Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif

Anak Genius : Papa Bucin Yang Posesif
Liburan


__ADS_3

Besok sekolah  Kean dan Lean Libur, Dira berencana untuk mengajak mereka berlibur ke panti asuhan selama dua hari. 


Dira juga sudah menyiapkan perlengkapan yang akan dibawanya seperti pakaian, peralatan mandi, tenda, serta peralatan kemah yang lainya. Karena mereka akan melakukan kemah bersama anak panti di danau yang tidak jauh dari panti asuhan.


"Kean, Lean apa kalian sudah siap?" tanya Dira di depan pintu kamar Kean dan Lean. 


"Iya ma, sebentar lagi" teriak Lean dalam kamar. 


Selesai membereskan pakaian yang akan mereka bawa, Kean dan Lean keluar dari kamar. 


"Ayo ma" ajak Kean yang sudah memakai tas ranselnya. 


"Wah… anak-anak mama memang pintar, sudah bisa beresin baju-bajunya sendiri. Sudah tidak ada yang ketinggalan?" 


"Tidak ma!" Seru mereka bersama. 


Sejak kemarin Lean sudah sangat antusias sekali, saat Dira mengatakan bahwa ingin membawa mereka berlibur ke panti asuhan dan berkemah di dekat danau juga. Lean sangat suka bertemu dengan banyak teman, apalagi berkemah. 


Begitupun dengan Kean, meskipun dia tipe anak yang cuek, dan irit bicara. Entah kenapa jika bertemu dengan anak-anak panti, dia jadi anak yang tidak terlalu irit bicara. Mungkin  dia merasa nyaman ketika bermain dengan anak-anak panti, karena  Mereka lebih asyik diajak bermain,  tanpa banyak yang bertanya tentang ayahnya. 


Dira  Terus mengemudikan mobilnya melaju di jalanan yang tidak terlalu macet.  Dalam perjalanan menuju panti asuhan, Dira berhenti dulu untuk membeli beberapa makanan enak ayang akan dia bawakan untuk anak-anak panti. Selesai  membeli makanan, Dira kembali mengemudikan mobilnya menuju panti asuhan. 


Sekitar satu jam perjalanan, mereka sampai juga di panti asuhan Pelita Bunda. 


Anak panti yang sedang asyik bermain, ketika melihat kedatangan Dira langsung berlari menghampirinya.


"Assalamualaikum…" salamnya kepada anak-anak panti yang sudah berlari menghampirinya. 


"Waalaikumsalam…" seru mereka bersamaan, lalu menyalami Dira.


Tiba-tiba ada anak kecil perempuan berlari  langsung memeluk Kean. 


"atak ampan.... Atak ateng ladi?" ucapnya. 


"Iya, kakak dateng lagi, untuk jenguk kamu! Apa Kamu suka?" jawab Kean dengan senyuman mengembang. 

__ADS_1


Dira yang melihat sikap  Kean yang jauh berbeda, sedikit terkejut dan bahagia. Ternyata anak dingin dan irit bicara ini, bisa bersikap hangat juga dengan anak kecil! . Batinya


" Cia ceneng anget,... Cia oleh inta endong?"ucapnya dengan merentangkan tangan nya. 


Kean hanya bisa menggarukkan kepalanya saja. Ya ampun cia... Mana kuat aku gendong kamu yang gembul ini! Batin Kean. Dira yang menyadarinya tingkah aneh anaknya, langsung berjongkok di depan Cia. 


" Cia sayang… Cia gendongnya sama mama Dira aja mau? Soalnya kakak tampanya masih kecil, gak kuat kalau harus gendong Cia. Gimana?" tanya Dira. 


Bibir cia memanyun dengan memperlihatkan puppy eyesnya. " Cia … maunya endong ama atak ampan, dak mau ang lain … akak ampan … benelan gak uat endong cia?" 


Kean semakin bingung harus bagaimana menenangkan cia, yang sudah hampir menangis. Lean yang melihat kakaknya bingung segera mendekatkan bibirnya ke telinga Kean. "Kasihan tuh kak, cianya udah mau nangis minta gendong! Masak iya kakak gak kuat gendong cia, kalau gak kuat berarti kakak masih bocil!" bisiknya sambil tertawa puas, karena bisa meledek kakaknya yang selalu bersikap angkuh itu. 


Kean Hanya menatap Lean dengan sorot mata tajam yang mematikan. Tapi yang ditatap tidak takut sama sekali, justru semakin tertawa terbahak-bahak merasa sangat puas telah berhasil menggoda Kakaknya. 


"Cia … mama Dira punya makanan enak di mobil,. Apa Cia mau?"rayu Dira. 


Mendengar kata makanan enak, mata cia langsung membulat dan segera minta gendong ke Dira dan melupakan permintaannya ke kean. Tidaklah sulit merayu cia yang gembul itu. Karena hanya dengan iming-imingan makanan enak saja, cia sudah tertarik.


Melihat cia yang sudah pergi dengan mamanya, Kean merasa lega dan kembali menatap Lean. 


"Gimana, sudah puas ketawanya?" celetuknya.


Setelah itu, mereka makan  serta bermain bersama anak-anak panti. Hal itu membuat Kean dan Lean lupa dengan handphone. 


Hari mulai malam dan gelap. karena kecapean bermain, selesai sholat isya kean dan Lean langsung tertidur pulas. Melihat kedua anaknya hari ini begitu bergembira dan jiwa sosial mereka yang baik, membuat Dira bahagia. Setelah itu dira berjalan keluar dari kamar, menuju ruangan kerja Iriana.


Melihat ruangan kerjanya terbuka, Dira mengetok pintu yang terbuka.


"Permisi bun, Apa bunda sibuk?" tanyanya. 


Melihat Dira yang sudah berdiri di depan pintu ruanganya, Ana hanya tersenyum. "Tidak kok sayang … kamu masuk saja, " jawab Iriana. 


Kemudian Dira masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan dokumen - dokumen anak panti asuhan itu. Dira duduk di sofa panjang berwarna merah yang ada di ruangan itu. 


"Ada apa sayang? Apa ada sesuatu?" tanya Iriana kepada Dira. Dira hanya mengangguk, menandakan bahwa yang dikatakannya benar. Sebenarnya Iriana sudah menduganya ,walaupun Dira menutupinya dengan selalu tersenyum. Tapi Iriana tahu, di balik senyuman itu menyimpan begitu banyak arti. 

__ADS_1


Setelah itu, Iriana menutup dokumen yang sedang dibacanya, serta melepas kacamata baca yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya. Maklum umur Iriana sudah tak muda lagi, jadi ketika Membaca dokumen-dokumen dia harus menggunakan kacamata baca untuk membantunya memperjelas melihat tulisan. 


Iriana mulai bangun dari duduknya, dan berjalan untuk menghampiri Dira yang duduk di sofa. Selesai meletakkan bokongnya di sofa, Iriana juga memegang telapak tangan Dira yang begitu dingin. 


"Kamu punya masalah apa Dir? Cerita aja sama bunda, Siapa tau bunda bisa membantu untuk memecahkan masalah kamu," ujarnya.


Bukanya bercerita, Dira justru memeluk dan menangis sesegukan di pelukan Iriana. Seperti sedang menumpahkan semua beban hidupnya. Iriana hanya membiarkan Dira menangis sepuasnya agar Dira lebih merasa lega. Dia tahu kalau gadis yang ada di depanya ini sedang tidak baik-baik saja. 


......................


Sudah hampir seminggu Ken tidak bertemu dengan Dira dan anak-anaknya. Sejak perdebatan mereka beberapa hari lalu, Ken hanya mengetahui kabar mereka lewat pesan yang dikirim Lean saja. Tapi sudah 2 hari ini Lean tidak pernah mengirim pesan lagi, di telpon pun tak bisa. 


Kemana mereka? Kenapa tidak bisa dihubungi?. Ini hari minggu, Kean dan Lean libur sekolah. 


Karena merasa tak tenang dan tak fokus lagi dengan pekerjaan. Ken memutuskan untuk pergi menemui mereka di Apartemen. Sesampainya di Apartemen Dira, tidak ada yang membukakan pintu lagi. Ketika bertanya dengan tetangganya, Dia mengatakan bahwa Dira pergi bersama anak-anak nya sejak jumat sore dengan membawa tas besar. 


Kamu kemana Dir? Apa jangan-jangan …


Tanpa berpikir lama, Ken menuju parkiran apartemen untuk mengambil mobilnya. Cuaca di luar saat ini sedang hujan deras, tapi Ken tetap saja pergi untuk mencari dia. Ken terus mengemudikan mobilnya ditengah-tengah hujan yang semakin deras.


Dir ... Kamu kemana? Apa pulang ke jogja?. Segera Ken menelpon Nisa untuk menanyakan apakah Dira pulang ke jogja. 


Ken : Hallo Assalamualaikum umi. Ken mau tanya, Apa Dira pulang ke jogja? "


Nisa : Waalaikumsalam…sepertinya tidak nak Ken, Dira tidak pulang ke jogja. Memangnya ada apa nak Ken? 


Ken : Oh … yasudah kalau begitu umi. Terima kasih Umi,.Assalamualaikum. 


Nisa : Waalaikumsalam… 


Ken kembali mengingat-ingat lagi , kemana Dira pergi. Apa ke panti? Soalnya katanya bunda Ana dulu dira sering kesana. Segera Ken mencari nomor telepon Bu Ana ketua panti Asuhan Pelita Bunda. Disaat Ken masih mencari Tiba-tiba…. 


Brukk.…. 


...****************...

__ADS_1


Maaf ya kemarin cuman up 1 bab. Hari ini aku akan usahakan untuk bisa up 3 bab untuk mengganti kemarin, Kalau tidak sibuk.


Jangan lupa like, komen, vote serta klik Favoritnya.


__ADS_2