
Tanah makam yang masih basah serta suasana masih dalam duka yang mendalam Darren harus di hadapkan dengan acara berkumpulnya keluarga besar untuk membahas tentang saham perusahaan yang menurun akibat berita yang beredar tentangnya. Sorot mata yang mereka berikan kepada Darren terlihat seperti seseorang yang sedang merasa jijik kepadanya. Hasil dari pembicaraan itu, para tetua di keluarga Maxwell sepakat bahwa Darren akan di turunkan dari jabatanya bahkan saham serta aset yang di miliki oleh Karen harus lenyap untuk menutupi kerugian perusahaan.
"Apakah Kerugian perusahaan harus aku semua yang menanggungnya?" tanya Darren yang tak mengerti dengan mereka yang tak ada rasa iba sedikitpun kepadanya. Padahal semasa Karen ataupun papanya hidup mereka sangat menghargai keluarga Darren yang merupakan keluarga dari anak yang tertua.
"Tentu saja semua kerugian perusahaan kamu yang tanggung karena kerugian ini berasal dari kamu yang sudah mencoreng nama baik keluarga Maxwell!" Cetus paman kedua.
Darren mengernyitkan bibirnya. "Ternyata selama ini kalian itu bukanlah keluarga tapi musuh yang berkedok keluarga! Dulu ketika orang tuaku masih hidup kalian begitu menghormati dan setuju dengan apapun keputusan yang mereka buat, tapi sekarang setelah mereka pergi kalian langsung membahas tentang harta padahal tanah kuburan mama saja masih basah!. Apakah ini pantas?!" teriak Darren.
" Hei Darren, kamu gak usah sok menasehati kita. Toh kamu sendiri juga bukanlah orang baik, justru orang yang begitu kotor! Bahkan aku gak sudi punya keponakan seperti kamu! " imbuh bibi ketiga.
Darren kembali tersenyum kecut ketika mendengar perkataan yang keluar dari bibi ketiganya." Baiklah aku tidak akan membahas soal ini lagi, terserah kalian saja mau kalian apakan harta itu! Aku pergi," ujarnya yang kemudian melenggang pergi dari perkumpulan orang yang maniak dengan harta.
Hari ini penderitaanya lengkap sudah, para saudara yang sejak lama ingin menyingkirkanya, akhirnya hari ini terwujud. Saat ini mereka pasti sedang yertawa bahagi karena telah bisa menendang Darren pergi dari keluarga Maxwell. Semua harta peninggalan dari pala dan mamanya habis tinggal tersisa apartemen yang ia miliki sekarang serta mobil yg ia kendarai.
Mereka memang tak pantas dianggap sebagai keluarga, lebih tepatnya adalah musuh berkedok keluarga. Disaat ada salah satu anggota keluarga yang tertimpa musibah seharusnya di bantu dan di tenangkan, justru mereka buang karena sudah tak memiliki apa-apa lagi .
Aaaaaa …. teriak Daren dengan mengacak-acak rambutnya serta mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa kehidupanku jadi seperti ini ... Ini semua gara-gara kamu Anindira. Awas saja aku akan balas semua perbuatan kamu! Jika aku menderita, aku tidak akan membiarkan kami hidup bahagia!" sumlah Darren dengan aura yang penuh kebencian kepada Dira.
......................
Di lingkungan yang terlihat sedikit kumuh, terlihat seorang wanita paruh baya sedang menjemur pakaianya di depan teras, tiba-tiba ada tetangganya datang menghampiri.
" Nik ... Niken … "panggil wanita gemuk itu kepada dengan nafas yang tersengkal-sengkal akibat berlari.
__ADS_1
" Kenapa sih teriak-teriak! " cetusnya yang merasa kesal dengan suara cempreng tetangganya itu.
" Coba deh kamu lihat, ini bukanya anak suami kamu kan? " ujar Gina dengan menyodorkan selembar koran yang baru ia baca.
Karena merasa penasaran Niken segera mengambil koran itu, lalu membacanya tulisan yang bercetak tebal pada kolom berita bisnis dengan judul Ceo muda PT Fabio grup ternyata sudah menikah dan memiliki anak.
Melihat siapa wanita yang bersanding dengan pria tampan dan juga kaya raya itu, Niken terbelalak sampai mengamati foto itu lekat-lekat.
Dira? Ini Dira bukan?. Gumamnya yang segera membaca isi berita itu dan ternyata benar wanita yang ada di dalam foto itu adalah Anindira Fidelya anak yang pernah ia buang 6 tahun lalu.
"Gimana?itu anak suami kamu kan?" tanya Gina untuk memastikan.
Bukanya menjawab pertanyaan dari Gina, ia justru menyelonong masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan kabar ini kepada anak dan suaminya.
"Eh jun … juna coba lihat," ucap Niken yang sudah menyodorkan sebuah koran di depan Arjun. "Kamu tebak ini siapa?"
"Dira!" jawab Arjuna datar.
Melihat Ekspresi juna yang biasa saja membuat Niken sedikit kesal karena dia ingin melihat ekspresi Juna terkejut atau gimana gitu. Segera ia berjalan untuk memperlihatkan ke Danang suaminya.
"Eh Yah coba lihat, Si Dira itu sekarang jadi istrinya orang kaya!" Ujar Niken antusias.
"Kenapa ibu antusias seperti itu, memangnya kenapa kalau dia istrinya orang kaya. Toh selama ini dia juga selalu jadi istri orang kaya !" sahut Juna.
"Ya kalau Dira istrinya orang kaya, kita kan bisa datang ke rumahnya untuk minta uang dan meminta rumah yang bagus untuk kita jadikan tempat," papar Niken.
__ADS_1
"Lebih baik gak usah deh buk, soalnya beberapa hari yang lalu aku sempat ketemu sama Dira dan minta uang sama dia, eh dia cuman kasih beberapa lembar uang seratusan gitu," Ujar Juna yang mengingat kembali pertemuan mereka dulu.
Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di kepalanya.
"Kapan kamu bertemu dia? Kenapa gak bilang sama ibu!" cetus Niken yang merasa kesal karena juna tak mengatakan apa-apa ketika bertemu dengan Dira.
"Sakit tau buk, ya waktu itu aku juga sudah kasih tau ibu , kalau aku habis bertemu Dira tapi tak ada yang mendengarkan."
" Kalian kenapa sih masih kepo sama kehidupan Dira, kalau dia sekarang jadi istrinya orang kaya berarti bagus. Nasibnya memang jauh lebih baik daripada kita."
" Ya kalau dia sekarang jadi istrinya orang kaya, kan kita bisa minta uang sama dia yang banyak, " cetus Niken yang tak merasa malu atau bersalah sama sedikitpun.
"Apa kamu lupa bahwa kita sudah membuangnya, dan tidak mau lagi mengakui dia sebagai anak! Lalu kenapa sekarang kamu ingin mengakuinya? " tanya Danang.
" Ya elah itu kan dulu, Dira pasti sudah lupa sama kejadian itu. Lagian masak iya dia tidak mau memberikan uang kepada ibu tirinya yang sedang kesusahan untuk mengobati ayahnya yang sakit-sakitan! " cetus Niken yang sesikit menyindir Danang sebagai orang yang membuat beban mereka menjadi jauh lebih berat di saat kondisi seperti ini.
" Kalian jangan pernah minta uang sama Dira, kita itu sudah tidak ada hubungan lagi sama dia. Lagian dia juga bukan anakku!" papar Danang.
" Lagian dia juga gak tahu kalau sebenarnya kamu itu bukan ayahnya karena dia itu bodoh dan mudah percaya dengan omongan orang lain!"
" Tetap saja kalian tidak boleh menganggu kehidupan Dira lagi! Apa kalian belum jera juga akibat perbuatan kita dulu sama Dira, kita jadi seperti ini! " bentaknya dengan memegang dadanya yang mulai terasa sakit.
Mendengar penolakan keras dari Danang membuat Niken merasa Kesal. Akhirnya dia melenggang pergi dan tidak mau memperdulikan ucapan dari Danang. Dalam pikiranya saat ini adalah dia harus membuat rencana agar bisa mendapatkan uang yang banyak dari Dira dan bisa terlepas dari kehidupan yang miskin ini. Kalau bisa dia juga ingin Dira memberikan tempat tinggal yang layak untuk mereka tempati, toh suami Dira juga oranvg yang sangat kaya raya hal seperti itu pasti sangat mudah baginya.
...****************...
__ADS_1
Ayo tebak ini akan ada teka-teki apa lagi! Kalau ada yang tahu boleh komen di bawah.
Maaf baru update karena lagi stuck ide.