Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Hukuman! (S2)


__ADS_3

Suara tembakan dua kali membuat darah segar mengucur dengan derasanya. Ken dan Dira saling mencoba untuk menyelamatkan satu sama lain.


Dira mencoba melindungi Ken karena dia masih memakai pelindung anti peluru di badan dan kepala. Begitupun dengan Ken menyelamatkan Dira karena tidak ingin melihat istrinya terluka lagi.


Ketika merasakan tidak terjadi apa-apa dengannya, Dira mencoba membuka mata untuk melihat siqpa yang tertembak.


"Mas gapapa?" tanya Dira dengan wajah cemas saat melihat ternyata Ken berada di depannya untuk melindunginya.


"Sepertinya tidak apa-apa," jawab Ken ketika Ia memang juga tidak merasakan ada sebuah peluru menancap pada tubuhnya.


"Lalu ... siapa yang tertembak?" tanya Dira dan segera menoleh melihat ke arah Samuel.


Dan benar saja, ternyata Kaki dan tangan Samuel yang tertembak. Dira dan Ken terkejut saat melihat Kean datang dengan membawa pistol berjalan mendekati Samuel.


Tidak mungkin Kean yang menembak Samuel, kan? Batin Ken yang masih belum percaya jika yang menembak Samuel adalah Kean putranya.


Meskipun sifat Kean terlihat mirip dengannya, dia masih punya pedoman agama yang kuat. Jadi, sulit di percaya kalau Kean mau mencelakai orang lain.


Para anak buah Kean segera mengambil senjata Samuel, lalu memborgol tangan Sam agar tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


"Bagaimana Mr. Samuel? Apakah sakit?" tanya Kean saat melihat wajah Samuel seperti menahan rasa sakit karena kaki dan tangannya yang terus mengeluarkan darah akibat luka tembakan dari Kean.


Penembak Samuel memang adalah Kean, ia terpaksa melakukan hal itu agar Samuel tidak menembak Ken dan Dira. Namun, Kean masih main aman sehingga hanya menembak tangan samuel agar melepaskan pistol yang ada di tangannya, lalu menembak betisnya untuk melumpuhkan tubuh Samuel.


"Ternyata Kamu bisa melukai orang juga!" ucap Samuel dengan seringai tipis di bibirnya. Awalnya Samuel tidak pernah menyangka bahwa anak muda yang Ia ancam, ternyata bisa berbuat kejam seperti ini.


Kean menaikkan sudut bibirnya. "Bukankah saya sudah memberikan peringatan kepada Anda sebelumnya. Jangan pernah menyakiti keluargaku karena Saya tidak akan segan-segan melukai anda juga," pungkasnya.


Samuel tersenyum." Tapi ingat anak muda, sekali kamu bisa melukai seseorang, maka Kamu akan haus akan hal itu,"ungkap Sam.


Kean menyeringai." Aku bukanlah dirimu, Aku hanya akan melukai orang yang berani menyakiti keluargaku saja! Dan ingat, jika Saya tahu Anda berulah lagi, saya tidak akan segan-segan menghancurkan anda sekaligus mengungkap semua kelicikan dan rahasia bisnis gelap anda!" ancam Kean dengan wajah yang serius menandakan bahwa Ia tidak main-main dengan ucapannya.

__ADS_1


Kean memang mempunyai semua data kejahatan Samuel yang kapan saja bisa Ia keluarkan, jika data itu Kean keluarkan Samuel dan perusahaanya bisa mengalami kebangkrutan.


Setelah itu, Kean menyuruh anak buahnya untuk membawa Samuel pergi, dan membuatnya masuk daftar hitam orang yang tidak bisa lagi masuk ke negara ini.


Kean semakin mempercepat langkahnya, lalu menghambur memeluk Dira dengan erat. Ia merasa bersyukur dan lega sekali karena masih bisa menyelamatkan Dira dan Ken tepat waktu sehingga tidak ada yang terluka. Begitupun dengan Ken yang ikut memeluk Kean, dia tidak menyangka bahwa Lean mirip sekali dengan dirinya dulu. Dia bisa menjadi orang yang baik, tetapi bisa bersikap kejam juga.


Setelah itu, mereka semua pergi dari kawasan bandara menuju kediaman fabio. Hanya ada Keheningan yang tercipta di antara mereka, Ken masih terus menatap Kean karena Ia mempunyai banyak sekali pertanyaan untuk Kean.


Kenapa suasananya jadi canggung seperti ini? Batin Dira saat melihat tak ada sedikitpun pembicaraan di antara mereka bertiga.


Tak lama kemudian, mereka sampai juga di kediaman keluarga Fabio. Ketika mendengar suara mobil, Lean segera berlari keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang.


Melihat Dira dan Kean pulang dengan selamat, membuat Lean berhambur memeluk Dira.


"Alhamdulillah, Mama selamat. Maafin Lean karena gak bisa datang menyelamatkan Mama, tapi Mama gak kenapa-kenapa, kan?" tanya Lean yang seketika mengecek tubuh dira yang utuh tanpa luka sedikitpun.


Dira mengehentikan aksi memeriksa Lean. "Sudah, mama gapapa. Kamu baru bangun tidur?" tanya Dira yang melihat wajah acak-acakkan Lean.


Lean menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menganggukkan kepala. Ia malu karena ketahuan kalau baru saja bangun tidur sampai tidak mendengar alarm bahayanya berbunyi.


"Kakak!" teriak Lean dengan wajah kesal karena di ejek tukang tidur, tapi memang benar jug. Melihat raut wajah Kean yang tidak biasa membuat Lean mengerutkan kening.


"Ma, Kakak kenapa wajahnya seperti suram begitu!" tanya Lean.


"Hush, gak boleh bilang gitu sama kakakmu!" tutur Dira.


"Papa gak kenapa-kenapa juga, kan?" tanya Lean yang sedikit lupa kalau ada Ken juga.


"Kami semua selamat, dan yang menyelamatkan adalah kakakmu!"ungkap Ken.


Lean membola sempurna saat mendengar ucapan Ken yang mengatakan bahwa Kean-lah yang menyelamatkan mereka.

__ADS_1


Jika kakak yang menyelamatkan papa dan Mama tanpa ada luka sedikitpun, lalu kenapa wajahnya terlihat begitu murung? Apa ada sesuatu yang telah terjadi? Batin Lean.


Setelah itu, Ken, Dira dan Lean masuk kedalam rumah. Begitu masuk kedalam rumah, Ken berjalan menuju kamar Kean untuk melihat kondisi anaknya itu. Ken tahu kalau saat ini Kean sedang tidak baik-baik saja.


"Kean, boleh Papa masuk?" tanya Ken yang sudah berdiri di depan pintu kamar Kean.


Meskipun tidak menjawab apapun, Kean tetap membukakan pintu.


"Silahkan masuk, pa," ujarnya yang sudah membuka lebar pintu kamarnya.


Ken tersenyum, lalu masuk kedalam kamar Kean. Raut wajah Kean terlihat seperti suntuk sekali, sepertinya ada rasa bersalah dalam dirinya.


"Kamu kenapa, Ke?" tanya Ken setelah duduk di sofa kamar Kean.


"Kean gapapa kok, Pa. Memangnya ada apa?" tanya Kean yang mencoba menutupi perasaannya saat ini.


"Kamu tidak perlu berbohong, papa tahu orang seperti apa kamu. Jadi, aneh sekali melihat kamu bisa menembak seseorang seperti tadi," ujar Ken.


Ken memang tahu kalau Kean jago menembak, tetapi itu hanya Ia lakukan di tempat bermain ketika ingin meluapkan amarah. Namun, Ken tidak tahu kalau Kean mempunyai pistol pribadi dan bisa menembak manusia.


Kean hanya terdiam tidak sambil menelungkupkan kedua tangan di wajahnya.


"Kamu punya rasa bersalah, kan? Karena ini adalah pertama kalinya Kamu menembak seseorang sampai terluka seperti itu."


" Kean hanya takut kalau Kean nantinya tidak bisa menahan diri dan mengulangi hal ini lagi seperti ucapan Samuel," ungkapnya.


Ken menepuk pundak Kean dan tersenyum saat mendengar jawaban Kean. Sikap Kean menandakan bahwa Ia tidak suka melakukan hal ini, tetapi keadaan yang memaksanya demi menyelamatkan orang tuanya.


" Asalkan kamu yakin kalau kamu bukanlah orang yang seperti samuel dikatakan, maka itu tidak akan terjadi."


Kean menatap Ken dengan sendu. "Kalau menurut papa ..."

__ADS_1


"Menurut papa kamu bukanlah orang seperti itu, karena Kamu adalah anak papa yang baik. Kean bukanlah orang yang bisa melukai orang lain tanpa sebab. Buktinya kamu masih main aman, kan?" tutur Ken dan di jawab sebuah anggukan oleh Kean.


"Jika kamu orang yang kejam, kamu pasti sudah membunuh Samuel dengan pistolmu!" jelasnya.


__ADS_2