, hanya merasa cukup lucu saja!."
"Apanya yang lucu!" Dira semakin tak mengerti dengan sikap Rian.
"bukan apa-apa," Rian melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.
Setelah masuk ke ruang kerjanya, rian mempersilahkan dira untuk duduk di sofa. Dirapun mengikuti perintah Rian. Dira memperhatikan ke sekeliling ruang kerja Rian. Ruanganya Cukup besar dengan desain classik modern, tenang, santai khas ruangan seorang psikiater.
__ADS_1
" Apa yang ingin kamu minum princess?" tanya rian yang sedang membuka kulkas mini yang ada di ruangnya.
"em... Apa orange jus ada?"
Rian tersenyum, ternyata minuman favorit kamu masih sama Dir, orange jus. Dengan segera Rian membawa dua botol minuman Orange jus ke tempat dimana dira duduk.
"Terimakasih. Oh ya... Bisa tidak kamu jangan memanggilku dengan sebutan princess. Geli tau!" ucap dira ketus, yang tengah siap untuk meminum minumanya.
"Memangnya kenapa?. Bukankah bagus!" ucap rian dengan senyuman.
Perkataan itu membuat dira sedikit tersedak. Dira mengelap mulutnya dan menghela nafas panjang. "bagus apanya, norak gitu!. lagian aku tidak mau ada orang yang salah paham dengan hubungan kita, karena mendengar kamu memanggil aku dengan sebutan princess. Padahal kita hanya teman lama. "
Andrian menyeringai, ketika mendengar perkataan dira. Seperti ada desiran halus yang membuat hatinya merasa senang dan sedih bersamaan. aku justru senang, jika ada orang salah paham dengan hubungan kita. Bahkan aku ingin, itu bukan hanya salah paham. Tapi, kenyataan karena aku ingin hubungan kita tidak hanya sebatas teman lama!.
"Memangnya siapa yang akan salah paham? Pacar kamu atau suami kamu?" entah kenapa Rian bisa mengucapkan kalimat itu.
Mendengar ucapan Rian membuat dira diam sejenak. " Aku gak punya pacar, ataupun suami. aku hanya gak mau lihat para karyawan kamu, pacar kamu, atau orang lain yang salah paham. Lagian aku juga geli di panggil kayak gitu, udah gak pantes banget!."
Hati Rian begitu bahagia, ketika mendengar bahwa dira tidak mempunyai pacar ataupun suami. Berarti dia masih mempunyai kesempatan untuk bisa memiliki dira.
Seketika pertanyaan Rian membuat dira terdiam. Bibirnya terasa sulit untuk berbicara. Tapi, dira harus tetap bertanya kepada Rian, tentang penyembuhan penyakitnya. Karena saat ini, hanya Rian satu-satunya yang bisa membantunya. Dengan sekuat tenaga dira berusaha untuk membuka mulutnya untuk berbicara.
"e... I-tu, a-pa kamu bisa menyembuhkan Amnesia disosiatif?"
"Memangnya siapa yang menderita Amnesia disosiatif?."
"A-ku!"
Seketika jantung Rian terasa berhenti berdetak. Ketika mendengar bahwa gadis yang di cintainya mengalami Amnesia disosiatif. Rian menatap lekat-lekat wajah Dira, untuk memastikan bahwa apa yang di ucapkanya itu benar. Apa iya kamu memiliki trauma psikologi Dir?. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu selama beberapa tahun ini, Sampai kamu mengalami Amnesia Disosiatif!.
" kamu jangan menatap aku seperti itu, gak enak! " ucap dira dengan wajah sayu. Karena sejak tadi, rian hanya terdiam dan terus menatapnya. Dira tidak suka ada yang menatapnya dengan tatapan iba atau kasihan.
"sory dir... Aku hanya ingin memastikan saja!. Aku bisa bantu kamu untuk sembuh. Asal kamu bisa percaya sama aku, sehingga kita bisa bekerja sama."
__ADS_1
Dira terdiam, memikirkan dengan baik-baik apa yang di ucapkan oleh Rian. Dulu rian memang teman baiknya, sekaligus orang yang sangat dipercayai oleh Dira. Sampai akhirnya Rian pindah ke luar negeri, mereka sudah tidak pernah bertemu dan berkomunikasi. Sehingga membuat hubungan mereka saat ini masih terasa lebih canggung, tidak sama seperti dulu. Tapi...
" Baiklah, aku akan percaya sama kamu!" kata dira yakin.
Rian tersenyum, terlihat jelas di mata Dira bahwa dia ingin sembuh.
"Baiklah, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan dulu sama kamu. Sebagai catatan langkah apa yang harus aku ambil." Rian bangun dari tempat duduk ya, berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil buku medis dan pulpen. Setelah itu, Rian kembali duduk di Sofa.
Jujur hati dira saat ini sangat deg-deg an. Ada rasa takut juga penasaran dalam hatinya.
" bagaimana, Apa kamu sudah siap?" tanya rian yang dijawab anggukan oleh Dira.
Catatan rekam medis:
Nama : Anindira Fidelya
Ttl : Jakarta 07 juli
Diagnosis awal : amnesia disosiatif
Tindakan pengobatan : Terapi Psikoanalitik dan Psikodinamik.
Ringkasan penyakit : tidak mampu mengingat kejadian 5, dan 6 tahun lalu. Akibat trauma psikologis yang di alami 6 tahun lalu.
"Dir... Kamu yakin tidak mau melakukan terapi keluarga?" tanya rian memastikan.
"Tidak ri, keluargaku mencoba untuk menutupi semuanya."
"Apa kamu yakin, ingin mengingat memori itu?. Bagaimana kalau hal itu, adalah kejadian yang paling menyakitkan dan tidak ingin kamu ingat. Apakah kamu siap?.karena orang yang mengalami Amnesia disosiatif, dia bukanlah hilang ingatan Dir . Tapi, kamu sendiri yang ingin melupakan memori itu, sehingga menyimpan memori itu jauh di bawah alam sadar kamu! . "
#TBC
Author bukanlah orang yang bekerja dalam ilmu kedokteran ataupun psikolog. Informasi ini, author dapat dari melakukan riset. Jadi, jika ada kesalahan dalam menjelaskan tentang sebuah penyakit. Author minta maaf yang sebesar-besarnya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan klik Favorit ya. Biar Author semangat untuk up.
Sayang banyak-banyak untuk kalian dari Author💕💕