Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Menggoda (S2)


__ADS_3

Waktu terus berjalan, hari semakin malam dan gelap. Rembulan malam terlihat sangat cantik dan begitu indah. Rian terus menatap langit lewat jendela kamar Nathan, di dalam ruangan terlihat Nathan telah tertidur lelap. Sedangkan Nala kembali ke rumah karena besok harus sekolah kembali, dan Senja entah pergi kemana.


Setelah berbicara dengan Nathan dan Nala, Rian berusaha menghampiri Senja untuk meminta maaf atas sikap Nala. Dia juga berencana untuk berbicara hal serius dengan senja tentang bagaimana kehidupan pernikahan mereka kedepannya.


Namun, saat Rian telah menemukan keberadaan Senja. Tanpa sengaja dia melihat Senja sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon dengan nada yang begitu manis, serta tertawa lepas.


"Sebenarnya siapa yang menghubungimu, Sen? Aku berharap dia bukanlah seorang pria, kalau tidak ... entah bagaimana nasib pernikahan kita kedepannya."


Rian membalikkan tubuhnya melihat tubuh Nathan yang sudah tidur terlelap di atas brankar.


Jika kita berpisah, bagaimana dengan nasib anak-anak? Aku tak ingin ingin menyakiti hati mereka. Melihat kita sering bertengkar saja, sudah membuat Nathan seperti ini! Apalagi jika dia mendengar bahwa mami dan papinya bercerai, bukankah akan menggoreskan luka yang lebih dalam lagi? Batin Rian yang masih menatap ke arah putranya.


Rian mengacak-acak kepalanya, dia merasa frustasi karena telah gagal dalam menjaga rumah tangga ini untuk tidak terpecah belah.


"Maafkan Papi ya Nath, kalau suatu saat tak bisa lagi memberikan keluarga yang utuh bagi kalian. Semoga firasat Papi bukanlah nyata sehingga kita masih bisa hidup bersama." Rian bermonolog.


Sebenarnya Rian tak yakin dengan firasatnya, tapi dia akan menyelidikinya lebih dalam lagi. Sebelum ada kesalahpahaman atau sebaliknya.


***


Setelah sholat isya Ken ada pekerjaan sedikit bersama Kean di ruang kerjanya. Lean ada operasi mendadak, Brian sudah kembali ke rumah sakit karena besok dia akan menjalani operasi, sedangkan Anne mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang begitu banyak.


Melihat semuanya sibuk sendiri, membuat dira sedikit bosan berada di dalam kamar. Ketika mengingat bahwa malam ini adalah malam pertama dia kembali menjadi istri Ken, membuat Dira tersipu malu.


Apalagi mengingat kembali perkataan Ken tadi siang, membuatnya mempunyai ide licik. Dira bangun dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju walk in closet.


Dira membuka lemari pakaian itu, seulas senyum muncul di bibir itu, ketika melihat apa yang di cari tergantung di dalam lemari.


"Baiklah, permainan akan di mulai, Mas!" Dira bermonolog dan di ambillah lingerie berenda warna hitam itu. Kemudian, Dira segera mengganti pakaiannya dengan menggunakan lingerie hitam berenda itu.


Selesai mengganti pakaian, Dira juga menyalakan lilin aroma terapi yang tersimpan di dalam laci. Sejak dulu, Ken memang sangat suka sekali dengan lilin aroma terapi. Dulu setiap malam, Ken akan menyalakan lilin aroma terapi agar mereka merasa rileks saat tertidur.


"Aromanya masih sama seperti dulu, tidak pernah berubah!" lirihnya saat mencium aroma dari lilin itu.


Awalnya Dira ingin membuat suasana menjadi romantis, tapi bahannya terbatas. Jadi seadanya saja, bukan hanya suasana saja yang di ubah menjadi romantic, melainkan servis memuaskan.


Tak lama kemudian, suara ketukan sendal dengan lantai terdengar mendekat.


"Sepertinya Mas Ken sudah kembali, kenapa jantungku berpacu begitu cepat? Dira ... kalian ini bukanlah anak muda, melainkan dua pasangan paruh baya yang telah berpisahselama 16 tahun, lalu bersatu kembali. Jadi, tak usah seperti anak muda yang masih malu-malu kucing" gumamnya.


Ketika membuka pintu kamar, semua lampu terlihat padam. Hanya ada cahaya lilin dengan aroma lavender yang tercium di indra pencium Ken.

__ADS_1


" Sayang ... "panggilnya seraya berjalan masuk ke dalam kamar.


Tak ada sahutan dari Dira, tetapi ada bayangan seseorang yang berjalan mendekatinya.


" Apakah itu kamu, sayang? "tanya Ken kembali.


" Apa Kamu menyukainya Mas? Dulu Kamu yang selalu menyiapkan kamar romantis untuk kita, meskipun dengan bahan seadanya. Aku berharap Kamu menyukai kejutan kecil dariku," pungkas Dira.


" Aku selalu menyukainya sayang, tapi dimana__" ucapan Ken tiba-tiba terhenti karena sesuatu yang lunak menyentuh bibirnya.


Ken tersenyum saat mengetahui siapa itu dari aroma nafasnya yang begitu dia kenal. Saat dira ingin menjauh, Ken tiba-tiba menarik pinggang istrinya dan mendekatkan pada tubuhnya.


"Karena Kamu yang memulai, maka Mas akan melanjutkannya," bisik Ken di dekat telinga Dira.


Lidah tak bertulang itu, mulai menyapu telinga Dira sampai membuat tubuhnya menggeliat sempurna. Ken tahu, titik kelemahan dira dari dulu adalah pada telinga dan lehernya.


" Mas ... Cukup! Aku hanya bercanda, " ucap Dira.


"Oh, ya? Tapi Mas tidak akan melewatkannya!" Tiba-tiba Ken sudah menggendong Dira dan membawanya ke atas ranjang.


Di turunkannya tubuh itu perlahan, ketika berada di atas ranjang penampilan Dira terlihat begitu jelas dari pancaran sinar lilin. Melihat penampilan dira yang begitu seksi, membuat Ken mengulas senyum.


"Em ... Tidak! Maksud mas apa?" elak Dira.


"Oh, ya? Tapi, melihat dari penampilanmu yang begitu seksi__" Ken mengkode matanya turun melihat ke bawah tepat pada dua gundukan yang sedikit terekspos.


"Oh ... Dari dulu, aku selalu berpakaian seperti ini ketika mau tidur!" pungkasnya.


Ken mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Dira, apalagi mengingat bahwa Dira dulu pernah menjadi istri Samuel. Membuat Ken bangun dari posisinya, hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit jika mengetahui bahwa pria lain pernah memandang tubuh seksi ini.


Melihat Wajah Ken yang terlihat kesal, membuat Dira menjadi bingung, dan dia juga ikutan bangun.


"Mas kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanyanya.


"Tidak apa-apa, Mas hanya merasa___ sudahlah, lebih baik kamu tidur." Ken berusaha pergi keluar dari kamar untuk menenangkan diri.


Namun, Dira segera mencegahnya. Dia melingkarkan tangannya di leher Ken dan menatap lekat-lekat wajah tampan itu. Meskipun cahayanya remang-remang, Dira tahu kalau suaminya saat ini tengah kesal.


"Apa yang Kamu pikirkan, Mas? Jangan berbohong padaku, Aku tahu kalau Kamu sedang tidak baik-baik saja."


"Aku hanya___ apa Samuel__"

__ADS_1


Dira tersenyum. "Tidak pernah! Karena Aku hanya berpakaian seksi di depanmu saja!" bisiknya di dekat telinga Ken. Jawaban dari Dira seakan dia tahu apa yang ingin dikatakan oleh Ken.


"Apa Kamu yakin?" Ken mencoba memastikan kembali.


"Tentu saja! Karena Aku dan dia tidur di ruangan yang terpisah," pungkasnya.


Ken kembali tersenyum saat mendengar jawaban dari Dira. Entah kenapa dada yang sebelumnya terasa sesak, tiba-tiba kembali menjadi lega. Seperti tak ada beban lagi dalam hatinya.


Entah siapa yang memulai dulu, lidah keduanya saling beradu dengan gesit. Mereka berjalan menuju ranjang tanpa melepaskan pagutan itu sedetik pun. Perpisahan yang begitu lama, membuat mereka saling meluapkan rasa rindu yang begitu dalam.


"Apakah malam aku akan sudah bisa berbuka puasa?" tanyanya dengan nafas yang tersengal.


Dira tersenyum dan menganggukkan kepala, menandakan bahwa ia setuju dengan penyataan suaminya. Entah siapa yang begitu lincah, tiba-tiba tubuh mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benang.


Pergulatan mereka begitu lancar sampai membuat Dira meloloskan des*han begitu seksi. Mendengar suara seksi dari istrinya membuat Ken menjadi lebih semangat. Bukan hanya Ken saja, sekarang Dira juga lebih handal dari sebelumnya.


Tak ada rasa malu-malu sedikitpun di antara mereka, hanya ada satu tujuan yaitu mencapai keindahan surga dunia.


"Terimakasih sayang," ucap Ken setelah mereka selesai melakukan olahraga malam yang membuat tubuh keduanya bermandikan keringat.


"Sama-sama, ternyata Kamu masih sama seperti dulu, mas!" jawabnya.


"Oh, ya? Tapi Kamu jauh lebih pintar, sayang!" puji Ken. Mendengar punian dari Ken membuat Dira tersipu malu dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Ken tersenyum dan mengecup mesra kepala istrinya itu. Dia tahu kalau saat ini Dira tengah malu, tapi dia bersyukur karena bisa tidur dengan memeluk istrinya lagi. Bukan dengan foto, ataupun kesendirian.


Semoga, ini bukanlah mimpi! Aku berharap esok masih bisa melihatmu ada di sampingku!


...****************...


Ah... Sudah ya... Jangan minta adegan seperti ini lagi.


Jujur, author sangat sulit mengolah kata adegan seperti ini. Semoga kalian suka, dan Maaf kalau kalian kurang puas atau bagaimana. Karena pada dasarnya ini adalah pr yang cukup sulit untuk Author.


Pikirannya jangan traveling, ok! Maafkan baru bisa up karena banyak kesibukan di dunia nyata.


Salam sayang buat kalian semua, semoga sehat selaluπŸ™πŸ™πŸ™


Oh ya, kalau ada salah kata di maafkan. Buang yang buruk, ambil yang baiknya. Ok!


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya yang banyak ya... 😁

__ADS_1


__ADS_2