Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Rasa Sayang Mama Sama (S2)


__ADS_3

Ketika melihat Brian telah tertidur, Dira beranjak dari tempat duduknya untuk pergi sebentar. Ia tadi telah memesan makanan Favorit Lean, dan kebetulan ini sudah waktunya jam makan siang sehingga Ia ingin pergi menemui Lean terlebih dulu untum mengantarkan makan siang untuknya.


"Anda mau ke mana, Mrs?" Tanya Jessy ketika melihat dira ingin pergi.


Dira menghentikan langkahnya, lalu membalikkan vadan menghadap ke arah Jessy. "Saya ingin pergi keluar dulu sebentar. Jadi, tolong Kamu jaga Bri dulu ya, lagian dia juga sedang tidur," ujarnya dan di angguki oleh Jessy.


Setelah itu, Dira segera pergi keluar untuk mengambil makanan dari kurir yang terus menelfonnya sejak tadi. Ketika mengambil makanan, Dira memberikan tips serta meminta maaf karena datang terlambat untuk mengambil makanannya.


Setelah itu, Dia kembali lagi masuk ke rumah sakit. Ketika sampai di meja resepsionis, Dira menanyakan dimana ruangan istirahat DokterLean.


" Anda siapanya? " Tanya perawat itu karena tak sembarangan orang boleh ke sana.


"Saya Ibunya," jawabnya.


"Ibunya?" perawat itu mengerutkan kening. "Bukankah ibunya Dokter Lean__" Perawat wanita itu tidak melanjutkan ucapannya ketika menyadari bahwa wajah wanita yang ada di depannya saat ini begitu mirip dengan mendiang Ibu Dokter Lean. Bahkan wajahnya juga sedikit mirip dengan Dokter Lean.


Dari kecil, wajah Lean memang perpaduan antara Dira dan juga Ken, sedangkan Kean lebih condong ke Ken sampai sifat-sifatnya pun mirip.


Setelah itu, sang Perawat memberitahukan dimana ruangan Lean dengan Netra yang terus menatap Dira tanpa berkedip..


"Terimakasih." Dira melenggang pergi meninggalkan perawat wanita itu yang masih diam membeku melihat kepergiannya.


Apa dia benar ibu Dokter Lean? Tapi bukannya ibunya telah meninggal? Tapi wanita itu juga terlihat sangat mirip sekali dengan foto yang terpasang di meja Dokter Lean. Ah ... Kenapa bulu kudukku jadi merinding begini! Gumamnya. Lalu kembali melakukan pekerjaaanya.


Di rumah sakit ini, semua staff tahu kalau Ibu Lean telah meninggal dan Ia selalu memasang foto keluarga saat mereka kecil di ruangannya. Jadi, beberapa perawat akan tidak asing dengan wajah Ibu Lean.


Dira terus berjalan menelusuri koridor rumah sakit sampai kakinya terhenti di suatu ruangan yang terdapat papan nama bertuliskan ' Dokter Ahli Bedah Muhammad Leanne Ar-rayan'.


Dira tersenyum. "Jadi, itu nama lengkapmu Le?" gumamnya kemudian mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk," seru suara khas yang sangat ia kenal.


Ketika melihat Dira yang datang, Lean sedikit terkejut. "Mama," serunya.


"Kamu sudah makan, Le?" tanya Dira yang sudah memasuki ruangan Lean dengan membawa Papaer bag makanan.


"Belum sih, Ma. Ini masih mau keluar cari makan, Mama mau bareng?" tawar Lean.


Lean memang baru saja keluar dari ruang operasi, dia kembali ke ruangannya untuk mengambil dompet dan ponselnya.

__ADS_1


" Gak perlu, karena Mama sudah bawakan makan siang, kita makan bareng ya," ajak Dira dan di balas anggukanmkepala oleh Lean.


Setelah itu, Dira duduk di sofa yang ada di ruangan Lean. Kemudian, Ia mengeluarkan makanan dari dalam paper bag dan meletakkannya di atas meja.


Ketika melihat makanan yang di bawa oleh Dira adalah makanan Favoritnya, Lean tersenyum bahagia.


"Mama kok tahu kalau ini makanan Favorit, Lean?"


"Oh, ya. Kalau ini makanan Favoritmu, berarti harus makan yang banyak biar energinya banyak! Habis ini mau operasi lagi, kan?" pungkas Dira dan diangguki oleh Lean.


Dira mengusap kepala Lean dengan penuh kasih sayang. Sebelum memesan makanan, Dira memang bertanya kepada Ken terlebih dahulu. Apa makanan Favorit Lean dan beli dimana makanan itu karena dia tidak tahu tentang restoran di Indonesia. Kemudian, Ken memesankanya lewat kurir makanan.


Lean memakan makanan itu dengan lahap, entah lapar atau memang suka. Yang jelas Dira ikut bahagia ketika melihat wajah anaknya bahagia.


Dira melakukan ini. Agar Lean tak mengira bahwa Ia pilih kasih. Sebelumnya, Dira melihat wajah Lean terlihat sendu ketika Ia perhatian kepada Brian.


Ia tahu kalau Lean pasti sedang cemburu melihat mamanya jauh lebih perhatian dengan anak lain sehingga Dira berusaha untuk bersikap adil. Bagaimana juga, mereka sama-sama anaknya, meskipun beda rahim.


Lean merasa bahagia sekali bisa kembali merasakan makan siang bersama dengan mamanya, lalu Ia juga mencoba menyuapi Dira agar dia ikut makan.


Ternyata Mama juga masih menyayangiku? Mungkin tadi mama memang masih dalam kondisi khawatir, sepertinya ucapan papa ada benarnya. Aku harus bisa menerima anak itu menjadi saudaraku.


" Le," panggil Dira ketika Lean sudah berjalan melangkah pergi.


Lean menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan. "Iya, Ma. Ada apa?"


Dira berjalan menghampiri Lean, lalu memeluknya. "Maafkan Mama ya, kalau mama terlihat seperti sangat menyayangi Brian. Tapi, Kamu juga harus tahu kalau Mama juga sangat menyayangimu, Anne juga Kean. Karena kalian sama-sama anak mama," ungkapnya.


"Lean juga sangat Sayang dengan Mama," ucapnya yang kembali memeluk Dira dengan erat.


Sebenarnya Lean hanya takut saja kalau Dira melupakannya, tapi ternyata tidak. Sudah cukup 16 tahun dia kehilangan Dira, dan tidak ingin hal itu terjadi kembali.


Ketika merasa cukup, Dira melepaskan pelukannya.


"Yasudah, kalau begitu bekerjalah dengan baik. Figthing Dokter hebat Mama!" ucap Dira dengan tersenyum lebar.


Sebelum pergi, Dira mendaratkan sebuah kecupan di kening Lean terlebih dahulu, menandakan bahwa Ia memang benar-benar sangat menyayangi Lean juga.


Entah kenapa, tiba-tiba bayangan ketika Lean kecil terlintas kembali dalam ingatannya. Seakan dulu hal itu selalu Ia lakukan sebelum berpisah dengan Lean.

__ADS_1


Waktu seakan berputar kembali ke masa Lean kecil yang pergi dengan tersenyum serta melambaikan tangannya. Lalu kembali ke Lean dewasa yang juga melakukan hal yang sama seperti saat ini.


Ternyata waktu begitu cepat berlalu, Kini putra kecil Mama telah menjadi dokter hebat yang sangat tampan dan baik. Gumamnya yang masih terus menatap tubuh Lean melenggang pergi jauh.


"*Mama, Figthing! "


"I Love you ma*___"


"Lean Sayang sama Mama, jangan pernah tinggalin Lean ya,"


Ingatan kebersamaannya dengan Lean kembali terlintas, memori penuh kebahagiaan dan tawa itu perlahan mulai kembali. Dira menutup matanya, Ia. Merasa bersalah karena telah melupakan kenangan indah itu, dadanya terasa sesak ketika mengingat kembali kalau Ia telah melewati tumbuh kembang Lean.


***


Di sisi lain, Terlihat Ken dan Kean tengah makan siang bersama di ruangannya. Urusan di kantor sangat banyak sekali sampai membuat Kean tak fokus saat makan. Melihat Kean yang begitu serius saat bekerja sampai ketika makan siang pun masih sibuk mengecek leptop yang ada di meja. Membuat Ken geleng-geleng kepala.


Tingkah laku Kean, mengingatkan kembali dengan dirinya ketika masih muda yang begitu workaholic.


"Kean," panggil Ken.


"Iya, Pa. Ada apa?" Tanya Lean yang sudah mendongakkan kepalanya.


"Makan dulu, nanti baru lanjut lagi bekerjanya,"pungkas Ken.


" Oh, Iya pa." Kean menutup leptopnya, lalu kembali fokus ke makananya.


"Apa Kamu sudah memiliki kekasih?" Tanya Ken tiba-tiba.


Khuk ... Khuk ...


Kean tersedak ketika mendengar ucapan Ken, Sedangkan Ken segera memberinya air minum.


"Papa kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"Tidak apa-apa, Papa hanya khawatir saja kalau anak Papa itu___ tidak normal, " ledeknya.


Kean menautkan kedua alisnya. "Maksud Papa tidak normal?" ucap Kean yang masih belum mengerti maksud dari ucapan Ken.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2