Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Keluarga yang utuh (End)


__ADS_3

Kean menghembuskan nafas panjang, serta sedikit melonggarkan dasinya. Ia pejamkan matanya, lalu duduk bersandar di kursinya dengan tangan di atas dada.


Mulai besok, dia harus bekerja dengan gadis ceroboh itu. Sungguh hal yang pastinya akan melelahkan, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar kembali.


"Masuk."


Pintu terbuka, memperlihatkan Aksa yang datang dengan membawa kantong makan siang.


"Boss," panggil aksa ketika melihat Kean tak bereaksi.


"Ada apa?" tanya Kean tanpa membalikkan kursinya.


"Ada makanan dari Ibu anda," pungkas Aksa.


Kean langsung membuka mata dan memutar kursinya menghadap ke arah Aksa.


"Apakah Mama datang ke sini?" tanya Kean antusias.


"Tidak, Kurir yang mengantarkannya." Aksa segera meletakkan makanan itu di meja.


Dan bunyi notifikasi pesan masuk ke ponsel Kean.


Mama : Selamat makan siang putra tampan Mama, jangan lupa segera di makan. Maaf hanya bisa mengirimkan makanan lewat kurir, lain kali Mama akan mengantarkannya sendiri. Semangat bekerja, Sayang.


Aksa merasa bingung ketika melihat Kean tersenyum sendiri ketika melihat layar ponsel. Hal yang aneh dan belum pernah Aksa lihat selama ini.


Siapa yang mengirim pesan sampai membuat bos tersenyum seperti itu? Apakah bos sudah punya kekasih? batin Aksa.


Selesai membalas pesan dari Dira, Kean segera bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju sofa untuk memakan makan siang dari sang Mama.


Ketika melihat ada dua kotak makan, Kean mengerutkan keningnya.


"Kenapa ada dua? Apa yang satunya untuk papa?" gumamnya yang masih terdengar oleh Aksa.


" Kata Asisten Nino, itu untuk anda boss. Pak Ken sudah mendapatkan makananya sendiri," ujar Aksa.


"Oh ya? Kalau begitu, untuk Kamu saja satunya karena saya tidak akan habis makan dua porsir." Kean menyodorkan satu kotak lagi untuk Aksa. Dia tahu kalau Mamanya memang selalu membeli lebih agar bisa di bagi dengan orang lain.


"Terimakasih boss," ucapnya. Setelah itu, Aksa keluar dari ruangan Kean.


***


Hari semakin sore, Dira masih siaga menemani Jessy untuk menjaga Brian. Tiba-tiba Lean datang menghampiri.


"Mama mau pulang atau masih di sini?" tanya Lean.

__ADS_1


"Mrs, lebih baik Anda pulang saja. Biar Saya yang menjaga Bri, lagipula Bri juga belum sadarkan diri," ujar Jessy.


"Em ... Apakah tidak apa-apa?" tanya Dira yang sedikit tak enak jika meninggalkan Jessy sendiri.


"No problem, sekarang Anda juga punya keluarga sendiri. Jadi, tak enak kalau Anda terlalu perhatian dengan Brian di bandingkan dengan mereka. Lagipula nanti kalau Brian sadar, saya akan menghubungi Anda."


Apa yang di katakan Jessy benar, Dira memang mempunyai keluarga yang juga membutuhkannya.


" Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu hubungi saya saja, besok pagi saya akan datang lagi," ujar Dira yang di angguki oleh Jessy.


Setelah itu, Dira bangkit dari duduknya dan pulang bersama dengan Lean. Lean menyodorkan lengan agar Dira menggandengnya. Dira tersenyum dan menggandeng lengan putranya itu.


Banyak sorot mata yang memandang ke arah Ibu dan anak yang begitu sweet itu, awalnya Dira merasa malu dan ingin melepaskan tangannya. Tapi, Lean melarangnya.


"Le, apakah Kamu tak malu di pandang oleh orang-orang?" lirih Dira.


"Tidak, buat apa Lean malu menggandeng Mama sendiri. Toh biar mereka tahu kalau ini adalah Mama Lean."


"Iya kalau mereka berpikir Mama ini mamamu, kalau yang lain, gimana?" goda Dira.


"Masa bodoh, masak mereka tidak bisa melihat kemiripan kita, sih?" jawab Lean santai.


Mereka berdua tetap berjalan bersama menuju parkiran tanpa menghiraukan tatapan dari orang sekitar.


"Selamat masuk, Ibunda ratu," ucapnya seraya membuka pintu mobil.


Setelah memastikan Dira masuk dengan aman, Lean segera mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi. Sabuk pengaman telah terpasang, waktunya mobil melaju menembus jalanan kota Jakarta menuju kediaman Fabio.


Di dalam mobil, Kean dan Lean terus bercanda tanpa henti. Lean benar-benar jago bercanda daripada Kean yang super irit bicara.


"Mama mau mampir ke suatu tempat dulu?" tawar Lean.


"Em ... Kamu mau di masakin makan malam apa sama Mama?" tawarnya.


"Em ... Apa saja boleh, asalkan masakan Mama Lean suka semua, dan sangat rindu ingin mencicipinya," jawab Lean.


"Dasar, pandai sekali kalau bicara. Mama sangat bersyukur Kalian bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan hebat."


Lean tersenyum. "Lean lebih bersyukur lagi karena Allah masih masih melindungi Mama dan mengizinkan Lean bisa berkumpul bersama dengan Mama lagi, I Love you Ma. You are everything in my life." Lean mencium tangan Dira.


"Love you more sayang."


Melihat lampu hijau telah menyala, Lean kembali menginjak pedal gas. Kehadiran Dira kembali memang sesuatu yang sangat berharga bagi Lean dan semuanya.


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di kediaman Fabio. Kedatangan Dira sudah di sambut oleh Anne. Saat Dira mengatakan bahwa Dia pulang bersama Lean, Anne seketika bahagia dan menunggu kedatangannya.

__ADS_1


"Mama ..." seru Anne yang menghambur memeluk Dira. Padahal mereka hanya berpisah beberapa jam, tapi seakan telah berpisah beberapa lama.


Anne memang terlihat sangat manja sekali, dia selalu lengket pada Dira sejak tahu kalau Dira adalah mamanya. Mungkin karena lama tak hidup bersama Dira, membuat Anne terus menempel kepada mamanya.


"Bagaimana operasinya? Apakah Kak Brian sudah sadar?" tanya Anne.


"Alhamdulillah berjalan lancar, tapi Kak Brian belum sadar. Kamu doakan saja ya," ujar Dira dan di angguki oleh Anne.


Setelah itu, mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


***


Di sisi lain, terlihat sepasang suami istri yang baru saja berbaikan sedang duduk santai bersama keluarga sambil menonton tv. Sungguh pemandangan yang jarang sekali di lihat sejak beberapa tahun terakhir, tapi kini bisa terjadi lagi.


"Kak ... Itu kan camilan Nala ... Kok di ambil semua sih!" gerutu Nala dengan berkacak pinggang serta wajah cemberut.


"Sudah, Kaka juga mau! Kalau Kamu ngemil terus, nanti makin gemuk kayak kingkong betina, gimana?" ledek Nathan.


"Mi, Pi, kak Nathan masak ngejek Nala kayak kingkong betina sih ..." adu Nala kepada Rian dan senja yang duduk tak jauh darinya.


"Nathan, masak adiknya cantik gini di ejek kingkong betina sih!"bela Senja sambil mengusap puncak kepala Nala.


Nala merasa bahagia di bela oleh Senja.


"Lagian kalian tuh udah besar, hanya gara-gara snack aja pakai rebutan. Makan bareng-bareng kan enak, " ujar Rian.


" Nathan kan hanya mau nasehatin Nala aja Mi, Pi. Lagian Nala udah bertambah berat badannya, nanti kalau masih ngemil terus bisa-bisa jadi kingkong betina beneran loh!" Nathan tak mau kalah argumen, membuat Nala semakin merasa kesal dan ingin merebut snack di tangan Nathan.


Namun, Ia tak bisa mengambilnya, padahal Nathan masih duduk di kursi roda, tapi Nala tak bisa mengalahkan kecepatan tangan Nathan yang berkelok-kelok.


Rian dan Senja hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat aksi kedua anak kembarnya itu. Sudah lama sekali, rumah ini tak ada canda tawa seperti ini.


"Makasih sayang, Papi tahu ini bukanlah sesuatu yang mudah bagimu, tapi Kamu rela melepaskan semuanya demi kita, ucap Rian seraya mencium tangan Senja.


" Sama-sama, Aku juga ikut bahagia kok ketika melihat keluarga kita bisa kembali seperti sedia kala. "Senja kembali memeluk tubuh Rian, dan kecupan hangat mendarat di keningnya.


...****************...


Halo para readers kesayangan author. Kalau ada yang tanya kenapa kok udah tamat thor... Karena udah habis cerita papa bucinnya, udah bahagia semuanya. Untuk cerita Kean, dinda Dan Lean. Ada di novel baru, kalian bisa mampir dan klik Favorit dulu di sana biar tahu kalau novelnya up oke 👌👌👌


Jangan lupa. Like, komen, vote dan beri hadiah ya... Babnya sudah banyak kok.


Ini judul novelnya


__ADS_1


Di sini akan menceritakan kisah Kean dan Lean dalam menemukan partner hidup terbaiknya


__ADS_2