
Setelah sarapan pagi bersama, Kean segera pamit berangkat ke kantor, begitupun dengan Ken. Sedangkan Dira akan mengantar Anne terlebih dahulu, sebelum berangkat ke rumah sakit.
"Anne masuk ke kelas dulu ya, Ma." Anne mencium tangan Dira
"Iya, semangat belajarnya putri Mama." Dira mencium kening Anne.
Anne turun dari mobil, lalu melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kepada mamanya. Raut bahagia terlihat jelas di wajah cantiknya, dia sangat bahagia karena sekarang sudah memiliki mama kembali.
Setelah melihat Anne masuk ke sekolahnya, supir segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Dira pergi ke ruangan Lean terlebih dahulu untuk membawakan bekal makanan untuknya.
Mendengar suara ketukan pintu, Lean segera berdiri untuk membukakan pintu.
"Mama," serunya ketika melihat Dira datang dengan membawa dua tas bekal.
"Mama bawakan sarapan untukmu." Dira segera meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja.
"Thanks, Ma." Lean bergayut pada tubuh Dira. Lean terlihat seperti anak kecil yang sangat manja kepada ibunya. Tak akan ada yang mengira bahwa seorang Dokter Lean yang biasanya selalu bersikap tegas dan bercanda jika di butuhkan, ternyata bisa bermanja-manja seperti ini.
"Ada apa sayang? Kenapa Kamu terlihat seperti seorang anak kecil hari ini?" tanya Dira.
"Tidak ada, Lean hanya ingin mengisi energi dengan bermanja kepada Mama saja. Apakah tidak boleh?"
Dira tersenyum sambil mengelus puncak kepala anaknya yang kini telah tumbuh dewasa.
"Tentu saja boleh, tapi apakah Kamu tidak akan malu jika ada yang melihat?" godanya.
"Tidak akan ada yang ke__" belum selesai berbicara sudah ada yang mengetuk pintunya. Tiba-tiba Lean berubah posisi seperti biasanya.
"Masuk," suara tegasnya kembali.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang asistennya datang. Lean menghembuskan nafasnya kesal ketika melihat Farza datang di waktu tidak tepat.
"Maaf Dok, apakah saya mengganggu anda?" tanyanya yang sedikit takut saat melihat tatapan Lean yang tak biasa.
"Tidak apa-apa, apa Kamu ada urusan dengan Dokter Lean?" tanya Dira.
"Oh, Saya hanya ingin memberikan dokumen pasien Dokter Lean saja," pungkasnya.
"Kamu taruh di meja saja, lalu segera pergi."
Melihat Lean bersikap begitu ketus membuat Dira menatapnya lekat-lekat dengan raut wajah yang tak suka. Tidak seperti biasanya Lean bersikap seperti ini.
Farza yang tahu bahwa kedatangannya tak di sukai, membuatnya cepat-cepat meletakkan domumen itu.
" Terimakasih ya, maafkan sikap anak saya kalau dia sedikit ketus," ucap Dira sebelum Farza pergi.
"Eh, tidak apa-apa Bu," jawab Farza.
Sedangkan Lean mengerutkan keningnya ketika melihat Dira meminta maaf kepada Farza.
__ADS_1
"Mama kenapa meminta maaf?" tanya Lean ketika Farza telah pergi.
Dira geleng-geleng kepala, lalu mengajak putranya itu untuk duduk di sofa.
"Kamu yakin tidak tahu kenapa Mama meminta maaf?" Dira menatap wajah putranya lekat-lekat.
Melihat tatapan Dira yang seperti ini membuat Lean tahu jawabannya, dia memang terlihat sedikit ketus tadi, tapi dia seperti itu karena merasa kesal telah di ganggu.
" Lean tahu, tapi__"
"Mama tidak suka melihat putra mama bersikap seperti itu hanya gara-gara hal sepele. Ingat Kamu di sini adalah seorang dokter jadi harus bersikap layaknya dokter yang baik, bukan seperti tadi," sela Dira sebelum Lean menyelesaikan ucapannya.
Lean hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Lean meminta untuk di suapi oleh dira. Entah kenapa hari ini Lean ingin bermanja sebentar saja dengan Dira sebelum dia mengoperasi Brian. Mungkin karena masih terlalu kecil Dira pergi meninggalkannya, sehingga membuat dia ingin bermanja seperti ini ketika sudah dewasa.
***
Selesai sarapan, Dira dan Lean pergi bersama menuju ruangan Brian.
"Bagaimana kondisimu, Bri?" tanya Lean ketika sudah berada di dalam kamar Brian.
"Baik, apakah operasi akan segera di lakukan?" tanya Bri yang di angguki oleh Lean.
"Rileks saja, jangan tegang."
Tak lama kemudian, datanglah beberapa perawat yang akan membantu membawa Brian ke ruangan operasi.
"Bri, yakinlah bahwa Kamu pasti akan sembuh. Jadi, bekerjasamalah dengan kak Lean, ya."
Brian mengedipkan matanya, menandakan bahwa dia menyutujui ucapan Dira.
"Le, Mama percaya Kamu pasti bisa. Semangat sayang," ucap Dira.
"Mama tenang saja, serahkan semuanya sama Allah. In sha Allah jika Allah menghendaki semuanya akan berjalan dengan lancar."
Setelah itu, Brian di bawa masuk kedalam ruang operasi. Sebelum menjalankan operasinya, Lean berdoa terlebih dahulu agar di beri kemudahan. Selesai suntikan anestesi di berikan, kesadaran Brian mulai menghilang, dan operasi segera di mulai.
Di luar ruangan operasi terlihat Dira dan Jessy duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas. Dira terus memanjatkan doa agar Lean di berikan kelancaran, serta Bri bisa selamat dan sembuh dari penyakitnya.
Dentuman jarum jam terus berputar, sampai tak terasa dua jam telah berlalu. Lampu operasi juga telah padam. Menandakan bahwa operasi telah selesai.
Benar saja, tak lama kemudian terlihat Lean keluar dari ruangan operasi.
"Le, bagaimana operasinya?" seru Dira dan Jessy.
"Alhamdulillah berjalan dengan lancar," pungkasnya.
Dira langsung memeluk Lean erat, dia berkali-kali mengucapkan rasa terimakasih kepada Allah swt dan juga Lean.
"Terimakasih sayang," ucap Dira yang kembali memeluk Lean erat.
__ADS_1
"Sama-sama."
"Thank you very much Dokter Lean," ucap Jessy yang di jawab sebuah anggukan oleh Lean.
Setelah itu, beberapa tim medis juga ikut keluar, Dira dan Jessy juga memberikan ucapan terimakasih yang banyak kepada mereka semua. Sedangkan Brian masih berada di dalam ruangan observasi pasca operasi.
***
Di sisi lain, terlihat Senja pulang ke rumah dengan membawa barang-barangnya.
"Kenapa Kamu membawa begitu banyak barang ke rumah, Sen?" tanya Rian.
"Aku sudah Resign dari pekerjaanku," pungkas Senja.
Mendengar hal itu, Rian tersenyum lalu memeluk Senja dengan erat.
"Terimakasih banyak sayang," ucap Rian yang semakin mempererat pelukannya.
Meskipun terasa berat untuk melepaskannya, ketika mendengar ucapan terimakasih dan pelukan hangat yang sudah lama tak dia terima. Membuat Senja merasa bahagia, kesedihannya tiba-tiba menghilang. Mungkin memang sudah saatnya buat Senja melepaskan semuanya demi keluarganya.
Selama beberapa hari ini, Senja telah berpikir banyak hal. Sampai dia memutuskan untuk resign dari pekerjaanya. Meskipun banyak yang menyayangkan, tekad Senja sudah bulat. Dia tak ingin rumah tangganya hancur hanya demi mempertahankan pekerjaan ini.
"Sekali lagi, Papi berterimakasih karena Kamu mau resign," ucap Rian dengan tulus.
Senja tersenyum ketika tatapan cinta dari suaminya telah kembali seperti dulu lagi.
"Papi tidak perlu berterimakasih karena il ini sudah seharusnya Mami lakukan."
Setelah itu, entah siapa yang memulai. Mereka saling bercumbu, melepaskan rasa rindu yang ada di hati.
Selesai bersiap-siap Senja dan Rian pergi ke rumah sakit bersama untuk menjemput Nathan dan Nala. Hari ini, Nathan sudah di perbolehkan untuk pulang.
Sesampainya di rumah sakit, mereka berjalan bersama saling bergandengan tangan. Sudah lama sekali itu tak terjadi di antara mereka.
Saat melihat Senja dan Rian datang bersama dengan bergandengan tangan, membuat Nala dan Nathan sedikit terkejut.
"Papa, Mama, tumben berangkat ke rumah sakit bersama. Apa Mama tidak kerja?" tanya Nala.
"Mama__ sudah Resign," pungkasnya.
"Mama serius?" tanya Nathan antusias.
Senja menganggukkan kepala, tiba-tiba senyuman manis terulas di wajah Nala. Dia segera memeluk Senja, sedangkan Nathan hanya bisa duduk di atas ranjang karena kakinya belum pulih seperti semula, tetapi aira kebahagiaan tercetak jelas di wajahnya.
Ternyata kebahagiaanku ada pada keluargaku! Buktinya aku tak terlalu merasa sedih lagi, ketika melihat raut bahagia tercetak jelas di wajah suami, dan juga kedua anakku. Mungkin kodratku sebagai seorang Ibu memang seharusnya mengurus keluarganya, bukan sibuk bekerja di luar sampai melupakan kewajibanku yang sebenarnya.
...****************...
Maaf ya kalau author lama tidak up. Bukan maksudnya menghilang, tapi sudah tiga hari mata author sakit ketika menatap layar ponsel lama-lama. Jadi, rehat sejenak untuk menulis. Jika sudah benar-benar sembuh, author akan kembali rajin up seperti biasanya.
Jadi, jangan lupa like, komen, vote dan hadiah ya...
__ADS_1