
Setelah keluar dari kamar Anne, ken memasuki kamarnya. tubuhnya melemah dan terduduk di belakang pintu. Ternyata waktu 16 tahun tidak bisa membuat Ia bisa melupakan Dira dengan mudah. Saat nama itu di sebut, seperti sebuah magnet yang mampu membuat hatinya menangis. Semua Ingatan tentang dimana Ia tidak bisa menemukan jasad Dira Kembali hadir.
16 tahun lalu.
Setelah berhasil dari badai, Ken kembali ke resort dengan penuh rasa kecewa, sedih karena belum bisa menemukan Dira. Semakin lama Dira ditemukan, maka semakin kecil peluang untuk bisa menemukan Dira dalam kondisi hidup.
Sesampainya di resort, semua orang tengah menunggu kedatangan nya dengan penuh rasa cemas.
Melihat Ken sudah kembali, Carol segera berlari menghampirinya.
“ Ken, dimana Dira? Apakah sudah ketemu?” tanya Carol sambil mencari keberadaan Dira yang tak datang bersama Ken.
“ Iya, Pa. Mama mana?” sahut Lean.
“ Apakah Mama belum ketemu?” tebak Kean yang tidak melihat keberadaan Dira.
Ken hanya terdiam membisu, Ia sudah tidak mampu lagi menjawab pertanyaan dari Carol,Kean,Lean. Ken hanya bisa menggelengkan kepala yang menunjukkan bahwa Ia belum menemukan Dira.
Tubuhnya lemas seakan tak bertenaga jika mengingat bahwa Dira jatuh dari tebing dan belum di temukan. Ditambah lagi hujan badai menerpa lautan di bawah tebing membuat Ia semakin tak tahu bagaimana caranya menjelaskan semua itu.
Saat ini yang mereka tahu bahwa Dira sedang diculik olehseseorang, bukan jatuh dari tebing. Melihat wajah kusut Ken, Carol curiga kalau ada sesuatu yang telah terjadi.
“ Ken apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan
dari kita?” ujar Carol.
Ken masih terdiam tanpa kata, dadanya teras sesak, tenggorokannya tercekat, bibirnya kelu seakan tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dikarenakan Ken hanya terdiam, Carol menghampiri Kemal yang berdiri tak jauh dari mereka.
“ Apa terjadi sesuatu Kem?” tanya Carol saat sudah
berdiri depan Kemal.
Kemal terkejut saat Carol datang menghampirinya, Ia menatap kearah Ken untuk mendapatkan izin apakah boleh Ia berkata jujur dan Ken hanya mengedipkan mata yang menandakan bahwa Kemal boleh berkata jujur.
“ Be-gini Nyonya, sebenarnya nyonya Dira ... "Kemal juga merasa tak sanggup jika harus dia yang mengatakannya.
__ADS_1
"Dira kenapa Kem?" desak Carol.
"Nyonya Dira jatuh dari atas tebing saat bertengkar dengan penculik,” jelas Kemal cepat tanpa bernafas.
Perkataan Kemal bagaikan bom yang meledak membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Kamu serius Kem?" tanya Carol lagi untuk memastikan bahwa yang Ia dengar bukanlah kebenaran.
"Serius Nyonya, bahkan kami sudah menyewa tim sar profesional untuk mencari nyonya Dira, tetapi berhubung sekarang hujan badai mereka tidak bisa melanjutkan pencarian," pungkas Kemal.
"Pa … ucapan om Kemal gak bener, kan? Jawab pa, jangan hanya diam," desak Kean dan Lean yang terus menggoyangkan tubuh Ken dan menangis.
Ken memeluk Kean dan Lean untuk menenangkan mereka berdua. genangan air mata yang sejak tadi Ia coba tahan, akhirnya jatuh membasahi pipi.
Sebenarnya Ken juga berharap bahwa kejadian hari ini adalah mimpi buruk, bukanlah sebuah kenyataan. Meskipun Kean dan Lean masih berusia 7 tahun, mereka sudah paham arti dari perkataan Kemal tadi.
Tiba-tiba Carol jatuh pingsan, dan membuat semua orang menjadi semakin panik. Kemal segera menggendong Carol untuk di bawa masuk kedalam kamar.
Seharian ini Carol memang belum makan, Ia terus berusaha menenangkan Anne yang terus menangis dan tidak mau digendong siapapun sehingga Ia kecapekan, ditambah mendengar Dira yang jatuh dari tebing membuat Carol syok dan jatuh pingsan.
***
Setelah badai usai, tim-Sar mencoba kembali mencari keberadaan Dira, tetapi tak ada jejak sedikitpun yang tersisa. Awalnya jika tidak bisa menemukan Dira dengan selamat, setidaknya bisa membawa jasad tubuhnya. Namun, tak ada yang bisa mereka temukan baik jasad maupun jejak dari Dira.
Hal itu membuat Ken sangat terpukul, Ia merasa gagal menjadi suami yang tak bisa menjaga Dira. Bahkan di saat Dira pergi, Ia tidak bisa mengkebumikan Dira dengan cara yang baik. Saat itu banyak sekali perandaian yang di harapkan oleh Ken, Ia juga pernah berharap bahw Dira masih selamat, tetapi itu adalah hal yang mustahil karena tim-Sar sudah mencari ke beberapa penjuru yang memungkinkah bisa menemukan Dira.
Tahun itu benar-benar menjadi tahun terberat bagi keluarga Fabio. Sejak Dira pergi, Kean, Lean menjadi anak pendiam dan tidak ada seberkas kebahagiaan di wajah mereka.
Anne sering sakit dan masuk ke rumah sakit, sedangkan Ken menjadi sangat kurus seperti mayat hidup yang tak mempunyai semangat untuk hidup, tetapi terus berusaha agar bisa menjadi ayah sekaligus Ibu yang baik untuk ketiga anaknya seperti pesan terakhir Dira.
Kepergian Dira memang menjadikan semuanya gelap tanpa arah. Setelah setahun kepergian Dira, mereka baru menemukan kehidupan kembali saat menemukan sebuah catatan yang tertulis dalam buku diary Dira.
Disana tertulis sebuah surat untuk Ken, Kean, Lean, Carol dan juga Anne. Surat itu ditulis seakan Dira tahu bahwa akan ada sesuatu terjadi padanya. Meskipun semangat hidup itu telah kembali lagi, tetap saja masih menyisakan luka terdalam di hati mereka semua mungkin hanya Anne yang tidak merasakannya.
Lamunan Ken buyar, ketika mendengar sebuah ketukan pintu. Ken segera mengusap Air matanya agar tidak ada yang tahu bahwa Ia habis menangis.
__ADS_1
Saat membuka pintu, ternyata Anne sudah bersiri di depan kamarnya.
"Anne, ada apa?" tanyanya.
"Bukankah sudah waktunya untuk sarapan, kenapa papa masih ada di dalam kamar? Papa habis nangis ya?" tanya Anne saat melihat mata Ken terlihat sembab.
"Enggak kok, tadi ini cuman kemasukkan debu saat papa beres-beres. Yaudah kita turun aja yuk, Kakak-kakak kamu pasti sudah menunggu," ajak Ken dengan merangkul Anne untuk turun ke lantai bawah.
Di meja makan terlihat dua pria tampan yang sudah menunggu kedatangan mereka. Anak kembar kecil itu, kini telah menjadi seorang pria dewasa dengan wajah tampan yang sudah bisa menjaga orang lain.
Kean dan Lean memang kembar, tetapi sifat mereka tetap saja tidak sama sedari kecil. Kean masih tetap seorang pria dingin, irit bicara, serta workaholic. Namun Ia masih memiliki waktu bersama keluarga dan sangat peduli dengan Anne.
Sedangkan Lean, sekarang sudah menjadi seorang dokter bedah yang handal. Ia memang tak melanjutkan menkadi dokter psikolog, lebih memilih menjadi seorang dokter bedah dan relawan karena Dia ingin mewujudkan impian Dira yang menginginkan Lean menjadi dokter bedah agar bisa lebih banyak menolong orang.
"Kenapa papa sama Anne lama sekali turunnya? Kita kan sudah menunggu dari tadi," ucap Lean saat melihat Ken dan Anne baru saja turun.
"Maaf ya, kalau kalian sudah menunggu lama. Kalau kalian buru-buru, bisa duluan aja tidak perlu menunggu." lontar Ken sambil menyeret kursi untuk duduk.
Melihat Kean yang fokus dengan ponselnya sambil makan membuat Ken geleng-geleng kepala. "Kean … dimakan dulu sarapannya, nanti baru lanjut lagi main ponselnya" tuturnya.
"Baik, Pa," jawab Kean tanpa membantah.
Mereka berempat makan bersama dengan keheningan. Setelah selesai makan, Anne menghampiri Kean.
"Kak ... hari ini Kakak yang anterin Aku ke sekolah ya ..." pinta Anne dengan mengeringkan mata.
"Em ... Baiklah," jawab Kean.
Meskipun Kean dingin, Ia tetap sayang kepada keluarganya. Sedangkan Lean setelah menyelesaikan makannya segera pamit pergi ke rumah sakit duluan karena tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit.
Begitupun dengan Kean dan Anne yang juga pamit untuk pergi. Sedangkan Ken ada urusan menemui Klien di luar.
Ken memang masih bekerja sebagai pimpinan kantor pusat PT. Fabio grup, sedangkan Kean saat ini masih menjabat sebagai direktur perusahaan keamanan PT. Fabio grup.
...****************...
__ADS_1